MasukSuara ledakan flashbang mengguncang fondasi udara di dalam ruang kerja eksekutif lantai dua puluh empat. Cahaya putih menyilaukan berintensitas jutaan candela memancar mendadak, membakar indra penglihatan empat pengawal bersenjata yang baru saja mendobrak pintu ganda mahoni. Gelombang kejut bertekanan tinggi menyapu ruangan tebal itu, membuat telinga para pengawal berdengung hebat dan keseimbangan tubuh mereka runtuh seketika.Dalam hitungan detik, Owen bergerak bagaikan bayangan dalam asap tipis yang menyebar. Ia melompati meja mahoni masif, melumpuhkan dua pengawal terdepan dengan kombinasi pukulan presisi di titik saraf leher sebelum mereka sempat mengangkat laras senjata. Dua sisanya disapu dengan tendangan melingkar yang menghantam rahang mereka, menjatuhkan tubuh-tubuh tegap itu tak sadarkan diri ke atas lantai parket.Namun, sebelum Owen sempat menarik Cindy menuju panel gorden barat tempat jalur tangga darurat tersembunyi, pintu kaca tempered yang terhubung ke koridor elevat
Lampu indikator di atas lorong eksekutif mendadak berubah warna dari putih kebiruan menjadi merah meremang. Suara dengung berfrekuensi rendah bergema lembut dari dalam kisi-kisi pendingin udara—tanda bahwa sistem keamanan otomatis Vangard Tower telah mengunci seluruh akses keluar-masuk lantai dua puluh empat."Lima menit, Komandan! Sirene mobil Jimmy sudah terpantau melintasi persimpangan jalan!" deru suara Ben melalu earpiece terdengar makin terdistorsi oleh gangguan frekuensi gedung. "Tim pengawal internal lantai dasar sudah menaiki elevator servis dua!"Owen mencengkeram lengan Cindy, berusaha menariknya menjauh dari brankas dinding yang terbuka. "Cindy, ranselmu sudah penuh. Kita harus bergerak ke jalur evakuasi darurat sekarang!"Namun, Cindy membeku di depan meja mahoni Jimmy. Matanya tidak tertuju pada pintu keluar, melainkan pada sebuah perangkat pemutar pita suara (dictaphone) analog berbahan logam perak yang tergeletak di balik tumpukan map kerja Jimmy. Perangkat kecil itu
Keheningan di dalam ruang kerja eksekutif Jimmy terasa begitu pekat, seolah-olah waktu membeku di dalam ruangan berlapis dinding kedap suara tersebut. Di luar jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga plafon, rintik hujan malam menyapu wajah London, membiaskan cahaya jingga dan putih dari deretan pencakar langit menjadi pendaran samar yang memantul di atas lantai parket mahoni.Owen langsung bergerak secara sistematis. Dengan langkah kaki tanpa suara, mantan prajurit elit itu menyapu setiap jengkal ruangan menggunakan pemindai termal genggam. Cahaya infra merah redup dari alat tersebut memetakan kontur suhu udara, kabel listrik tersembunyi, dan fluktuasi medan magnetik di balik perabotan mahal."Tidak ada sensor tekanan di permukaan lantai," bisik Owen, matanya menatap tajam ke arah layar pemindai yang menampilkan peta termal ruangan. "Tapi ada gelombang arus daya tak biasa di balik struktur dinding sebelah barat. Ada perangkat elektronik yang terus menarik daya cadangan
Gerimis tebal yang mengguyur London Pusat membingkai siluet Vangard Tower yang berdiri megah menembus langit malam. Gedung pencakar langit berlantai tiga puluh enam itu memancarkan pendar lampu tembak keperakan dari area pelataran utama, tempat puluhan pekerja konstruksi dan tim manajemen acara berpacu dengan waktu mendirikan panggung akbar, membentang karpet merah, serta memasang baliho raksasa bertuliskan "PERINGATAN 10 TAHUN VANGARD PUBLISHING".Di area lorong servis belakang yang remang-remang dan luput dari sorotan media, sebuah van hitam tanpa pelat nomor berhenti mulus tepat di samping celah pembuangan udara gedung. Engine mati seketika.Owen menyesuaikan earpiece mikronya, menatap monitor taktis kecil yang terpasang di pergelangan tangannya. "Ben, konfirmasi status sistem keamanan sektor servis.""Jalur loading dock aman, Komandan." Suara Ben terdengar jernih melalui jaringan radio terenkripsi. "Saya sudah mengunci putaran umpan video kamera tiga dan empat pada loop tiga meni
Suara deru angin malam dan rintik hujan yang menghantam atap seng kontainer mengiringi dentak jemari Cindy di atas papan ketik. Di dalam ruang kerja sempit yang hanya diterangi pendar cahaya biru dari lima layar monitor, Cindy tenggelam dalam kesurupan kreatif yang dingin. Kali ini, ia tidak sedang menulis fiksi untuk menghibur pembacanya, melainkan merancang sebuah labirin jebakan psikologis yang ditujukan khusus untuk satu-satunya manusia yang paling ia benci saat ini, Jimmy.Owen berdiri di belakang kursi Cindy, memperhatikan barisan kalimat yang tercipta di layar. "Kamu yakin dia akan memakan narasi ini?"Cindy tidak menghentikan ketikannya. "Jimmy adalah seorang editor senior yang terobsesi pada kontrol penuh, Owen. Selama lima tahun bekerja bersamanya, aku paham betul bagaimana cara otaknya memproses ketakutan. Dia tidak takut pada ancaman fisik, tetapi dia sangat ketakutan jika ada satu saja variabel bukti yang luput dari jangkauannya."Di layar monitor, draf yang diberi judul
Daftar nama lima pejabat teratas Divisi Redaksi Senior Vangard Publishing kini terpampang membeku di layar monitor tengah. Di dalam kontainer rahasia yang terisolasi dari dunia luar, keheningan berubah menjadi ruang pengadilan tak kasat mata. Pendar pualam dari layar menyinari wajah Cindy yang pucat, memproyeksikan riak emosi yang berkecamuk hebat di balik sepasang matanya.Owen tidak memotong keheningan itu. Ia berdiri tegak dua langkah di belakang Cindy, memberi ruang bagi sang penulis untuk menelusuri lorong-lorong ingatannya sendiri. Naluri tempur Owen tahu kapan waktu untuk menggunakan senjata dan kapan waktu untuk membiarkan ketajaman pikiran bekerja. Malam ini, medan pertempuran sepenuhnya berada di dalam kepala Cindy."Ben, isolasi seluruh berkas catatan revisi internal dari lima orang ini selama tiga tahun terakhir," pinta Cindy, suaranya terdengar sangat tenang—sebuah ketenangan abnormal yang lahir dari puncak keputusasaan dan kemarahan."Sudah diunduh, Nona," jawab Ben se







