Masuk“Kenapa? Keberatan? Iya?” tanya Diana yang sudah memahami arti tatapan Ryu—anaknya.
Hanya menghela napas yang bisa dilakukan Ryu, ia pun tak bisa membalas, menyahut atau membantah ucapan Diana ketika itu sudah menyangkut pasangan hidup. “Sesuai wasiat Daddy sebelum mengembuskan napas terakhir agar menyerahkan seluruh aset padamu jika kamu sudah menikah lagi, Ryu! Tidak bermain dengan wanita yang jika kamu sudah bosan maka ditinggalkan begitu saja, sungguh Ryu kelakuanmu itu memalukan,” sindir Diana yang terus memojokkan posisi Ryu. “Mommy jangan khawatir, secepatnya akan mendapatkan menantu. Namun, jangan harap bisa menghentikan kebiasaanku. Ketika melihat seorang wanita patah hati karena diriku di saat itulah aku merasa sangat puas dan bahagia,” tukas Ryuzha yang kemudian benar-benar melangkah meninggalkan Diana seorang diri dan masih terpaku berdiri melihat punggung tubuh anaknya yang semakin menjauh. “Itu hanya aksi balas dendam, Ryu. Mommy yakin kamu akan mendapatkan karma atas apa yang kamu lakukan jika kamu tidak berubah!” teriak Diana yang sudah bingung dengan cara apa lagi meyakin anaknya itu untuk mengubah pola hidupnya yang berkaitan dengan wanita seksi disekelilingnya. Diana mendesah frustrasi .... “Perubahan anakku karenamu wanita jalang,” geram Diana ketika mengingat seseorang yang sudah berstatus mantan menantunya. ** Langkah kaki Amoura terasa teramat berat ketika menapak teras rumah. Selesai bertugas di rumah sakit, menyelesaikan proses persalinan yang cukup menegangkan akhirnya Amoura bisa kembali ke rumah walaupun waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Keheningan malam yang pekat membungkus seisi kediaman Wicaksana, namun ketenangan itu seketika menguap begitu Amoura mendorong pintu utama. Sosok Aryo tengah terduduk di ruang keluarga, ketika Amoura masuk ke dalam rumah. Pria paruh baya itu tampak terpekur di bawah temaram lampu gantung, dikelilingi kesunyian yang seolah sedang menyiksa diri pria itu. Melihat keberadaan sang Ayah membuat Amoura memutar bola mata malas. Rasa kantuk dan lelah akibat operasi berjam-jam seketika berganti menjadi gelombang muak yang bergejolak di dada. Sudah hilang rasa hormat pada sang Ayah ketika 3 tahun yang lalu ibunya memilih mengakhiri hidup setelah mengetahui kalau ayahnya itu memiliki istri dan anak tanpa sepengetahuannya bahkan sudah sangat lama. Pengkhianatan rapi yang tersimpan belasan tahun itu menyisakan borok yang membusuk. Terbukti Alana hadir dalam pernikahan kedua sang Ayah, jarak umur yang hanya berbeda 4 tahun darinya—sebuah bukti yang tak bisa dibantah bahwa sang ayah telah bermain api sejak Amoura masih sangat kecil. Tega sekali, ‘kan? Aryo mendongak, menatap lekat kelopak mata lelah putri sulungnya yang menyiratkan jarak sejauh samudra meskipun sebenarnya hanya berjarak beberapa langkah. “Ayah ingin berbicara denganmu, Amour.” Amoura menghentikan langkah tepat di pembatas ruangan. Ia bahkan enggan melepaskan tas medis dari bahunya, memilih berdiri tegak dengan sorot mata yang menunjukkan ketidakpedulian. “Bicaralah, Yah. Cepat! Aku sudah lelah,” jawab Amoura yang sudah berekspresi masam tanpa senyum dan tanpa melihat lawan bicaranya. Sorot matanya lurus menatap dinding kosong, menolak memberikan kehangatan kontak mata yang tak lagi layak didapatkan pria itu. Aryo menghela napas, dadanya terasa menyempit melihat tembok tebal yang dibangun putrinya sendiri. “Sampai kapan kamu bersikap seperti ini pada Ayah?” tanya Aryo dengan suara sangat lembut khawatir pertanyaannya akan membuat sang anak murka. Benar saja, Amoura tertawa sumbang, menertawakan pertanyaan konyol yang terlontar dari mulut seseorang yang dulunya sangat ia kasihi dan cintai, cinta pertama seorang anak perempuan yang sudah pasti untuk seorang pria yang berstatus Ayah. Suara tawanya menggema hambar di ruang keluarga yang sepi, terdengar menyedihkan sekaligus mengerikan. Namun, itu dulu sebelum kesalahan besar yang dilakukan ayahnya terkuak sehingga menghancurkan kebahagiaan Amoura bahkan meninggalkan kebencian terhadap satu kata yaitu cinta! Baginya sekarang, cinta tak lebih dari sekadar fatamorgana yang membunuh ibunya dan meracuni sisa hidupnya. Amoura membalikkan tubuhnya perlahan, menatap langsung ke dalam manik mata Aryo dengan tatapan yang tajam dan menunjukkan amarah bahkan benci yang begitu kentara, “Pantaskah Ayah bertanya seperti itu? Tidakkah selama ini berkaca diri apa yang sudah Ayah lakukan padaku dan Ibu? Terlalu naif!” sinisnya. “Amour ...,” panggil sang Ayah lirih. Nama panggilan kesayangan itu kini terdengar seperti pisau yang menggores luka lama di telinga Amoura. Setelah mengucapkan hal itu, Amoura tak lagi memedulikan apa yang akan diucapkan Ayahnya, ia memilih melanjutkan langkahnya menuju kamar meninggalkan Aryo seorang diri dengan pikiran berkecamuk, ketakutan dan rasa khawatir begitu mendominasi, bagaimana jika Amoura yang dipilih oleh Ryu? Bisa hancur semua rencananya, pikir Aryo. Di sisi lain, Ryuzha tersenyum lebar ketika melihat laporan hasil dari anak buahnya berupa salinan data tentang identitas seorang perempuan yang ia tabrak dan dengan begitu galak dan ketusnya menghadapi dirinya. “Sepertinya kita memang ditakdirkan bersama, ternyata kamu anak pertama Aryo Wicaksana yang memang sedang melakukan transaksi saling menguntungkan denganku. Bukan isapan jempol belaka Aryo memang memiliki putri dengan wajah cantik sempurna, tetapi bukan itu yang membuatku semakin penasaran dengannya. Untuk pertama kalinya, ketampananku ini tidak dilirik oleh seorang wanita. Sungguh hatiku tercubit, harga diri ini seperti terkoyak mendapati perlakuan gadis cantik sepertinya,” ucap Ryuzha di tengah kesendiriannya. [Atur jadwal pertemuan dengan Aryo Wicaksana besok pagi!] Pesan yang Ryu kirimkan pada salah satu asisten pribadinya. [Baik, Pak.] Balasan pesan yang membuat Ryuzha tak sabar bertemu dengan calon Ayah mertua. “You’re mine ... Amoura,” desis Ryuzha merebahkan tubuh melihat langit-langit kamar, pikirannya menerawang membayangkan wajah ketus Amoura yang membuat adrenalinnya tertantang.Ryuzha tersentak terkejut selama sepersekian detik, tetapi dengan cepat ia mengubah raut wajahnya menjadi begitu tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sosok itu ....Aryo Wicaksana!Pria paruh baya itu kini berdiri kaku di ambang pintu bersama Mike, asisten pribadi Ryu. Netra Aryo seketika membelalak lebar, menatap lurus ke arah aktivitas yang sangat menjijikkan di matanya saat ini. Rahang Aryo mengeras rapat menahan gejolak emosi yang membakar dada, tetapi ia hanya bisa memendamnya dalam hati, memangnya apa yang bisa ia lakukan? Marah? Ngamuk? Tentu tidak... ia sadar sama posisinya dan siapa yang berkuasa, bukan dirinya, melainkan Ryuzha!“Akhirnya tamu kehormatan datang juga,” kata Ryu santai seraya langsung menegakkan tubuhnya kembali.Begitu pun dengan Violet, sang sekretaris, yang ikut merapikan diri dengan santai tanpa ada sedikit pun panik yang terlihat. Keduanya tampak bersikap biasa saja, ya ... karena ini memang bukan pertama kalinya mereka terpergok oleh karyawan lain
Deru mesin mobil mewah Ryu melambat saat akhirnya berhenti tepat di depan area drop-off gedung pencakar langit Ryuzha di mana perusahaannya berada. Begitu pintu dibuka, sepatu pantofel hitamnya yang mengilat menginjak lantai marmer teras luar. Ryu keluar dari mobil dengan gerakan yang begitu berkelas. Mengenakan setelan jas yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, aura kepemimpinan pria itu langsung mendominasi sekitar.Ada yang berbeda dengan CEO perusahaan itu, pagi ini di kantor ketika sebuah senyuman menawan terukir jelas di wajah tampan nan penuh ketegasan yang biasanya dingin tak tersentuh.Tak ada tatapan tajam.Heran memang. Tetapi, begitulah yang ditampilkan Ryuzha pagi ini. Dengan langkah mantap dan percaya diri, Ryu berjalan melintasi pintu kaca otomatis menuju lobi utama. Kehadiran pria itu seketika menghentikan kesibukan di sana, situasi kantor mendadak riuh oleh bisikan kagum yang tertahan.Pemandangan langka ini membuat para karyawan wanita di lobi rasanya ingin melel
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, memantulkan cahaya keemasan di atas ranjang king size mewah milik penerus Kanaka Group. Ryuzha tak berhenti tersenyum pagi ini ketika bangun, suasana hatinya begitu baik, lebih bersemangat, hal yang sangat langka karena biasanya ia berekspresi datar. Biasanya, pagi hari bagi Ryuzha hanyalah awal dari rutinitas bisnis yang menjemukan dan hampa. Namun, ingatan tentang insiden semalam tentang seorang wanita galak berprofesi dokter yang dengan berani merampas kunci mobilnya terus berputar di kepala, menyuntikkan adrenalin baru yang meletupkan rasa penasaran. Ryu sudah tidak sabar berangkat dari rumah menuju kantor untuk bertemu dengan calon Ayah mertuanya—Aryo Wicaksana. Ada kepuasan tersendiri yang bergejolak di dadanya, mengetahui bahwa ia memegang kendali penuh atas nasib keluarga wanita galak itu.Sambil bersiul kecil, langkah tegapnya membawa tubuh jangkungnya menuruni undakan tangga menuju ruang makan yang megah. Di ujung meja marmer, sesos
“Kenapa? Keberatan? Iya?” tanya Diana yang sudah memahami arti tatapan Ryu—anaknya.Hanya menghela napas yang bisa dilakukan Ryu, ia pun tak bisa membalas, menyahut atau membantah ucapan Diana ketika itu sudah menyangkut pasangan hidup.“Sesuai wasiat Daddy sebelum mengembuskan napas terakhir agar menyerahkan seluruh aset padamu jika kamu sudah menikah lagi, Ryu! Tidak bermain dengan wanita yang jika kamu sudah bosan maka ditinggalkan begitu saja, sungguh Ryu kelakuanmu itu memalukan,” sindir Diana yang terus memojokkan posisi Ryu.“Mommy jangan khawatir, secepatnya akan mendapatkan menantu. Namun, jangan harap bisa menghentikan kebiasaanku. Ketika melihat seorang wanita patah hati karena diriku di saat itulah aku merasa sangat puas dan bahagia,” tukas Ryuzha yang kemudian benar-benar melangkah meninggalkan Diana seorang diri dan masih terpaku berdiri melihat punggung tubuh anaknya yang semakin menjauh.“Itu hanya aksi balas dendam, Ryu. Mommy yakin kamu akan mendapatkan karma atas ap
Amoura merutuki dirinya ketika mengetahui identitas pria yang menabrak mobilnya, tertera dengan jelas nama seseorang yang baru saja ia dengar dari sang Ayah. Seseorang yang sungguh tidak menarik untuknya bahkan untuk sekadar berkenalan, tidak penting menurut Amoura.Namun, kata tidak penting rasanya sudah tak berarti apa pun ketika takdir malam ini mempertemukan mereka melalui kejadian yang tidak menyenangkan.“Ryuzha Kanaka Putra,” gumam Amoura sambil mengayunkan langkah menuju ruang IGD rumah sakit.“Arghh! Aku harus tetap fokus, ayo Amoura lupakan kejadian tadi bersama pria yang sama sekali tidak ingin kau temui, sekarang ada tugas yang lebih penting dari itu,” ucap Amoura membisikkan dirinya sendiri sambil tetap melangkah melewati pintu utama lobi rumah sakit dan menuju ruang IGD.Langkah kaki Amoura menggema cepat di lorong unit gawat darurat yang riuh oleh bunyi monitor. Bau antiseptik yang tajam menyambut penciumannya. Di ujung selasar, seorang suster yang tampak kewalahan lan
Kontras dengan wajahnya yang terlihat penuh ketegasan, pria itu tidak melontarkan satu pun kalimat kasar. Nada suaranya datar, tapi keangkuhan di dalamnya tidak bisa disembunyikan.Amoura mendorong pintu mobilnya lebar-lebar. Ia keluar dan berdiri tegak hingga mereka kini saling berhadapan di bawah temaram lampu jalanan."Maaf, Nona. Saya tidak sengaja," ujar pria itu tenang, melangkah maju satu tapak. "Tapi kecelakaan ini bukan sepenuhnya salah saya. Anda menurunkan kecepatan mobil secara tiba-tiba di jalur cepat,” kilahnya tak ingin disalahkan sepenuhnya dan memang kejadiannya seperti itu.Tetapi, penuturan itu sukses membuat Amoura berkacak pinggang. Enak saja menyalahkannya! Pikir Amoura. Sepasang matanya memicing tajam, menatap sinis pria jangkung di hadapannya tanpa ada rasa takut sedikit pun. Amarah dari rumah tadi tampaknya telah menemukan tempat yang pas untuk menjadi pelampiasan sebelum tiba di rumah sakit."Kau menyalahkanku?" Amoura mendesis, suaranya meninggi. "Hei! Kau y







