Beranda / Romansa / Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin / Bab 23 : Ruang Tanpa Izin

Share

Bab 23 : Ruang Tanpa Izin

Penulis: qia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-26 08:34:43

Keputusan itu tidak diumumkan.

Tidak ada memo resmi, tidak ada surat edaran, tidak ada rapat darurat. Tapi pagi itu, Keira tahu—sesuatu telah ditutup.

Akses ke dua basis data yang biasa ia gunakan menampilkan pesan kesalahan. Bukan penolakan. Bukan pembatasan. Hanya gangguan teknis yang “sedang ditangani”.

Keira menatap layar beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Ini bukan gangguan,” katanya pelan.

Mira berdiri di sampingnya, gugup. “Tim IT bilang server sedang sinkronisasi ulang.”

“Sinkronisasi yang selalu terjadi saat aku mulai menyentuh simpul,” jawab Keira.

Ia menutup laptop tanpa menekan apa pun lagi. Ia tahu kapan harus berhenti mendorong pintu yang sedang dikunci perlahan.

Di ruang rapat kecil, Keira duduk berhadapan dengan kepala unit administrasi—seorang pria dengan wajah ramah dan nada bicara yang terlalu hati-hati.

“Kami hanya ingin memastikan ritme kerja tetap selaras,” katanya.


Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 50 : Ambang

    Ambang adalah tempat paling rapuh. Bukan karena ia lemah, melainkan karena ia memaksa seseorang memilih mundur, atau melangkah penuh.Keira berdiri tepat di sana.Ia merasakannya sejak pagi perasaan menggantung yang tidak sepenuhnya gelisah, tapi juga belum tenang. Semua berjalan, namun tidak ada yang benar-benar selesai. Sistem menunda keputusan. Mitra menunggu sinyal. Tim bekerja dengan fokus yang dijaga rapat-rapat.Dan dirinya sendiri… sedang menimbang.Hari itu dimulai dengan rapat internal yang lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada adu argumen. Tidak ada presentasi panjang. Hanya laporan singkat dan tatapan yang saling membaca.“Kita sampai di titik ambang,” kata Rina akhirnya. “Setelah ini, apa pun yang kita lakukan akan mengunci arah.”Keira mengangguk. “Dan tidak semua orang akan ikut.”Kalimat itu tidak diucapkan sebagai ancaman. Ia hanya fakta.Satu per satu anggota tim menyampaikan posisi. Beberapa me

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 49 : Guncang

    Guncangan tidak selalu datang sebagai ledakan.Kadang ia hadir sebagai perubahan kecil yang terus berulang, sampai keseimbangan terasa goyah.Keira merasakannya pada minggu kedua setelah risiko-risiko itu mulai terbaca jelas. Tidak ada satu kejadian besar. Yang ada justru rangkaian kecil: jadwal yang bergeser, jawaban yang tertunda, keputusan yang tak lagi mendapat respons cepat.Semua tampak wajar. Namun jika disusun, polanya terlihat.“Mereka sedang menguji daya tahan kita,” kata Rina suatu pagi.Keira menatap papan catatan. “Atau menguji kesabaran kita.”Perbedaannya tipis. Tapi dampaknya besar.Guncangan pertama terasa di internal tim.Salah satu anggota kunci mengajukan cuti mendadak. Alasannya pribadi, disampaikan dengan sopan, tapi waktunya tidak ideal.“Kita bisa menunda beberapa agenda,” kata Rina.Keira mengangguk. “Dan kita tidak mempersoalkan alasannya.”Ia sadar, tekanan e

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 48 : Resiko

    Resiko selalu hadir setelah garis ditarik.Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai konsekuensi.Keira merasakannya segera setelah kesepakatan parsial itu diumumkan secara internal. Tidak ada sorak, tidak ada kelegaan berlebihan. Hanya kesadaran sunyi bahwa apa pun yang mereka lakukan selanjutnya akan diperhatikan lebih tajam.“Kita sekarang terlihat,” kata Rina.Keira mengangguk. “Dan itu berarti setiap langkah harus disengaja.”Risiko pertama datang dari arah yang tidak terduga.Satu klien lama menunda kerja sama tanpa alasan jelas. Tidak menutup pintu, tapi juga tidak melangkah maju. Sinyalnya samar, namun cukup untuk dibaca sebagai kehati-hatian.“Mereka menunggu,” kata Rina.“Menunggu apa?” tanya Keira.“Apakah kita akan menyesuaikan diri,” jawab Rina. “Atau bertahan.”Keira tersenyum tipis. “Biarkan mereka melihat.”Di sisi lain, muncul peluang kecil tidak spektakuler, tidak meng

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 47 : Garis

    Garis tidak selalu terlihat. Sering kali ia baru terasa saat seseorang melangkah terlalu jauh.Keira menarik garis itu pada pagi yang tenang, justru ketika tidak ada desakan langsung. Ia memutuskan satu hal sederhana: tidak semua komunikasi harus segera dijawab. Beberapa surel ia baca tanpa membalas. Beberapa pesan ia tandai untuk dibicarakan bersama tim, bukan diputuskan sendiri.Keputusan kecil itu terasa asing seolah ia melanggar kebiasaan lama yang mengukur nilai diri dari kecepatan merespons.Namun dunia tidak runtuh.Hari berjalan. Pekerjaan tetap bergerak. Dan untuk pertama kalinya, Keira menyadari bahwa kendali tidak selalu hadir lewat kehadiran konstan, melainkan lewat kejelasan posisi.Rina memperhatikan perubahan itu.“Kamu mulai membiarkan ruang kosong,” katanya.“Ruang itu perlu,” jawab Keira. “Agar orang lain tahu di mana mereka berdiri.”“Dan agar kamu tidak berdiri di semua tempat sekaligus,” tam

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 46 : Tekanan

    Tekanan tidak selalu datang sebagai benturan. Kadang ia hadir sebagai undangan yang terlalu rapi untuk ditolak.Keira menerimanya pada pagi yang tampak biasa. Sebuah surel resmi, bahasanya netral, tanpa ancaman terselubung. Tidak ada tenggat keras. Tidak ada tuntutan langsung. Hanya permintaan pertemuan—tertutup, terbatas, dan “bersifat klarifikasi”.Rina membaca isi surel itu dua kali.“Mereka kembali,” katanya akhirnya.Keira mengangguk. “Mereka tidak pernah benar-benar pergi.”Namun kali ini, tubuhnya tidak menegang seperti sebelumnya. Tidak ada rasa dikejar. Yang ada hanya kesadaran bahwa fase tenang memang selalu punya harga.“Apa kamu akan datang?” tanya Rina.Keira menatap layar beberapa detik lebih lama sebelum menjawab. “Ya. Tapi dengan caraku.”Pertemuan itu diadakan di ruang kecil yang terlalu bersih untuk disebut ramah. Dua orang dari sistem sudah duduk ketika Keira masuk. Wajah mereka sopan, nyaris

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 45 : Arah

    Jeda tidak menghapus arah. Ia justru membuatnya terlihat lebih jelas.Keira merasakannya pada pagi ketika ia tidak lagi bangun dengan dorongan panik. Pikirannya masih penuh, tetapi tidak berisik. Ia tahu apa yang harus dikerjakan hari itu dan yang lebih penting, apa yang tidak.Di kantor kecil mereka, Rina sudah lebih dulu datang.“Ada kabar,” kata Rina tanpa nada mendesak. “Bukan tekanan. Lebih… pergeseran.”Keira duduk. “Ceritakan.”“Sistem mulai mengalihkan fokus,” lanjut Rina. “Mereka tidak lagi menyorot kita secara langsung. Mereka sibuk merapikan forum baru itu.”Keira mengangguk pelan. “Artinya kita tidak lagi prioritas.”“Atau,” kata Rina hati-hati, “mereka menunggu kita membuat kesalahan sendiri.”Keira tersenyum tipis. “Itu selalu kemungkinan.”Dengan sorotan yang mereda, ruang kerja mereka terasa berbeda. Lebih longgar. Lebih jujur. Keira menggunakan ruang itu bukan untuk mempercepat, melaink

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status