MasukAmoura merutuki dirinya ketika mengetahui identitas pria yang menabrak mobilnya, tertera dengan jelas nama seseorang yang baru saja ia dengar dari sang Ayah. Seseorang yang sungguh tidak menarik untuknya bahkan untuk sekadar berkenalan, tidak penting menurut Amoura.
Namun, kata tidak penting rasanya sudah tak berarti apa pun ketika takdir malam ini mempertemukan mereka melalui kejadian yang tidak menyenangkan. “Ryuzha Kanaka Putra,” gumam Amoura sambil mengayunkan langkah menuju ruang IGD rumah sakit. “Arghh! Aku harus tetap fokus, ayo Amoura lupakan kejadian tadi bersama pria yang sama sekali tidak ingin kau temui, sekarang ada tugas yang lebih penting dari itu,” ucap Amoura membisikkan dirinya sendiri sambil tetap melangkah melewati pintu utama lobi rumah sakit dan menuju ruang IGD. Langkah kaki Amoura menggema cepat di lorong unit gawat darurat yang riuh oleh bunyi monitor. Bau antiseptik yang tajam menyambut penciumannya. Di ujung selasar, seorang suster yang tampak kewalahan langsung menegakkan tubuh begitu melihat siluet sang dokter mendekat. “Malam, Dok,” sapa seorang perawat sambil menyeka keringat di kening dan wajah yang terlihat lelah. Amoura tidak mengurangi kecepatan langkahnya. Fokusnya langsung terkunci pada papan klip berisi berkas medis yang disodorkan kepadanya. “Bagaimana keadaan pasien yang tadi kamu informasikan pada saya?” tanya Amoura langsung pada inti tanpa berbasa-basi. Suster itu bergegas menyamakan langkah, napasnya sedikit memburu saat membacakan catatan observasi terakhir. “Tekanan darah masih tinggi, Dok. Kemajuan pembukaan sangat lambat, pasien atas nama Ibu Hera bersikeras melahirkan secara normal, Dok,” lapor perawat. Amoura yang sudah memakai snelli putih kebanggaan membolak-balikan rekam medis yang sudah berada di tangan. Alisnya bertaut rapat tatkala melihat angka spigmomanometer yang menunjukkan angka distolik dan sistolik yang mengkhawatirkan. Ini adalah kasus pre-eklampsia yang cukup berisiko. Sejurus kemudian, Amoura menghampiri pasiennya dengan wajah serius dan penuh ketegasan. Ia menyingkap tirai pembatas ruang yang berada di ruangan IGD, menembus batasan privasi darurat itu. Di atas bangkar, sosok wanita dengan perut membuncit tampak meringis menahan sakit hingga bulir bening sebesar biji jagung memenuhi kening. Kedua tangan wanita itu mencengkeram sisi ranjang dengan buku-buku jari yang memutih. “Sakit, Dok,” keluh Bu Hera sambil mengelus perutnya yang dirasa tegang hingga ke bagian pinggang. Suaranya serak, bergetar menahan gelombang kontraksi yang menyiksa. Amoura segera mengambil posisi di sisi ranjang. Tangan dinginnya yang terbungkus sarung tangan medis menyentuh lembut jemari Bu Hera, menyalurkan ketenangan yang sangat dibutuhkan saat ini. “Sabar ya, Bu. Saya menyarankan anda untuk melakukan operasi Caesar demi keselamatan Nyonya dan bayi yang berada di dalam kandungan. Ada dua pilihan sebenarnya Nyonya, melakukan induksi atau melakukan operasi Caesar? Semua keputusan ada di tangan anda, Nyonya.” Wanita di atas bangkar itu menggeleng lemah, matanya yang berkaca-kaca menatap Amoura penuh permohonan. “Saya ingin melahirkan normal, Dok.” Amoura menghela napas pendek, menghargai naluri keibuan pasiennya namun tetap mengutamakan keselamatan medis. “Baik, saya akan mengusahakan tetapi ketika tidak ada kemajuan pembukaan kami akan melakukan operasi Caesar, Bu.” Mendengar penjelasan rasional dari sang dokter, Bu Hera akhirnya mengangguk pasrah. Rasa cemas di matanya sedikit mereda. “Baik, Dok. Lakukan apa saja yang menurut Dokter baik saya akan menurut demi keselamatan kami.” “Baik, tetap tenang agar tekanan darah tidak semakin tinggi dan tetap terkontrol,” kata Amoura tersenyum hangat. Bagaimana pun, ia harus meredakan ketegangan pasiennya demi keselamatan sang ibu dan bayi. Amoura menyunggingkan senyum ramah dan menyelipkan obrolan ringan untuk mencairkan suasana. Di balik pembawaannya yang tegas, terpatri jiwa sosial mendalam dari seorang dokter yang terikat sumpah untuk melayani sepenuh hati. “Suster siapkan obat induksi sesuai resep, pesan ruang OK agar cepat mendapatkan ruang jika induksi gagal, kita akan berusaha menjalani proses lahiran normal, tetapi siapkan magnesium sulfat selama persalinan dengan pre-eklampsia untuk mencegah risiko kejang pada pasien,” terang Amoura yang langsung mendapatkan anggukan serta sikap cekatan para perawat. “Fokus Amoura, fokus!” kata Amoura kembali menyemangati diri ketika nama Ryuzha muncul dalam otaknya. ** Pintu jati berukir megah itu terbuka, menampilkan sosok Ryuzha yang melangkah masuk dengan sisa-sisa ketegangan yang masih tertinggal di wajah tampannya. Suasana rumah yang senyap langsung terusik oleh derap langkahnya yang berat. “Sayang ... kenapa kamu pulang dengan taksi online?” tanya Mommy Ryuzha ketika sang anak sampai di rumah, meregangkan dasi yang dikenakan setelah melepas jas kantor yang melekat ditubuhnya. Wanita paruh baya yang tetap terlihat elegan itu melangkah mendekat, menatap heran pada anaknya yang biasanya selalu pulang dengan mobil mewah. Ryuzha tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju sofa beludru di ruang tengah, lalu menjatuhkan tubuh tegapnya ke sana. Ryuzha terduduk, memijat pelipisnya yang terasa pening. Aktivitas hari ini begitu padat, tidak memberikan kesempatan pada dirinya untuk rehat walaupun hanya sejenak. Hal ini bukan tanpa sebab, sebenarnya ia sudah berjanji dengan sang kekasih yang tak lain sekretarisnya sendiri untuk memberikan pelayanan khusus sehari semalam, siapa yang tak tergoda ketika tubuh seksi sekretaris pribadi menari-nari mengusik ketenangan pikirannya? Bayangan lekuk tubuh wanita itu sempat melintas di benaknya, menawarkan pelarian manis dari kepenatan bisnis, sebelum akhirnya rencana itu buyar oleh rasa jengkel akibat insiden di jalan raya tadi. Dengan helaan napas kasar, Ryuzha menyandarkan kepala pada sandaran sofa. "Aku menabrak mobil seseorang, Mom. Harus menunggu pihak bengkel menderek mobil yang kutabrak dan setelahnya menunggu taksi online yang cukup lama. Sial sekali hari ini." Diana menggeleng-gelengkan kepala, menatap putranya dengan campur aduk antara rasa cemas dan maklum. “Pantas kamu sangat terlihat lelah.” “Hmmm ....” Ryuzha hanya bergumam pendek, memejamkan mata erat-erat demi mengusir bayangan wajah Dokter Amoura yang berani merampas kunci mobilnya dengan angkuh. “Istirahatlah, Ryu.” “Ya, sudah tentu tanpa disuruh,” sahut Ryuzha seakan tak acuh dengan apa yang diucapkan mommy-nya. Watak keras kepala dan arogansinya tidak luntur sedikit pun, bahkan di depan ibu kandungnya sendiri. Diana menghela napas panjang melihat respons dingin putranya. Namun, ada satu kecemasan lebih besar yang sudah lama mengendap di dadanya, dan malam ini ia tidak bisa lagi menahannya untuk tidak bicara. “Oh iya! Kapan kamu membawa wanita yang akan kamu kenalkan sebagai calon istri? Mommy ingin kamu memiliki istri dan menghentikan kesenanganmu dengan berganti pasangan, Mommy hanya khawatir kamu tertular penyakit,” keluh Diana—Mommy Ryu. Ucapan Diana berhasil membuat langkah Ryu terhenti, ia kembali menoleh ke arah mommynya dengan tatapan tak suka. Demi apa pun, komitmen adalah sesuatu sangat tak disukai olehnya. Ia lebih suka bebas seperti sekarang, melakukan hubungan tanpa cinta hanya nafsu semata sehingga tak perlu mengharapkan untuk dicintai karena sesuatu yang selalu dihindari Ryu adalah kata cinta. Cinta penuh harap yang hanya akan membawa sebuah kekecewaan pada akhirnya….Ryuzha tersentak terkejut selama sepersekian detik, tetapi dengan cepat ia mengubah raut wajahnya menjadi begitu tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sosok itu ....Aryo Wicaksana!Pria paruh baya itu kini berdiri kaku di ambang pintu bersama Mike, asisten pribadi Ryu. Netra Aryo seketika membelalak lebar, menatap lurus ke arah aktivitas yang sangat menjijikkan di matanya saat ini. Rahang Aryo mengeras rapat menahan gejolak emosi yang membakar dada, tetapi ia hanya bisa memendamnya dalam hati, memangnya apa yang bisa ia lakukan? Marah? Ngamuk? Tentu tidak... ia sadar sama posisinya dan siapa yang berkuasa, bukan dirinya, melainkan Ryuzha!“Akhirnya tamu kehormatan datang juga,” kata Ryu santai seraya langsung menegakkan tubuhnya kembali.Begitu pun dengan Violet, sang sekretaris, yang ikut merapikan diri dengan santai tanpa ada sedikit pun panik yang terlihat. Keduanya tampak bersikap biasa saja, ya ... karena ini memang bukan pertama kalinya mereka terpergok oleh karyawan lain
Deru mesin mobil mewah Ryu melambat saat akhirnya berhenti tepat di depan area drop-off gedung pencakar langit Ryuzha di mana perusahaannya berada. Begitu pintu dibuka, sepatu pantofel hitamnya yang mengilat menginjak lantai marmer teras luar. Ryu keluar dari mobil dengan gerakan yang begitu berkelas. Mengenakan setelan jas yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, aura kepemimpinan pria itu langsung mendominasi sekitar.Ada yang berbeda dengan CEO perusahaan itu, pagi ini di kantor ketika sebuah senyuman menawan terukir jelas di wajah tampan nan penuh ketegasan yang biasanya dingin tak tersentuh.Tak ada tatapan tajam.Heran memang. Tetapi, begitulah yang ditampilkan Ryuzha pagi ini. Dengan langkah mantap dan percaya diri, Ryu berjalan melintasi pintu kaca otomatis menuju lobi utama. Kehadiran pria itu seketika menghentikan kesibukan di sana, situasi kantor mendadak riuh oleh bisikan kagum yang tertahan.Pemandangan langka ini membuat para karyawan wanita di lobi rasanya ingin melel
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, memantulkan cahaya keemasan di atas ranjang king size mewah milik penerus Kanaka Group. Ryuzha tak berhenti tersenyum pagi ini ketika bangun, suasana hatinya begitu baik, lebih bersemangat, hal yang sangat langka karena biasanya ia berekspresi datar. Biasanya, pagi hari bagi Ryuzha hanyalah awal dari rutinitas bisnis yang menjemukan dan hampa. Namun, ingatan tentang insiden semalam tentang seorang wanita galak berprofesi dokter yang dengan berani merampas kunci mobilnya terus berputar di kepala, menyuntikkan adrenalin baru yang meletupkan rasa penasaran. Ryu sudah tidak sabar berangkat dari rumah menuju kantor untuk bertemu dengan calon Ayah mertuanya—Aryo Wicaksana. Ada kepuasan tersendiri yang bergejolak di dadanya, mengetahui bahwa ia memegang kendali penuh atas nasib keluarga wanita galak itu.Sambil bersiul kecil, langkah tegapnya membawa tubuh jangkungnya menuruni undakan tangga menuju ruang makan yang megah. Di ujung meja marmer, sesos
“Kenapa? Keberatan? Iya?” tanya Diana yang sudah memahami arti tatapan Ryu—anaknya.Hanya menghela napas yang bisa dilakukan Ryu, ia pun tak bisa membalas, menyahut atau membantah ucapan Diana ketika itu sudah menyangkut pasangan hidup.“Sesuai wasiat Daddy sebelum mengembuskan napas terakhir agar menyerahkan seluruh aset padamu jika kamu sudah menikah lagi, Ryu! Tidak bermain dengan wanita yang jika kamu sudah bosan maka ditinggalkan begitu saja, sungguh Ryu kelakuanmu itu memalukan,” sindir Diana yang terus memojokkan posisi Ryu.“Mommy jangan khawatir, secepatnya akan mendapatkan menantu. Namun, jangan harap bisa menghentikan kebiasaanku. Ketika melihat seorang wanita patah hati karena diriku di saat itulah aku merasa sangat puas dan bahagia,” tukas Ryuzha yang kemudian benar-benar melangkah meninggalkan Diana seorang diri dan masih terpaku berdiri melihat punggung tubuh anaknya yang semakin menjauh.“Itu hanya aksi balas dendam, Ryu. Mommy yakin kamu akan mendapatkan karma atas ap
Amoura merutuki dirinya ketika mengetahui identitas pria yang menabrak mobilnya, tertera dengan jelas nama seseorang yang baru saja ia dengar dari sang Ayah. Seseorang yang sungguh tidak menarik untuknya bahkan untuk sekadar berkenalan, tidak penting menurut Amoura.Namun, kata tidak penting rasanya sudah tak berarti apa pun ketika takdir malam ini mempertemukan mereka melalui kejadian yang tidak menyenangkan.“Ryuzha Kanaka Putra,” gumam Amoura sambil mengayunkan langkah menuju ruang IGD rumah sakit.“Arghh! Aku harus tetap fokus, ayo Amoura lupakan kejadian tadi bersama pria yang sama sekali tidak ingin kau temui, sekarang ada tugas yang lebih penting dari itu,” ucap Amoura membisikkan dirinya sendiri sambil tetap melangkah melewati pintu utama lobi rumah sakit dan menuju ruang IGD.Langkah kaki Amoura menggema cepat di lorong unit gawat darurat yang riuh oleh bunyi monitor. Bau antiseptik yang tajam menyambut penciumannya. Di ujung selasar, seorang suster yang tampak kewalahan lan
Kontras dengan wajahnya yang terlihat penuh ketegasan, pria itu tidak melontarkan satu pun kalimat kasar. Nada suaranya datar, tapi keangkuhan di dalamnya tidak bisa disembunyikan.Amoura mendorong pintu mobilnya lebar-lebar. Ia keluar dan berdiri tegak hingga mereka kini saling berhadapan di bawah temaram lampu jalanan."Maaf, Nona. Saya tidak sengaja," ujar pria itu tenang, melangkah maju satu tapak. "Tapi kecelakaan ini bukan sepenuhnya salah saya. Anda menurunkan kecepatan mobil secara tiba-tiba di jalur cepat,” kilahnya tak ingin disalahkan sepenuhnya dan memang kejadiannya seperti itu.Tetapi, penuturan itu sukses membuat Amoura berkacak pinggang. Enak saja menyalahkannya! Pikir Amoura. Sepasang matanya memicing tajam, menatap sinis pria jangkung di hadapannya tanpa ada rasa takut sedikit pun. Amarah dari rumah tadi tampaknya telah menemukan tempat yang pas untuk menjadi pelampiasan sebelum tiba di rumah sakit."Kau menyalahkanku?" Amoura mendesis, suaranya meninggi. "Hei! Kau y







