Chapter: Bab 16 Soal Pacar "Kamu beneran udah punya pacar, Jenna?" tanya Rani sekali lagi.Jenna pun kembali membantah, "Nggak, Bu.""Bohong itu, Bu. Masa udah tua belum punya pacar?" ucap Zio terlalu blak-blakan. "Zaki nggak boleh ngomong gitu," ucap Ridwan memberi peringatan pada sang anak.Setelahnya Zio langsung terdiam. Ia berinisiatif ikut menata bakso ke dalam mangkuk membantu sang Ibu. "Kamu itu kalau Ibu bilangin harus nurut. Mau sampai kapan sendiri? Sedangkan sebentar lagi usia kamu 30 tahun," ucap Rani sesekali melirik Jenna."Kalau memang bener belum ada pacar. Ibu bakal cariin jodoh buat kamu," lanjutnya.Jenna menghembuskan napas kasar. "Nggak perlu berlebihan kaya gitu, Bu. Jenna nggak mau dijodohin.""Mau sampai kapan, Jenna?" tanya Rani sedikit sewot. Ridwan kemudian menegur, "Bu ....""Kamu itu perempuan. Kerja nggak perlu sekeras itu. Kamu masih punya Ayah, Jenna. Kamu masih jadi tanggung jawab kami sebagai orang tua," jelas Rani menatap sang anak dengan pandangan penuh. "Jenna capek, Bu
Last Updated: 2025-08-30
Chapter: Bab 15 Kecupan"Mau ke mana?" Ken mengejar langkah Jenna.Tanpa menoleh sedikit pun ia berkata, "Pulang!"Tangan itu berhasil dicekal oleh Ken. "Makan dulu. Itu masakannya gimana?" Jenna memandang kesal Ken yang ada di hadapannya. "Kamu duduk di ruang tamu. Biar saya yang masak," putus Ken membawa kekasihnya ke ruang yang terdapat televisi besar di sana.Jenna duduk dengan raut wajah tidak bersahabat. Menonton televisi dengan fokus. Tidak peduli Ken di belakang sana yang sedang begulat dengan masakannya.Setengah jam pun berlalu."Jenna," panggil Ken setelah masakan itu selesai.Yang dipanggil pun menoleh. "Makan," perintah pria itu.Mau tidak mau Jenna menghampiri Ken yang sedang menata makanan di atas meja makan. Bahkan Ken sudah menyiapkan satu porsi untuk Jenna, sehingga perempuan itu tinggal makan.Keduanya makan dengan keadaan hening. Selang beberapa menit kemudian makan pun selesai. Jenna mulai merapikan piring bekas dan mencucinya di wastafel. Ken melihat punggung Jenna yang sedang mencu
Last Updated: 2025-08-28
Chapter: Bab 14 Pelukan AyahBeberapa hari pun berlalu. Tiba saatnya pernikahan Naomi berlangsung. Perempuan itu terlihat cantik menggunakan gaun pengantin putih dengan rambut yang dibiarkan tergerai rapi. Tanpa sadar, Jenna tersenyum tipis. Membayangkan dirinya yang berada di atas altar tersebut. Mungkinkah ia akan seperti Naomi? Menjadi pengantin dengan riasan indah. Moment bahagia seumur hidup. Mungkinkah ... dirinya bisa?"Jenna?" panggil Sakti.Jenna menoleh. Cukup terkejut. "Loh, Sakti?" "Kirain gue salah liat. Lo datang sama siapa?" tanya Sakti penasaran. Sebab yang Sakti tahu pernikahan Naomi cukup tertutup, hanya orang-orang tertentu yang diundang. Ia hadir karena kebetulan pengantin pria adalah temannya sendiri.Jenna terdiam sebentar. Ia melihat Ken tengah asik ngobrol dengan Karin di sana. Juga ada beberapa orang di sampingnya, entah siapa."Datang sendiri," ucap Jenna memutuskan berbohong.Sakti mengangguk-anggukan kepalanya. Ia sengaja bertanya seperti padahal sudah jelas ia tahu Jenna dengan sia
Last Updated: 2025-08-27
Chapter: Bab 12 Dijodohkan Meja bundar. Gila saja. Saat ini Jenna sedang dikepung lima orang. Di depan sana ada Tasya, Dewi, Karin, Henry dan Sakti. Mereka rekan kerja satu divisi, kecuali Karin."Jelasin ke kita. Maksud ucapan kamu di lorong tadi apa?" tuntut Tasya dengan tangan menyilang di dada.Jelas Jenna kebingungan. Ia gugup sendiri. Mereka terlihat serius sekali, seolah ia baru saja melakukan kesalahan. "Kalian jangan kenceng-kenceng ngomongnya, ya," pinta Jenna sebelum menjelaskan."Ya, kamu jelasin dulu. Kita penasaran ini," ucap Tasya diangguki semuanya. Jenna memejamkan mata sebentar, menarik napas di sana dan tersenyum tanpa beban. "Itu cuma kesalahpahaman aja, kok. Kami nggak ada apa-apa."Semuanya langsung menghembuskan napas kasar. Kecewa sekali. "Tapi aku nggak percaya," celetuk Dewi tiba-tiba. Ia pun menambahkan, "Jelas aku denger kamu bilang nggak siap nikah, ya, Jen." "Itu cuma salah paham aja, Dewi. Suer. Aku nggak bohong, kok. Masa kalian nggak percaya si?" ucap Jenna berusaha menyak
Last Updated: 2025-08-26
Chapter: Bab 11 Mulai Terang-terangan Di dalam mobil. Keadaan mendadak canggung. Jenna hanya diam dengan tubuh kaku di samping Ken yang sedang mengemudi. Mereka memutuskan pulang bareng, ah tidak. Lebih tepatnya Ken yang memaksa Jenna untuk ikut satu mobil dengan pria itu.Namun, tanpa diduga mobil itu berhenti di sebuah pusat perbelanjaan khusus bahan-bahan dapur dan makanan ringan. Jelas Jenna terkejut, pria itu bahkan tidak berkata apa-apa sebelumnya. Ia pun menoleh pada Ken dan bertanya, "Kenapa ke sini, Pak?""Bantu saya cari bahan dapur," ucap Ken sambil membuka sabuk pengamannya. Mereka pun akhirnya masuk ke dalam pusat perbelanjaan dengan Jenna yang memegang ujung tasnya, merasa gugup. Ia takut bertemu anak kantor, hei."Bantu saya cari ini," ucap Ken seraya menyodorkan ponselnya yang sudah berisikan catatan itu.Jenna menerimanya. Ken pun mulai mendorong troli yang sudah ia ambil tadi dan mengikuti ke mana langkah perempuan itu pergi.Tiba di tempat sayur mayur."Mau tambah kentang nggak, Pak? Sekalian ini wor
Last Updated: 2025-08-25
Chapter: Bab 10 Kecupan Tanda JadianSelepas keluar dari ruangan Ken, kini Jenna termenung di meja kerjanya. Kepalanya mendadak pusing. Ia bahkan menatap layar komputer dengan tatapan kosong."Kamu udah gila Jenna," ucapnya pelan tanpa ekspresi.Ia pun memejamkan matanya sebentar. Menarik napas panjang dan mencoba tersenyum. Tidak. Ia tidak boleh menyerah. Ini masalah yang harus dihadapi, bukan dihindari. Semangat, Jenna!Kemudian Jenna mendekatkan dirinya ke meja kerja Tasya. "Sya, Mbak Karin beneran suka sama Pak Ken?""Kenapa, kamu dilabrak Mbak Karin?" tanya Tasnya serius."Nggak. Aku tanya sama, Mbak Karin beneran ... itu?" tanya Jenna dengan suara pelan."Mungkin? Aku asal tebak aja sebenarnya. Karena dari penglihatanku, Mbak Karin ini berusaha deket terus sama Pak Ken," ujar Tasya menurut pandangannya. Jenna terdiam sejenak. Memang, dipikir-pikir Karin dan Ken cukup dekat. Mungkin mereka ada hubungan sebelumnya?"Jangan-jangan mereka pernah pacaran, Jen?" kata Tasya menutup mulutnya sendiri.Bisa jadi. Otak Jenna
Last Updated: 2025-08-24

Terikat Cinta Setelah Akad
Laras Maheswari harus menelan pahitnya patah hati setelah putus dari Pandu Pramana, pria yang telah bersamanya selama 5 tahun ia berkarir. Pandu memutuskan hubungan dan menikah dengan Jelita, si anak magang yang baru 2 bulan bekerja di kantor mereka bekerja.
Namun, pada saat yang bersamaan Bian Nugraha yang bersatus sebagai tetangga Laras pun bernasib sama. Keduanya sama-sama di tinggal menikah oleh mantan kekasihnya. Demi menutupi rasa patah hatinya, Laras menerima tawaran Bian untuk menikah dengan pria itu. Pernikahan kontrak yang disepakati 1 tahun tersebut justru menjadi boomerang bagi keduanya.
Di saat Laras sudah merasakan benih cinta di dalam rumah tangganya dengan Bian, justru pria itu malah mematahkan hatinya. Bian terlalu dingin untuk Laras yang super ceria. Bian terlalu acuh tak acuh untuk Laras yang gampang khawatir. Fakta bahwa Bian ingin segera menyelesaikan rumah tangganya dengan Laras membuat wanita itu merasa makin tidak diinginkan.
Bagaimanapun Laras sudah jatuh hati kepada Bian, lantas apa yang harus Laras lakukan? Apakah ia mampu mempertahankan rumah tangganya bersama Bian, bahkan saat pria itu menyuruhnya pergi?
Read
Chapter: Bab 48 Hari Bahagia (Tamat)Jam makan siang."Laras!" panggil Lolita karena masih tidak terima bahwa surat penguduran dirinya tidak kunjung dapat persetujuan.Sarah yang melihat Lolita memanggil sahabatnya itu sontak menatap Laras seakan meminta jawaban."Kenapa, Ras?" tanya Sarah.Yang ditanya malah menggeleng pelan. Ia juga sebenarnya kurang tahu kenapa Lolita memanggilnya dengan nada cukup keras tersebut. "Yang bener aja kamu, Ras. Masa resign nggak ada omongan sama sekali ke aku," ujar Lolita masih tidak terima. Sarah yang mendengar seperti itu langsung menyahut, "Kamu resign, Ras?""Siapa yang resign?" Kali ini suara Bima yang muncul.Lolita menatap Laras dengan kesal. "Laras. Gara-gara dia surat resign saya batal di acc sama Pak Hendra.""Itu si nasib Bu Lolita." Bima memegang kopi dengan laptop di tangannya. "Pak Hendra mana mungkin lepasin sekretaris kesayangannya." "Diam kamu, Bima," balas Lolita tajam.Sebenarnya Lolita tidak marah, hanya saja kesal karena ia sudah menunggu-nunggu hari tersebut. Ia
Last Updated: 2025-01-14
Chapter: Bab 47 Resign Bersama—Beberapa bulan kemudian. "Mas ... Mas Bian bangun." Laras menepuk-nepuk pipi suaminya pelan.Tidak lama pria itu membuka matanya usai mendapat satu kecupan di pipi. Mungkin itu jimat ketika Bian susah dibangunkan."Mas aku berangkat duluan, ya? Hari ini ada meeting," ujar Laras di jam 8 pagi.Bian yang masih tertidur di atas ranjang pun sontak terbangun. Ini masih pagi, kenapa sang istri sudah mau berangkat kerja?"Cium dulu," balas Bian setengah sadar.Laras memandang malas. Ia sudah mau telat, tetapi Bian malah meminta hal aneh yang pasti berujung memakan waktu lama.Cup! Ciuman itu mendarat di pipi untuk yang kedua kalinya."Udah. Aku berangkat, ya."Namun, baru saja hendak bangkit tangan Laras dicekal oleh Bian sehingga wanita itu kembali jatuh ke ranjang."Mas," gerutu Laras.Sayangnya Bian tidak peduli, pria itu malah menunjuk bibirnya dengan ibu jari. Menyodorkan pada sang istri seolah meminta lebih."Aku udah mau telat, Mas. Nanti aja, ya?"Akhirnya aksi tawar-menawaran Lara
Last Updated: 2025-01-13
Chapter: Bab 46 Cinta yang Setara"Dari bibir kamu lebih manis," goda Bian.Laras refleks memukul tubuh sang suami. "Mas Bian!"Sayangnya pria itu justru terkekeh geli. Seolah hal yang paling menyenangkan adalah menganggu dan membuat istrinya marah."Muka kamu lucu," celetuk Bian. Laras pun merenggut. "Jangan kaya gitu lagi.""Kenapa?" Bian kembali mengikis jarak dengan sang istri. "Di sini aman. Mau nyoba lagi?"Tiba-tiba kedua orang tua Bian datang membuat keduanya berdiri dengan posisi normal. Laras merasa lega karena merasa diselamatkan."Kalian masih mau di sini atau ikut pulang bareng kami?" tanya Ibu Bian.Laras melirik ke arah Bian. Kemudian memamerkan senyum tipisnya. "Kita juga mau pulang, Bu. Takut hujan."Kedua orang tua Bian mengangguk lirih, berjalan lebih dulu meninggalkan kedua pasutri yang tengah berlibur tersebut. Entah sejak kapan Bian menjadi pria yang hangat dan romantis. Namun yang jelas Laras tidak henti tersenyum. Seperti saat ini, pria itu berjalan seraya menautkan jari-jemarinya dengan mili
Last Updated: 2025-01-12
Chapter: Bab 45 Merasa IndahUsai berganti pakaian kedua pasangan suami istri tersebut menuruni anak tangga dengan senyum rekah di bibirnya. "Gibran?" panggil Laras saat sampai di bawah."Ibu sama ayah di mana?" tanyanya."Oh ... ibu sama ayah kayanya pergi ke kebun," balas Gibran.Tentu saja Laras kebingungan sendiri. Bukankah kesibukan kedua orang tua Bian adalah mengurus perusahaan mereka? Karena selama tinggal satu komplek yang ia tahu Bian ini dari keluarga berada. Ayahnya saja pemilik perusahaan tempat pria itu bekerja. "Ibu sama ayah saya memang urus perkebunan di sini, lebih tepatnya ibu. Karena hobinya berkebun," jelas Bian.Kemudian Gibran kembali membuka suara. "Kata ibu, Kak Bian disuruh ajak Kak Laras jalan-jalan. Jangan di rumah terus.""Makasih Gibran. Kamu pengertian, deh," celetuk Laras.Bian pun melirik ke samping. "Memangnya kamu nggak capek?""Stamina tubuh aku itu kuat, Mas. Jangan diragukan. Gimana kalau kita susul ibu sama ayah. Aku pengen liat-liat," ucap Laras tampak bersemangat. Gibra
Last Updated: 2025-01-10
Chapter: Bab 44 Bertemu MertuaSetelah beberapa hari menghabiskan waktu di Bali, kini Laras dan Bian sudah berada di Taxi usai menempuh perjalanan pulang dari Bali—Bandung yang menghabiskan waktu sekitar satu jam lebih. "Mas, udah hubungi Ibu kalau kita udah perjalanan ke rumah?" tanya Laras di dalam mobil. Bian pun mengangguk. "Udah. Kenapa, kamu kok keliatannya seneng banget?""Aku nggak sabar ketemu orang tua Mas Bian. Apalagi ini pertama kalinya aku diajak berkunjung langsung setelah kita nikah," jujur Laras tidak lupa menebarkan senyum.Bian ikut senang karena sang istri terlihat bahagia dengan hal-hal kecil yang akan ia jumpai setelah. Ia tidak hentinya tersenyum. Kemudian tangan lembut itu mengusap rambut Laras dengan sayang. "Laras ...."Laras menoleh lalu membalas, "Kenapa, Mas?""Nggak apa-apa. Saya seneng aja liat kamu senyum lebar kaya gini," ungkapnya."Emang selama ini aku jarang senyum?" tanya Laras kebingungan. Lagi lagi Bian menggeleng lirih. Istrinya itu selalu saja membuat gemas. Tidak ayal
Last Updated: 2025-01-09
Chapter: 43 Honeymoon Beberapa hari berlalu. Kini, Laras dan Bian sedang berkunjung ke salah satu pantai yang menyediakan penginapan dengan nuansa pantai pasir putih yang terletak di kota Denpasar, Bali. Kedua pasangan suami istri itu sedang bersiap-siap karena sebentar lagi langit akan berganti warna jingga. "Kamu beneran honeymoon ke Bali, Ras?" tanya Sarah dari balik telepon. Laras pun mengangguk dengan wajah menghadap ke cermin hias. Memoles tipis riasan agar wajahnya tidak terlalu pucat. "Aku kangen pantai, Sar. Kebetulan kita mau berkunjung ke rumah mertua, jadi biar sekalian aja pulang dari Bali ke Bandung," balas Laras. "Astaga, Ras. Kamu istrinya Direktur, loh, minta honeymoon ke Eropa, kek. Jangan nanggung-nanggung, mau keliling dunianya juga Bian duitnya nggak bakalan abis," celetuk Sarah sengaja. "Perjalanan jauh yang bikin capek, Sar. Mending yang deket-deket aja lebih menghemat tenaga," jelas Laras apa adanya. "Padahal kapan lagi jalan-jalan jauh sebelum punya anak, nanti kalo udah ada
Last Updated: 2025-01-07
Chapter: Bab 127 Hidup Bersamamu (Tamat) Sudah beberapa hari ini, Mas Samuel rutin bertamu ke rumah Ibu. Entah apa tujuannya, tapi pria itu selalu saja menyempatkan waktu datang ke sini sekalipun baru pulang kerja. Ia juga membelikan banyak main untuk Sakti. Ah, perihal itu, aku sudah memberitahu Sakti. Semuanya, tanpa ada yang terlewat. Anak itu kesenangan sendiri, ia memang sempat tidak mau bicara padaku, tapi akhirnya dibujuk Mas Samuel hingga kini kami seperti keluarga. "Tumben Samuel belum datang? Biasanya dia jam 6 sudah ada di sini," ujar Ibu mengompori. Ya, biasanya Mas Samuel datang setiap jam 6 pagi ke sini. Ikut sarapan bersama kami dan setelahnya mengantar Sakti berangkat sekolah. Namun, sudah setengah 7 tapi batang hidung pria itu belum juga kelihatan. Aku sedikit, khawatir takut ia kenapa-kenapa. "Udah, dihabiskan dulu sarapannya. Kalau Samuel beneran nggak jemput Sakti, kamu bisa antar Sakti dulu. Ke butik bisa belakangan," ujar Ibu. Aku memang memutuskan kerja di butik Ibu. Aku dibimbing Ibu menjadi desai
Last Updated: 2024-02-25
Chapter: Bab 126 Perjalanan Hidup1 Minggu kemudian. Di 1 Minggu ini, aku tidak banyak berjumpa dengan orang-orang sekitar. Semenjak pindah ke rumah ibu, waktuku dihabiskan bersama ibu dan Sakti. Aku juga telah mengurus beberapa surat kepindahan dan akhirnya saat ini aku bisa mendaftarkan Sakti ke TK. Soal panggilan dari Sky Group, aku memilih menolaknya. Waktu itu sempat tahap interview, tapi tidak jadi karena diriku memilih pergi. Aku—mungkin tidak akan bisa bekerja di bawah naungan Mas Samuel. "Kamu udah apply lamaran ke perusahaan, Mas?" tanya Mas Rifki yang pagi-pagi sudah ada di rumah Ibu. Pertanyaan itu langsung dapat anggukan dariku. Kami saat ini sedang sarapan bersama, Mas Rifki datang bersama istri dan anaknya hanya karena aku mendaftarkan Sakti ke TK di mana tempatnya sama dengan Sekolah Dasar Kenzo. Mbak Yuni menyahut, "Kamu jadi kerja di tempat Mas Rifki, Ser? Ngelamar posisi apa?" "Iya, bagian admin Mbak. Jalur referensi Mas Rifki. Katanya lagi ngebutuhin admin di sana," balasku apa adanya. Tiba
Last Updated: 2024-02-22
Chapter: Bab 125 Meminta RestuSuara dering ponsel mampu membangunkan tidur nyenyak 'ku. Panggilan itu berasal dari Reno. "Kenapa, Reno?" tanyaku bersandar di kepala ranjang. Kepalaku terasa berat. Mungkin efek mabuk semalam. "Di kantor ada Pak Rifki, Pak. Beliau menunggu di ruangan Bapak," jelas Reno. Aku mengerutkan kening. Untuk apa Rifki datang ke kantorku? "Saya segera ke sana," ucapku langsung memutus sambungan. Aku beranjak dari ranjang dengan kepala yang masih terasa pening. Namun, pandanganku tertuju kepada meja yang di atasnya terdapat lampu tidur. Di sana terdapat satu gelas air dengan sepucuk surat di bawahnya. > [Ini jamu yang bisa buat badan kamu lebih enakan. Jangan lupa diminum kalau sudah bangun. /from Serena]Aku tersenyum hangat membaca pesan tersebut. Kupikir perempuan itu marah karena semalam tanpa sadar aku telah membuatnya tidak berdaya di ranjang. Tanganku menggapai gelas tersebut dan meminumnya hingga tandas. Bentuk perhatiannya yang seperti membuatku makin yakin bahwa Serena hanya cu
Last Updated: 2024-02-20
Chapter: Bab 124 Kelewat MabukCekalan itu langsung terlepas ketika kami sampai di luar, tepatnya di depan mobil pria itu. Aku jadi tidak enak dengan Elmar yang masih di dalam. Pria itu pasti kecewa karena diriku pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah kata. Saat kulihat, tatapan elang penuh amarah seketika tertuju padaku. Aku masih syok dengan kedatangannya yang di luar kendali. Apalagi melihat sorot matanya yang begitu menakutkan. Sehingga siapa pun yang melihatnya tidak berani menyapa, bahkan melirik saja mungkin tidak sampai. Setiap pergerakannya tidak lepas dari bola mataku. Meski aku takut sendiri, tapi pandanganku tidak bisa lepas darinya. Ia membuka jas yang menempel ditubuhnya, menyisakan kemeja putih sebagai pakaian yang kenakan. Tanpa diduga, jas hitam yang sempat ia copot tersebut beralih posisi sehingga kini aku yang memakai jas kebesaran itu. Tatapan kami bertemu. Tentu saja aku terkejut. Perhatiannya barusan membuat jantungku berdebar kencang. "Masuk," tegasnya berjalan lebih dulu ke arah mobil.
Last Updated: 2024-02-19
Chapter: Bab 123 Di Antara Dua PilihanSaat ini, aku sedang mengobati luka Mas Samuel. Meski lukanya tidak cukup serius, tapi jika dibiarkan bisa jadi infeksi. Apalagi pukulan yang diberikan cukup keras sehingga sudut bibir pria itu sobek sedikit. Ah, soal Mas Rifki, ia sudah ditenangkan oleh Mbak Yuni. Aku menuangkan alkohol ke atas kapas, memegang dagu Mas Samuel tidak asa-asa. Pria itu meringis kala lukanya tidak sengaja ku tekan. Ini kedua kalinya aku melihat Mas Samuel terluka oleh kakakku, tapi soal rumah sakit. Apakah aku harus menanyakannya pada pria ini? "Tanya aja. Nggak usah ngeliatin saya kaya gitu," ucap Mas Samuel. Aku salah tingkah sendiri. Menurunkan tangan dari dagunya, lalu menatapnya lamat-lamat. "Yang dibilang Mas Rifki itu... benar?" tanyaku hati-hati. "Soal saya yang masuk rumah sakit karena kakak kamu?" Langsung kuberi anggukkan. "Soal itu, memang benar. Kejadiannya udah lama. Lagipula, saya masih hidup sampai sekarang. Jadi, pukulan Mas kamu nggak seberapa buat saya."Nggak seberapa bagaimana?
Last Updated: 2024-02-18
Chapter: Bab 122 Kalut—Di dapurAku masih memikirkan ucapan Mbak Yuni. Entah kenapa hal itu malah menganggu konsentrasi. Mas Samuel dan Kinan tidak kembali. Dalam artian mereka tidak rujak atau menikah kembali. Apakah menutup telinga selama ini kesalahan terbesarku? "Serena?" Pikiranku saat ini penuh. Berbagai macam pertanyaan muncul di kepala. Tidak mungkin aku menyesal atas apa yang telah kupilih lima tahun yang lalu. Ya, tidak mungkin. Perasaan ini mungkin hanya sesaat saja. Perasaan memilukan karena tidak tahu bahwa nasib Mas Samuel justru lebih sulit dari dugaanku. "Astaga, Serena!" Aku tersentak. Buru-buru mematikan kompor. Menatap nanar ikan gosong di penggorengan. Miris. Bahkan ikan tersebut tidak ada yang bisa dimakan. Semuanya menghitam. "Kamu lagi mikirin apa coba? Masak kok malah ngelamun. Ikannya jadi gosong, kan," omel Ibu. Tatapku masih tertuju pada penggorengan di sana. Kecerobohanku lagi-lagi merugikan. Ibu terlihat marah juga khawatir. Aku tidak mengucapkan apa-apa, sebab masih syok
Last Updated: 2024-02-18