LOGINKabar yang ditunggu-tunggu Cynthia akhirnya tiba. Lewat sambungan telepon tersembunyi, pria sewaan yang sebenarnya telah diintimidasi oleh orang-orang Xavier itu melaporkan sesuai skenario palsu—bahwa ia telah berhasil mencekoki Liora dengan jus stroberi beracun hingga habis tak tersisa."Bagus! Kerjamu sangat memuaskan!" desis Cynthia dengan nada suara yang bergetar hebat akibat luapan rasa puas yang tak terbendung.Tanpa buang waktu, Cynthia langsung mentransfer sisa uang puluhan juta yang telah dijanjikannya. Cara kerjanya teramat licik dan rapi. Ia tidak menggunakan rekening pribadinya, melainkan memanfaatkan outlet pengiriman uang tunai anonim atas nama orang lain agar tidak meninggalkan jejak digital sedikit pun.Dalam otak piciknya, Cynthia merasa langkahnya sangat sempurna. Pria sewaan itu bahkan tidak pernah tahu siapa nama aslinya, dan transaksi tunai ini tidak akan bisa melacak keberadaannya. Ia merasa benar-benar berada di atas angin, tak tersentuh oleh hukum mana pun."Ma
Sore itu, di dalam ruang tamu villa di perkebunan yang tenang, Liora duduk di sofa empuk seraya menggenggam erat cangkir teh hangat yang diberikan Bibi Nina. Meski ancaman bahaya sudah berlalu, wajah cantik gadis itu masih tampak sedikit pucat. Jantungnya masih berdegup kencang, terbayang betapa tipisnya batas antara keselamatan dan bencana yang hampir merenggut masa depannya.Di sampingnya, Bibi Nina dan Dion juga tak jauh berbeda. Wajah keduanya pucat pasi dengan mata yang memancarkan sisa rasa syok yang teramat mendalam.Liora mendongak, menatap Xavier yang berdiri tegap di dekat jendela, memandang kegelapan malam dengan postur tubuh yang tenang namun memancarkan dominasi yang mutlak."Xavier..." panggil Liora dengan suara yang agak bergetar. "Bagaimana kamu bisa tahu kalau ada orang yang ingin meracuniku?"Xavier memutar tubuhnya perlahan. Langkah kakinya yang mantap bersuara halus di atas karpet tebal saat ia mendekati Liora. Pria itu menyapukan pandangan hangatnya pada Liora, me
Pria sewaan itu mendadak gemetar hebat. Lututnya lemas bagaikan diloloskan tulangnya, hingga ia hampir saja jatuh berlutut di tanah jika saja cengkeraman tangan tegap Xavier di pergelangan tangannya tidak menahannya secara paksa."K-kenapa diam?" bisik Xavier dengan nada suara yang teramat tenang namun mematikan. "Ayo, minumlah. Bukankah kamu yang menyiapkan jus ini dengan sangat khusus?""T-Tuan... s-saya..." Pria itu menggelengkan kepala ketakutan, menutup rapat-rapat mulutnya seraya memalingkan wajah dari gelas kristal tersebut. Peluh dingin sudah membasahi seluruh kaus lusuhnya.Liora menatap bingung ke arah calon suaminya, lalu beralih menatap pria sewaan yang tampak seperti orang yang akan dieksekusi mati. "Xavier... ada apa? Kenapa dia takut sekali meminum jusnya sendiri?"Deon yang berdiri di samping Bibi Nina langsung menyipitkan mata. Pengalaman hidup dan instingnya menyuarakan bahaya besar. "Xavier... jangan bilang di dalam minuman ini ada sesuatu?"Xavier tak menjawab seca
Keesokan harinya, suasana di area perkebunan dan gudang pendingin buah milik Liora tampak sangat sibuk. Truk-truk besar terparkir rapi, siap mengangkut mangga, jeruk, dan stroberi kualitas terbaik yang baru saja selesai dipetik untuk dibawa ke gedung resepsi.Sebuah mobil sedan mewah hitam meluncur pelan dan berhenti di pekarangan gudang. Deon turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Liora.Gadis cantik itu melangkah keluar dengan senyuman cerah, mengenakan gaun terusan kasual berwarna merah muda yang membuatnya tampak makin segar dan menggemaskan. Tak lama kemudian, Bibi Nina ikut menyusul turun dari pintu sebelah."Wah, ramai sekali!" seru Liora polos, matanya berbinar-binar melihat keranjang-keranjang stroberi merah segar yang ditumpuk di meja pemeriksaan."Tentu saja ramai, Sayang. Papi memesan buah-buah terbaik dari perkebunanmu untuk pesta besok," ujar Deon lembut seraya merangkul bahu adik bungsunya.Bibi Nina mengedarkan pandangan dengan raut wajah cemas. "Liora, seharusn
Malam itu, di dalam kamar hotel remang-remang yang disewa secara sembunyi-sembunyi, Cynthia berdiri di depan kaca besar. Kacamata hitamnya dilepas, memperlihatkan tatapan mata yang sudah sepenuhnya diracuni oleh kegilaan dan dendam."Mami," panggil Cynthia dengan nada suara dingin yang begitu menusuk.Leli, yang sedang sibuk mengoleskan krim wajah mahal di depan meja rias, mendongak. "Ada apa, Cynthia? Kamu sudah selesai mengurus pria sewaan kita?""Pria sewaan?" Cynthia terkekeh pelan—sebuah tawa bisik-bisik yang teramat licik dan mengerikan. Ia melangkah mendekati Leli, menyandarkan kedua tangannya di bahu sang ibu. "Mami... kalau kita cuma mengandalkan trik cemburu murahan itu, Papi paling cuma marah sebentar. Tapi itu tidak akan menghancurkan pesta pernikahan Liora!"Leli menaikkan alisnya, mendadak tertarik. "Maksudmu?""Pernikahan itu tinggal tiga hari lagi, Mi!" bisik Cynthia gencar, matanya berbinar gila. "Papi dan Xavier sudah mengunci semua akses. Pengawalan mereka ketat. Ta
Mobil yang dikemudikan Leon akhirnya berhenti di pelataran utama hotel bintang lima paling megah di pusat kota. Begitu melangkah masuk melewati pintu kaca setinggi belasan meter, Liora disambut oleh pemandangan ballroom utama yang sungguh menakjubkan.Karpet merah tebal terbentang sepanjang lorong menuju panggung utama. Langit-langit gedung berhiaskan lampu gantung kristal raksasa yang memancarkan pendar cahaya keemasan nan hangat. "Ini belum selesai, bunga-bunga mawar akan datang 2 jam sebelum acara dimulai," jelas Deon. Liora mematung di tengah ruangan, matanya berkedip lambat memandangi seluruh dekorasi yang begitu fantastis. Bunga mawar, memang sesuai permintaannya. Tapi waktu itu ia hanya bercanda."Apa kamu suka, Sayang?" tanya Martin hangat, melangkah mendekat seraya tersenyum memandang putri bungsunya.Raut wajah Martin yang tadinya sempat murka dan memerah akibat amukan gila Leli dan Cynthia beberapa saat lalu, kini berubah seketika menjadi penuh kelembutan. Seluruh amarahn
Pagi-pagi sekali Liora sudah bangun.Langit bahkan masih sedikit gelap ketika gadis itu membuka mata.Kebiasaan itu sudah melekat sejak lama. Sejak tinggal di desa bersama Bibi Nina. Dan semakin tertanam ketika ia berada di dalam tahanan.Di sana— terlambat bangun satu menit saja bisa menjadi masal
Liora melangkah masuk ke dalam rumah dengan tenang.Suasana mansion itu sangat sunyi.Terlalu sunyi.Ia membuka pintu perlahan sambil melepas heels yang sejak tadi membuat kakinya tidak nyaman.Namun—Brak!Sebuah asbak rokok melayang cepat ke arahnya.Liora bahkan belum sempat bereaksi.Seseorang
Liora melangkah kembali ke ruang makan dengan penampilan yang jauh lebih segar. Gaun berpotongan anggun pemberian Dion semalam kini melekat pas di tubuhnya. Liora sengaja memakainya pagi ini bukan karena ia mendadak menyayangi kakaknya, melainkan sebagai bentuk apresiasi atas kepedulian Dion yang
Seketika itu juga, hawa di dalam mobil mendadak turun drastis menjadi sedingin es.Xavier melirik spion tengah dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk. "Jika kau tertawa sekali lagi, bonus tahunanmu akan aku potong habis!"Satu kalimat ancaman itu meluncur dengan nada sangat datar, namun efeknya







