Home / Romansa / Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin / Bab 6 : Sahabat yang Berkhianat

Share

Bab 6 : Sahabat yang Berkhianat

Author: qia
last update Last Updated: 2025-10-11 10:45:33

Keira duduk di ruang kerjanya yang sepi. Lampu meja menyinari setumpuk laporan keuangan, tapi matanya tak benar-benar membaca angka-angka itu. Sejak pagi, pikirannya kacau. Nero meninggalkan rumah tanpa banyak bicara, sementara kata-katanya semalam masih menusuk seperti duri.

Ia mengusap wajah lelahnya, mencoba fokus. Namun suara pintu diketuk pelan membuatnya mendongak.

“Masuk,” katanya.

Shena muncul dengan senyum hangat yang biasa, membawa nampan kecil berisi teh jahe kesukaan Keira. “Kamu kelihatan pucat. Minum ini dulu, biar agak tenang.”

Keira menatap sahabatnya itu. Ada rasa lega melihat wajah familiar, tapi entah kenapa, kali ini ia tidak bisa sepenuhnya merasa nyaman. Ia menerima gelas itu, menyesap sedikit, lalu bertanya, “Shen… kamu percaya sama Nero?”

Shena sedikit terkejut, namun cepat menutupi ekspresinya dengan senyum tipis. “Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”

Keira menunduk. “Aku hanya… bingung. Semakin banyak yang aku tahu, semakin sulit membedakan siapa kawan, siapa lawan. Bahkan pada suamiku sendiri.”

Shena mendekat, meletakkan tangannya di bahu Keira. “Kamu masih punya aku. Apa pun yang terjadi, aku di pihakmu.”

Beberapa hari berlalu, namun perasaan aneh itu tak juga hilang. Justru semakin hari, kecurigaan Keira tumbuh diam-diam seperti duri di bawah kulit.

Semuanya bermula dari sebuah laporan yang bocor ke media. Dokumen rapat internal seharusnya hanya diketahui segelintir orang muncul di berita pagi. Skandal itu langsung mengguncang saham keluarga Valen.

Keira menelusuri daftar nama yang punya akses. Hanya beberapa orang, dan semuanya bisa dipercaya… kecuali satu.

Shena.

Hatinya berontak menolak. Tidak mungkin Shena. Itu sahabatnya sejak SMA, orang yang selalu ada di setiap jatuhnya. Tapi logika dingin dalam dirinya tak bisa lagi menutup mata. Semua jejak mengarah ke sana.

***

Malam itu, Keira mengikuti Shena diam-diam setelah jam kerja. Jantungnya berdetak keras, tapi langkahnya tetap teratur. Ia bersembunyi di antara deretan mobil parkir bawah gedung, menatap sosok Shena yang berjalan tergesa.

Sebuah mobil hitam berhenti di dekat pintu keluar. Shena masuk tanpa ragu. Dari celah bayangan, Keira melihatnya berbicara dengan seseorang di dalam mobil. Wajah lelaki itu tak terlihat jelas, hanya gerak tangan yang cepat, seolah mereka sedang bertukar sesuatu.

Lembaran kertas. Dokumen.

Keira terpaku di tempat. Napasnya tercekat. Ia ingin maju, ingin berteriak memanggil nama sahabatnya, tapi tubuhnya kaku. Rasanya seperti berdiri di ambang jurang, menyaksikan dunia yang ia kenal perlahan retak di depan mata.

Keesokan paginya, Shena kembali seperti biasa. Senyum ramah, sapaan lembut, seakan tak ada yang terjadi. Keira duduk di kursinya, mencoba menata ekspresi.

“Shen, kemarin malam kamu ke mana?” tanya Keira hati-hati.

Shena berhenti sebentar, lalu tertawa kecil. “Ke rumah sepupu. Kenapa? Kok tiba-tiba interogasi?”

Jawaban itu membuat perut Keira mual. Ia menatap sahabatnya lama-lama, berusaha membaca kebohongan di balik senyum itu. Namun Shena terlalu pandai menyembunyikannya.

Keira hanya mengangguk, pura-pura percaya. Tapi di dalam hatinya, kekecewaan menumpuk seperti api yang siap menyala.

Sore harinya, Keira menemui Nero di ruang kerja mereka di rumah. Ia ingin menceritakan kecurigaannya, tapi ragu. Hubungan mereka masih rapuh, dipenuhi ketidakpercayaan. Bagaimana kalau Nero justru memanfaatkan informasi itu?

“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Nero, suaranya datar.

Keira menggeleng cepat. “Tidak. Hanya lelah.”

Nero menatapnya lama, seolah tahu ia berbohong, tapi tidak memaksa. Diamnya justru membuat Keira semakin terhimpit. Ia merasa terjebak di antara dua dunia sahabat yang tak lagi bisa dipercaya, dan suami yang tak pernah benar-benar bisa ia pahami.

Malam itu, Keira berbaring di ranjang tanpa bisa tidur. Ia memandangi langit-langit kamar, mengingat semua momen bersama Shena—tawa di masa sekolah, pelukan di saat duka, janji-janji setia yang kini terasa palsu.

Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. “Kenapa harus kamu, Shen…” bisiknya lirih.

***

Hari-hari berikutnya, Keira menjadi lebih berhati-hati. Ia tidak lagi membuka rahasia pada Shena, tapi berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja justru membuat dadanya sesak. Ia menahan diri, berusaha mengamati setiap gerak-gerik sahabatnya.

Shena tetap tampil sempurna—menemani rapat, menyiapkan agenda, bahkan bercanda seperti dulu. Justru sikap tenang itu membuat Keira semakin yakin, ada sesuatu yang disembunyikan.

Dan malam-malam Keira pun berubah panjang. Tidur tak lagi membawa tenang, hanya bayangan Shena yang berulang muncul di benaknya senyum manis yang kini terasa asing.

Suatu sore, Keira memutuskan pulang lebih awal tanpa memberi tahu siapa pun. Ia ingin sendirian, menjauh dari semua keraguan yang menyesakkan. Namun langkahnya terhenti di ambang pintu rumah. Dari ruang tamu, samar-samar terdengar suara seseorang.

Suara itu… Shena.

Keira menahan napas. Ia berjalan perlahan, bersembunyi di balik dinding, mendengarkan percakapan yang segera mengubah segalanya.

Shena. Suara itu jelas suara Shena. Ia sedang berbicara melalui telepon.

“Ya, dia sudah mulai curiga. Tapi jangan khawatir, aku bisa mengendalikannya,” suara Shena rendah, penuh keyakinan. “Selama dia masih percaya aku ada di sisinya, semua informasi tetap bisa kita dapatkan.”

Jantung Keira berdentum keras. Ia harus menggigit bibirnya agar tidak bersuara.

Untuk sesaat, dunia di sekitarnya seperti berhenti. Semua kenangan bersama Shena berputar di kepalanya tawa remaja, rahasia yang dibisikkan saat malam panjang, janji saling menjaga. Dan kini, semuanya runtuh hanya dengan satu kalimat.

Keira mundur perlahan, menahan isak. Ia naik ke kamarnya tanpa menyalakan lampu, berbaring di ranjang dengan tubuh bergetar.

Malam itu, Nero kembali lebih larut dari biasanya. Saat ia masuk, Keira masih terjaga dengan mata sembab. Nero berdiri di ambang pintu, menatapnya lama.

“Ada yang terjadi?” tanyanya.

Keira ingin berteriak, ingin menceritakan semuanya. Tapi suara itu tercekat di tenggorokannya. Bagaimana ia bisa percaya pada siapa pun, sementara orang yang paling ia andalkan pun menusuk dari belakang?

“Tidak apa-apa,” jawabnya akhirnya, suara lirih nyaris tak terdengar.

Nero menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berbalik, meninggalkannya sendiri dalam gelap.

Keira menutup wajah dengan kedua tangan. Ia tahu dirinya tidak bisa lagi menunda. Suatu hari nanti, ia harus menyingkap semua rahasia itu, meski taruhannya adalah kehilangan satu-satunya sahabat yang pernah ia miliki.

Dan saat hari itu tiba, ia juga sadar luka ini akan lebih dalam daripada luka apa pun yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 174 : Serangan Sunyi

    Bukan harga yang bergerak duluan pagi itu.Tapi notifikasi. Satu per satu.Vendor logistik utama menunda penandatanganan kontrak lanjutan. Dua bank meminta klarifikasi tambahan atas fasilitas kredit revolving. Seorang klien besar meminta pertemuan mendadak.Tidak ada yang dramatis. Tidak ada yang eksplosif. Tapi semuanya terjadi dalam rentang dua jam. Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.Rhea menatap daftar email di tabletnya. “Ini bukan tekanan pasar. Ini tekanan ke operasional.”Armand mengangguk pelan. “Kalau mitra mulai ragu, narasinya bergeser: bukan lagi soal saham, tapi soal keberlanjutan bisnis.”Itu lebih berbahaya. Harga bisa dipulihkan. Kepercayaan mitra lebih sulit.Seeyana berdiri, memandang papan timeline integrasi di dinding.“Mereka tidak menyerang benteng,” katanya pelan.“Mereka memutus jalur suplai.”Pukul 10.20, ia duduk dalam panggilan video dengan klien utama.

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 173 : Garis Loyalitas

    Seeyana tidak menunggu rumor berkembang. Pukul 07.30, ia mengirim undangan rapat mendadak untuk seluruh direksi inti.Subjeknya sederhana.Sinkronisasi StrategisTidak ada yang suka undangan seperti itu.Ruang rapat terasa berbeda pagi itu. Tidak tegang secara terbuka. Tapi ada jarak tipis di antara kursi-kursi yang biasanya terasa dekat.Seeyana berdiri, bukan duduk.“Kita sedang diuji,” katanya langsung. “Bukan hanya strategi. Tapi soliditas.”Tidak ada yang menyela.“Saya dengar ada pendekatan dari luar. Saya tidak butuh nama. Saya butuh kejujuran.”Hening.Beberapa detik terasa lebih panjang dari biasanya. Lalu salah satu direktur operasional berdehem pelan.“Saya dihubungi,” katanya akhirnya. “Lewat konsultan. Tidak formal.”Semua mata beralih padanya.“Apa yang ditawarkan?” tanya Armand.“Pertemuan informal. Diskusi ‘masa depan perusahaan’ kalau terjadi perubahan kepemilikan.”Kalimat yang halus. Tapi maknanya jelas.Seeyana mengangguk pelan.“Dan?”“Saya menolak. Tapi… mereka

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 172 : Retakan Pertama

    Berita itu muncul pukul 06.12.Bukan di media besar.Bukan di headline utama. Hanya satu artikel opini di portal finansial yang cukup kredibel untuk menimbulkan keraguan.“Ekspansi Terlalu Agresif? Risiko Tersembunyi di Balik Akuisisi Terbaru.”Tidak menyebut nama secara gamblang. Tapi semua orang tahu siapa yang dimaksud.Rhea masuk ke ruangan dengan wajah tegang.“Artikel ini disebar masif lewat forum investor sejak subuh.”Armand sudah membuka grafik.Harga turun 3% dalam tiga puluh menit pertama perdagangan.“Timing-nya terlalu rapi,” gumamnya.Seeyana membaca cepat.Argumen dibuat seolah objektif. Target akuisisi dianggap overvalued.Potensi integrasi disebut berisiko.Beban utang masa depan disorot. Tidak ada tuduhan ilegal. Hanya cukup untuk menanamkan keraguan.Taktik klasik.“Ini bukan kebetulan,” kata Rhea. “Du

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 171 : Harga yang Naik

    “Targetnya ini?”Armand memutar layar ke arah Seeyana.Perusahaan logistik regional. Skala menengah. Infrastruktur rapi. Arus kas stabil. Tidak glamor—tapi strategis.“Kalau kita ambil ini,” lanjutnya, “rantai distribusi kita hampir terkunci penuh.”Rhea menambahkan, “Dan narasinya kuat. Kita bukan lagi defensif. Kita ekspansi.”Seeyana tidak langsung menjawab.Ia membaca laporan due diligence singkat yang baru masuk subuh tadi.Utang terkendali. Manajemen terbuka untuk negosiasi. Pemilik lama ingin exit sebagian.Terlalu pas? Atau memang waktunya tepat?Siang itu, pertemuan informal dengan dua pemegang saham minoritas berlangsung di lounge kantor.Tidak ada presentasi megah. Hanya diskusi.“Saya dengar ada minat dari luar,” kata salah satu dari mereka hati-hati.“Minat selalu ada kalau harga naik,” jawab Seeyana tenang.“Dan kalau tawarannya menarik?”“Perta

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 170 : Titik Tekan

    Rapat dewan dimulai lima belas menit lebih cepat dari jadwal.Itu jarang terjadi.Biasanya semua berjalan presisi. Tenang. Terkontrol.Hari ini tidak.“Valuasi kita naik terlalu cepat,” kata salah satu komisaris independen. “Pasar menyukai momentum, tapi volatilitas meningkat.”“Volatilitas bisa kita kelola,” jawab Seeyana.“Bukan itu saja,” lanjutnya. “Ada dua pemegang saham minoritas yang menanyakan kemungkinan ‘strategic exit’ jika ada tawaran premium.”Istilah yang sopan.Maksudnya jelas.Jual.Armand menoleh pelan ke arah Seeyana.Inilah yang diperingatkan Raka.Tekanan tidak selalu datang dari luar.Sore itu, Rhea masuk dengan wajah yang lebih serius dari biasanya.“Grup Singapura tidak menambah posisi,” katanya.“Tapi?”“Mereka mengirim utusan ke salah satu minoritas kita.”Ruangan terasa lebih dingin.“Langsung?” ta

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 169 : Langkah Sunyi

    Tidak ada pengumuman. Tidak ada kepanikan. Yang berubah hanya satu hal adalah volume pembelian meningkat 0,8% dalam dua hari. Kecil. Tapi terlalu konsisten untuk disebut kebetulan. “Nominee ini pakai kustodian berbeda,” lapor Rhea sambil menampilkan bagan kepemilikan. “Tapi aliran dananya mirip.” Armand menyipitkan mata. “Layering?” “Diduga.” Seeyana tidak langsung bicara. Ia hanya memperbesar timeline transaksi. Pola pembelian muncul setiap kali harga turun tipis. Disiplin. Terencana. “Seseorang sabar,” katanya pelan. Pukul 22.14, panggilan masuk. Raka. “Sudah lihat struktur nominee-nya?” tanyanya tanpa basa-basi. “Sudah.” “Itu bukan gaya mereka yang biasanya.” “Artinya?” “Mereka sedang menguji respons Anda.” Seeyana berjalan pelan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status