ВойтиHidup Jenna sudah cukup rumit dengan tuntutan pekerjaan juga pernikahan dari orang tuanya. Namun, siapa sangka, pria yang menepati rumah depan adalah bos barunya di kantor? Kendrick selaku tetangga Jenna tentu memiliki misi sendiri kenapa ia memilih tinggal di kompleks yang sama dengan Jenna, dibanding apartemen mewah miliknya. Apakah Jenna bisa tetap profesional, atau terjebak dalam perasaan yang tak seharusnya? Karena ketika tetangga menjadi bos, segalanya menjadi lebih rumit!
Узнайте большеGangsters. Marami ang matatawa dahil kilala na sa siyudad ang mga ito. Mas kilala sila dahil sa kabulastugan na kinaiinisan ng karamihan.
May mga small time, gaya ng mga batang gangsters sa kalsada; may mga big time, gaya ng mga napapasok din sa sindikato.
Ang iba naman sa kanila ay kilala dahil sa taglay nilang kabaitan. They're too kind that you'll think they're just playing around, na parang nagbabalat-kayo lang.
Ang hindi alam ng karamihan, totoo ang mundong may dahas at patayan. Iyong tipong hindi na normal para sa ordinaryong tao.
Iyong tipong akala mo normal lang ang buhay mo at katulad ng iyo ang buhay ng iba. May mahirap, may mayaman. May sakim, may ganid, at may mapagbigay.
Our kind of world is hidden to those ignorants. Ignorance, yes, mas maganda kung ganyan ka.
"Ignorance is bliss...you have to cherish it." Lihim akong napangiti. Mahirap pasukin ang mundo ng mga gangsters, pero mas mahirap lumabas.
Minsan maitatanong mo sa `yong sarili, 'Kaya ko ba? Makakaya ko ba? Kakayanin ko ba?
I open my files: files of our fellows. Dito nakalagay ang lahat ng mga impormasyon nila. I brows archives from archives, files to files. Ang tinututukan ko ngayon ay ang mga gangsters sa Asya. Napatingin ako sa mga bansa: Pilipinas at Japan. Pinindot ko ang sa Japan at hinanap ang mga pangalan.
Kanji... Shinigami... Uranus...
Tora...
"Oh, there you are." Napangiti ako nang makita ko ang pangalan niya.
Black Butterfly.
Nasubaybayan ko ang paglaki niya. Noon, iyaking bata pa siya pero nang matutunan niya ang paghawak ng mga sandata, naging matatag at matapang siyang bata. Unti-unti siyang lumakas.
She's not using her strength to bully people. She's strong and she has a brave heart.
"Years from now, you will experience severe pain, Black Butterfly. You're too kindhearted; I wonder who will kill you for using your heart. If you live as a gangster, you'll die anytime. Those who are kind will perish. Gangster's world is not the world you should be in. But I hope, you'll change our world, not so soon, but someday."
Tiningnan ko ang laman ng kanyang files. She has a new headquarters for her gang, buhat pa roon ay may dalawang gang ang sumumpa na tutulungan siya kung may mangyaring laban.
Biglang tumunog ang notification ko, tanda na may bagong mensahe. Binuksan ko ang aking email at nakita ko ang headline para sa news ng mga gangsters. Binasa ko ang nilalaman.
"After becoming one of the gangster world's legends for defeating the best fighters around the major schools in Japan; Black Butterfly, known as one of the toughest female with intelligence and beauty—with a kind heart—suddenly disappeared. She's the lady carrying the infamous eight butterfly tattoo on her right arm and faces fearless fights...Would there come a day that Black Butterfly would reappear?"
I smiled.
It's time, Bella…
Adegan panas itu berlanjut sampai ke apartemen, Ken sengaja tidak membawa Jenna ke rumahnya. Lumatan yang makin dalam menjalar sampai ke tengkuk leher milik Jenna, meninggalkan jejak kemerahan di sana. Perempuan itu sedikit mengeluh karena Gio bukan hanya mengecup, melainkan menggigit cukup keras. "Pak .... " Jenna melenguh pelan. Mendorong dada sang atasan dengan kepala menggelng pelan. Napasnya terengah. Sedangkan Gio langsung memeluk tubuh Jenna dengan dekapan erat, merasa bersalah karena hampir kelepasan malam ini. Tangannya kemudian merapikan helaian rambut Jenna yang sedikit berantakan, juga menghapus lipstik merah perempuan itu yang sudah tidak tersisa."Kamu udah makan?" tanya Ken melepas cekalannya. "Di apartemen nggak ada bahan masakan. Paling ada mi instan aja."Usai merapikan pakaiannya, Jenna pun membalas. "Bapak lapar? Kalau iya, saya buatkan mi instan mau?" "Saya risih sekali dipanggil seperti itu."Keningnya mengerut sempurna. "Risih gimana?""Saya nggak suka sama p
Pukul 7 malam.Saat ini Jenna sudah rapi dengan baju berwarna merah ati dipadukan rok pendek di atas lutut berwarna hitam. Ia tersenyum di depan cermin seraya merapikan rambutnya yang dikeriting lurus."Let's go, Jenna!" kata wanita itu mengambil tas selempangnya dan turun ke bawah.Di ruang televisi ada Zio dan sang Ibu yang tengah duduk santai, keduanya kompak menatap Jenna dengan pandangan aneh."Mau ke mana kamu?" Itu suara sang Ibu yang bertanya. Jenna memegang tasnya ragu. "Keluar sebentar makan sama temen, Bu.""Bukan temen itu, Bu. Tapi pacar barunya," kata Zio sengaja kompor.Wanita itu langsung melirik sinis. "Diem kamu, ya, Zio." "Pacar baru?" Buru-buru Jenna menggeleng. "Bukan, Bu. Jangan dengerin Zio. Dia suka sebar hoax.""Loh, bener, kok. Kak Jenna sama Bang Ken udah putus bukan? Aku pernah liat kalian berdua berantem di depan rumah."Sial. Zio benar-benar tak bisa di-rem mulutnya. Ia berbicara seperti itu seakan tak melihat situasi. "Bener kamu udah putus sama Ken?
"Mas Kendrick?"Keduanya langsung menoleh secara bersamaan. Jenna melihat mata wanita itu berbinar, kemudian melirik Ken yang tampak terkejut setelahnya."Aku pikir salah orang." Wanita yang belum diketahui namanya itu tersenyum lebar. "Lama nggak ketemu, Mas."Pria itu tiba-tiba berdiri dan menyambut sapaan hangat itu dengan tubuh kaku. "Angel?" Kebingungan melanda di tengah-tengah kecanggungan kedua manusia yang rupanya baru bertemu kembali setelah lama berpisah. Angel. Wanita yang dulu pernah mengisi hati Ken."Pacar kamu?" tanya Angel melirik ke arah Jenna.Merasa namanya disebut Jenna langsung berdiri hendak menyangkal kalimat wanita di depannya. Namun, jawaban Ken justru membuat kedua bola matanya membulat sempurna. "Iya. Dia pacar saya, namanya Jenna."Jenna buru-buru menggeleng kuat. Tak mau Angel salah paham, sebab ia merasakan sesuatu yang aneh dari kedua manusia itu. "Ah ... Jenna? Sorry, ya, jadi ganggu makan siang kalian. Kebetulan aku ada janji sama temen juga di sini
"Kamu kasih saya waktu satu bulan?" tanya Ken kembali memastikan. Jenna mengangguk lirih.Lantas, Ken pun sedikit menjauh dan menahan senyum di sana. Ia senang sekali, tetapi tak ingin menunjukkan pada Jenna karena gengsinya yang setinggi langit."Ya sudah, sana kamu kembali kerja. Saya harus mikirin sesuatu supaya kamu makin tertarik."Lucu sekali. Jenna ingin tertawa, tetapi ia tahan karena melihat perubahan ekspresi pria itu yang cukup signifikan. Setelahnya ia pun keluar dari ruangan dengan perasaan hangat."Horor banget keluar dari ruangan Pak Bos malah senyum-senyum sendiri," celetuk Tasya memandang heran.Dewi yang baru datang pun langsung menyahut, "Ngapain pagi-pagi dipanggil Pak Bos?""Biasa Pak Bos terbakar api cemburu karena Jenna deket sama mantan gebetannya dulu." Ia yang sedang membereskan meja kerjanya sontak berhenti. "Aduh, pertanda nggak aman, nih, kerja hari ini.""Mulai, deh, gosip." Jenna akhirnya membuka suara."Nggak apa-apa kali, Jen. Kita gosip juga di dep
Pagi ini Jenna sudah berdiri di hadapan Ken. Untuk ke sekian kalinya ia menginjakkan kaki di ruang Direktur. Ah, entah gosip apalagi yang anak kantor cetuskan. Yang jelas, Jenna sedang gugup sekarang."Baca," ucap Ken memberikan selembar kertas ke hadapan Jenna.Jenna mengambil kertas tersebut dan
—Pagi hari."Jenna." Liam memanggil dengan sebuah kantong makan di tangannya.Perempuan itu menoleh. Menghentikan langkahnya kala melihat Liam berlari kecil menghampiri."Saya dengar roti di lobi bawah enak. Kebetulan saya beliin satu buat kamu," ujar Liam seraya meyodorkan roti tersebut. Jenna me
—Di dalam mobil. Sepanjang perjalanan, mata Liam tidak berhenti melirik ke arah di mana Jenna duduk di bangku penumpang. Sesekali bibirnya tersenyum tipis. "Kamu udah lama kerja di sana?" tanya Liam basa-basi. Jenna mengangguk pelan. "Lumayan. Sudah 2 tahun." Liam menoleh sebentar, kemudian
Beberapa hari pun berlalu. "Teman-teman, itu ada makan siang dari Pak Ken. Bisa dimakan, ya." Karin memberitahu sebelum jam istirahat benar-benar tiba. Makan siang itu mulai dibagikan oleh kepala divisi masing-masing kepada meja kerja sang rekan. Semuanya terlihat tampak bahagia. "Waduh, apa i


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Отзывы