MasukKeira mengetahui kabar itu bukan dari pengumuman resmi.
Ia datang dari pesan singkat, dikirim terlalu pagi untuk membawa berita baik.Maaf. Aku tidak bisa lanjut. Hari ini terakhirku.Tidak ada tanda tangan. Tidak ada penjelasan.Keira menatap layar lama, seolah kalimat itu bisa berubah jika dibaca ulang.Ia mengenali nomor itu salah satu penghubung lapangan yang paling awal percaya pada pendekatannya. Bukan koordinator utama. Bukan figur strategis. Justru itu yang membuatnya penting.Orang yang bekerja tanpa ingin terlihat.Keira membalas cepat.Kamu baik-baik saja?Balasan datang beberapa menit kemudian.Baik. Tapi aku tidak bisa mempertaruhkan ini lebih jauh.Keira memejamkan mata.Rina datang dengan wajah yang sudah menduga.“Dia pergi?” tanya Rina.Keira mengangguk.“Alasannya?”“Tidak disebut,” jawab Keira. “Dan itu justru jawabannya.”Tekanan tidak selalu datang sebagai benturan. Kadang ia hadir sebagai undangan yang terlalu rapi untuk ditolak.Keira menerimanya pada pagi yang tampak biasa. Sebuah surel resmi, bahasanya netral, tanpa ancaman terselubung. Tidak ada tenggat keras. Tidak ada tuntutan langsung. Hanya permintaan pertemuan—tertutup, terbatas, dan “bersifat klarifikasi”.Rina membaca isi surel itu dua kali.“Mereka kembali,” katanya akhirnya.Keira mengangguk. “Mereka tidak pernah benar-benar pergi.”Namun kali ini, tubuhnya tidak menegang seperti sebelumnya. Tidak ada rasa dikejar. Yang ada hanya kesadaran bahwa fase tenang memang selalu punya harga.“Apa kamu akan datang?” tanya Rina.Keira menatap layar beberapa detik lebih lama sebelum menjawab. “Ya. Tapi dengan caraku.”Pertemuan itu diadakan di ruang kecil yang terlalu bersih untuk disebut ramah. Dua orang dari sistem sudah duduk ketika Keira masuk. Wajah mereka sopan, nyaris
Jeda tidak menghapus arah. Ia justru membuatnya terlihat lebih jelas.Keira merasakannya pada pagi ketika ia tidak lagi bangun dengan dorongan panik. Pikirannya masih penuh, tetapi tidak berisik. Ia tahu apa yang harus dikerjakan hari itu dan yang lebih penting, apa yang tidak.Di kantor kecil mereka, Rina sudah lebih dulu datang.“Ada kabar,” kata Rina tanpa nada mendesak. “Bukan tekanan. Lebih… pergeseran.”Keira duduk. “Ceritakan.”“Sistem mulai mengalihkan fokus,” lanjut Rina. “Mereka tidak lagi menyorot kita secara langsung. Mereka sibuk merapikan forum baru itu.”Keira mengangguk pelan. “Artinya kita tidak lagi prioritas.”“Atau,” kata Rina hati-hati, “mereka menunggu kita membuat kesalahan sendiri.”Keira tersenyum tipis. “Itu selalu kemungkinan.”Dengan sorotan yang mereda, ruang kerja mereka terasa berbeda. Lebih longgar. Lebih jujur. Keira menggunakan ruang itu bukan untuk mempercepat, melaink
Jeda tidak pernah datang sebagai izin. Ia harus diambil.Keira menyadarinya pada hari ketiga setelah ia menyerahkan sebagian tanggung jawab. Pekerjaan tetap berjalan, laporan tetap masuk, dan dunia yang selama ini ia bayangkan akan goyah tanpa pengawasannya ternyata bertahan.Itu melegakan. Dan menyakitkan.Ada bagian dari dirinya yang merasa digantikan, meski ia tahu itu tidak sepenuhnya benar. Rina bekerja dengan caranya sendiri lebih hati-hati, lebih terbuka pada diskusi. Beberapa keputusan diambil lebih lambat, tapi tidak lebih buruk.“Kamu boleh mengomentari,” kata Rina suatu sore. “Tapi jangan mengambil alih.”Keira tersenyum tipis. “Aku sedang belajar menahan tangan.”“Dan pikiran,” tambah Rina.Keira mengangguk. Justru itu yang paling sulit.Jeda itu membuka ruang yang lama tertutup.Keira mulai pulang sebelum gelap. Ia makan tanpa terburu-buru. Ia duduk di balkon tanpa membawa catatan. Pada awa
Tubuh selalu lebih jujur daripada pikiran.Keira menyadarinya ketika ia berhenti di tengah kalimat saat rapat pagi. Bukan karena lupa, melainkan karena dadanya terasa sesak, seolah napasnya tertahan di tempat yang tidak semestinya. Ia melanjutkan kalimat itu dengan tenang, tapi setelah rapat usai, ia duduk lebih lama dari biasanya.“Kamu pucat,” kata Rina.“Kurang tidur,” jawab Keira singkat.Itu setengah benar.Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang rapuh. Keira tetap datang paling awal, pulang paling akhir. Ia menolak mengakui kelelahan sebagai alasan, seolah berhenti berarti membuka celah yang tidak bisa ditutup kembali.Namun batas tidak bisa dinegosiasikan selamanya.Suatu sore, di tengah penyusunan laporan, pandangannya mengabur sejenak. Tangannya gemetar ringan. Ia memejamkan mata, menghitung napas, menunggu tubuhnya patuh kembali.Rina berdiri di pintu. “Kita hentikan hari ini.”Keira m
Tekanan yang berkurang tidak selalu berarti beban yang hilang. Sering kali, ia hanya berpindah tempat.Keira merasakannya pada minggu-minggu setelah keputusan itu diambil. Ritme kerja melambat, bukan karena kurangnya tugas, melainkan karena setiap langkah kini harus dihitung dua kali. Tidak ada lagi jalur cepat. Tidak ada pintu belakang.“Semua harus lewat kita,” kata Rina suatu sore.Keira mengangguk. “Dan itu artinya semua kesalahan juga berhenti di kita.”Mereka bekerja lebih lama, dengan sumber daya yang lebih tipis. Tidak ada ruang untuk coba-coba. Setiap laporan harus bersih. Setiap keputusan harus bisa dipertanggungjawabkan tanpa perlindungan struktur besar.Harga pertama muncul dalam bentuk kelelahan yang menetap.Keira mulai terbangun lebih pagi, bukan karena siap, tapi karena pikirannya tidak mau diam. Ia membawa pekerjaan ke meja makan, ke balkon, bahkan ke percakapan singkat dengan Nero.“Kamu mulai
Keputusan besar jarang datang dengan suara keras.Ia muncul dalam bentuk kebutuhan diam-diam mendesak, tidak memberi ruang untuk ditunda.Keira menyadarinya pagi itu ketika satu pesan masuk hampir bersamaan dari dua arah berbeda. Isinya singkat, formal, dan bertabrakan.Undangan forum koordinasi nasional dengan permintaan kehadiran aktif. Dan di saat yang sama, pesan dari salah satu mitra inti yang meminta kejelasan kita ke mana sebenarnya?Keira menutup kedua pesan itu tanpa menjawab.Bukan karena bingung, melainkan karena ia tahu: menjawab satu berarti mengabaikan yang lain.Rina datang lebih awal dari biasanya.“Ada sesuatu?” tanya Rina begitu melihat ekspresi Keira.“Sudah waktunya,” jawab Keira pelan.“Untuk apa?”“Menentukan bentuk,” kata Keira. “Bukan sikap. Tapi bentuk.”Rina duduk perlahan. “Kamu yakin?”Keira mengangguk. “Jika tidak, kita akan terus berada







