"Tapi Jen, kamu beneran ada hubungan sama Pak Ken?" tanya Tasya penasaran. "Ceritanya panjang. Rumit. Aku nggak bisa jelasin, Sya," ucap Jenna sambil menyeruput minumnya menggunakan sedotan."Tapi beneran pacaran, 'kan?"Jenna terdiam sejenak. "Ya ... gitulah. Seperti yang kamu liat.""Jadi berita kamu sama Pak Ken kena paparazi waktu bertamu ke rumah Presdir kita—itu beneran bukan bohong, dong?" Perempuan itu mengangguk lirih. Mau bagaimana lagi? Tasya sudah tahu. Ia tidak mungkin berbohong. "Bisa heboh kantor kita kalau berita ini tersebar, Jen. Apalagi kamu sama Pak Ken beneran ada hubungan. Wah, pasti bantahan di media waktu itu juga bohong, dong?" Tasya langsung geleng-geleng kepala sendiri."Nggak sepenuhnya bohong. Waktu itu emang belum ada hubungan. Pokoknya masalah ini nggak se-sederhana yang kamu bayangkan," ujar Jenna memberitahu. "Ya—intinya kamu keren, Jen. Bisa pacaran sama atasan sendiri." Tasya menyipitkan matanya, "nggak kamu pelet, 'kan?""Nggak lah! Yang bener a
"Kamu beneran udah punya pacar, Jenna?" tanya Rani sekali lagi.Jenna pun kembali membantah, "Nggak, Bu.""Bohong itu, Bu. Masa udah tua belum punya pacar?" ucap Zio terlalu blak-blakan. "Zaki nggak boleh ngomong gitu," ucap Ridwan memberi peringatan pada sang anak.Setelahnya Zio langsung terdiam. Ia berinisiatif ikut menata bakso ke dalam mangkuk membantu sang Ibu. "Kamu itu kalau Ibu bilangin harus nurut. Mau sampai kapan sendiri? Sedangkan sebentar lagi usia kamu 30 tahun," ucap Rani sesekali melirik Jenna."Kalau memang bener belum ada pacar. Ibu bakal cariin jodoh buat kamu," lanjutnya.Jenna menghembuskan napas kasar. "Nggak perlu berlebihan kaya gitu, Bu. Jenna nggak mau dijodohin.""Mau sampai kapan, Jenna?" tanya Rani sedikit sewot. Ridwan kemudian menegur, "Bu ....""Kamu itu perempuan. Kerja nggak perlu sekeras itu. Kamu masih punya Ayah, Jenna. Kamu masih jadi tanggung jawab kami sebagai orang tua," jelas Rani menatap sang anak dengan pandangan penuh. "Jenna capek, Bu
"Mau ke mana?" Ken mengejar langkah Jenna.Tanpa menoleh sedikit pun ia berkata, "Pulang!"Tangan itu berhasil dicekal oleh Ken. "Makan dulu. Itu masakannya gimana?" Jenna memandang kesal Ken yang ada di hadapannya. "Kamu duduk di ruang tamu. Biar saya yang masak," putus Ken membawa kekasihnya ke ruang yang terdapat televisi besar di sana.Jenna duduk dengan raut wajah tidak bersahabat. Menonton televisi dengan fokus. Tidak peduli Ken di belakang sana yang sedang begulat dengan masakannya.Setengah jam pun berlalu."Jenna," panggil Ken setelah masakan itu selesai.Yang dipanggil pun menoleh. "Makan," perintah pria itu.Mau tidak mau Jenna menghampiri Ken yang sedang menata makanan di atas meja makan. Bahkan Ken sudah menyiapkan satu porsi untuk Jenna, sehingga perempuan itu tinggal makan.Keduanya makan dengan keadaan hening. Selang beberapa menit kemudian makan pun selesai. Jenna mulai merapikan piring bekas dan mencucinya di wastafel. Ken melihat punggung Jenna yang sedang mencu
Beberapa hari pun berlalu. Tiba saatnya pernikahan Naomi berlangsung. Perempuan itu terlihat cantik menggunakan gaun pengantin putih dengan rambut yang dibiarkan tergerai rapi. Tanpa sadar, Jenna tersenyum tipis. Membayangkan dirinya yang berada di atas altar tersebut. Mungkinkah ia akan seperti Naomi? Menjadi pengantin dengan riasan indah. Moment bahagia seumur hidup. Mungkinkah ... dirinya bisa?"Jenna?" panggil Sakti.Jenna menoleh. Cukup terkejut. "Loh, Sakti?" "Kirain gue salah liat. Lo datang sama siapa?" tanya Sakti penasaran. Sebab yang Sakti tahu pernikahan Naomi cukup tertutup, hanya orang-orang tertentu yang diundang. Ia hadir karena kebetulan pengantin pria adalah temannya sendiri.Jenna terdiam sebentar. Ia melihat Ken tengah asik ngobrol dengan Karin di sana. Juga ada beberapa orang di sampingnya, entah siapa."Datang sendiri," ucap Jenna memutuskan berbohong.Sakti mengangguk-anggukan kepalanya. Ia sengaja bertanya seperti padahal sudah jelas ia tahu Jenna dengan sia
Meja bundar. Gila saja. Saat ini Jenna sedang dikepung lima orang. Di depan sana ada Tasya, Dewi, Karin, Henry dan Sakti. Mereka rekan kerja satu divisi, kecuali Karin."Jelasin ke kita. Maksud ucapan kamu di lorong tadi apa?" tuntut Tasya dengan tangan menyilang di dada.Jelas Jenna kebingungan. Ia gugup sendiri. Mereka terlihat serius sekali, seolah ia baru saja melakukan kesalahan. "Kalian jangan kenceng-kenceng ngomongnya, ya," pinta Jenna sebelum menjelaskan."Ya, kamu jelasin dulu. Kita penasaran ini," ucap Tasya diangguki semuanya. Jenna memejamkan mata sebentar, menarik napas di sana dan tersenyum tanpa beban. "Itu cuma kesalahpahaman aja, kok. Kami nggak ada apa-apa."Semuanya langsung menghembuskan napas kasar. Kecewa sekali. "Tapi aku nggak percaya," celetuk Dewi tiba-tiba. Ia pun menambahkan, "Jelas aku denger kamu bilang nggak siap nikah, ya, Jen." "Itu cuma salah paham aja, Dewi. Suer. Aku nggak bohong, kok. Masa kalian nggak percaya si?" ucap Jenna berusaha menyak
Di dalam mobil. Keadaan mendadak canggung. Jenna hanya diam dengan tubuh kaku di samping Ken yang sedang mengemudi. Mereka memutuskan pulang bareng, ah tidak. Lebih tepatnya Ken yang memaksa Jenna untuk ikut satu mobil dengan pria itu.Namun, tanpa diduga mobil itu berhenti di sebuah pusat perbelanjaan khusus bahan-bahan dapur dan makanan ringan. Jelas Jenna terkejut, pria itu bahkan tidak berkata apa-apa sebelumnya. Ia pun menoleh pada Ken dan bertanya, "Kenapa ke sini, Pak?""Bantu saya cari bahan dapur," ucap Ken sambil membuka sabuk pengamannya. Mereka pun akhirnya masuk ke dalam pusat perbelanjaan dengan Jenna yang memegang ujung tasnya, merasa gugup. Ia takut bertemu anak kantor, hei."Bantu saya cari ini," ucap Ken seraya menyodorkan ponselnya yang sudah berisikan catatan itu.Jenna menerimanya. Ken pun mulai mendorong troli yang sudah ia ambil tadi dan mengikuti ke mana langkah perempuan itu pergi.Tiba di tempat sayur mayur."Mau tambah kentang nggak, Pak? Sekalian ini wor