FAZER LOGINSatu minggu telah berlalu.
Kondisi Yura perlahan membaik. Ia sudah kembali menjalani rutinitas sederhana di rumah. Setiap pagi, ia membantu mengurus pekerjaan rumah, menyiapkan makanan, mencuci pakaian, dan memastikan kebutuhan Adrian terpenuhi.
Pagi itu, Yura berjalan melewati kamar Adrian dengan penampilan yang jauh lebih rapi. Rambutnya disisir sederhana, pakaiannya bersih, dan wajahnya tidak lagi sepucat beberapa hari sebelumnya.
“Yura.”
“Iya?” Langkah Yura terhenti. Ia menoleh ke arah kamar Adrian yang pintunya terbuka.
“Mau ke mana?” Adrian duduk di atas ranjangnya sambil menatapnya.
“Ke supermarket. Persediaan dapur sudah hampir habis.”
“Mandikan aku dulu.”
Yura langsung terkejut. “Ma-mandikan?”
“Kenapa kaget?”
“Biasanya Gresyuan yang membantu.”
“Hari ini aku ingin kamu yang membantu.”
Yura menelan ludah. Ia sebenarnya ingin menolak, tetapi tatapan Adrian membuat kata-kata itu kembali tertahan di tenggorokannya.
“Baik.” Yura berjalan mendekat.
“Bantu aku turun.” Adrian menyingkap selimut yang menutupi kedua kakinya.
Yura melepas tas yang sejak tadi terselempang di bahunya dan meletakkannya di atas meja.
Tanpa sepengetahuan Yura, Adrian sempat melirik tas tersebut. Tatapannya berubah dingin. Namun, perubahan itu hanya berlangsung sesaat.
Yura menarik napas panjang sebelum merengkuh tubuh Adrian. Dengan susah payah, ia menopang tubuh pria itu hingga berhasil memindahkannya ke kursi roda.
“Pelan-pelan,” ujar Adrian.
“Iya.”
Setelah memastikan Adrian duduk dengan benar, Yura mendorong Adrian menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Yura melihat bathtub telah terisi air hangat dan dipenuhi busa.
“Gresyuan sudah menyiapkannya?”
“Sepertinya.”
“Bukakan bajuku.” Adrian mengarahkan kursi rodanya ke dekat bathtub.
“Aku?” Yura mengerjapkan mata.
“Di sini hanya ada kita.”
Yura menggigit bibir. “Baik.”
Yura mulai membuka kancing kemeja Adrian satu per satu sambil menutup matanya rapat. Tangannya sedikit gemetar karena merasa canggung berada sedekat itu dengan pria yang selama ini selalu membuatnya takut.
Adrian hanya diam. Tidak lama kemudian, Yura bertanya, “Kamu mau aku bantu sampai masuk ke bathtub?”
“Tidak perlu.”
“Lalu?”
“Aku berubah pikiran.”
Yura terlihat bingung. “Berubah pikiran?”
“Aku tidak jadi mandi sekarang.”
Yura hampir menghela napas lega. “Kalau begitu aku boleh pergi?”
Adrian mengangguk. “Panggil Gresyuan ke sini sebelum kau pergi.”
“Baik.” Yura segera keluar.
Namun, ia tidak menyadari bahwa beberapa detik setelah pintu tertutup, Adrian menoleh ke arah meja tempat tas Yura berada.
Tatapannya menjadi dingin. Adrian menggerakkan kursi rodanya mendekati tas tersebut. Tangannya mengambil sebuah arloji dari laci.
Ia membuka resleting tas Yura dan memasukkan arloji itu ke bagian paling dalam. Setelah itu, ia menutup kembali resletingnya. Semuanya dilakukan dengan tenang, tidak ada seorang pun yang melihat.
***
Beberapa saat kemudian, Yura tiba di supermarket. Ia mendorong troli sambil memilih berbagai kebutuhan rumah tangga. Sayuran, buah-buahan, daging, beras, minyak goreng, sabun cuci, dan beberapa makanan ringan untuk persediaan di rumah.
Setelah mengambil sabun cuci, Yura berbalik.
Bruk!
Seseorang sengaja menabraknya. “Maaf.” Pria itu langsung berjalan pergi.
“Iya... tidak apa-apa.” Yura mengusap lengannya yang terasa sedikit nyeri.
Ia tidak menyadari bahwa pria tersebut sengaja memilih lorong yang tidak memberikan sudut pandang kamera yang jelas. Yura kembali melanjutkan belanja. Namun, belum sempat ia mendorong troli lebih jauh, seseorang memanggil namanya.
“Yura?”
Tubuh Yura langsung menegang. Ia menoleh, melihat Malik berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pria yang pernah menjadi tunangannya. Pria yang meninggalkannya tepat pada hari pernikahan mereka untuk menikahi Amira.
Malik berjalan mendekat. “Kebetulan sekali kita bertemu.”
Yura langsung memalingkan wajah.
Malik melirik lengannya. “Kenapa lenganmu?”
“Aku tidak apa-apa.”
Malik mencoba menyentuh lengannya, Yura langsung mundur.
Malik menghembuskan napas. “Aku cuma ingin membantu.”
“Aku tidak membutuhkan bantuanmu.” Yura menarik troli dan hendak pergi. Namun Malik kembali memanggil.
“Yura, tunggu.”
“Apa lagi?”
“Aku ingin meminta bantuanmu.”
Yura mengembuskan napas kesal. “Bantuan apa?”
“Soal pekerjaanku.”
Yura mengerutkan kening. “Apa hubungannya denganku?”
“Aku sudah bertahun-tahun bekerja di perusahaan suamimu.”
“Lalu?”
“Sampai sekarang aku masih menjadi staf biasa.”
Yura menatapnya tanpa ekspresi.
“Aku ingin naik jabatan.”
“Terus?”
“Kau istrinya Adrian. Tolong bicara kepadanya.”
Yura langsung tertawa kecil. “tidak tahu malu.”
“Aku serius, tolong bantu aku.”
“Setelah semua yang kamu lakukan kepadaku, sekarang kamu datang hanya untuk meminta bantuan?”
“Aku sangat menyesal pernah meninggalkanmu.”
“Penyesalanmu tidak berguna.”
“Yura, dengarkan aku.”
Malik merendahkan suaranya. “Aku menyesal menikahi Amira.”
Yura terdiam, tidak menyangka Malik bisa sangat tidak tahu malu.
“Aku sadar sekarang kalau kamu jauh lebih baik darinya.”
Senyum getir muncul di wajah Yura. “Aku tidak peduli.”
“Kita bisa kembali seperti dulu.”
Yura menatap Malik lama. “Kembali?”
Malik mengangguk. “Kalau aku mendapatkan jabatan yang lebih tinggi dan gajiku naik, kita bisa—”
“Cukup.” Yura memotong ucapannya. “Kamu pikir aku masih menginginkanmu? Dulu aku mencintaimu ketika kamu bahkan belum punya apa-apa." Mata Yura mulai berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap tegas. “Lalu kamu menghancurkan kepercayaanku dan mempermalukanku di depan semua orang.”
“Yura...”
“Sekarang kamu datang bukan untuk meminta maaf.” Yura menunjuk dirinya sendiri. Kamu datang karena masih ingin memanfaatkanku. Hubungan kita sudah berakhir setelah kamu menghancurkan pernikahan kita dan menikahi Amira.”
Malik hanya diam tidak mampu menjawab semua perkataan Yura.
“Permisi.” Yura menarik troli.
Ia baru berjalan beberapa langkah ketika seorang sekuriti datang menghampirinya bersama pria yang tadi menabraknya.
“Permisi, Nona.”
Yura berhenti. “Iya?”
“Apakah tas yang Anda bawa milik Anda sendiri?”
Yura mengangguk. “Iya.”
“Arloji saya hilang. Saya yakin benda itu ada di dalam tasnya.” Pria asing di samping sekuriti langsung menunjuk tas Yura.
“Apa?” Yura membelalak mata.
“Saya tidak menuduh tanpa alasan.” Pria itu menunjuk ke arah Yura. “Setelah wanita itu menabrak saya, saya menyadari arloji saya hilang.”
Yura menatapnya tidak percaya. “Dia yang menabrakku, bukan aku.”
Sekuriti segera mengangkat tangan. “Mohon tenang. Kami hanya ingin memeriksa tas Anda.”
Malik maju. “Dia tidak mungkin mencuri.”
Sekuriti menatapnya. “Bapak mengenal Nona ini?”
Malik terdiam sejenak. “Dia... mantan tunangan saya.”
Yura langsung melirik tajam. “Mas Malik.”
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”
Sekuriti kembali menghadap Yura. “Apakah Anda bersedia jika tas Anda kami periksa?”
Yura menarik napas panjang. “Silakan.” Ia menyerahkan tasnya. “Aku tidak mencuri apa pun.”
Sekuriti membuka resleting tas tersebut. Satu per satu barang dikeluarkan.
Dompet.
Ponsel.
Lipstik.
Tisu.
Kunci.
Sampai akhirnya—
Ting!
Sebuah benda logam jatuh ke lantai, semua orang terdiam menatapnya.
Arloji.
“Itu!” Pria asing itu langsung menunjuk. Ia mengambil arloji tersebut. “Itu milik saya!”
Wajah Yura seketika pucat. “Aku tidak tahu bagaimana benda itu bisa ada di dalam tasku.”
“Masih mau menyangkal?”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
Malik mengambil langkah maju.
“Jangan menuduh sembarangan.”
Sekuriti menahan Malik. “Pak, mohon jangan mengganggu pemeriksaan.”
“Kalau dia tidak terbukti bersalah, kalian akan menanggung akibatnya.”
Yura masih menatap arloji itu, kepalanya terasa berputar, kemudian sebuah ingatan tiba-tiba muncul. Pagi tadi ia meninggalkan tas itu di kamar Adrian. Tangannya perlahan mengepal.
Tidak mungkin... Ia mencoba menepis pikiran itu. Adrian? Adrian punya alasan untuk melakukan semua ini, dia mungkin ingin balas dendam?
“Yura.” Suara Malik membuatnya tersadar.
“Kamu baik-baik saja?”
Yura tidak menjawab. Tatapannya kosong. Ada sesuatu yang tidak masuk akal. Ia yakin tidak pernah mengambil arloji itu. Tetapi arloji tersebut benar-benar berada di dalam tasnya.
Dan satu-satunya saat tas itu berada di luar pengawasannya adalah ketika ia meninggalkannya di kamar Adrian pagi tadi.
“Bawa saya ke ruang keamanan,” ujar Yura akhirnya.
Sekuriti mengangguk. “Baik, Nona.”
Yura berjalan mengikuti sekuriti dengan langkah berat. Malik ikut menyusul. Namun, sebelum meninggalkan lorong itu, Yura menoleh sekali lagi ke arah tempat pria asing tadi berdiri.
Pria tersebut sedang tersenyum. Senyum kecil. Sangat singkat, tetapi Yura melihatnya dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ini bukan pencurian biasa.
Seseorang sedang menjebaknya. Di tempat lain, Adrian masih berada di kamarnya. Ponselnya berdering, ia mengangkatnya.
“Bagaimana?”
“Sudah berhasil, Tuan. Arloji itu ditemukan di dalam tas Nona Yura.” Suara seorang pria terdengar dari seberang telepon.
Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi roda. “Bagaimana reaksinya?”
“Dia menyangkal. Sekarang dia sedang dibawa ke ruang keamanan.”
Adrian tersenyum tipis. “Bagus.”
“Apakah kami perlu melanjutkan rencana?”
“Jalankan sesuai perintah.”
Adrian memutus sambungan telepon. Tatapannya beralih ke pintu kamar. Tidak ada rasa bersalah di wajahnya. Hanya ketenangan yang dingin.
Sejak pagi, semua yang terjadi bukanlah kebetulan.
Permintaannya agar Yura membantunya. Arloji yang dimasukkan ke dalam tas. Pria yang menabrak Yura, semuanya telah diatur.
Adrian mengangkat sudut bibirnya.
“Sekarang kita lihat, Yura...” Ia menatap kosong ke depan. “...seberapa lama kau bisa bertahan.”Adrian mengeraskan rahangnya.
***
FLASHBACK ON
BRAAAK!
Sebuah mobil melaju tak terkendali di atas jembatan. Dalam hitungan detik, kendaraan itu menghantam pembatas dengan suara menggelegar.
PRANG!
Pembatas jembatan hancur. Mobil tersebut menerobosnya dan terjun bebas ke laut.
BYUUURR!
Air laut bergemuruh ketika tubuh mobil menghantam permukaan. Beberapa saat kemudian, kendaraan itu mulai tenggelam perlahan ke dasar laut.
Seorang gadis berseragam SMU yang sedang mengayuh sepeda ontel mendadak berhenti.
“Ya Tuhan!” Matanya membelalak.
Tanpa berpikir panjang, gadis itu meninggalkan sepedanya begitu saja dan berlari menuju tepi jembatan.
Dari sana, ia melihat mobil yang semakin lama semakin tenggelam.
“Ada orang di dalam!” Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, gadis itu langsung melompat.
BYURR!
Tubuhnya menembus permukaan laut.
Dingin.
Gelap.
Semakin dalam.
Gadis itu membuka mata dan berusaha mencari mobil yang tenggelam di bawahnya. Pandangannya sempat kabur, tetapi akhirnya ia melihat sebuah mobil dengan kaca yang telah retak.
Di balik kaca itu, seorang pria masih terjebak di kursi pengemudi. Tubuhnya tidak bergerak. Gadis itu berenang mendekat.
Tangannya meraih gagang pintu, tidak bergerak, ia mencoba lagi tetap tidak terbuka. Napasnya mulai terasa sesak.
“Ayo... buka!” Tangannya kembali menarik sekuat tenaga.
KLIK!
Pintu akhirnya terbuka. Air langsung memenuhi bagian dalam mobil. Gadis itu segera masuk dan berusaha melepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuh pria tersebut.
Sulit. Tangannya beberapa kali terpeleset. Namun, ia tidak menyerah.
Setelah berhasil melepaskannya, gadis itu meraih tubuh pria tersebut dan menariknya keluar.
Berat. Sangat berat. Napasnya semakin menipis. Namun, ia terus berenang. Sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya—
BYURR!
“Haaah...!” Kepalanya muncul ke permukaan. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Dengan susah payah, gadis itu menyeret tubuh pria tersebut menuju tepian. Begitu sampai di bebatuan, ia langsung berlutut.
“Kak! Kak, bangun!” Ia menepuk pipi pria itu. Namun, tidak ada respons.
“Kak!” Tangannya mulai gemetar.
“Jangan mati...” Ia menekan dada pria itu berkali-kali.
“Tolong bangun!” Beberapa detik berlalu, kemudian—
Duk... duk... duk...
Ada detak lemah.
Gadis itu membelalakkan mata. “Syukurlah... masih hidup.”
Tak lama kemudian, pria itu tiba-tiba terbatuk.
“Ukh...!” Air menyembur dari mulutnya. Matanya perlahan terbuka. Pandangan pria itu masih buram. Ia hanya mampu melihat bayangan seorang gadis di hadapannya.
Wajahnya tidak jelas. Suara gadis itu pun terdengar samar di tengah suara ombak.
“Kakak sudah sadar.”
Pria itu berusaha membuka mata lebih lebar. Namun, pandangannya kembali kabur. Hanya dua hal yang sempat tertangkap matanya.
Sebuah liontin kecil yang menggantung di leher gadis itu dan darah yang mengalir dari lengannya.
“Kakak tunggu di sini,” ujar gadis itu. “Aku akan mencari bantuan.”
Gadis tersebut bangkit. Namun sebelum pergi, ia sempat menoleh.
“Jangan tidur lagi, ya.” Setelah itu, ia berlari meninggalkan tepian laut.
“Tunggu...” Pria itu berusaha mengangkat tangannya. Namun, tubuhnya terlalu lemah, matanya kembali terpejam dan bayangan gadis itu perlahan menghilang dari ingatannya.
FLASHBACK OFF
“Soraya!”
Adrian tersentak bangun. Napasnya tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat. Peluh membasahi dahinya.
Kamar itu gelap dan sunyi. Namun, suara deburan ombak dari mimpinya seolah masih terdengar jelas di telinga.
Adrian memejamkan mata. Bayangan masa lalu kembali muncul. Seorang gadis, sebuah liontin, luka di lengannya dan suara lembut yang pernah menyelamatkan hidupnya.
“Kenapa kamu pergi, Soraya...?” Adrian mengusap wajahnya.
Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya. Selama bertahun-tahun, Adrian percaya bahwa gadis yang menyelamatkannya hari itu adalah Soraya.
Soraya-lah yang selama ini ia anggap sebagai penyelamatnya. Wanita yang pernah menjadi seluruh dunianya. Wanita yang kemudian meninggalkannya.
Adrian telah memberikan segalanya kepada Soraya. Cinta, waktu, harta, bahkan seluruh hidupnya. Namun, pada akhirnya, semua itu tidak cukup untuk membuat wanita tersebut bertahan.
Adrian menunduk. Kini hidupnya berubah menjadi sesuatu yang bahkan tidak sanggup ia kenali. Kedua kakinya lumpuh, kebebasannya hilang.
Hal-hal sederhana yang dahulu dapat ia lakukan dengan mudah kini membutuhkan bantuan orang lain. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian merasa tidak berdaya.
“Aku sudah tidak berguna...” Tangannya mengepal. Rasa frustrasi yang selama ini dipendam akhirnya meledak.
“AAARRRGGHH!”
PRAAAANG!
Jam beker di atas meja dilempar sekuat tenaga. Benda itu menghantam bingkai foto di dinding hingga jatuh dan pecah. Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
“Adrian!”
Jeni berlari masuk. Ia terdiam melihat kamar putranya berantakan. Bantal berserakan. Barang-barang jatuh ke lantai. Pecahan kaca memenuhi sudut kamar.
Adrian duduk di atas ranjang dengan wajah penuh kehancuran. Jeni segera menghampirinya dan memeluk putranya.
“Adrian, kamu kenapa, Nak?”
Tubuh Adrian bergetar. “Aku sudah tidak berguna, Ma.”
“Aku tidak bisa apa-apa lagi.” Suara itu begitu lirih hingga membuat hati Jeni terasa diremas.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Aku bahkan tidak bisa berjalan.”
Jeni mengusap rambut putranya. “Kamu tetap anak Mama.”
“Tapi aku cacat.”
“Kamu bukan cacat di mata Mama.”
Adrian menundukkan kepala. Air matanya jatuh.
“Kamu masih Adrian yang sama,” bisik Jeni. “Kondisimu berubah, tapi nilai dirimu tidak pernah berubah.”
Adrian terdiam. Namun, kata-kata itu belum mampu menghapus kehancuran yang memenuhi hatinya.
Jeni memeluknya semakin erat. “Selama Mama masih ada, kamu tidak akan pernah sendirian.”
MALAM YANG SAMA
Di balik jeruji besi sebuah rumah tahanan, Yura duduk meringkuk sambil memeluk lutut. Air matanya tidak berhenti mengalir.
Ia masih tidak percaya bagaimana hidupnya bisa berubah hanya dalam hitungan jam. Pagi tadi ia masih seorang gadis biasa. Kini ia berada di balik jeruji atas kejahatan yang tidak pernah dilakukannya.
“Aku nggak mencuri...” bisiknya. “Aku benar-benar nggak mencuri.”
Seorang perempuan yang sudah lebih dulu berada di dalam sel menoleh.
“Namaku Imelda. Kamu siapa?”
Yura mengangkat wajahnya. “Yura.”
Imelda duduk di sampingnya. “Kamu masuk sini karena kasus apa?”
“A-aku difitnah mencuri.”
Imelda terdiam sejenak, kemudian tersenyum getir. “Kita senasib.”
“Maksudnya?” Yura menatapnya.
“Aku juga nggak bersalah.”
“Lalu kenapa kamu ada di sini?”
Imelda menyandarkan punggungnya ke dinding.
“Aku mengejar orang yang merampas tasku. Saat dikejar, dia mengalami kecelakaan dan meninggal.”
“Lalu kamu yang dituduh?” Yura membelalak.
Imelda mengangguk. “Katanya aku ikut menyebabkan kematiannya.”
Yura menggeleng. “Itu nggak adil.”
Imelda tersenyum pahit. “Sekarang kamu tahu rasanya.”
Yura terdiam. “Dunia memang aneh.”
“Bukan dunianya yang aneh,” ujar Imelda. “Kadang orang hanya lebih percaya pada apa yang mereka lihat daripada kebenaran yang tidak terlihat.”
Kalimat itu membuat Yura terdiam cukup lama.
“Itu luka apa?” Pandangan Imelda jatuh pada bekas luka di lengan Yura.
“Bekas pecahan kaca.” Yura menatap lengannya.
“Pecahan kaca?”
Yura mengangguk. “Aku pernah menolong seseorang yang tenggelam di laut.”
Imelda mengangkat alis. “Kamu nyebur ke laut?”
“Iya.”
“Gila. Kamu bisa berenang?”
Yura tersenyum tipis. “Dulu aku sering ikut lomba renang antar sekolah. Hampir selalu juara satu.”
“Wah, hebat juga.” Imelda menyeringai. “Yang kamu selamatkan cowok atau cewek?”
“Cowok.”
“Ganteng?”
Yura tertawa kecil. “Nggak tahu.”
“Lho, kok nggak tahu?”
“Waktu itu wajahnya penuh darah. Aku juga cuma melihatnya sebentar.”
Yura bersandar pada dinding. “Kejadiannya sudah lama. Waktu aku masih SMA.”
Imelda mulai penasaran. “Ceritakan.”
Yura memandang kosong ke depan. “Waktu itu aku berangkat sekolah naik sepeda ontel. Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang melewatiku.”
“Terus?”
“Mobil itu menabrak pembatas jembatan.”
Imelda menahan napas. “Lalu masuk laut?”
“Iya.” Yura mengangguk.
“Kamu langsung lompat?”
“Iya.”
“Tanpa berpikir?”
Yura tersenyum kecil. “Kalau waktu itu aku sempat berpikir, mungkin aku nggak akan pernah berani melompat.”
Imelda terdiam. Yura menatap bekas luka di lengannya.
“Aku cuma berpikir satu hal.”
“Apa?”
“Kalau aku tidak menolongnya... mungkin dia akan mati. Setelah berhasil menariknya ke darat, aku pergi mencari bantuan.”
“Lalu?”
“Ketika aku kembali, orang itu sudah dibawa pergi.”
Imelda mengangguk. “Jadi kamu nggak pernah tahu siapa dia?”
Yura menggeleng. “Nggak.” Ia tersenyum tipis. “Aku bahkan sudah lupa wajahnya.”
Namun, baik Yura maupun Adrian belum mengetahui kebenaran tersebut. Selama bertahun-tahun, Adrian percaya bahwa penyelamatnya adalah Soraya.
Yura bahkan tidak tahu bahwa pria yang pernah ia selamatkan kini telah menjadi bagian dari hidupnya.
“Ini terlalu berlebihan.” Yura menatap Adrian dengan ragu. Ia masih mengira semua ucapan pria itu hanyalah basa-basi.“Kamu adalah istriku, Yura. Apa pun yang menjadi milikku, sekarang juga menjadi milikmu.”Yura mengembuskan napas panjang. Perubahan sikap Adrian membuatnya bingung. Dulu, pria itu begitu dingin kepadanya. Kini, Adrian justru memperlakukannya seolah-olah ia adalah seseorang yang sangat berharga. Ia merasa semua ini terlalu instan.“Ayo, kita masuk.”“Iya.”Adrian membawa Yura berkeliling vila dan menunjukkan berbagai fasilitas di kediaman pribadinya. Setelah melewati ruang keluarga yang luas dan taman belakang, mereka tiba di sebuah kolam renang yang dibangun tepat di tepi tebing.Yura langsung berhenti melangkah.Lantai kolam itu terbuat dari kaca transparan. Airnya begitu jernih sehingga dasar kolam dan pemandangan laut di bawah tebing tampak jelas dari atas. Birunya laut terbentang tanpa batas, tetapi keindahan itu tidak mampu mengusir rasa ngeri yang menjalar di tu
Yura kembali menyantap makanannya sambil berkedip beberapa kali. Ia berusaha menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya.“Kenapa diam?”“Iya,” Yura menatap pria itu dengan gugup.“Iya apa?” Adrian membalas tatapan Yura dengan tatapan teduh.Yura menarik napas panjang. “Kamu benar-benar ingin memperbaiki pernikahan kita?”Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk.“Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?”“Apa aku terlihat sedang bermain-main?” raut wajah Adrian terlihat serius.Yura menggeleng. Namun, di dalam hatinya masih ada keraguan. Luka akibat pengkhianatan Malik belum benar-benar sembuh. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru meninggalkan trauma yang membuatnya sulit untuk percaya pada laki-laki.“Aku harap kamu mau membuka lembaran baru dalam pernikahan kita,” ujar Adrian. “Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku.”Yura hanya diam tidak tahu bagaimana harus menanggapi permintaan Adrian.“Aku tidak memintamu langsun
Yura langsung mencengkeram belahan kimono yang menutupi dadanya. Teguran Adrian terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Saya dan Pak Andreas tidak melakukan sesuatu yang terlarang.” Yura berusaha membela diri. Ia tidak ingin Adrian memandangnya sebagai wanita murahan.“Berduaan dengan lelaki yang bukan suamimu adalah perbuatan terlarang, Yura.”“Tapi Pak Andreas adalah saudara Anda.” Yura menatap Adrian cemas. Ia tidak ingin suaminya berpikir macam-macam tentang dirinya dan Andreas.Rahang Adrian mengeras. Ia mengepalkan tangan, berusaha menahan rasa kesal yang semakin menguasai dirinya.“Lima menit. Ganti pakaianmu, lalu kita pulang.”“Saya pamit ke Pak Andreas dulu.”“Suamimu itu aku atau Andreas?”Yura menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Andreas sudah membantunya ketika tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya.“Iya. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.” Yura berbalik masuk ke apartemen, Adrian dan Gresyuan mengikutinya.Begitu tiba di ruang depan, A
“Apa maksudmu?” Adrian bertanya dengan santai, seolah-olah tidak memahami tuduhan yang baru saja dilontarkan Andreas.Andreas justru berjalan semakin mendekat. “Jangan pura-pura bodoh.” Tangannya menunjuk jam di tangan Adrian.“Arloji itu hanya ada satu di dunia. Aku memesannya khusus dari desainer ternama untuk hadiah ulang tahunmu. Aku sendiri yang memilihnya, jadi jangan bilang aku salah mengenalinya.”Adrian melirik arloji yang ada di tangannya. Andreas tidak mungkin salah, arloji itu memang hadiah darinya. Namun wajah Adrian tetap tenang.“Lalu?”“Aku tahu kau yang menjebak Yura dan membuatnya masuk penjara.” Suara Andreas bergetar menahan amarah.Andreas mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja. “Kau mau lihat siapa yang memberitahuku?”Adrian melirik layar. Foto seorang pria muncul di sana membuat wajah Adrian seketika berubah.“Dia sudah bicara,” ujar Andreas dingin. “Orang suruhanmu sudah mengakui semuanya. Jadi berhenti berkelit.”Adrian menyandarkan tubuhnya ke
“Di tahan di mana Yura?”“Di Kapolsek xxx.”Mendengar jawaban itu, Andreas langsung mengambil ponsel di atas meja kerja. Tanpa membuang waktu, ia bergegas keluar dari kantor sembari menghubungi pengacaranya.Sesampainya di parkiran, Andreas masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan kasar. Mobil melaju meninggalkan gedung dengan kecepatan tinggi.Tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Andreas benar-benar marah.Adrian adalah saudara kembarnya. Ia tahu betul adiknya sedang marah, kecewa, bahkan terluka karena kecelakaan yang membuat hidupnya berubah. Namun, semua itu bukan alasan untuk menghancurkan hidup orang lain. Terlebih lagi Yura adalah istrinya sendiri.“Kejam sekali kau, Adrian,” gumam Andreas geram.Ia semakin menginjak pedal gas. “Aku tahu kau membencinya, tapi bukan seperti ini caranya.”***“Yura!”Suara seorang sipir terdengar dari balik jeruji. Yura yang sedang duduk bersama Imelda langsung mengangkat kepala.“Saya, Pak?” Ia berd
“Tolong bebaskan keponakan saya, Pak. Keponakan saya tidak bersalah. Ini pasti hanya salah paham.”Suara Hadi bergetar ketika ia duduk di hadapan seorang polisi. Sejak menerima telepon dari Yura, pria paruh baya itu langsung bergegas ke kantor polisi tanpa sempat memikirkan apa pun selain keselamatan keponakannya.Tangannya yang kasar akibat bertahun-tahun bekerja terlihat saling menggenggam erat di atas paha.“Bukti-bukti sudah ada, Pak. Yura terbukti mencuri.”“Mencuri?” Hadi mengangkat wajahnya.“Iya.”“Tidak mungkin.” Hadi menggeleng berkali-kali. “Keponakan saya tidak pernah mencuri. Sejak kecil dia anak yang baik. Kalau menemukan barang orang lain saja, dia pasti mengembalikannya.”Polisi di hadapannya hanya menghela napas. “Saya mengerti Anda keluarga tersangka, tetapi kami bekerja berdasarkan bukti.”“Lalu... bagaimana caranya agar Yura bisa bebas?”Polisi itu membuka berkas di atas meja. “Untuk sementara, Anda bisa mengajukan penangguhan dengan jaminan.”Hadi langsung sedikit







