Compartilhar

FOTO LAMA

Autor: Pendosa
last update Data de publicação: 2026-09-18 14:11:42

"Aku tidak akan menyakitimu," ujar Adrian, tatapan Yura yang ketakutan menandakan wanita itu menuduhnya sebagai pelaku yang mengurungnya.

"Kamu yang mengurungku." Air mengalir dari sudut mata Yura, terbayang ketika dirinya berteriak dan kelaparan, tapi tidak ada satu pun orang yang menolongnya.

"Aku tidak tahu jika kau masih berada di kamar mandi, kupikir kau sudah keluar saat aku tidur." Tatapan Adrian tetap tenang seolah tidak pernah melakukan sebuah kesalahan.

"Kamu ingin balas dendam padaku, kan. Meski pun aku berteriak, tapi kamu tidak mau membuka pintu kamar mandi."

"Kamar mandiku kedap suara, dan pintu sering macet. Kalau kau tidak percaya tidak apa apa, aku tidak memaksa." Adrian memutar kursi rodanya, tidak ingin terlibat perdebatan yang terlalu panjang.

Yura memandangi kursi roda Adrian yang semakin menjauh, ia masih ragu dengan semua perkataan Adrian. Sementara, Andreas mengepalkan tangannya saat melihat Adrian terus menyangkal. Namun, Andreas tidak ingin Yura membenci suaminya sendiri.

***

Keesokan paginya, Yura terbangun dengan tubuh yang masih lemah, tetapi tidak lagi terasa seberat hari sebelumnya. Kepalanya sudah tidak terlalu pusing dan napasnya pun mulai teratur.

Andreas masuk ke kamar dengan seorang pelayan yang membawa nampan berisi bubur hangat, sup, dan segelas air putih.

“Kau sudah bangun?”

Yura mengangguk pelan.

“Aku membawakan sarapan. Dokter bilang kau harus makan.”

Andreas duduk di tepi ranjang, lalu mengambil mangkuk bubur. Ia meniup sesendok bubur sebelum mengarahkannya ke mulut Yura.

“Ayo, buka mulut.”

Yura menatap sendok itu, kemudian menggeleng. “Aku bisa makan sendiri.”

“Apa kamu bisa?”

“Aku akan mencoba.”

Andreas tampak ragu, tetapi akhirnya menyerahkan mangkuk tersebut kepada Yura.

Yura memegang sendok dengan kedua tangannya. Jemarinya masih sedikit gemetar, tetapi ia berusaha menyuapkan bubur itu ke mulutnya sendiri. Beberapa tetes bubur jatuh ke selimut, namun ia tidak menyerah.

Andreas memperhatikannya dengan cemas.

“Pelan-pelan. Jangan dipaksakan.”

“Aku tidak ingin terus merepotkanmu.”

Andreas terdiam. “Kau tidak merepotkan siapa pun,” katanya kemudian.

Yura tidak menjawab. Ia kembali menyendok bubur sedikit demi sedikit hingga mangkuk itu hampir habis.

Dari ambang pintu, Adrian memperhatikan mereka tanpa suara. Ia baru saja hendak menuju halaman depan ketika melihat Yura berusaha makan sendiri.

Tatapannya tertahan pada tangan Yura yang masih gemetar. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. Adrian hanya memutar kursi rodanya dan pergi sebelum mereka menyadari keberadaannya.

Hari berikutnya, kondisi Yura mulai membaik. Wajahnya tidak lagi sepucat sebelumnya, ia sudah mampu berjalan perlahan tanpa bantuan dan ia juga sudah pindah di kamarnya sendiri. Meski begitu, tubuhnya masih mudah lelah.

Pagi itu, Yura baru saja keluar dari kamar ketika suara Jeni terdengar dari ruang makan.

“Akhirnya kau bangun juga.”

Yura menundukkan kepala. “Selamat pagi, Ibu.”

Jeni menatapnya dari atas ke bawah dengan wajah tidak senang. “Jangan terus berpura-pura sakit. Baru dua hari sudah membuat semua orang sibuk mengurusimu.”

“Aku tidak berpura-pura,” jawabnya pelan.

“Tidak berpura-pura?” Jeni mendengus. “Kau hanya terlalu manja. Dulu aku juga pernah sakit, tetapi tetap mengurus keluargaku.”

Yura mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. “Dokter menyuruhku banyak beristirahat.”

“Dokter tidak menyuruhmu bermalas-malasan.”

Jeni menunjuk ke arah dapur. “Masak sarapan untuk semua orang. Setelah itu, cuci piring dan rapikan ruang makan.”

Yura menatap Jeni dengan wajah pucat. “Tapi—”

“Tidak ada alasan.”

Suara roda kursi terdengar dari lorong. Adrian muncul dengan Gresyuan di belakangnya. Wajahnya langsung berubah dingin ketika mendengar ucapan Jeni.

“Tidak ada seorang pun yang boleh menyuruh istriku melakukan pekerjaan rumah, apalagi dalam keadaan sakit seperti ini.”

Jeni terdiam, terkejut melihat perubahan sikap Adrian.

Adrian mengarahkan tatapannya kepada Yura. “Kembali ke kamar dan beristirahat.”

Yura menatap Adrian dengan terkejut. “Tapi...”

“Aku bilang, beristirahat.” Nada suaranya tegas, tetapi tidak terdengar seperti kemarahan.

Yura akhirnya mengangguk dan berbalik menuju kamar.

Jeni menatap Adrian dengan kesal. “Kau terlalu memanjakannya.”

“Aku hanya tidak ingin kondisinya memburuk.”

“Dia hanya berpura-pura lemah.”

Adrian menatap ibunya tajam. “Cukup, Ma.”

Jeni tidak membalas. Namun, begitu Adrian pergi menuju ruang kerja, ia memanggil Yura secara diam-diam.

“Yura.”

Yura yang sedang tiduran di ranjangnya beringsut duduk, ia menoleh ke arah pintu.

“Ada apa?” tanya Yura dengan suara lemah.

“Bersihkan gudang. Sudah lama tidak dirapikan.” Jeni menunjuk ke arah lorong belakang.

Yura terkejut.

“Tapi Adrian melarangku melakukan pekerjaan rumah.”

“Kau ingin membuatnya semakin memanjakanmu?” Jeni berbisik tajam. “Kalau kau tidak mau, jangan harap bisa tinggal nyaman di rumah ini.”

“Baik, Ibu.” Yura menundukkan kepala. Ia tidak ingin membuat masalah baru.

Gudang itu berada di bagian belakang rumah. Ruangannya penuh dengan kardus, perabot lama, dan debu yang menempel di hampir setiap sudut. Pikir Jeni, Adrian tidak akan bisa melihat Yura melakukan pekerjaannya di gudang.

Yura membuka jendela kecil, lalu mulai memindahkan barang-barang yang berserakan. Tubuhnya cepat lelah, tetapi ia tetap memaksakan diri.

Saat menggeser sebuah kotak kayu, sebuah album foto terjatuh ke lantai. Yura berjongkok dan mengambilnya. Ia membuka album itu dengan hati-hati, beberapa foto lama terlihat di dalamnya. Namun, satu foto membuat tangannya berhenti.

Dalam foto tersebut, Adrian tampak jauh berbeda. Ia masih mengenakan seragam olahraga sekolah menengah atas, berdiri dengan senyum lebar sambil memegang piala. Di bawah foto itu tertulis keterangan: “Juara Satu Lomba Lari Internasional.”

Yura menatap foto itu lama. Adrian terlihat begitu bahagia. Matanya penuh semangat dan tubuhnya tampak sehat. Tidak ada kursi roda, tidak ada tatapan dingin, dan tidak ada kebencian di wajahnya.

Yura menggenggam tepi foto itu dengan jemari gemetar. “Jadi... dulu kau seperti ini?”

Ia membayangkan Adrian berlari di lintasan, mengejar garis akhir dengan penuh keyakinan, kemudian pikirannya beralih pada kecelakaan yang mengubah hidup pria itu, kecelakaan yang terjadi karena dirinya.

“Maafkan aku...” bisiknya. Dada Yura terasa sesak membuat airnya mata menggenang di matanya.

“Kalau saja aku tidak mencoba untuk bunuh diri hari itu... mungkin kau masih bisa berlari.”

Yura menundukkan kepala. Rasa bersalah yang selama ini ia tekan kembali muncul dengan kuat.

Ia tidak pernah benar-benar melupakan kejadian itu. Setiap kali melihat Adrian di atas kursi roda, ia selalu teringat bahwa dirinya adalah penyebab hidup pria itu berubah.

Tanpa menyadari bahwa seseorang berada di ambang pintu, saat Yura membereskan gudang.

Adrian memperhatikannya sejak beberapa saat lalu. Ia melihat Yura mengangkat kardus, menyapu debu, dan menata barang-barang lama meskipun wajahnya mulai pucat.

“Apa yang kau lakukan?”

“Adrian...” Yura terkejut dan segera berdiri. Foto yang dipegangnya hampir terjatuh.

Adrian mengarahkan pandangan kepada benda itu. “Dari mana kau mendapatkan foto itu?”

“Album ini jatuh ketika aku memindahkan kotak.”

Adrian terdiam. Tatapannya berubah ketika melihat foto dirinya yang masih mengenakan seragam sekolah.

Yura menundukkan kepala. “Kau dulu sangat hebat.”

Adrian tidak menjawab.

“Aku minta maaf,” lanjut Yura lirih. “Karena aku, kau tidak bisa berlari lagi.”

Rahang Adrian mengeras. “Jangan membicarakan itu.”

“Tapi itu kenyataannya.”

“Aku bilang jangan membicarakannya.”

Yura terdiam. Adrian mengarahkan kursi rodanya mendekat. Matanya kemudian tertuju pada wajah Yura yang pucat dan keringat yang membasahi pelipisnya.

“Siapa yang menyuruhmu membersihkan gudang?”

Yura tidak menjawab.

Adrian menatapnya lebih tajam.

“Yura.”

“Ibu.”

Adrian mengepalkan tangan di atas sandaran kursi roda.

“Aku sudah menyuruhmu beristirahat.”

“Aku tidak ingin membuat masalah.”

“Dengan memaksakan diri seperti ini, kau justru membuat masalah.”

Yura menundukkan kepala karena tidak bisa berbuat apa apa, ia hanya orang asing yang tidak diinginkan di rumah ini.

Adrian menghela napas, lalu berkata dengan suara lebih rendah. “Berhenti bekerja. Kembali ke kamar.”

“Gudang ini belum selesai.”

“Biar orang lain yang menyelesaikannya.”

“Tapi Ibu akan marah.”

Adrian menatap Yura dengan tegas. “Biarkan dia marah kepadaku.”

Yura mengangkat wajah. Adrian mengulurkan tangannya, bukan untuk menyentuh Yura, melainkan untuk mengambil foto yang masih berada di tangannya.

“Dan jangan pernah meminta maaf atas kecelakaan itu lagi.”

Yura menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa?”

Adrian terdiam cukup lama. Ia sendiri tidak tahu mengapa kalimat itu keluar dari mulutnya.

“Karena aku tidak ingin mendengarnya.” Adrian kemudian memutar kursi rodanya dan memberi isyarat kepada Gresyuan untuk membantu Yura. “Antarkan dia ke kamar.”

Yura masih berdiri di tempatnya. “Adrian...”

Pria itu berhenti, tetapi tidak menoleh.

“Terima kasih.”

Adrian menatap lurus ke depan. “Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin kau jatuh sakit lagi.”

Namun, setelah pergi, Adrian kembali menatap foto lama di tangannya. Foto itu memperlihatkan dirinya yang dulu—seorang pemuda yang percaya bahwa ia bisa menaklukkan dunia.

Pendosa

UNTUK MENUNGGU BAB SELANJUTNYA BISA SAMBIL BACA KARYAKU YANG LAIN, JUDULNYA PEMBANTU CANTIKNYA TUAN MUDA

| Curtir
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   MAKAN MALAM ROMANTIS

    “Ini terlalu berlebihan.” Yura menatap Adrian dengan ragu. Ia masih mengira semua ucapan pria itu hanyalah basa-basi.“Kamu adalah istriku, Yura. Apa pun yang menjadi milikku, sekarang juga menjadi milikmu.”Yura mengembuskan napas panjang. Perubahan sikap Adrian membuatnya bingung. Dulu, pria itu begitu dingin kepadanya. Kini, Adrian justru memperlakukannya seolah-olah ia adalah seseorang yang sangat berharga. Ia merasa semua ini terlalu instan.“Ayo, kita masuk.”“Iya.”Adrian membawa Yura berkeliling vila dan menunjukkan berbagai fasilitas di kediaman pribadinya. Setelah melewati ruang keluarga yang luas dan taman belakang, mereka tiba di sebuah kolam renang yang dibangun tepat di tepi tebing.Yura langsung berhenti melangkah.Lantai kolam itu terbuat dari kaca transparan. Airnya begitu jernih sehingga dasar kolam dan pemandangan laut di bawah tebing tampak jelas dari atas. Birunya laut terbentang tanpa batas, tetapi keindahan itu tidak mampu mengusir rasa ngeri yang menjalar di tu

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   INI RUMAH KITA

    Yura kembali menyantap makanannya sambil berkedip beberapa kali. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa diam?”“Iya,” Yura menatap pria itu dengan gugup.“Iya apa?” Adrian membalas tatapan Yura dengan tatapan teduh.Yura menarik napas panjang. “Kamu benar-benar ingin memperbaiki pernikahan kita?”Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” raut wajah Adrian terlihat serius.Yura menggeleng. Namun, di dalam hatinya masih ada keraguan. Luka akibat pengkhianatan Malik belum benar-benar sembuh. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki.“Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita,” ujar Adrian. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.”Yura hanya diam tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Adrian.“Aku tidak memintamu langsun

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   ADRIAN SADAR

    Yura langsung mencengkeram belahan kimono yang menutupi dadanya. Teguran Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Saya dan Pak Andreas tidak melakukan sesuatu yang terlarang.” Yura berusaha membela diri. Ia tidak ingin Adrian memandangnya sebagai wanita murahan.“Berduaan dengan lelaki yang bukan suamimu adalah perbuatan terlarang, Yura.”“Tapi Pak Andreas adalah saudara Anda.” Yura menatap Adrian cemas. Ia tidak ingin suaminya berpikir macam-macam tentang dirinya dan Andreas.Rahang Adrian mengeras. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa kesal yang semakin menguasai dirinya.“Lima menit. Ganti pakaianmu, lalu kita pulang.”“Saya pamit ke Pak Andreas dulu.”“Suamimu itu aku atau Andreas?”Yura menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Andreas sudah membantunya ketika tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.“Iya. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke apartemen, Adrian dan Gresyuan mengikutinya.Begitu tiba di ruang depan, A

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   PULANG

    “Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan santai, seolah-olah tidak memahami tuduhan yang baru saja dilontarkan Andreas.Andreas justru berjalan semakin mendekat. “Jangan pura-pura bodoh.” Tangannya menunjuk jam di tangan Adrian.“Arloji itu hanya ada satu di dunia. Aku memesannya khusus dari desainer ternama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku sendiri yang memilihnya, jadi jangan bilang aku salah mengenalinya.”Adrian melirik arloji yang ada di tangannya. Andreas tidak mungkin salah, arloji itu memang hadiah darinya. Namun wajah Adrian tetap tenang.“Lalu?”“Aku tahu kau yang menjebak Yura dan membuatnya masuk penjara.” Suara Andreas bergetar menahan amarah.Andreas mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. “Kau mau lihat siapa yang memberitahuku?”Adrian melirik layar. Foto seorang pria muncul di sana membuat wajah Adrian seketika berubah.“Dia sudah bicara,” ujar Andreas dingin. “Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya. Jadi berhenti berkelit.”Adrian menyandarkan tubuhnya ke

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   ANDREAS TURUN TANGAN, CERAIKAN DIA

    “Di tahan di mana Yura?”“Di Kapolsek xxx.”Mendengar jawaban itu, Andreas langsung mengambil ponsel di atas meja kerja. Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari kantor sembari menghubungi pengacaranya.Sesampainya di parkiran, Andreas masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan kasar. Mobil melaju meninggalkan gedung dengan kecepatan tinggi.Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Andreas benar-benar marah.Adrian adalah saudara kembarnya. Ia tahu betul adiknya sedang marah, kecewa, bahkan terluka karena kecelakaan yang membuat hidupnya berubah. Namun, semua itu bukan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain. Terlebih lagi Yura adalah istrinya sendiri.“Kejam sekali kau, Adrian,” gumam Andreas geram.Ia semakin menginjak pedal gas. “Aku tahu kau membencinya, tapi bukan seperti ini caranya.”***“Yura!”Suara seorang sipir terdengar dari balik jeruji. Yura yang sedang duduk bersama Imelda langsung mengangkat kepala.“Saya, Pak?” Ia berd

  • Terpaksa Menikahi Tuan Muda   KEMARAHAN ANDREAS

    “Tolong bebaskan keponakan saya, Pak. Keponakan saya tidak bersalah. Ini pasti hanya salah paham.”Suara Hadi bergetar ketika ia duduk di hadapan seorang polisi. Sejak menerima telepon dari Yura, pria paruh baya itu langsung bergegas ke kantor polisi tanpa sempat memikirkan apa pun selain keselamatan keponakannya.Tangannya yang kasar akibat bertahun-tahun bekerja terlihat saling menggenggam erat di atas paha.“Bukti-bukti sudah ada, Pak. Yura terbukti mencuri.”“Mencuri?” Hadi mengangkat wajahnya.“Iya.”“Tidak mungkin.” Hadi menggeleng berkali-kali. “Keponakan saya tidak pernah mencuri. Sejak kecil dia anak yang baik. Kalau menemukan barang orang lain saja, dia pasti mengembalikannya.”Polisi di hadapannya hanya menghela napas. “Saya mengerti Anda keluarga tersangka, tetapi kami bekerja berdasarkan bukti.”“Lalu... bagaimana caranya agar Yura bisa bebas?”Polisi itu membuka berkas di atas meja. “Untuk sementara, Anda bisa mengajukan penangguhan dengan jaminan.”Hadi langsung sedikit

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status