LOGINLantai 40 Global Group biasanya bergetar oleh langkah kaki tegap Tuan Hardian yang membuat para staf menahan napas. Kini, keheningan yang berbeda merayap di sana—bukan keheningan karena takut, melainkan keheningan dari sebuah mesin besar yang sedang dibongkar paksa.
Damar berdiri di depan jendela kaca besar, menyesap kopi pahitnya. Tidak ada lagi jas mahal yang kaku; ia hanya mengenakan kemeja biru navy dengan lengan digulung hingga siku. Di belakangnya, Kiara sedang sibuk dengan tumpukan berkas dari map hitam yang kini telah berpindah ke dalam tablet digital."Mas, audit Sektor 7 sudah keluar," suara Kiara memecah kesunyian. Ia berjalan mendekat, menyodorkan layar tablet. "Total kerugian lingkungan mencapai angka yang... gila. Tapi setidaknya, semua aliran dana itu sudah terlacak kembali ke rekening cangkang milik ayahmu."Damar menghela napas, uap kopi menerpa wajahnya. "Dan Reno? Dia masih bersikeras bahwa tanda tangannya dipalsukan?""Dia tidak hanya bersikeras,Kunci melati perak itu tergeletak di atas meja dapur yang terbuat dari kayu pinus, berkilat pelan di bawah temaram lampu gantung. Bagi orang lain, itu hanyalah benda antik yang tak berharga, namun bagi Damar, kunci itu adalah jangkar terakhir yang menghubungkannya dengan badai di masa lalu.Pagi di Bandung selalu diawali dengan kabut tipis yang merayap di sela-sela pohon pinus, dan hari ini tidak ada bedanya. Damar menyesap kopi pahitnya, menatap kunci itu dengan dahi berkerut."Kau masih memikirkannya?" Kiara muncul dari kamar, mengenakan sweter rajut longgar. Ia mengambil posisi di seberang Damar, tangannya melingkar hangat pada cangkir tehnya."Kunci ini bukan untuk pintu yang ada di rumah ini, Kiara," gumam Damar. Ia memutar-mutar benda perak itu. "Ini kunci loker. Loker penyimpanan di Stasiun Hall. Aku mengenali lambang kecil di pangkalnya."Kiara terdiam sejenak. "Elena ingin kita menemukan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa dia bawa bersamanya saat dia 'menghila
Lantai kayu di kedai kopi kecil itu berderit setiap kali Damar melangkah, sebuah suara yang jauh lebih merdu di telinganya ketimbang denting lift marmer di gedung Global Group. Aroma kopi Gayo yang baru dipanggang memenuhi ruangan, mengusir sisa-sisa bau logam dan asam yang seolah telah mengerak di ingatannya selama berbulan-bulan.Di luar, hujan rintik-rintik membasahi jalanan aspal Bandung yang tenang. Tidak ada raungan sirine, tidak ada jip tua yang dipacu gila-gilaan. Hanya ada suara gesekan penghapus kaca dari mobil-mobil yang melintas santai."Mas, pesanan meja nomor empat sudah siap?" Suara Kiara memecah lamunannya.Damar menoleh. Istrinya berdiri di balik meja bar, mengenakan celemek kain berwarna cokelat tua. Rambutnya diikat asal, dan ada sedikit noda susu di pipinya. Ia tampak jauh lebih muda, seolah beban sepuluh tahun telah diangkat dari pundaknya dalam semalam."Tinggal menuangkan susunya," jawab Damar sambil meraih milk jug. Tangannya yang dulu gemetar
Fajar yang baru saja merekah tidak membawa kehangatan; cahaya pucatnya justru menelanjangi sisa-sisa debu kimia yang masih menggantung di udara. Damar berdiri di antara reruntuhan Sektor 9 dan moncong senjata hukum yang baru saja menunjukkan wajah aslinya. Komisaris Yudha, pria yang fotonya sering muncul di kolom pahlawan kepolisian, kini berdiri menyandar pada kap mobil patrolinya dengan santai. “Kontrak cadangan?” Damar mengulang kata itu, suaranya parau, tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan serbuk gaca. Ia tidak melepaskan rangkulannya dari bahu Kiara yang masih bergetar. Yudha mengetukkan jari-jarinya di atas map hitam. “Ayahmu, Hardian, adalah visioner. Dia tahu bisnis limbah bukan hanya soal membuang racun, tapi soal membangun loyalitas. Aku adalah asuransi yang dia bayar selama dua puluh tahun agar kalian bisa tidur nyenyak di Global Group.” Damar tertawa pendek, suara yang lebih mirip sedak napas. “Tidur nyenyak? Ibuku dibunuh oleh si
Deru mesin jip tua itu membelah kesunyian jalanan pinggiran kota yang rusak parah. Lampu depan mobil sesekali menangkap bayangan papan penunjuk jalan yang berkarat: Kawasan Industri Terpadu Sektor 9 – Dilarang Masuk. Udara di dalam kabin terasa semakin berat, bukan hanya karena polusi, tapi karena ketegangan yang nyaris meledak di antara Damar dan Kiara. "Mas, remnya... kau terlalu cepat," Kiara mencengkeram pegangan di atas pintu, matanya terpaku pada jarum speedometer yang terus menanjak. "Kita tidak punya banyak waktu, Kiara," sahut Damar tanpa menoleh. Rahangnya mengeras. "Jika pesan itu benar, maka selama ini aku berduka untuk alasan yang salah. Ibuku... dia tidak meninggal karena sakit jantung biasa." "Tapi dokter itu—Dokter Aris—dia sudah menjadi orang kepercayaan keluarga kalian selama puluhan tahun. Kenapa dia harus berkhianat sekarang? Apa untungnya bagi dia?" Damar membanting setir menghindari lubang besar. "Hardian tidak punya tema
Lantai 40 Global Group biasanya bergetar oleh langkah kaki tegap Tuan Hardian yang membuat para staf menahan napas. Kini, keheningan yang berbeda merayap di sana—bukan keheningan karena takut, melainkan keheningan dari sebuah mesin besar yang sedang dibongkar paksa.Damar berdiri di depan jendela kaca besar, menyesap kopi pahitnya. Tidak ada lagi jas mahal yang kaku; ia hanya mengenakan kemeja biru navy dengan lengan digulung hingga siku. Di belakangnya, Kiara sedang sibuk dengan tumpukan berkas dari map hitam yang kini telah berpindah ke dalam tablet digital."Mas, audit Sektor 7 sudah keluar," suara Kiara memecah kesunyian. Ia berjalan mendekat, menyodorkan layar tablet. "Total kerugian lingkungan mencapai angka yang... gila. Tapi setidaknya, semua aliran dana itu sudah terlacak kembali ke rekening cangkang milik ayahmu."Damar menghela napas, uap kopi menerpa wajahnya. "Dan Reno? Dia masih bersikeras bahwa tanda tangannya dipalsukan?""Dia tidak hanya bersikeras,
Garis polisi kuning sekarang melintang di sepanjang dermaga Sektor 7, berkibar ditiup angin laut yang kini terasa lebih hangat seiring naiknya matahari. Tim penyelam kepolisian baru saja mengangkat tubuh kaku Tuan Hardian dari sela-sela tiang pancang pelabuhan. Pria yang selama puluhan tahun memegang kendali atas ekonomi kota itu kini hanya menjadi seonggok daging yang dibungkus kantong jenazah plastik berwarna oranye.Damar duduk di tepi ambulans dengan selimut darurat menutupi bahunya. Paramedis baru saja selesai membalut luka di pelipisnya. Di sampingnya, Kiara masih memegang map hitam itu, namun matanya tidak lepas menatap ke arah laut lepas, ke titik di mana sekoci itu menghilang ditelan kabut tadi subuh."Mas," bisik Kiara, suaranya masih serak. "Wanita itu... dia tidak mungkin benar-benar Mbak Lela, kan? Kita semua melihat pemakamannya. Kita melihat peti mati itu diturunkan."Damar terdiam lama, matanya menyipit menembus cakrawala. "Aku tidak tahu lagi apa yang ny







