“Apa? Kamu mau membatalkan pernikahanmu? Cha, kamu serius?!” Suara mamanya meninggi, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Mama nggak setuju! Gimana nanti omongan orang? Undangan sudah disebar, pernikahan tinggal seminggu lagi, Ca!” Nada bicara Hana semakin tegas, antara kecewa dan marah yang mulai tak bisa disembunyikan. Latisha menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang. Jangankan menjelaskan, mengingat kejadian itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak. Dikhianati. Diselingkuhi. Dan yang paling menyakitkan—di selingkuhi dengan sahabatnya sendiri lagi. “Justru bagus, Ma,” katanya pelan namun mantap. “Lebih baik ketahuan sekarang daripada nanti setelah menikah.” “Bagus?” Mama memandang Latisha dengan sorot tak percaya. “Bagus dari mana, Ca? Kamu tahu apa dampaknya ini untuk keluarga kita?” Latisha tahu benar, kekecewaan dan kemarahan Mamanya bukan semata karena pernikahan itu batal. Lebih dari itu, Mamanya telah menaruh harapan besar pada Danu Adiyaksa—seorang abdi negara, calon menantu kebanggaan yang sering dijadikan bahan cerita di arisan dan obrolan tetangga. "Padahal usia kamu udah pas buat menikah," gumam Hana dengan nada cemas dan getir. Di kampung mereka, perempuan seusia Latisha sudah dianggap ‘terlambat’ kalau belum menikah. "Astaga, Ma… Icha aja belum dua lima," jawab Latisha, frustrasi. Nada suaranya berusaha tetap tenang, tapi matanya memancarkan rasa lelah yang tertahan. Tatapan Mama seketika berubah tajam, sarat tekanan. "Anak-anak seumuran kamu udah pada punya anak. Mama capek ditanya tetangga: ‘Kapan Latisha nikah? Kapan?’” Kata-kata itu menampar perasaan Latisha. Diam-diam ia menarik napas dalam, menelan getir. Di usianya yang baru 24 tahun, masih banyak mimpi yang ingin ia wujudkan. Tapi bagi lingkungan sekitarnya, semua itu tak berarti apa-apa jika ia belum mengenakan kebaya putih dan duduk di pelaminan. Masih terlalu muda, pikirnya lirih. Terlalu muda untuk menjalani hidup yang salah hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain. "Mama nggak mau tahu!" suara Hana meninggi, memutus renungannya. "Kamu harus pikirkan baik-baik. Jangan egois!" Latisha menunduk. Kali ini bukan karena takut, tapi karena mencoba meredam gelombang perasaan yang mulai meledak di dadanya. "Kamu tetap harus menikah minggu depan! mama nggak mau jadi bahan olok-olokan para tetangga." Dengan langkah cepat dan hati yang membara, Hana bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang tengah. Kini tinggal Latisha sendiri, duduk terpaku dengan wajah penuh frustasi. Matanya menatap setumpuk undangan pernikahan di atas meja. Jemarinya terulur, meraih satu, lalu merobeknya. Suara kertas yang tercabik-cabik memenuhi ruangan. Satu… dua… entah sudah berapa undangan yang hancur di tangannya. Tapi ia tak peduli. Perasaan sakit dan kecewa membuatnya ingin menghancurkan semuanya—terutama harapan palsu yang pernah ia titipkan pada nama Danu Adiyaksa. Untungnya, baru sebagian kecil undangan yang sempat tersebar—itu pun karena Mama yang begitu semangat mengabarkan pernikahan putri bungsunya kepada dunia. "Dek…" Sebuah suara membuat Latisha mendongak. Di ambang pintu, Arya berdiri dengan sorot mata lembut, penuh empati. "Yakin mau dibatalin?" tanyanya pelan. Latisha mengangguk mantap, meski matanya sedikit berair. "Tapi bukannya Danu masih mau memperbaiki semuanya?" "Percuma, Kak." jawab Latisha pelan tapi pasti. "Laki-laki yang pernah selingkuh… besar kemungkinan akan mengulanginya lagi. Sekali kepercayaan dihancurkan, sulit untuk dibangun kembali." Arya hanya mengangguk kecil. Ia paham. Kadang, memaafkan itu mungkin. Tapi melupakan? Itu luka yang akan terus membekas. "Mama?" Latisha menghela napas panjang. "Kakak tau sendiri, Mama nggak akan setuju. Dia sudah menganggap Danu calon menantu sempurna. Apalagi mereka berteman dekat." Arya terdiam. Ia tahu betul kerasnya sikap Hana—sekali punya harapan, akan sulit melepaskannya. Terlebih, Danu adalah anak sahabat lama dan juga kakak kelas Latisha saat SMA. Semuanya terasa terlalu ‘ideal’ di mata Mamanya. "Mau kenalan sama temen Kakak?" tawar Arya tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana. Latisha menoleh dengan ekspresi datar. "Kak… move on aja belum." Arya tertawa kecil, meski wajah adiknya masih diliputi awan kelabu. "Tapi… pernikahan kamu tinggal seminggu lagi, Dek. Nggak mungkin dibatalin gitu aja. Gedung udah, MUA, dekorasi, catering—semua udah siap." Latisha memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Kepalanya penuh, dadanya sesak. Bukan karena takut tak jadi menikah—tapi karena selama ini ia menjalin hubungan bukan dari rasa suka, tapi dari ‘seharusnya’. Karena Danu datang membawa restu Mama. Karena semua tampak begitu ideal… di permukaan. Tapi kenyataannya, Danu menjadi luka kedua untuknya. ____ Keesokan harinya, Latisha kembali ke rutinitasnya di kantor, sebuah perusahaan konsultan tempatnya bekerja selama setahun terakhir. Wajahnya terlihat lesu, matanya sayu, tapi tetap mencoba terlihat biasa saja di hadapan rekan-rekannya. "Ca, serius lo batal nikah?" bisik Nadya pelan, matanya melirik kanan-kiri seolah takut kalimatnya terdengar oleh karyawan lain. Latisha hanya mengangguk malas tanpa menoleh. "Tapi… pernikahan lo tinggal beberapa hari lagi, kan? Bukannya ini sama besok hari terakhir lo kerja?" Nadya masih tak percaya, wajahnya penuh rasa penasaran. "Mau gimana lagi," gumam Latisha. "Daripada makan ati tiap hari, mending batal dari sekarang." Nadya menatapnya prihatin, tapi seketika berubah usil. "Apa jangan-jangan ini gara-gara lo sering ledekin Pak Saga sebagai perjaka tua?" "Eh, bukan gue doang kali!" protes Latisha cepat. "Lo juga, Nad!" Memang bukan rahasia umum kalau bos mereka— Sagara—sering jadi bahan candaan. Usianya yang sudah matang, penampilannya yang rapi dan dingin, tapi belum pernah terlihat dekat dengan perempuan manapun. Sosok pria mapan yang misterius… dan jomblo abadi. "Tapi bisa aja kan? Bisa jadi itu karma buat lo." goda Nadya sambil menahan tawa. Belum sempat Latisha membalas, sebuah suara berat memotong obrolan mereka. "Latisha, ke ruangan saya." Latisha langsung membeku. Matanya membelalak. Nadya pun ikut kaget dan pura-pura sibuk di depan layar komputer. "Gawat. Apa dia denger, ya?" bisik Latisha panik. "Udah sana, buruan sebelum makin marah," dorong Nadya pelan. "Temenin gue dong…" rengek Latisha setengah serius, setengah takut. "Yang dipanggil siapa? Gue? Bukan, kan?" Nadya balas ketus tapi geli, lalu kembali mengetik. Dengan langkah ragu dan napas tak teratur, Latisha berjalan menuju ruangan Pak Sagara. Setiap langkah terasa seperti mendekat ke ruang interogasi. Tangannya dingin, keringat mulai muncul di pelipis. Wajahnya tegang. Dalam hati, dia hanya bisa berharap... semoga ini bukan akhir dari kariernya juga. Sesampainya di depan pintu, Latisha menarik napas panjang. Ia mengulurkan tangan, namun ragu. Sempat ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri, lalu akhirnya mengetuk pintu kayu itu pelan. Tok... tok... "Masuk." Suara berat itu terdengar dari dalam—datar, tenang, tapi menggetarkan. Jantung Latisha langsung berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Dengan hati-hati, Latisha membuka pintu. Pandangannya langsung tertuju pada Sagara—bosnya—yang duduk tegak di balik meja kerja besar dengan ekspresi khasnya: dingin, tajam, nyaris tak berperasaan. Jas rapi, dasi senada, dan pandangan mata yang seperti bisa menembus niat seseorang hanya lewat satu lirikan. "Duduk." Suara itu lagi, tegas dan singkat. Latisha menelan ludah sebelum melangkah mendekat. Ia duduk di kursi di hadapan Sagara, punggungnya kaku, tangan di pangkuan tak henti bergulat satu sama lain. "E-em... ada... apa ya, Pak?" tanyanya gugup. Suaranya terdengar pelan, hampir bergetar. Sagara tak langsung menjawab. Ia hanya menatap Latisha beberapa detik—lama, seperti sedang menilai setiap gerak-geriknya. Latisha makin salah tingkah. Aura pria itu benar-benar menekan. Wibawanya tidak main-main. Seperti ketika ia sedang menghadapi klien besar—tajam, tenang, dan tidak memberi ruang untuk basa-basi. Sagara memang dikenal sebagai sosok yang jarang tersenyum, apalagi bersikap ramah. Baginya, efisiensi adalah segalanya, dan terlalu banyak bicara adalah pemborosan. Latisha bisa merasakan keringat dingin mengalir pelan di punggungnya. Setiap detik terasa lambat, mencekam. Yang membuat semuanya semakin menegangkan—ia sama sekali tidak tahu alasan dipanggil. Lalu suara itu datang, berat dan mengandung tekanan yang tak kasat mata. "Bisa kamu jelaskan ucapan kamu tadi?""Aku tidak membenci cinta, aku hanya takut jatuh terlalu dalam… karena jatuh membuatku sadar betapa kerasnya tanah saat aku terhempas."~Latisha~.."Kenapa nggak bilang dulu?" suara Latisha terdengar pelan, tapi jelas sarat dengan perasaan yang campur aduk. Mereka sudah berada di kamar, hanya berdua. Lampu redup menyorot wajahnya yang masih menyimpan rasa curiga.Sagara yang duduk di ujung ranjang menarik napas panjang sebelum menjawab. "Kamu tahu, kan? Kejutan itu bukan buat diumumin. Saya cuma pengin nunjukin kalau saya punya usaha… punya effort buat bertahan sama kamu."Kalimat itu membuat Latisha bangkit dari posisi tidurnya. Ia duduk bersila, menatap Sagara lurus-lurus dengan sorot mata penuh tanda tanya."Yakin, Pak?" tanyanya, datar namun menusuk.Sagara mengernyit, agak bingung dengan intonasi istrinya. "Kenapa nanya gitu?"Latisha tersenyum miring, pahit. "Bapak ingat nggak, hubungan kita satu bulan terakhir ini jauh dari kata baik-baik aja? Kita bahkan nyaris bercerai. Dan
Latisha mendongak, menatap Sagara penuh selidik. Suaranya bergetar ketika menyebut satu nama, "Mbak Clara?"Tentu saja, setelah semua kejadian akhir-akhir ini, ia tidak bisa begitu saja menaruh percaya pada orang lain. Sagara mungkin terlihat meyakinkan, namun rasa takutnya masih lebih kuat."Clara?" alis Sagara terangkat, sorot matanya bingung."Bukankah bapak mau balikan—""Saya dan Clara sudah selesai tujuh tahun lalu," potong Sagara tegas, matanya tak lepas dari Latisha, seolah ingin memastikan istrinya mengerti. Ada ketegasan sekaligus ketulusan yang terasa dalam ucapannya.Namun Latisha tetap terdiam. Ada sesuatu di kepalanya yang terus bergolak. Ia ingin percaya, tapi luka-luka masa lalu membuat langkahnya tertahan.Sagara menarik napas panjang, lalu menatap Latisha dengan ekspresi yang sulit ditebak antara jengkel dan sayang. "Saya kadang penasaran, sebenarnya apa sih yang muter di kepala kamu ini?" gumamnya sambil mengetuk lembut dahi Latisha dengan jemarinya.Latisha hanya m
“Saya tahu kamu masih muda. Kamu masih punya banyak hal yang ingin kamu kejar, banyak mimpi yang mungkin belum sempat kamu wujudkan.” nada Sagara terdengar tenang, tapi ada getaran samar yang membuat Latisha spontan menunduk menatapnya.Kening Latisha berkerut. “Terus?”Sagara menahan napas sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi… saya mau minta satu hal dari kamu. Boleh?”Latisha menatapnya bingung. Jemarinya yang tadinya sibuk di pelipis Sagara kini terhenti, seakan ikut membeku bersama suasana. “Apa?” tanyanya hati-hati.Sagara tidak langsung menjawab. Tatapannya tak lepas dari wajah muda istrinya, seolah mencari keberanian untuk melepaskan kata-kata yang selama ini tertahan.“Apa, Pak?” ulang Latisha pelan, kali ini lebih lembut.Sagara menghela napas panjang, lalu berkata lirih, “Jangan lari lagi dari saya, Sha.”Latisha mengerjap, tak siap dengan jawaban itu.“Saya tahu kamu belum sepenuhnya terbuka sama saya. Kadang kamu menghindar, pura-pura sibuk, pura-pura nggak peduli. Tapi…” su
“Ibu balik sore nanti,” ujar Latisha pelan, melangkah menghampiri Sagara yang sedang duduk di ruang tengah.Pria itu terlihat lelah. Punggungnya bersandar di sofa, mata terpejam, seakan tubuhnya baru saja dipaksa menanggung beban yang berat. Saat mendengar suara Latisha, matanya perlahan terbuka, menoleh pada sosok yang berdiri di sampingnya.“Kok mendadak?” tanyanya heran. Ia ingat betul ibunya sempat bilang akan tinggal sedikit lebih lama di sini.“Ayah kangen, katanya,” jawab Latisha singkat. Senyum samar tersungging di bibir Sagara, meski hanya sesaat. Namun Latisha cukup peka untuk menangkapnya.“Ambilkan ponsel saya di ruang kerja, boleh?” ucap Sagara tiba-tiba, membuat Latisha mengerutkan dahi bingung.“Untuk apa?” tanyanya.“Saya mau minta tolong Kevin, biar dia yang antar Ibu ke bandara.”Latisha mengernyit. “Bapak sibuk?”Sagara menggeleng pelan. “Tidak… cuma kepala saya sedang pusing.”Latisha terdiam sebentar, lalu berkata tegas, “Tapi saya ikut Mas Kevin antar Ibu ke band
"Saya baru tahu… selera Bapak ternyata seperti dia."Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Latisha, dingin namun penuh luka. Ia segera membuka pintu mobil dengan terburu-buru, langkahnya tergesa menuju area basement apartemen yang remang.Hatinya kacau. Sejujurnya, ia kesal setengah mati. Selama ini, Latisha pikir menikah dengan Sagara setidaknya akan bebas dari drama perempuan masa lalu. Ia yakin pria itu berbeda tidak tertarik pada hal-hal seperti itu. Bahkan selama satu tahun bekerja di perusahaannya, tak sekalipun Latisha mendengar kabar Sagara dekat dengan perempuan mana pun.Tapi nyatanya, hari ini ia justru dipaksa menelan kenyataan pahit.Meski begitu, Latisha tahu itu bukan sepenuhnya salah Sagara. Mereka menikah bukan karena cinta, melainkan karena kebutuhan. Sebuah kesepakatan dingin yang seharusnya tidak melibatkan hati. Namun, siapa yang bisa menjamin? Empat bulan berbagi atap, berbagi ruang, bahkan berbagi ranjang… apa mungkin benar-benar tidak ada perasaan yang tum
“Saya ke sana dulu,” pamit Sagara pelan.Belum sempat ia melangkah, jemari Latisha refleks menahan pergelangan tangannya.Di tengah pesta yang megah dengan gemerlap lampu kristal, aroma bunga segar, dan denting musik orkestra yang syahdu, Latisha justru merasa begitu asing. Semua orang tampak saling mengenal, tertawa, dan berbaur dalam hangatnya percakapan.“Kemana?” tanya Latisha lirih, menengadahkan wajahnya.Sagara melirik ke kanan. Empat pria berjas rapi tampak bercengkerama sambil mengangkat gelas kristal mereka. Tawa mereka terdengar ringan, bercampur dengan riuh rendah tamu undangan.“Itu rekan bisnis saya. Sebentar saja, hanya menyapa,” ujarnya lembut, mencoba meyakinkan.“Janji,” ucap Latisha pelan, hampir berbisik, seolah takut suaranya tenggelam dalam hingar-bingar pesta.Sagara tersenyum tipis dan mengangguk. “Iya, sebentar.”Dengan berat hati, Latisha melepaskan cekalannya. Matanya tak lepas mengikuti langkah Sagara, hingga punggung lelaki itu menghilang di antara kerumun