Cahaya matahari pagi menembus celah-celah tirai tipis, mengguratkan pola keemasan di dinding kayu yang telah berumur. Udara masih lembap, aroma tanah basah semalam menempel di udara. Aurelia menggeliat kecil, matanya perlahan membuka. Butuh waktu sejenak sampai ia menyadari dirinya tidak sedang berada di apartemen, melainkan di rumah tua nenek Gian.
Detak jam tua di dinding menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Kursi goyang di sudut ruangan bergoyang perlahan, seolah disentuh angin. Aurelia mengedarkan pandangan, dan tersenyum samar ketika melihat meja makan di kejauhan sudah tertata rapi. Dari dapur terdengar suara sendok beradu dengan gelas.
“Pagi sudah datang, tapi kau masih malas bangun.”
Suara Gian muncul, hangat dan bergema dari arah dapur. Ia berjalan keluar dengan celemek tergantung di leher, menenteng dua gelas teh panas yang asapnya masih mengepul.
Aurelia terangkat duduk, menyibak selimut dari kakinya. “Aku terlalu nyaman
“Iya, Om. Lia katanya memang pengen sendirian.”“Apa-apaan kalian, hah?!” suara Gian meledak begitu tahu bahwa istrinya sengaja menghindar. Tangannya mengepal, matanya menyalang tajam ke arah Wulan dan Doni. “Kalian pikir dengan cara begitu kalian bisa membantu Lia? Malah yang ada kalian akan bikin dia makin stres!”Namun, Wulan sama sekali tak gentar. Ia menegakkan bahunya, wajahnya merah padam. “Stres? Yang bikin dia stres itu justru Anda, Pak Gian!” Suaranya meninggi, menusuk jantung Gian tanpa ampun. “Orang tuanya enggak pernah care sama dia, dan suaminya? Astaga, suaminya lebih sibuk kerja, sibuk proyek di luar kota, sementara Lia di sini harus ngadepin semuanya sendirian. Dia itu lagi hamil, Pak! Hamil! Apa Anda enggak paham betapa rapuhnya kondisi dia?”Gian mengerjap, tercekat. Kata-kata itu menampar harga dirinya habis-habisan.“Wul, cukuplah ya.” Doni menegur lirih, tanganny
“Aku sudah tidak kuat lagi…” suara Aurelia pecah di antara tangis yang tertahan. Bahunya berguncang, kedua tangannya bergetar memegang tisu yang sudah basah oleh air mata.Mereka bertiga duduk di salah satu sudut kampus yang agak sepi, di dekat taman kecil yang biasanya dipenuhi mahasiswa yang mengobrol atau makan siang. Namun, siang itu berbeda. Hanya ada semilir angin yang berhembus lembut dan suara burung-burung yang singgah di dahan. Suasana sunyi itu justru memperjelas betapa pilunya hati Aurelia.Wulan menatap Aurelia dengan hati tersayat. Mata sahabatnya itu sembab, wajahnya pucat, seolah semua cahaya di dalam dirinya telah padam. Dengan suara pelan namun sarat rasa ingin tahu, Wulan akhirnya bertanya, “Jadi… siapa yang nyuruh si Mbok itu ya? Siapa yang sampai tega melakukan semua ini padamu?”Aurelia menggeleng dengan isakan yang semakin keras. Pipinya memerah, matanya sembab seperti tak lagi mampu menahan beban. Sua
“Sayang, kita ke kamar dulu ya.”Itulah kalimat yang keluar dari bibir Gian setelah sekian lama ia hanya diam, membiarkan Aurelia berteriak dan menangis tanpa arah. Suaranya pelan, nyaris serak, seakan ia sedang menahan sesuatu yang berat di dadanya.Aurelia menggeleng tak percaya. “Gian?” bisiknya tercekat, tubuhnya bergetar hebat. Tangannya mencoba menolak, tapi tenaganya kalah saat lengan sang suami dengan lembut tapi pasti membawanya masuk ke dalam kamar.Di sana, di balik pintu kayu yang menutup rapat, Aurelia masih terus meronta. Napasnya tersengal, wajahnya pucat pasi. Gian berusaha menenangkan, menggenggam kedua bahu istrinya. “Lia, tenanglah, aku ada di sini. Tidak ada yang akan menyakitimu.” Namun, kata-kata itu tak cukup untuk membuat Aurelia percaya.Tangisnya semakin keras, hingga suara ketukan terdengar dari luar. “Tuan, ini saya. Bolehkah saya masuk?”Gian segera membuka pintu. “S
Rumah itu mendadak terasa membeku. Udara yang semula biasa saja kini seolah menekan dari segala arah. Aurelia berdiri kaku, jemarinya masih menempel di pergelangan Mbok Sumi yang berlutut, seakan-akan sedang ditarik ke dalam kegelapan. Tubuh perempuan tua itu terguncang hebat, air matanya bercucuran deras, suaranya pecah di udara, membuat seisi rumah seakan mendengar jeritan batin yang pilu.“Nyonya… Mbok tidak kuat lagi…” lirih Mbok Sumi, dengan tangis yang tersendat-sendat. Kata-katanya terdengar penuh kepasrahan, getir, dan sengaja dipahat sedemikian rupa agar tampak meyakinkan. Bahunya bergetar, tubuhnya meringkuk, memamerkan sosok yang tampak teraniaya.Aurelia tercekat. Lidahnya kelu, jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menusuk dadanya. Semua berjalan begitu cepat. Dalam sekejap, ia yang sebenarnya korban justru tampak seperti pelaku yang menekan seorang perempua
Aurelia melangkah cepat, napasnya memburu, jantungnya berdegup kencang seakan hendak meloncat keluar dari dada. Suara langkah kaki di ujung tangga terdengar makin jelas, bergema di lorong sempit yang diterangi cahaya lampu redup. Malam itu terasa menyesakkan, seolah udara di sekitar ikut bersekongkol untuk membuatnya semakin waspada. Matanya menajam, tubuhnya condong ke depan, sikapnya mirip pemburu yang sudah siap menangkap mangsa.Begitu sosok itu muncul, tertangkap cahaya lampu lorong yang kuning pucat, langkah Aurelia terhenti. Matanya melebar, tubuhnya menegang. Ia terperangah.“Mbok… Sumi?” suaranya tercekat, serak, campuran antara kaget, geram, dan perasaan tak percaya.Sosok perempuan paruh baya itu terlonjak seolah baru saja dipergoki sedang mencuri. Tubuhnya menegang, wajahnya pucat pasi. Tangan keriputnya masih menggenggam sesuatu—se
Hari itu terasa berjalan lebih cepat daripada biasanya. Matahari sore sudah mulai condong ke barat saat Aurelia kembali dari kampus. Sopir keluarga yang ditugaskan Nyonya Lestari mengantarnya pulang dengan tenang, sementara pikirannya masih penuh dengan teori psikologi perkembangan yang ia baca untuk tesis.Sesampainya di rumah, ia mendapati sang mertua sedang duduk santai di ruang tamu dengan teh hangat di genggaman.“Bagaimana? Apa kau kerasan di sini?” suara Nyonya Lestari terdengar ramah, seolah ingin memastikan menantunya itu betah tinggal di rumah besar ini.Aurelia mengangguk canggung. “Kerasan, Bu. Sopirnya juga baik. Aku jadi lebih leluasa bolak-balik kampus.”“Syukurlah,” balas Nyonya Lestari singkat. Senyum yang tipis itu sekilas tampak tulus, namun di mata Aurelia tetap menin