Mag-log in“Uuhgg… sakit,”
Pagi ini, Rayana masih meringkuk dalam selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Matanya sembab setelah menangis semalaman menahan nyeri di sekujur tubuhnya. Di malam kedua ini, rasa sakit dan perih memang tidak terasa, namun durasinya jauh lebih panjang dibandingkan malam pertama. Malam kedua terasa seperti siksaan tak berkesudahan, setiap hentakan yang menghantam tubuh Rayana seperti gelombang ombak yang menghantam dadanya, membuat napasnya kian berat dan sulit bernapas. Rayana tak lagi yakin apa yang sebenarnya terjadi semalam. Tubuhnya seperti bukan miliknya lagi, ada momen-momen di mana ia sadar dirinya ikut terseret oleh kenikmatan di tengah penyiksaan itu. Perasaan aneh itulah yang mengoyak hatinya, mencabik-cabik harga diri yang sedikit demi sedikit sedang terkuras habis. “Hmm….” Tiba-tiba terdengar gumaman Arya di sebelahnya. Rayana tersentak, sadar dirinya terlalu larut dalam pikiran sendiri. Cepat-cepat lah ia bangkit, sebelum Arya membuka matanya, lalu berlari menuju kamar mandi. Begitu pintu tertutup, ia membuka keran shower. Air mengalir membasuh tubuhnya. Rayana menggosok kulitnya dengan kuat, seolah ingin menghapus setiap sisa dari Percintaan semalam. Aroma sabun melati menusuk hidungnya, tapi sama sekali tidak memberi rasa segar—hanya mengingatkan bahwa tubuhnya masih menyimpan jejak yang ingin ia hapus dari ingatan. Selesai membasuh diri, ia menatap cermin sejenak. Pandangannya membeku saat melihat ruam-ruam merah disekitaran leher dan payudaranya. Air matanya kembali pecah tanpa bisa dibendung. "Mengapa hidupku terus menderita seperti ini..." bisikannya lirih, sementara air mata kembali mengalir membasahi pipinya. Ia genggam erat handuk yang membungkus tubuhnya, Rayana begitu benci pada dirinya sendiri. Dirinya lemah dan tak berdaya, tubuh dan jiwanya terasa hancur dan ternoda oleh keegoisan kakak tirinya. ****** “Hooaammm…” Jam menunjukkan pukul delapan pagi ketika Ashley keluar dari kamarnya, menguap lebar. Tubuhnya masih terbalut kimono tidur, rambut acak-acakan, namun kecantikannya tetap terpancar meski tanpa riasan. Pandangan matanya tertuju pada meja makan. Di sana, seperti biasa, Rayana sudah menyiapkan sarapan: dua gelas jus jeruk segar, roti panggang dengan olesan selai stroberi, keju, dan alpukat diatasnya. Semuanya tertata rapi, sesuai keinginan Ashley. Bibir ranum Ashley perlahan melengkung, menyaksikan wajah muram dan mata sembab adik tirinya. Ia tidak perlu bertanya, sudah jelas Rayana habis melewati malam yang berat. Wajah Adik tirinya itu tampak lelah, dan mata sembabnya. “Kenapa mukamu seperti wanita yang habis dianiaya? Kau ini lebay sekali, Rayana. Harusnya kau merasa beruntung bisa menjadi istri kedua Arya… Suamiku bukan pria sembarangan. Dia CEO Widyantara Group. Harusnya wanita rendahan sepertimu merasa bangga bisa punya kesempatan melahirkan anaknya.” Ledek Ashley sambil mengambil sepotong roti, lalu memakannya dengan cara yang Anggun. Itu bukanlah ucapan pujian. Sejak dulu, Ashley selalu menemukan cara untuk menampar harga diri Rayana—mencabiknya, merendahkannya, hingga tak bersisa. Rayana tahu, melawan Ashley sama saja dengan menggantung dirinya di pohon. Wanita cantik namun keji itu memiliki kendali kuat atas setiap hidup Rayana saat ini. Kesunyian diantara mereka pecah, Arya keluar dari kamar, sudah berpakaian rapi, dasinya terikat sempurna, dan aroma parfum mahalnya langsung memenuhi ruangan makan. Tapi sorot matanya dingin, terlihat frustasi. “Selamat pagi, Sayang,” ucap Ashley lembut. Jemari lentiknya menyusuri pipi Arya, lalu bibirnya mendarat manja di bibir sang suami. Rayana menunduk. Setiap kali melihat mereka bermesraan, ada rasa mual yang menggelayuti dadanya, ia merasa jijik pada Ashley. Istri macam apa rela, menyuruh suaminya meniduri wanita lain? Arya tak menunjukkan reaksi apa pun. Tatapannya kosong, Seolah pikirannya melayang entah ke mana. Ia hanya menarik kursi, duduk, lalu mulai menyantap sarapannya dalam diam—tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir. “Semalam semuanya lancar, kan? Dia nggak melawan, kan?” tanya Ashley. Ia mengira sikap dingin Arya disebabkan oleh Rayana, padahal sejatinya bukan itu—Arya marah pada sikap egois Ashley, yang memaksanya tidur dengan Rayana seolah itu hal yang wajar. Arya menatap istrinya itu sebentar, lalu menjawab dengan nada dingin, pelan namun tajam. “Tidak. Dia patuh… seperti yang kamu harapkan.” “Bagus… aku suka kalau dia bersikap tahu diri dan tahu posisinya.” Seru Ashley melirik penuh hinaan, seolah Rayana Adalah orang rendahan. Menyudahi percakapan, Arya dan Ashley lanjut sarapan seperti biasa, sementara Rayana berdiri di dekat meja makan. Saat melihat gelas Arya kosong, ia mendekat dan menuangkan jus dengan tangan gemetar. Tatapan dingin Arya selalu membuatnya gugup. Ashley tersenyum smirk, lalu sengaja menyenggolnya tubuh Rayana. Teko jus pun miring, cairan kuning itu tumpah membasahi celana kerja Arya. "Aduh!" pekik Arya kesal. “Ya ampun, Sayang, celana mahalmu!” ucap Ashley pura-pura panik, tapi matanya melirik Rayana penuh ejekan. Rayana ketakutan. “Maaf… Maafkan saya tidak sengaja,” ucapnya, sambil berlutut dan mengeluarkan serbet. "Ckk!" Arya hanya menatapnya dingin, membuat Rayana semakin tercekik rasa bersalah. “Dasar gak becus… ceroboh sekali, kamu tahu kan setelan celana suamiku harganya jutaan, mana mampu kamu ganti,” ujarnya sambil tertawa menghina. Wajah Rayana memanas. Gugup sudah pasti, tangannya gemetaran saat mengusap celana Arya yang basah oleh jus. Saat melihat posisi Rayana yang berlutut begitu dekat, jantung Arya tiba-tiba berdegup tak karuan, ada rasa tak nyaman—dan entah kenapa, memicu sesuatu yang tak ingin ia akui.Meilani menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan perubahan sikap sahabatnya yang mendadak itu. "Tadi katanya jijik? Kok sekarang malah minta dipanggilkan? Harga diri 'wanita kelas atas' kamu ke mana, Ash?" Ashley menyandarkan punggungnya ke kursi velvet klub, melipat kaki jenjangnya dengan angkuh. Matanya yang tajam menatap Meilani dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara dendam yang membara dan keinginan untuk memberontak. "Harga diri tidak memberiku kepuasan, Mei," desis Ashley. "Aku butuh bersenang-senang. Kita harus merayakan rencana besar kita. Lagipula, Arya sama sekali tidak mau menyentuhku lagi. Dia terlalu sibuk memuja wanita bodoh itu." Meilani tertawa renyah, menggelengkan kepalanya tak percaya. "Astaga, Ash ... Arya benar-benar bodoh menolak supermodel sepertimu demi seonggok daging murah di rumahnya sendiri." Tanpa membuang waktu, Meilani memberikan kode pada pelayan VIP. Tak lama kemudian, dua laki-laki muda melangkah masuk ke lounge pribadi mere
Lampu strobe berwarna ungu, biru, dan merah menyambar-nyambar dengan gila, membelah kegelapan club malam kelas atas. Dentuman bass dari musik EDM yang dimainkan DJ internasional, menciptakan getaran yang membuat lantai dansa berguncang. Di sudut area VIP yang sedikit tersembunyi, Ashley duduk menyentakan bokongnya di sofa beludru hitam, mengabaikan kerumunan manusia yang bergoyang mengikuti irama. Di depannya, meja kristal penuh dengan botol-botol minuman keras premium yang sudah kosong setengahnya. "Mei ... kau tidak akan percaya! Dia ... Suamiku ... benar-benar sudah gila!" isak Ashley, suaranya parau karena berteriak melawan dentuman musik. Ashley menyambar gelas shot keenamnya. Tanpa garam, tanpa jeruk nipis, ia membiarkan cairan tequila gold itu membakar kerongkongannya. Rasa panas itu setidaknya sedikit mengalihkan rasa perih di hatinya yang hancur. "Arya bilang aku tidak pantas jadi ibu, Mei!" teriak Ashley tepat di telinga Meilani. "Dia bahkan tega mengusirku ... dia le
"Tega kamu, Arya ... Aku ini istrimu yang sah, bukan Rayana!" ratap Ashley. Suaranya pecah, parau karena terlalu banyak berteriak. Ia jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin, mengabaikan kimono sutra mahalnya, memukul-mukul lantai marmer itu, mencoba meluapkan rasa sakit di hatinya. Namun, Arya sudah tak peduli lagi, hanya berdiri mematung. Tidak ada tangan yang terulur, ataupun bisikan penenang yang seperti biasa ia lakukan kalah Ashley tantrum. Ia justru melirik ke arah jam dinding perak di ruang makan dengan gestur yang sangat tidak peduli. "Keputusanmu kutunggu sampai besok pagi," ucap Arya datar. "Jika besok pagi kulihat kau masih mencoba menyentuh atau mengintimidasi Rayana, aku sendiri yang akan menyeret koper-kopermu ke luar gerbang." Tanpa menoleh lagi pada istrinya yang masih merengek histeris di lantai, Arya membalikkan badan, meninggal Ashley sendirian di ruang makan. "TEGANYA KAMU MENGUSIRKU DEMI WANITA ITU!" teriak Ashley, suaranya melengking pecah hingga u
Ashley menuruni tangga pualam dengan langkah perlahan. Empat jam perawatan mewah baru saja ia lalui—dari lulur yang menghaluskan kulit hingga pijat aromaterapi beraroma mawar yang melekat lembut. Kini kulitnya tampak berkilau, lembap, dan memancarkan daya tarik yang sulit diabaikan. Di ujung meja makan panjang yang diterangi lampu gantung kristal temaram, ia melihat suaminya sedang makan sendiri. Arya duduk dengan punggung tegak, tampak sangat fokus menikmati sepotong steak medium-rare di hadapannya. "Selamat malam, Sayang ...," sapa Ashley dengan nada suara mendayu manja. Ia menarik kursi tepat di samping Arya, duduk dengan gerakan lambat yang penuh maksud, Ashley menyibakkan kimono tidurnya yang berbahan satin tipis, membiarkan kain itu meluncur jatuh dari bahunya. Tindakan itu memperlihatkan belahan dadanya yang menantang dan kulit putihnya yang masih menyisakan rona merah bekas pijatan. Ia menopang dagu dengan satu tangan, menatap Arya dengan tatapan lapar akan perhatian, berh
"Kamu ... bicara pada perutku seperti itu seolah sudah ada bayi di sana," ujar Rayana dengan sisa tawa yang masih menghiasi bibirnya yang bengkak. Ia mengusap pipi Arya, membiarkan jemarinya yang mungil menelusuri rahang tegas pria itu. "Memangnya kenapa? Aku hanya sedang memberikan sambutan hangat untuknya," bisik Arya parau. Ia kembali mendaratkan kecupan ringan di pusar Rayana yang masih basah. "Setiap tetes yang kuberikan padamu hari ini adalah janji, Rayana. Aku akan memastikan rahimmu tidak pernah merasa kesepian." Rayana merona hebat, ia menarik kepala Arya agar sejajar dengan wajahnya. "Tapi kalau dia benar-benar serakus ayahnya, aku bisa kewalahan, Arya. Lihat saja bagaimana kau 'mengobrak-abrik' rumahnya sejak subuh tadi." Arya terkekeh, suara baritonnya terasa hangat di kulit Rayana. "Itu karena rumahnya sangat nyaman. Aku betah berlama-lama di dalam milikmu. Dan kau pun sebaliknya," "Dasar nakal," rintih Rayana manja, "Tapi, kau benar, aku suka ... aku sangat suk
Rayana menengadah, menunjukkan senyum manis yang menggoda, yang jarang ia tunjukkan kepada siapapun. Bukannya langsung menuruti perintah suaminya, Rayana justru menunjukkan sisi liarnya yang lain. Dengan gerakan yang penuh perhitungan, Rayana membusungkan dadanya yang berisi, sengaja menekan payudaranya hingga bersentuhan langsung dengan milik Arya yang sudah keras dan berdenyut. Kedua tangan mungil Rayana meraih payudaranya sendiri, menekannya dari kiri dan kanan hingga menciptakan jepitan yang sempurna di tengah lembah dadanya. Ia mengunci milik suaminya di sana, merasakan sensasi gesekan kulit yang basah oleh sisa air mandi Arya. Siksaan Lembut yang Mematikan "Rayana ... kau memang sangat tahu apa yang kuinginkan," geram Arya parau. Suaranya pecah, matanya menggelap saat melihat pemandangan erotis di bawahnya. Urat-urat di leher Arya menonjol kencang, kedua tangannya mencengkeram seprei menahan ketegangan yang memenuhi jiwanya. Rayana terkekeh, tawa kecil yang penuh keme
“Hentikan!” Pekik Arya, Rayana langsung terdiam, tangannya membeku di udara.Arya beranjak dari kursinya, matanya menatap Rayana, sambil menunjuk dengan jari, lalu berkata dengan nada sinis, “Kamu! Ikut saya ke kamar.”Ashley terkekeh, senang melihat Rayana ketakutan, seakan rencananya telah berjal
“Ash, kau di mana? Kenapa belum pulang?” tanya Arya ditelepon, sambil melirik jarum jam di tangan, Rolex-nya menunjukkan pukul tujuh malam.“Maaf, Sayang. Sehabis pemotretan, tiba-tiba Fransisca aja aku makan malam. Besok dia mau berangkat ke Milan selama sebulan, jadi aku tidak bisa menolak ajakan
“Selamat Pagi, Boss,”Suara seorang pria menyambut Arya begitu ia baru masuk ke ruangan kerjanya di lantai 21 gedung perusahaan Widyantara Corp.Arya mengerutkan kening."Justin," ucapnya, menyebut nama pria yang sedang santai duduk di kursi kebesarannya."Bagaimana kabarmu, my friend? Kenapa pagi
“Kalau bukan karena permintaan Ashley, aku tidak akan pernah sudi menyentuh perempuan sepertimu.”Suara Arya terdengar lantang. Dingin. Menggores tajam, seperti bilah belati menusuk harga diri Rayana.“Aaahh… sakit… Tolong, hentikan…” Rayana merintih. Napasnya putus-putus. Air matanya membanjiri wa







