FAZER LOGIN“Bu,” panggil Amoura memecahkan suasana haru kedua wanita yang mengaku kembar tapi tak sama sedikit pun wajahnya.Dua wanita itu kini menoleh ke arah Ryuzha dan Amoura, mereka menghapus jejak air mata dan melangkah bersama duduk berhadapan dengan kedua anak mereka.“Kalian sepupu,” kata Liana menjelaskan.Ryuzha menggelengkan kepala tak percaya, begitu pun Amoura. Dua wanita itu menjelaskan secara detail apa yang terjadi.Mereka terpisah saat ayahnya meninggal dunia dan sang Ibu tidak mampu membiayai hidup keduanya, Liana merantau ke kota dan bertemu Aryo lalu menikah dengannya, sedangkan Diana tinggal di luar negeri mengikuti suaminya—almarhum Daddy Ryuzha, menjadi istri kedua setelah kematian ibu kandung Ryuzha.Sejak Ryuzha berumur 5 tahun, ia sudah berstatus ibu sambung. Namun, rahim yang lemah membuat ia tak bisa memiliki anak, sehingga sang Ibu mertua murka dan tidak menyukai Diana karena tidak memberikan beliau keturunan. Diana dianggap wanita tak berguna ketika hanya bersta
“Ka-ka-mu...,” ucap Liana terbata-bata.Jemarinya bergetar di udara, menunjuk ke arah wanita paruh baya yang duduk tepat di samping Ryuzha. Detik itu juga, sepasang mata kedua wanita paruh baya itu seketika berkaca-kaca. Pandangan mereka terkunci rapat pada sebuah liontin yang sangat mereka kenali, yang kini tampak menggantung anggun di leher masing-masing.Ryuzha dan Amoura hanya bisa memandang kedua wanita di hadapan mereka dengan kening berkerut. Rasa bingung berbaur dengan tingkat penasaran yang tinggi mendadak menyelimuti benak mereka berdua.Tanpa memedulikan sekitar, Diana perlahan bangkit berdiri. Ia melangkah tergesa menghampiri Liana, lalu langsung berhambur memeluk erat sosok yang selama ini menjadi misteri dan paling ia cari sejak menapakkan kaki kembali di Indonesia.=== Flashback ===“Ayah kalian sudah tiada. Ibu tidak akan bisa mengurus kalian berdua sendirian, karena pasti keluarga kita akan kekurangan,” ucap seorang wanita paruh baya yang tengah terbaring lemah di ata
“Kak Amour! Kak Amoura! Ibu!” teriakan Fani menggema riuh saat gadis itu berlari kecil menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Wajahnya tampak semringah, dipenuhi senyum yang tak kunjung surut.Amoura yang sudah tampil rapi mengenakan dress selutut, rambut panjangnya dibiarkan tergerai, serta dilengkapi syal yang menggantung manis di lehernya, seketika terusik. Langkahnya terhenti tepat di luar kamar lantai tiga kafe akibat kegaduhan yang ditimbulkan oleh karyawannya itu.“Fan, ada apa sih? Ibu sedang beristirahat, baru saja meminum obatnya. Jadi jangan mengganggu ketenangan Ibu,” tegur Amoura halus namun tegas begitu menemui Fani yang masih terlihat heboh sendiri dengan suara yang memantul ke seluruh ruangan.Fani langsung mengerem langkahnya, tampak bersalah. “Iya, Kak... maaf.”“Ada apa?” tanya Amoura kemudian.“Kakak tahu tidak, majalah bisnis yang sering Ibu beli dulu, pernah terpampang wajah seseorang yang terlihat sangat sempurna?” Fani membuka obrolan dengan mata berbinar pena
Namun, Liana memilih untuk menutup mata demi apa yang ia yakini benar. Baginya, menikahkan Amoura dengan Ryuzha adalah jalan terbaik, terlebih di matanya sosok calon menantunya itu sudah mencapai batas kesempurnaan.Ryuzha telah benar-benar memenangkan hati Liana dengan sangat cerdik. Jalan pria itu untuk mendapatkan Amoura terbuka begitu mulus, meski ia harus menggunakan taktik kejam dengan menjadikan kebahagiaan sang ibu sebagai taruhan utama yang mengunci kebebasan Amoura.“Ibu bisa tinggal sendiri tanpamu, Amoura. Ibu akan baik-baik saja, dan keputusan Ibu sudah bulat. Setelah kamu menikah, Ibu akan tinggal di lantai 3 kafe kita bersama Fani—karyawan kafe yang sudah Ibu anggap seperti anak sendiri.”Tepat setelah nama itu disebut, seorang gadis muda dengan riang masuk ke dalam pantry. “Bu...” panggil Fani. Meski belum mengenakan seragam tugas kafenya, ia langsung berhambur memeluk Liana dengan cukup erat. “Akhirnya Ibu ke sini! Kenapa tidak bilang-bilang? Kalau bilang dari awal, F
“Alana!” panggil Aryo lantang ketika melihat anak perempuannya itu melangkah masuk ke dalam rumah. Gadis itu baru saja pulang setelah tiga hari berturut-turut menghilang tanpa kabar.Alana menghentikan langkahnya, menatap malas ke arah Aryo yang sedang berjalan cepat mendekatinya. “Iya, Yah, ada apa?”“Ke mana saja kamu?” tuntut Aryo dengan kening berkerut dalam.“Biasa, Yah. Liburan sama teman-teman. Hidup itu harus dinikmati, jangan seperti Ayah yang terlalu fokus bekerja sampai tidak memperhatikan anak istri,” celetuk Alana santai tanpa beban.Belum sempat ia melangkah pergi, tangannya langsung ditarik kasar oleh Aryo, memaksanya untuk duduk tepat di samping pria paruh baya itu.“Ayah ingin bicara denganmu,” ucap Aryo, nadanya mendadak berubah serius.Alana menghela napas, bersandar pada sofa. “Bicara saja.”“Bantu Ayah,” pinta Aryo lirih, suaranya terdengar begitu putus asa hingga hampir tak terdengar.Alana mengerutkan kening, menatap ayahnya dengan pandangan bingung. “Bantu? Apa
“Maafkan aku yang tidak bisa membantumu, Amoura,” kata Danial penuh sesal.Mereka baru saja keluar dari salah satu ruangan, kini berjalan beriringan menyusuri lorong panjang rumah sakit menuju lobi depan. Langkah mereka lambat, kontras dengan kesibukan khas rumah sakit di sekeliling mereka. Tidak ada lagi obrolan hangat sembari duduk berdua di restoran atau tempat romantis lainnya; semua telah berubah menjadi kecanggungan yang kentara.Amoura menatap lurus ke depan, mencoba menata suaranya agar terdengar tegar. “Jujur, aku merasa kecewa dengan ketidaktegasanmu yang tidak bisa menjelaskan pada ibumu. Tetapi semalam aku berpikir, mungkin ini adalah yang terbaik agar kita tetap profesional selama bertugas di rumah sakit, tanpa hubungan apa pun, 'kan?”Semalam, di tengah malam yang sunyi, Amoura memang sempat merenung. Ia menyadari bahwa perpisahan ini mungkin jalan terbaik yang harus ia tempuh. Ia tidak ingin melibatkan Danial lebih jauh ke dalam lingkaran masalahnya, terlebih dokter mud







