Share

PULANG

Author: Pendosa
last update publish date: 2026-09-19 18:59:38

“Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan santai, seolah-olah tidak memahami tuduhan yang baru saja dilontarkan Andreas.

Andreas justru berjalan semakin mendekat. “Jangan pura-pura bodoh.” Tangannya menunjuk jam di tangan Adrian.

“Arloji itu hanya ada satu di dunia. Aku memesannya khusus dari desainer ternama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku sendiri yang memilihnya, jadi jangan bilang aku salah mengenalinya.”

Adrian melirik arloji yang ada di tangannya. Andreas tidak mungkin salah, arloji itu memang hadiah darinya. Namun wajah Adrian tetap tenang.

“Lalu?”

“Aku tahu kau yang menjebak Yura dan membuatnya masuk penjara.” Suara Andreas bergetar menahan amarah.

Andreas mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. “Kau mau lihat siapa yang memberitahuku?”

Adrian melirik layar. Foto seorang pria muncul di sana membuat wajah Adrian seketika berubah.

“Dia sudah bicara,” ujar Andreas dingin. “Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya. Jadi berhenti berkelit.”

Adrian menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. “Urus saja urusanmu.” Tatapannya berubah dingin. “Jangan mencampuri masalah rumah tanggaku.”

Andreas tertawa hambar. “Aku juga tidak suka mencampuri masalah dalam rumah tanggamu.” Ia menatap Adrian dengan tajam. “Tapi, aku tidak akan diam kalau melihat kau terus berbuat jahat kepada Yura.”

Adrian menggertakkan rahangnya. “Apa yang kulakukan bukan urusanmu.”

“Tidak ketika yang menjadi korban adalah Yura. Perlakuanmu terhadapnya sudah sangat keterlaluan. Kau menghina dia, memperlakukannya seperti pembantu, bahkan menjebloskannya ke penjara. Walau bagaimana pun, Yura adalah istrimu.” Andreas menunjuk dada Adrian dengan tatapan penuh amarah, dadanya pun kembang kepis menahan amarah agar tidak memukul Adrian. 

Adrian langsung menatapnya tajam. “Jangan mengajariku tentang istriku.”

“Kalau begitu, perlakukan dia seperti istri!” Suara Andreas meninggi. “Kalau kau masih terus menyakitinya, aku akan membawanya pergi.”

Adrian langsung bangkit sedikit dari sandaran.

“Dia istriku.” Nada suaranya berubah penuh ancaman. “Kau tidak punya hak atas dirinya.”

“Kalau aku ingin membawanya pergi, aku akan melakukannya.” Andreas tidak mundur sedikit pun.

“Aku tidak akan mengizinkan.”

“Aku akan mengembalikan Yura kepadamu hanya jika aku menginginkannya.”

Adrian mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Andreas tidak menjawab, ia justru berbalik menuju pintu.

“Andreas!” Adrian memanggilnya. Namun Andreas hanya berhenti sesaat dengan tangannya yang sudah menggenggam gagang pintu.

“Mulai sekarang, Yura akan tinggal bersamaku.”

Pintu terbuka.

“Andreas!” Adrian berteriak lebih keras.

“Dia istriku! Kau tidak berhak membawanya!”

Andreas tidak menoleh lagi, pintu sudah tertutup. Adrian mengepalkan tangannya, beberapa detik kemudian, ia menghantamkan kepalan tangannya ke ranjang.

“Sial!” Dadanya naik turun. Bukan hanya karena Andreas telah menggagalkan rencananya. Ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya.

Yura sekarang berada di tempat Andreas. Di tempat pria yang pasti akan memperlakukannya jauh lebih baik daripada dirinya. Adrian membayangkan Yura tersenyum kepada Andreas, mendapat perhatian, mendapat perlindungan, dan endapat perlakuan layaknya seorang wanita yang berharga. Sementara dirinya selama ini hanya memberinya luka.

“Tidak.” Adrian menggeleng. “Aku tidak akan membiarkannya.” Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu masalah sebenarnya bukanlah Andreas. Ia takut Yura menemukan kebahagiaan bersama orang lain.

***

 Tidak lama kemudian, Andreas tiba di apartemen pribadinya. Begitu masuk langkahnya langsung menuju ke kamar tempat Yura beristirahat.

Sejak membawa Yura dari rumah, ia sudah memutuskan satu hal. Untuk sementara, Yura akan tinggal bersamanya. Bukan karena ia ingin mengambil Yura dari Adrian. Ia hanya ingin memberi wanita itu kesempatan untuk bernapas tanpa tekanan.

Andreas sendiri akan tidur di ruang kerjanya. Ia tidak ingin Yura merasa terancam ataupun tidak nyaman berada di tempat yang hanya dihuni mereka berdua.

Ia mengetuk pintu.

Tok... tok... tok...

“Yura.”

Di dalam kamar, Yura yang sejak tadi hanya berguling-guling di atas ranjang langsung terperanjat. Ia masih merasa asing dengan tempat ini.

Ranjang memang nyaman, ruangan juga tenang, tetapi tetap saja ada perasaan tidak nyaman karena dirinya berada di apartemen seorang laki-laki.

Yura turun dari ranjang, lalu berjalan perlahan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, Andreas sudah berdiri di sana sambil membawa paper bag berisi makanan.

“Ayo, makan.”

Yura menggeleng. “Tapi saya tidak lapar.”

Andreas mengangkat alis. “Kalau begitu, temani aku makan.”

“Tapi—”

Krucuk...

Yura langsung menundukkan kepala, perutnya kembali berbunyi.

Andreas menahan senyum. “Sepertinya perutmu tidak setuju dengan ucapanmu.”

Wajah Yura memerah menahan malu. “Saya memang belum makan.”

“Nah.” Andreas mengangkat paper bag. “Berarti jangan membantah.”

Yura akhirnya tersenyum kecil. “Ada yang ingin saya bicarakan denganmu,” lanjut Andreas.

“Kita bicara sambil makan.”

Yura mengangguk. Ia mengikuti Andreas menuju pantry. Mereka duduk berhadapan di meja makan. Awalnya hanya suara sendok dan piring yang terdengar.

Yura beberapa kali melirik Andreas, lalu kembali menunduk. Akhirnya ia memberanikan diri membuka suara.

“Pak... saya ingin pulang.”

“Kenapa terburu-buru?” Andreas menghentikan gerakan tangannya, lalu meletakkan sendok.

Yura meremas ujung bajunya. “Di sini cuma ada kita berdua.”

“Aku bisa meminta Art datang dan menemanimu.” Andreas memahami kekhawatirannya.

Yura menggeleng. “Bukan itu masalahnya.”

“Lalu?”

“Saya tidak mau ada kesalahpahaman.”

Andreas menatap Yura dengan intens.

“Apa kata orang nanti?” lanjut Yura. “Saya sudah punya suami, tetapi malah tinggal bersama laki-laki lain.”

Andreas menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Yura.” Tatapannya melembut. “Mulai sekarang, kamu jangan terlalu memikirkan apa kata orang.”

Yura mengangkat wajahnya.

“Orang lain tidak akan menjalani hidupmu. Mereka tidak akan merasakan sakit yang kamu rasakan.” Andreas berhenti sejenak. “Jadi, jangan biarkan perkataan mereka menentukan pilihan hidupmu.”

“Kau punya pilihan.” Andreas menatapnya serius. “Kalau kau tidak bahagia dalam pernikahanmu, kau boleh mencari jalan keluar. Kau bisa meminta bantuan keluargamu. Kau bisa menempuh jalur hukum. Kau tidak harus terus bertahan hanya karena takut dengan penilaian orang.”

Yura mengerjamkan matanya yang sudah berkaca-kaca, ia terharu melihat kepedulian Andreas.

“Aku hanya tidak ingin kamu terus menyalahkan dirimu sendiri.”

Yura menundukkan kepala. “Saya bertahan karena masih merasa bersalah kepada Pak Adrian. Gara-gara saya, dia menjadi seperti sekarang.” Suara Yura bergetar. “Gara-gara saya, dia kehilangan tunangannya dan pernikahannya batal.”

Yura menarik napas panjang. “Saya tahu bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang dicintai.” Satu tetes air mata mulai jatuh. “Rasanya dunia seperti runtuh. Saya pernah merasakannya sendiri.”

Andreas mengepalkan tangan di bawah meja. Ia tahu kisah Yura, ia tahu betapa banyak luka yang disimpan wanita itu sendirian.

“Tapi, saya pikir Pak Adrian juga merasakan hal yang sama.” Yura mengusap air matanya. “Mungkin itu sebabnya saya masih ingin menebus kesalahan saya. Saya pikir kalau saya terus bertahan di samping Pak Adrian, suatu hari rasa sakit yang dia rasakan akan berkurang.”

Andreas menyimak curahan hati Yura dengan seksama.

“Tapi ternyata...” suara Yura pecah, “semakin lama saya bertahan, saya malah semakin kehilangan diri saya sendiri.”

Andreas menatapnya penuh iba. “Itu bukan alasan untuk membiarkan dirimu terus disakiti. Dan satu hal lagi.” Nada Andreas menjadi lebih serius. “Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu lagi.”

Tubuh Yura menegang, bayangan saat dirinya berdiri di depan mobil Adrian langsung mengganggu pikirannya.

“Sebesar apa pun masalahmu, jangan memilih jalan itu.” Andreas menatap matanya dengan dalam. “Kamu masih punya masa depan.” Ia berhenti sejenak. “Dan sekarang kamu juga punya aku.”

Yura mengangkat wajah. “Apa maksud Bapak?”

“Kalau kau membutuhkan bantuan, katakan. Anggap aku sebagai kakakmu sendiri.” Andreas tersenyum tipis. “Aku akan membantumu sebisaku.”

Air mata Yura kembali menggenang. “Kalau begitu... saya akan bertahan.”

“Bertahan sampai kapan?”

“Sampai saya benar-benar tidak mampu berdiri sendiri.”

Andreas mengangguk. “Baik.” Ia menghormati keputusan Yura. “Kalau itu pilihanmu, aku akan mendukungmu.”

Yura tidak mampu menjawab. Ia hanya menatap Andreas dengan mata berkaca-kaca. Jika ia membuka mulut, mungkin tangisnya akan pecah.

Karena selama ini, untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak menyuruhnya bersabar demi orang lain. Ada seseorang yang justru mengatakan bahwa dirinya juga berhak memilih kebahagiaan.

***

Pagi berikutnya, cahaya matahari perlahan menyelinap melalui celah tirai. Yura membuka mata. Ia langsung melihat sesuatu di atas meja kecil di samping ranjang.

Sepiring sandwich, segelas susu putih dan selembar kertas. Yura mengambil surat itu, tulisan tangan Andreas memenuhi permukaannya.

"Aku sudah membuatkan sarapan untukmu. Di dalam kulkas ada beberapa makanan. Kamu bebas mengambilnya kapan saja. Siang nanti aku akan mengirim makanan. Kalau ada makanan yang ingin kamu makan, beri tahu aku."

Di bawahnya terdapat nomor telepon Andreas. Yura tersenyum tanpa sadar.

“Dia baik sekali.”

Ada rasa hangat yang memenuhi dadanya. Baru kali ini ia diperlakukan begitu lembut tanpa diminta melakukan sesuatu sebagai balasannya. Yura turun dari ranjang, kemudian pergi ke kamar mandi.

Setelah membersihkan diri, ia kembali ke kamar dengan rambut masih basah. Ia duduk di tepi ranjang dan mulai menikmati sandwich yang sudah disiapkan Andreas.

Baru satu gigitan masuk ke mulutnya—

Tok... tok... tok...

Yura berhenti mengunyah.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban. Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Begitu pintu utama dibuka, wajah Yura langsung membeku. Seorang pria duduk di kursi roda tepat di hadapannya.

Yura spontan membelalakkan mata saat melihat Adrian.

“Bapak?”

Adrian menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. Kimono yang dikenakan Yura, rambut yang masih basah dan kenyataan bahwa wanita itu berada di apartemen Andreas.

Tatapan Adrian seketika mengeras. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Yura justru balik bertanya. “Bapak ngapain datang ke sini?”

Adrian mengangkat alis. “Aku datang menjemput istriku.”

Yura terdiam, kemudian Adrian kembali mengamati penampilan Yura.

“Apa pantas kau membuka pintu dalam keadaan seperti itu?”

Yura spontan menunduk melihat kimono yang dikenakannya. “Saya baru selesai mandi.” 

“Aku tidak peduli.” Suara Adrian terdengar dingin. “Yang kupedulikan adalah kau tinggal di apartemen seorang laki-laki dan menyambutnya dalam keadaan seperti ini.”

“Pak Andreas tidak melakukan apa-apa.”

“Aku tahu.” Adrian menatapnya tajam. “Justru karena itu aku datang sebelum sesuatu terjadi.”

Yura mengerutkan kening. “Bapak menuduh Pak Andreas?”

“Aku tidak menuduh siapa pun.” Adrian menggerakkan kursi rodanya sedikit mendekat. “Aku hanya tidak suka istriku tinggal berdua dengan pria lain.”

Yura terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang aneh dalam tatapan Adrian. Bukan kemarahan biasa. Bukan kebencian, ada sesuatu yang jauh lebih sulit dipahami.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   MAKAN MALAM ROMANTIS

    “Ini terlalu berlebihan.” Yura menatap Adrian dengan ragu. Ia masih mengira semua ucapan pria itu hanyalah basa-basi.“Kamu adalah istriku, Yura. Apa pun yang menjadi milikku, sekarang juga menjadi milikmu.”Yura mengembuskan napas panjang. Perubahan sikap Adrian membuatnya bingung. Dulu, pria itu begitu dingin kepadanya. Kini, Adrian justru memperlakukannya seolah-olah ia adalah seseorang yang sangat berharga. Ia merasa semua ini terlalu instan.“Ayo, kita masuk.”“Iya.”Adrian membawa Yura berkeliling vila dan menunjukkan berbagai fasilitas di kediaman pribadinya. Setelah melewati ruang keluarga yang luas dan taman belakang, mereka tiba di sebuah kolam renang yang dibangun tepat di tepi tebing.Yura langsung berhenti melangkah.Lantai kolam itu terbuat dari kaca transparan. Airnya begitu jernih sehingga dasar kolam dan pemandangan laut di bawah tebing tampak jelas dari atas. Birunya laut terbentang tanpa batas, tetapi keindahan itu tidak mampu mengusir rasa ngeri yang menjalar di tu

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   INI RUMAH KITA

    Yura kembali menyantap makanannya sambil berkedip beberapa kali. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa diam?”“Iya,” Yura menatap pria itu dengan gugup.“Iya apa?” Adrian membalas tatapan Yura dengan tatapan teduh.Yura menarik napas panjang. “Kamu benar-benar ingin memperbaiki pernikahan kita?”Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” raut wajah Adrian terlihat serius.Yura menggeleng. Namun, di dalam hatinya masih ada keraguan. Luka akibat pengkhianatan Malik belum benar-benar sembuh. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki.“Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita,” ujar Adrian. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.”Yura hanya diam tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Adrian.“Aku tidak memintamu langsun

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   ADRIAN SADAR

    Yura langsung mencengkeram belahan kimono yang menutupi dadanya. Teguran Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Saya dan Pak Andreas tidak melakukan sesuatu yang terlarang.” Yura berusaha membela diri. Ia tidak ingin Adrian memandangnya sebagai wanita murahan.“Berduaan dengan lelaki yang bukan suamimu adalah perbuatan terlarang, Yura.”“Tapi Pak Andreas adalah saudara Anda.” Yura menatap Adrian cemas. Ia tidak ingin suaminya berpikir macam-macam tentang dirinya dan Andreas.Rahang Adrian mengeras. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa kesal yang semakin menguasai dirinya.“Lima menit. Ganti pakaianmu, lalu kita pulang.”“Saya pamit ke Pak Andreas dulu.”“Suamimu itu aku atau Andreas?”Yura menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Andreas sudah membantunya ketika tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.“Iya. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke apartemen, Adrian dan Gresyuan mengikutinya.Begitu tiba di ruang depan, A

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   PULANG

    “Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan santai, seolah-olah tidak memahami tuduhan yang baru saja dilontarkan Andreas.Andreas justru berjalan semakin mendekat. “Jangan pura-pura bodoh.” Tangannya menunjuk jam di tangan Adrian.“Arloji itu hanya ada satu di dunia. Aku memesannya khusus dari desainer ternama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku sendiri yang memilihnya, jadi jangan bilang aku salah mengenalinya.”Adrian melirik arloji yang ada di tangannya. Andreas tidak mungkin salah, arloji itu memang hadiah darinya. Namun wajah Adrian tetap tenang.“Lalu?”“Aku tahu kau yang menjebak Yura dan membuatnya masuk penjara.” Suara Andreas bergetar menahan amarah.Andreas mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. “Kau mau lihat siapa yang memberitahuku?”Adrian melirik layar. Foto seorang pria muncul di sana membuat wajah Adrian seketika berubah.“Dia sudah bicara,” ujar Andreas dingin. “Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya. Jadi berhenti berkelit.”Adrian menyandarkan tubuhnya ke

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   ANDREAS TURUN TANGAN, CERAIKAN DIA

    “Di tahan di mana Yura?”“Di Kapolsek xxx.”Mendengar jawaban itu, Andreas langsung mengambil ponsel di atas meja kerja. Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari kantor sembari menghubungi pengacaranya.Sesampainya di parkiran, Andreas masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan kasar. Mobil melaju meninggalkan gedung dengan kecepatan tinggi.Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Andreas benar-benar marah.Adrian adalah saudara kembarnya. Ia tahu betul adiknya sedang marah, kecewa, bahkan terluka karena kecelakaan yang membuat hidupnya berubah. Namun, semua itu bukan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain. Terlebih lagi Yura adalah istrinya sendiri.“Kejam sekali kau, Adrian,” gumam Andreas geram.Ia semakin menginjak pedal gas. “Aku tahu kau membencinya, tapi bukan seperti ini caranya.”***“Yura!”Suara seorang sipir terdengar dari balik jeruji. Yura yang sedang duduk bersama Imelda langsung mengangkat kepala.“Saya, Pak?” Ia berd

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   KEMARAHAN ANDREAS

    “Tolong bebaskan keponakan saya, Pak. Keponakan saya tidak bersalah. Ini pasti hanya salah paham.”Suara Hadi bergetar ketika ia duduk di hadapan seorang polisi. Sejak menerima telepon dari Yura, pria paruh baya itu langsung bergegas ke kantor polisi tanpa sempat memikirkan apa pun selain keselamatan keponakannya.Tangannya yang kasar akibat bertahun-tahun bekerja terlihat saling menggenggam erat di atas paha.“Bukti-bukti sudah ada, Pak. Yura terbukti mencuri.”“Mencuri?” Hadi mengangkat wajahnya.“Iya.”“Tidak mungkin.” Hadi menggeleng berkali-kali. “Keponakan saya tidak pernah mencuri. Sejak kecil dia anak yang baik. Kalau menemukan barang orang lain saja, dia pasti mengembalikannya.”Polisi di hadapannya hanya menghela napas. “Saya mengerti Anda keluarga tersangka, tetapi kami bekerja berdasarkan bukti.”“Lalu... bagaimana caranya agar Yura bisa bebas?”Polisi itu membuka berkas di atas meja. “Untuk sementara, Anda bisa mengajukan penangguhan dengan jaminan.”Hadi langsung sedikit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status