Share

Bab 8

Penulis: Liazta
last update Tanggal publikasi: 2026-04-24 15:01:02

Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.

Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan.

Semuanya tampak sempurna.

Terlalu sempurna.

Di tengah semua kemewahan itu—

Liora berdiri diam di depan cermin.

Acara pertunangan yang seharusnya berlangsung pagi hari, pukul sepuluh, diubah menjadi pukul delapan malam. Permintaan langsung dari Xavier Dominic. Katanya, ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan.

Alasan sederhana.

Namun cukup untuk membuat semua orang menyesuaikan diri tanpa berani bertanya.

Liora menatap pantulannya.

Gaun yang ia kenakan terasa asing di tubuhnya.

Merah menyala. Mencolok. Mahal.

Namun tidak terasa seperti miliknya.

Gaun itu milik Cynthia.

Sebuah gaun dengan kerah tinggi yang menutupi leher, lengan panjang, dan potongan rok yang menjuntai hingga lantai. Elegan… tapi kaku. Terlalu tertutup untuk selera Cynthia, yang selalu memilih sesuatu yang lebih ringan dan menonjolkan keindahan dirinya.

Itulah sebabnya gaun ini tidak pernah dipakai.

Dan sekarang—

diberikan pada Liora.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Ironis.

Bahkan untuk acara pertunangannya sendiri, tidak ada yang benar-benar disiapkan untuknya.

Ia hanya… mengisi kekosongan.

Gaun itu jelas kebesaran di tubuhnya.

Liora yang bertubuh kecil—terlalu kecil—dengan berat yang bahkan belum mencapai empat puluh kilogram, tampak tenggelam di dalam kain mahal itu. Bahunya jatuh sedikit, pinggangnya longgar, dan ujung gaun harus ditahan agar tidak terseret terlalu jauh.

Namun ia tidak memperbaikinya.

Tidak juga mengeluh.

Ia hanya menatap dirinya sendiri di cermin.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang.

Seolah yang berdiri di sana bukan seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang akan bertunangan dengan pria asing—

melainkan seseorang yang sudah tidak memiliki pilihan.

Pintu kamar terbuka.

Cynthia masuk lebih dulu, diikuti Lely.

“Kamu cantik sekali,” ucap Lely dengan suara lembut, mendekat dan merapikan sedikit rambut Liora.

Meskipun ia sangat kesal dengan anak bungsunya itu, Lely tetap berpura-pura baik. Walau bagaimanapun Liora akan menjadi nyonya Dominic.

Liora tidak menolak.

Namun juga tidak bereaksi.

Cynthia berdiri di belakang, menatapnya dengan mata yang sedikit merah.

Penampilannya sangat sempurna dan juga cantik. Begitu juga dengan riasan wajahnya yang full makeup. Berbeda jauh dengan Liora. Jika tamu melihat, sudah pasti mereka akan mengira, Cynthia lah calon tunangan Xavier

“Adik…” suaranya lirih. “Terima kasih…”

Liora hanya melirik sekilas lewat cermin.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada senyuman.

Hanya diam yang terasa lebih tajam dari kata-kata.

"Tidak usah merasa bersalah sayang. Papi sudah berikan dia uang yang banyak. Jadi kamu gak harus merasa berhutang dengan dia." Lely tersenyum sambil mengusap tangan Cynthia.

"Gaun ini sangat pas dengan mu. Gaun ini sangat mahal, hanya saja Cynthia tidak suka, karena modelnya kampungan."

Liora diam memandang ibunya itu. Hatinya benar-benar sakit mendengar setiap kata dari Lely. Namun tiba-tiba dia tersenyum.

Senyum Liora yang terasa berbeda, membuat bulu kuduk Lely merinding

Ruang utama sudah penuh ketika Liora turun.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Bisik-bisik kecil terdengar.

Namun bukan dirinya yang membuat orang kagum. Melainkan Cynthia yang berada dibelakangnya.

.

Namun Liora tidak perduli. Ia berjalan lurus tanpa memperdulikan itu semua.

Langkahnya stabil.

Tatapannya dingin.

Ia berhenti di samping Martin.

“Dia akan segera datang,” bisik pria itu pelan.

Liora tidak menjawab.

Namun jantungnya, entah kenapa, berdetak sedikit lebih cepat.

Bukan karena gugup.

Lebih seperti… sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

"Sesuai janji, siapkan 300 miliar lagi."

Wajah Martin merah padam memandang Liora.

Beberapa menit kemudian—

suasana berubah.

Tidak ada pengumuman.

Tidak ada suara keras.

Namun kehadiran itu… terasa.

Orang-orang mulai menoleh ke arah pintu masuk.

Percakapan mereda.

Udara seolah menegang.

Dan kemudian—

Pria itu masuk dengan langkah tenang.

Aura yang dibawanya… langsung mengambil alih ruangan tanpa perlu usaha.

Jas hitam yang ia kenakan rapi, elegan, dan terlihat lebih mahal dari apa pun di ruangan itu.

Tatapannya datar.

Dingin.

Dan ketika matanya terangkat—

ia melihat Liora.

Waktu seperti berhenti.

Liora membeku.

Napasnya tertahan.

Itu dia.

Pria itu.

Pria di depan kafe.

Yang menembak tanpa ragu.

Yang memandangnya seolah ia bukan apa-apa—

dan sekaligus sesuatu yang aneh.

Jantung Liora berdetak lebih keras.

Liora merasa…

ia benar-benar masuk ke sesuatu yang berbahaya.

Di sisi lain, Xavier tidak menunjukkan keterkejutan yang sama.

Namun langkahnya sempat berhenti.

Hanya sepersekian detik.

Cukup untuk menunjukkan bahwa ia mengenal wajah itu.

Tatapannya menajam sedikit.

Ia berjalan mendekat.

Semua orang memberi jalan tanpa diminta.

Hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan Liora.

Jarak mereka tidak sampai satu langkah.

Sunyi.

Martin berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana.

“Tuan Xavier, ini—”

“Aku tahu, dia calon tunanganku.”

Suara Xavier rendah.

Tenang.

Namun cukup untuk membuat semua orang diam kembali.

Tatapannya tidak lepas dari Liora.

Seolah orang lain tidak ada.

“Gadis dengan… tangan kosong namun bisa membuat tiga orang pria geger otak. Sangat hebat.”

Sudut bibirnya terangkat tipis.

Bukan senyum ramah.

Lebih seperti pengingat.

Tubuh Liora sedikit menegang.

Namun ia tidak mundur.

Tidak menunduk.

Ia malah menatap balik.

“Dan pria yang tidak tahu cara berterima kasih,” balasnya datar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Herlinda abuk
lanjut membaca
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 293

    Sudah tiga hari Leli dan Cynthia menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat sabetan cambuk hukuman keluarga Dominic. Namun selama tiga hari itu pula, Martin tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di ruang rawat tersebut. Hanya Leon dan Deon yang bergantian datang menjenguk kondisi mereka. "Kenapa papimu sama sekali tidak mau datang menjenguk Mami?!" ceroscos Leli dengan raut wajah berang menahan nyeri di punggungnya. Leon menatap ibunya dengan pandangan dingin nan lelah. "Papi tegaskan Mami bukan lagi istrinya. Surat gugatan perceraian kalian sudah resmi didaftarkan Papi ke pengadilan." Mendengar hal itu, Leli seketika menjerit panik. "T-tidak! Mami tidak sudi bercerai dari papimu!" Baru detik ini rasa penyesalan yang teramat sangat menghantam kesadaran Leli. Selama ini ia sudah kelewat terbiasa hidup bergelimang kemewahan. Bagaimanakah nasib kehidupannya kelak tanpa adanya 'donatur' setia seperti Martin—pria yang selama puluhan tahun selalu menuruti setiap kegilaan dan keh

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 294

    “Kamu yang menabrak orang itu, Cynthia. Kamu yang menyebabkan semuanya terjadi.” Suara Leon semakin tegas. “Jadi sekarang, kamu sendiri yang harus mempertanggungjawabkannya di hadapan hukum.”“T-tidak...” Cynthia menggeleng keras.Leon mengepalkan tangan.“Aku menyesal.”Cynthia menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.“Aku menyesal karena dulu ikut menutup mata. Aku menyesal pernah melindungimu dan membiarkan Liora menanggung kesalahan yang bukan miliknya.”“T-tidak! Aku tidak mau dipenjara!”Cynthia kembali menangis.Ia buru-buru merangkak ke arah Deon.“Kak Deon! Tolong aku! Aku takut!”Deon membeku.Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia bahkan tidak sanggup menatap mata Cynthia.“Belajarlah bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan.”“Kak...”“Dua tahun lalu, Liora harus membusuk di dalam penjara demi menanggung kesalahanmu.” Suara Deon bergetar, tetapi ia memaksa dirinya tetap tegas. “Sekarang... giliranmu menghadapi konsekuensinya.”Cynthia terisak semaki

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 292

    Jari-jemari lentik Liora mulai merambat halus. Istri kecil Xavier itu menyusupkan tangannya ke balik kaus santai yang dikenakan suaminya, meraba perut berotot Xavier dengan sentuhan lembut nan hangat.Xavier seketika menahan napas, dadanya menegang menahan gejolak yang mendadak membakar tubuhnya. Napasnya kian tertahan ketika tangan mungil Liora merambat lebih tinggi, mengelus dada bidangnya yang terasa keras.Anehnya, Liora melakukan semua itu tanpa prasangka apa pun. Mulutnya tak henti-hentinya mengoceh riang, menceritakan kembali momen-momen berkesan saat pesta resepsi mereka tadi. Liora bahkan berbisik penuh ketakjuban—tak menyangka Mami mertuanya akan membela dirinya sehabis-habisan. Melihat raut wajah Leli dan Cynthia yang hancur berkeping-keping, Liora merasa lega. Ia yakin, setelah ini tidak akan ada lagi yang berani mengganggunya karena Mami mertuanya sangat galak dan protektif.Namun, Xavier sudah tidak bisa lagi fokus mendengarkan ocehan riang itu. Pria dewasa itu menarik l

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   BAB 291

    Kecupan hangat di kening itu membuat Liora perlahan memejamkan mata.Untuk beberapa detik, ia hanya diam dalam pelukan Xavier.Dada bidang pria itu terasa kokoh di dekat tubuhnya. Kehangatan dari pelukan tersebut perlahan meredakan kegugupan yang sejak tadi menguasai dirinya. Anehnya, berada sedekat ini dengan Xavier tidak lagi membuatnya ingin menjauh.Justru sebaliknya.Liora merasa aman.Sangat aman.Xavier pun tidak terburu-buru.Ia hanya membiarkan istrinya berada dalam pelukannya, seolah-olah ingin memberinya kesempatan untuk terbiasa dengan kedekatan mereka.Namun ketika Liora akhirnya mengangkat wajah, mata mereka bertemu.Dan seketika suasana berubah.Xavier merenggangkan pelukannya sedikit.Cukup untuk melihat wajah Liora dengan jelas.Tatapan pria itu tertahan lama di sana.Rambut lembut yang membingkai wajah Liora, pipinya yang masih bersemu merah, serta sepasang mata bening yang kini menatapnya dengan gugup.Xavier sampai lupa bernapas sesaat.“Kenapa menatapku seperti it

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   BAB 290

    Malam kian larut.Setelah pesta resepsi megah yang berlangsung berjam-jam akhirnya usai, Xavier membawa Liora ke penthouse pribadinya.Kamar utama di lantai paling atas telah disiapkan dengan begitu indah. Lilin aromaterapi berjajar di beberapa sudut ruangan, menyebarkan aroma lembut yang menenangkan. Kelopak mawar merah ditaburkan membentuk pola sederhana di atas tempat tidur king size.Namun, semua kemewahan itu justru membuat Liora semakin salah tingkah.Setelah membersihkan diri dan mengganti gaun mewahnya dengan piyama sutra longgar berwarna krem, gadis berusia sembilan belas tahun itu berdiri di depan meja rias sambil pura-pura sibuk merapikan rambut.Padahal sejak tadi, rambutnya sudah berkali-kali ia sisir dengan jemarinya.Pipi Liora memerah.Mulai malam ini, ia dan Xavier benar-benar akan berbagi kamar sebagai suami istri.Jantungnya berdetak begitu cepat sampai-sampai ia merasa Xavier mungkin bisa mendengarnya.Di belakangnya, pintu kamar mandi terbuka.Xavier keluar dengan

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   BAB 289

    Malam kian larut.Setelah pesta resepsi megah yang berlangsung berjam-jam akhirnya usai, Xavier membawa Liora ke penthouse pribadinya.Kamar utama di lantai paling atas telah disiapkan dengan begitu indah. Lilin aromaterapi berjajar di beberapa sudut ruangan, menyebarkan aroma lembut yang menenangkan. Kelopak mawar merah ditaburkan membentuk pola sederhana di atas tempat tidur king size.Namun, semua kemewahan itu justru membuat Liora semakin salah tingkah.Setelah membersihkan diri dan mengganti gaun mewahnya dengan piyama sutra longgar berwarna krem, gadis berusia sembilan belas tahun itu berdiri di depan meja rias sambil pura-pura sibuk merapikan rambut.Padahal sejak tadi, rambutnya sudah berkali-kali ia sisir dengan jemarinya.Pipi Liora memerah.Mulai malam ini, ia dan Xavier benar-benar akan berbagi kamar sebagai suami istri.Jantungnya berdetak begitu cepat sampai-sampai ia merasa Xavier mungkin bisa mendengarnya.Di belakangnya, pintu kamar mandi terbuka.Xavier keluar dengan

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 6

    “Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 5

    Ruangan itu masih dipenuhi sisa tangis Cynthia.Namun Liora sudah tidak lagi memperhatikan.Tatapannya beralih ke Martin.Tatapan itu dingin dan tenang.Seolah semua emosi tadi… tidak pernah menyentuhnya."Apa, kata Lely?" “Aku setuju.”Kalimat itu keluar begitu saja.Membuat semua orang terdiam.

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 4

    "Tunangan?" "Iya sayang," jawab Lely lembut.“Ada sebuah keluarga." Martin diam sejenak. Berusaha menyusun kata -demi kata. "Ada keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini.”Liora tidak menyela.Hanya menatapnya.“Hubungan dengan mereka akan membawa banyak keuntungan bagi keluarga kita.”Kalima

  • Terpaksa Menikah Dengan Sang Penguasa Kejam   Bab 3

    Liora melangkah masuk ke dalam rumah.Langkahnya tenang.Namun tatapannya dingin.Matanya menyapu sekeliling rumah megah itu—lantai marmer yang berkilau, lampu gantung besar yang menggantung anggun, dan setiap sudut yang tampak sempurna tanpa cela.Dulu… ia pernah bermimpi bisa kembali ke tempat in

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status