Masuk"Masuk dulu, kita bicarakan baik-baik di dalam." Gara membawa Bella masuk dengan cara menarik lengannya secara paksa."Lepas!" Bella menyentak tangannya keras hingga pegangan Gara terlepas. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada. Raut marahnya tidak bisa disembunyikan."Jangan dengarkan ucapan Leticia. Aku tidak pergi untuk bersenang-senang dengannya," jelas Gara pada istrinya."Periksa gawaimu Ra!" Perintah Bella. Ia masih berusaha meredam emosinya."Kenapa?" Tanya Gara dengan kening berkerut."Periksa saja!"Gara meraih ponselnya dari saku celana. Ia melihat 58 notifikasi panggilan tidak terjawab dari Bella."Aku puluhan kali nelpon kamu dari pukul sepuluh Ra. Sekalipun kamu nggak mau angkat. Kenapa? Kamu terlalu sibuk dengan gadis tadi makanya kamu sampai nggak sempat angkat telepon dariku?" Bella meluahkan kekesalannya."Kamu bilang kemarin nggak jadi terbang kan?" Tanya Gara balik. Seolah dia tak mau disalahkan dalam perkara ini."Karena aku nggak jadi terbang terus kamu
Blam!Gara menutup pintu apartemennya. Wajahnya sendu. Ia menghembuskan nafas berat sebelum berbalik untuk pergi.Saat Gara berbalik badan untuk meninggalkan apartemennya saat itu juga muncul Leticia yang sama-sama ingin keluar."Oh, hai Ra," sapa Leticia dengan senyuman sumringah di wajahnya."Hai," sapa Gara singkat. Terlihat tidak berminat dan terkesan memaksakan senyumannya."Mau kemana?" Tanya Leticia sengaja mengakrabkan diri dengan Gara."Nggak kemana-mana," jawab Gara sudah mengayunkan kakinya pergi menuju lift."Hmmm, selalu cuek dan dingin," batin Leticia. Gadis berambut pirang itu segera menyusul masuk lift. Ia tak sengaja melihat layar gawai Gara yang menampilkan tiket pertunjukan musik Féerie di Moulin Rouge."Mau ke pertunjukan musik kenapa justru murung?" Tanya Leticia memancing Gara untuk bercerita."Ck, siapa yang mau ke pertunjukan musik?" Tanya Gara balik sambil menyimpan gawainya."Itu, bukannya kamu tadi sudah memesan tiket ke pertunjukan musik?" Leticia masih ter
Bella duduk dengan menyilangkan kedua kakinya pada sebuah sofa di markas Hell Devil. Wajahnya gelisah. Seperti tengah menunggu sesuatu.Ceklek!Kenop pintu berputar. Bella langsung berdiri demi melihat Pak Freddy dan anggota mafia Hell Devil muncul di depan pintu."Bagaimana? Apakah Leo ditemukan?" Tanya Bella.Semua anggota mafia Hell Devil menunduk dalam. Tidak berani melihat ke arah Bella. Demi melihat gelagat itu Bella langsung paham bahwa mata-mata sekaligus hacker paling berbakat milik mafia Hell Devil itu tidak ditemukan."Maaf Nona, kami kehilangan jejaknya setelah mengikuti ceceran darah Leo sampai ke tengah jalan tempat terakhir kali dia tergeletak. Kami sudah memeriksa seluruh ramah sakit di tempat itu. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada pasien baru dengan ciri-ciri seperti Leo," terang Pak Freddy."Jika kita tidak bisa menemukan Leo di rumah sakit artinya Leo masih hidup. Seseorang telah membawanya. Masalahnya siapa yang membawa Leo? Aku takut Leo jatuh ke tangan musuh.""Itul
Rombongan mafia Hell Devil tiba di tempat ponsel Leo jatuh. Mereka turun ke jurang dan bersusah payah mengambil ponsel itu.Wajah Pak Freddy menunjukkan guratan tak bersahabat."Periksa kemungkinan Leo ada di dasar jurang!" Perintahnya. Dua orang lagi turun menggunakan tali untuk menyisir dasar jurang. Sekitar setengah jam mereka mengubek-ubek jurang yang tidak lebar itu. Hingga akhirnya salah seorang mengabarkan tidak ada jejak manusia ditemukan disana seperti ranting yang patah terinjak ataupun rumput yang roboh ketika dilalui seseorang."Leo tidak ada di bawah," ucap orang itu.Wajah Pak Freddy langsung kusut."Ponselnya rusak Pak," anggota mafia Hell Devil yang turun untuk mengambil ponsel Leo sudah naik kembali. Ia menyerahkan ponsel itu pada Pak Freddy."Baik, masalah ponsel masih bisa kita atasi di markas nanti. Sekarang yang terpenting cari keberadaan Leo. Cari petunjuk apapun yang mungkin bisa membawa kita kepadanya," perintah Pak Freddy."Baik Pak!" Anggota mafia Hell Devil
Sesaat setelah Leo pergi dari ruang bawah tanah Rosna memanggil preman-preman yang berjaga di depan rumah sakit melalui panggilan telepon."APA SAJA YANG KAU LAKUKAN BANGSAT???!!!"Preman itu tampak tak paham."SEORANG PEMUDA TAK DIKENAL BERHASIL MASUK KE RUANG BAWAH TANAH. CEPAT TEMUKAN BOCAH KEPARAT ITU SEBELUM AKU MENCINCANG HABIS TUBUH KALIAN!!!""Ha? Ba-baik Nyonya Rosna. Kami akan menemukan bocah itu. Pasti, Nona jangan khawatir."Preman itu langsung mengajak satu rekannya untuk pergi menyisir wilayah sekitaran rumah sakit jiwa. Sementara rekan-rekannya yang lain tetap tinggal di sekitaran rumah sakit untuk melanjutkan berjaga-jaga.Percarian para preman itu berujung pada penemuan Leo yang sedang menelepon di atas bukit. Mereka naik ke atas bukit dengan mengendap-endap tanpa menimbulkan sedikit pun suara. Tepat saat mereka telah tiba di belakang Leo mereka menghantam kepala bocah itu menggunakan potongan besi yang tadi di punggut dari tempat pembuangan sampah rumah sakit.***"H
"Ya, Nata meninggal karena skenario pembunuhan.""Siapa orang yang membunuhnya?"Rosna mendongak untuk melihat wajah Leo."Dia... Dia... Adalah... Aku!"Leo membelalakkan matanya tidak percaya."Pengakuan apa ini? Tidak! Tidak mungkin rasanya Rosna yang membunuh Natasya. Harusnya Tuan Rendy yang membunuhnya. Rasanya ini sungguh tidak benar. Ini di luar ekspektasiku," batin Leo."Hahahaha...! Dia... Mati karena aku. Aku yang membunuhnya. Aku yang menabraknya di depan anaknya. Malam itu dia sekarat! Hahahaha... Hahahaha...!!!"Tawa Rosna menggema di seluruh ruangan. Benar-benar seperti perempuan yang sudah gila. Leo mundur. Ia menyimpan ponselnya dan memakai maskernya lagi. Ini merasakan perasaan bahwa perempuan ini tak benar."Kau percaya? Hahahaha...!!!" Rosna masih tertawa lepas. Tawa yang sangat mirip orang-orang yang pikirannya sedang terganggu.Lalu detik berikutnya ekspresi Rosna berubah 180 derajat. Wanita itu berubah sendu. Ekspresinya menyayat hati. Ia ketakutan, juga merasa
"Ka-kau..." Sabia terbata-bata.Bella menyeringai."Ya, aku Bellatrix Hyuugo. Seorang putri Hyuugo yang tempo hari berusaha di culik oleh keluargamu,"desis Bella di telinga Sabia supaya yang lain tidak bisa mendengar. Sabia langsung keringat dingin."Ah, soal aku dan Gara sepertinya kau salah paham Sab
"Bel, satu putaran lagi ya abis itu kita rehat.""Siap," jawab Bella sambil terus berlari di samping Gara.Ya, sepasang suami istri muda itu memang tengah joging untuk mengisi waktu weekend mereka."Capek nggak?" Tanya Gara setelah mereka menyelesaikan satu putaran."Nggak. Mau lima putaran lagi aku jug
Bella baru keluar dari ruang guru untuk menyerahkan buku PR-nya pada Bu Sasna ketika ia melihat Gara turun dari lantai dua. Mereka saling tatap sesaat. Gara memperhatikan seragam Bella yang terlalu ketat sehingga bentuk badannya tercetak jelas.Gara tolah toleh sebentar untuk melihat situasi. Kemudia
"Eh, Ra. Kok cincinmu bisa sama bentuk dan motifnya dengan Bella?" Ceplos Edo yang seketika membuat jantung Gara jumpalitan. Wajahnya langsung pucat. Gara menurunkan tangannya. Ia menyembunyikan cincin itu."Masa sih?" Tanya Revan yang juga penasaran."Iya, bener, aku perhatikan sama. Berlian asli kan







