Share

Bab 7

Penulis: Liazta
last update Tanggal publikasi: 2026-04-24 14:59:00

Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.

Ia tidak langsung pulang.

Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.

Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam erat tali tas hitam itu. Beratnya terasa jelas, tapi ekspresi wajahnya tetap datar, seolah beban itu tidak sebanding dengan apa pun yang pernah ia lewati selama dua tahun terakhir.

Liora teringat, bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Hari ini usianya genap 19 tahun. Rasa rindu semakin menyesakkan dadanya.

Biasanya bibi Nina selalu membuatkannya makanan sederhana namun sangat lezat, dihari ulang tahunnya. Wanita tua itu juga selalu membuatkan kue ulang tahun untuknya.

Sampai sebuah suara langkah tergesa terdengar dari arah samping.

Liora menoleh.

Seorang pria berlari ke arahnya.

Cepat. Terlalu cepat untuk sekadar orang yang terlambat atau terburu-buru.

Dan beberapa detik kemudian, tiga pria lain muncul sambil berlari.

Tatapan mereka tajam. Penuh niat yang tidak perlu dijelaskan.

Sesuatu dalam diri Liora langsung bereaksi.

Bukan rasa takut.

Melainkan naluri.

Saat pria pertama mendekatinya, Liora bergerak.

Cepat.

Tanpa ragu.

Ia memutar tubuhnya dan mengayunkan tas di tangannya dengan presisi yang mengejutkan.

Benturan keras terdengar.

Pria pertama langsung limbung, diikuti dua lainnya. Kepala mereka terkena hantaman bertubi-tubi sebelum akhirnya jatuh ke tanah tanpa perlawanan berarti.

Liora berhenti.

Napasku tetap stabil.

Matanya menyapu cepat, memastikan ketiganya benar-benar tidak bangkit lagi.

Refleks.

Terlatih oleh keadaan.

Saat ini ia membawa uang banyak. Dan orang-orang itu, sudah pasti penjahat yang berniat merampok tasnya.

Ia berbalik, berniat pergi seolah tidak terjadi apa-apa—

namun langkahnya terhenti.

Dari arah berlawanan, lima pria lain mendekat.

Kali ini tidak ada yang disembunyikan.

Senjata api di tangan mereka terlihat jelas.

Tubuh Liora menegang seketika.

Dingin merambat pelan di sepanjang tulang punggungnya.

Ini berbeda.

Ini bukan sesuatu yang bisa ia hadapi dengan tas… atau dengan keberanian saja.

Untuk pertama kalinya, pikirannya tidak menemukan jalan keluar.

Baru saja merasakan kebebasan, namun ia justru harus mati di sini.

Langkah pria-pria itu semakin dekat.

Pelan.

Pasti.

Seolah mereka tahu ia tidak akan lari.

Atau mungkin… memang tidak bisa.

Jari Liora mengencang pada pegangan tasnya.

Jantungnya berdetak keras.

Satu langkah lagi—

Suara tembakan memecah udara.

Mendadak, satu pria jatuh.

Kemudian dua lainnya menyusul, roboh sebelum sempat bereaksi.

Gerakan mereka berhenti begitu saja, tubuh-tubuh itu tergeletak tanpa perlawanan.

Semua terjadi terlalu cepat.

Terlalu bersih.

Liora membeku.

Perlahan, ia menoleh ke belakang.

Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya.

Tangan kanannya masih terangkat, memegang senjata.

Asap tipis keluar dari ujungnya.

Namun yang membuat Liora sulit bergerak bukanlah senjata itu.

Melainkan ekspresinya.

Tenang.

Datar.

Seolah apa yang baru saja terjadi tidak lebih dari rutinitas.

Tatapan pria itu menyapu tubuh-tubuh yang tergeletak di tanah, lalu berhenti sejenak pada Liora.

Tidak lama.

Namun cukup.

Tatapan itu tidak dingin… tapi juga tidak hangat.

Lebih seperti seseorang yang sedang menilai sesuatu.

Sesuatu yang tidak seharusnya ada di tempat itu.

Liora menelan ludah pelan.

Tanpa sadar.

Beberapa detik berlalu sebelum pria itu akhirnya menurunkan tangannya dan memalingkan wajah, seolah Liora bukan hal yang perlu diperhatikan.

Sebuah mobil hitam berhenti di dekat mereka.

Pintu belakang terbuka.

Pria itu melangkah masuk tanpa mengatakan apa pun.

Seolah semua yang terjadi barusan… tidak pernah berarti apa-apa.

Alis Liora berkerut.

Ada rasa kesal yang muncul tanpa bisa ditahan.

“Eh, tunggu.”

Suara itu keluar begitu saja.

Pintu mobil belum sepenuhnya tertutup ketika pria itu berhenti.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menoleh.

“Aku sudah menolongmu,” kata Liora, nadanya datar namun tegas. “Lalu kau tidak mengatakan apa-apa?”

Hening sesaat.

Angin sore berhembus pelan, membawa sisa ketegangan yang belum benar-benar hilang.

Pria itu menatapnya.

Lalu menjawab singkat, “Aku tidak pernah meminta bantuan.”

Jawaban itu ringan.

Tapi terasa tajam.

Seperti sesuatu yang tidak bisa dibantah.

Mata Liora sedikit melebar.

“Walaupun kau tidak minta, mereka tadi mendekatiku juga,” balasnya cepat. “Itu karena kau.”

Tatapan pria itu berubah.

Turun ke arah tas di tangan Liora.

Lalu ke tiga pria yang tergeletak di tanah.

Alisnya sedikit terangkat.

“Hanya dengan itu?”

Ada nada tipis yang berbeda.

Hampir seperti ketertarikan.

Liora mengangguk cepat. “Iya. Tangan kosong.”

Senyum samar muncul di sudut bibir pria itu.

Namun tidak hangat.

Lebih seperti seseorang yang menemukan sesuatu yang… tidak biasa.

“Tangan kosong?” ulangnya pelan.

Tatapannya kembali ke tas itu.

Liora langsung menggenggamnya lebih erat.

“Hanya memukul mereka dengan tas saja, bisa berdarah seperti itu?"

Pria itu memandang bagian kepala ketiga orang itu. Semuanya mengeluarkan darah.

"Aku, tidak membawa apapun," kata Liora gugup.

"Aku akan melihat isi tas mu."

"Tidak usah, ini hanya batu." Liora langsung tersenyum dan cepat-cepat pergi. Di dalam tasnya banyak uang. Ia takut jika pria itu melihat uangnya dan kemudian merampasnya.

Tanpa memberi waktu untuk respons—

ia berbalik.

Melangkah pergi.

Cepat.

Namun tetap terkendali.

Ia tidak ingin terlibat lebih jauh.

Tidak dengan pria seperti itu.

Di belakangnya, pria itu masih berdiri.

Diam.

Menatap punggung Liora yang semakin menjauh.

Tidak mengejar.

Tidak memanggil.

Namun untuk beberapa detik—

ia juga tidak masuk ke dalam mobil.

Seolah ada sesuatu yang menahannya.

“Aneh,” gumamnya pelan.

Seharusnya gadis itu akan ketakutan melihat hal seperti ini. Namun nyatanya tidak.

Gadis itu terlihat sangat tenang.

Pintu mobil akhirnya tertutup.

Mesin menyala.

Dan kendaraan itu pergi, meninggalkan jalan yang kembali sunyi.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

—

Liora terus berjalan tanpa menoleh.

Namun detak jantungnya belum sepenuhnya tenang.

Ada sesuatu tentang pria itu…

yang membuatnya tidak nyaman. Cara pria itu melihatnya.

Seolah ia baru saja diperhatikan oleh sesuatu yang berbahaya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Maryati
Sangat menarik
goodnovel comment avatar
Vivo Keren
lanjut penasaran
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 315

    Ia mengusap air matanya secara kasar, berusaha menyapu kehampaan yang tak bertepi itu. Tiba-tiba gerakan Martin terhenti. Tatapannya mendadak kosong menatap lurus ke depan."Pantas saja..." bisiknya lirih, seolah menemukan satu demi satu kepingan teka-teki yang selama ini tersembunyi. "Pantas saja Leli begitu bahagia dan protektif saat mengandung Cynthia dulu. Dia tampak begitu berbeda..."Martin menelan ludah yang terasa mencekik. "Dulu aku bodoh sekali. Aku pikir dia bahagia karena akhirnya kami dikaruniai putri setelah sekian lama... Ternyata bukan. Dia bahagia karena anak dalam kandungannya adalah benih dari pria lain!"Arya menghela napas berat. "Tuan, Anda harus menjaga kesehatan Anda..."Martin menggeleng lemah. "Bagaimana caranya aku bertahan, Arya? Bagaimana caranya aku menerima kenyataan bahwa 30 tahun hidupku dirancang di atas panggung sandiwara yang menjijikkan?"Tanpa menunggu balasan Arya, Martin menegakkan tubuhnya kembali. Matanya yang memerah menatap tajam dokumen lai

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 314

    “Tuan, ini hasil tes DNA-nya.”Suara Arya mengalun berat di tengah keheningan ruang kunjungan tahanan yang dingin.Martin tidak langsung menjangkau map cokelat yang diletakkan di atas meja kayu itu. Tatapan matanya yang cekung hanya terpaku tanpa berkedip. Map itu tampak biasa saja, sederhana tanpa ciri khusus. Namun di mata Martin, benda tipis itu terasa bagaikan jurang tak berdasar yang siap menelannya bulat-bulat.Jari-jari Martin yang tirus dan kaku perlahan mengepal rapat. Dadanya bergemuruh hebat, berdegup begitu kencang hingga gema detak jantungnya sendiri seolah mendengung di kedua telinganya."Kau... sudah melihat isinya?" tanya Martin akhirnya, suaranya serak dan tercekat di tenggorokan.Arya terdiam beberapa saat, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebelum mengangguk pelan. "Sudah, Tuan."Martin menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Tatapannya kembali jatuh pada map di depannya. Ada rasa takut luar biasa yang mendadak melumpuhkan jemarinya. Bukan karena ia membenci keben

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 313

    "Xavier... kamu di mana?" panggilnya lagi, menyipitkan mata memindai area sekitar.Liora perlahan melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. "Sudah pergi, ya?"Tiba-tiba, sebuah hembusan napas hangat menerpa ceruk lehernya tepat dari arah belakang, disusul suara berat yang teramat familier. "Mencari aku, hm?"Liora terlonjak kaget. "Ah!"Ia berbalik seketika dan mendapati Xavier sudah berdiri kokoh di depannya dengan senyum penuh kemenangan."Kamu!" tuduh Liora seraya menunjuk suaminya.Xavier mengangkat kedua tangannya santai. "Iya, aku."Liora melangkah mundur membentengi diri. "Jangan lempar aku, ya. Awas!"Xavier menggeleng halus. "Tidak, aku tidak akan melempar.""Janji?""Iya, janji."Liora menghela napas lega, membuang napas kewaspadaannya. Namun, baru saja ia berbalik hendak melangkah—Plak!Segumpal salju mendarat telak di bahu mantel kremnya.Liora membelalakkan mata tak percaya. "Xavier!"Tawa Xavier meledak renjang. "Nah, sekarang kita impas.""Kamu bohong! Katanya jan

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 312

    "Sudah. Ayo."Mereka berjalan berdampingan menuju halaman luar hotel yang membentang luas. Begitu kakinya memijak hamparan salju putih yang tebal, langkah Liora seketika terhenti. Matanya berbinar cerah bagaikan anak kecil yang baru menemukan tempat bermain impiannya."Wow..." desah Liora takjub.Xavier menghentikan langkah di sampingnya, memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantel.Liora perlahan mendongak, menatap langit Paris. Butiran-butiran salju halus melayang turun dengan anggun, mendarat lembut di helai rambut dan bahunya."Indah sekali..." bisiknya terpesona.Xavier tak menyahut. Tatapan matanya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan kota Paris yang membeku, melainkan sepenuhnya terkunci pada paras manis wanita di sampingnya.Merasa diawasi, Liora perlahan menoleh. "Kenapa melihatku seperti itu?"Xavier tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku sedang menikmati pemandangan yang jauh lebih indah."Liora langsung paham ke mana arah pembicaraan ini. Ia menghela n

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 311

    Liora bersiap menarik kembali tangannya dengan merajuk. "Kalau tak mau, ya sudah! Aku tidur lagi—"Sebelum kalimatnya tuntas, jemari kekar Xavier sudah menyusup ke bawah tubuh Liora. Dengan satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh istrinya yang terbungkus selimut tebal itu ke dalam dekapannya."Ah!"Liora terpekik kaget dan refleks melingkarkan kedua tangannya erat-erat di leher Xavier."Pegangan yang kuat.""Kamu buat kaget! Aku belum siap!""Makanya, jangan mengancam mau tidur lagi."Xavier membawa Liora dalam dekapannya mendekati jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Ia memosisikan Liora berdiri di depannya, sembari merengkuh tubuh berbalut selimut itu dari belakang rapat-rapat agar kehangatan tubuhnya menyalur sempurna.Begitu tirai dihalau penuh, sepasang mata Liora seketika berbinar cerah.Paris tampak begitu memukau.Seluruh sudut kota bagaikan disihir menjadi negeri dongeng serbaputih. Butiran salju jernih berjatuhan perlahan dari langit yang t

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 310

    Sudah genap satu minggu Liora dan Xavier menikmati liburan mereka di Paris. Namun, ada satu hal yang terus ditunggu Liora dengan penuh rasa penasaran: salju.Setiap pagi, hal pertama yang dilakukannya selalu sama—melompat dari ranjang, menyibak tirai jendela, dan menatap ke luar dengan binar mata penuh harap.Hingga akhirnya, pagi itu keajaiban musim dingin yang dinantikannya benar-benar tiba.Sejak tengah malam, butiran-butiran putih nan lembut telah menari-nari membasahi langit Paris. Salju tipis menyelimuti atap-atap bangunan berarsitektur klasik, merayapi dedaunan, memutihkan jalanan, hingga menutupi pembatas balkon kamar suite hotel mereka.Sayangnya, sosok yang paling antusias menantikan momentum ini justru masih terlelap dalam tidur nyenyaknya.Xavier, yang sudah terjaga sejak awal, berdiri tenang di sisi ranjang. Tangannya bertumpuk di saku celana, menatap sang istri dengan pendar kehangatan yang tak terselubung. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis melihat Liora ya

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 4

    "Tunangan?" "Iya sayang," jawab Lely lembut.“Ada sebuah keluarga." Martin diam sejenak. Berusaha menyusun kata -demi kata. "Ada keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini.”Liora tidak menyela.Hanya menatapnya.“Hubungan dengan mereka akan membawa banyak keuntungan bagi keluarga kita.”Kalima

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 3

    Liora melangkah masuk ke dalam rumah.Langkahnya tenang.Namun tatapannya dingin.Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela.Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat in

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 2

    Ada perubahan kecil di mata Dion.Hanya sesaat.Namun Liora melihatnya.Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke dalam mobil, lalu duduk dengan tenang di kursi belakang.Pintu tertutup.Mesin menyala.Mobil mulai bergerak.Liora menyandarkan tubuhnya, menatap ke luar jendela.Cahaya pagi masuk melalui k

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 1

    "Sayang, ayo kita pulang."Kata-kata itu terdengar begitu indah di telinga Liora.Matanya berkaca-kaca saat menatap wanita paruh baya di hadapannya.Selama dua belas tahun, Liora menunggu orang tuanya datang menjemputnya di desa ini. Hari ini, semua mimpi serta harapannya akhirnya terwujud.Namun,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status