LOGIN
Namaku Putri Anggraini, umurku 19 tahun. Seorang anak yatim piatu yang hanya tinggal dengan nenekku, satu-satunya keluargaku.
Aku berada di lorong dingin rumah sakit. Aroma karbol menusuk hidungku dan bercampur dengan bau kepanikan yang kurasakan sendiri. Nenek harus segera dioperasi. Aku bimbang, bingung, lututku terasa lemas seperti air. Aku hanya bisa terisak di pojokan rumah sakit, punggungku menyentuh dinding yang terasa beku, memegangi kerah kemeja seragam minimarketku yang lepek karena keringat dingin. Aku menangis dalam keheningan yang menyiksa, karena tahu tangisan keras pun tak akan mengubah saldo di rekeningku. “Saya bisa membantumu membayarkan biaya rumah sakit,” suara wanita itu lembut namun penuh otoritas. “Asal kamu bisa membantuku juga.” Aku terperanjat, segera berdiri hingga kepala sedikit pusing, air mata masih membasahi pipi. “Apa yang bisa saya bantu?” ucapku, suaraku serak karena isakan. Wanita itu diam sejenak, tatapannya dingin. “Bantu saya untuk melahirkan seorang anak untuk suami saya.” Dunia terasa berputar. Kata-kata itu menampar wajahku lebih keras daripada kenyataan 200 juta. Aku melamun, merasakan darah seolah surut dari kepalaku. Dalam benakku: Aku tidak mau berzina. Aku takut dosa. Nenek selalu mengajariku menjaga diri. “Maaf, saya tidak bisa…” Aku menggelengkan kepala, keras, hingga rambutku sedikit terayun. “Saya tahu saya butuh uang, tapi saya tidak ingin menjual diri saya. Itu dosa besar!” “Tidak, tidak. Kamu tidak akan berzina dengan suami saya,” Angel menjelaskan, nada suaranya tidak berubah, seolah ini adalah transaksi bisnis biasa. Yahh, namanya wanita tersebut adalah Angel Wijaya. “Suami saya juga tidak mau menyentuh perempuan yang bukan halal-nya. Tapi, kamu akan nikah siri dengan suami saya… Bagaimana?” Aku terdiam, jari-jariku meremas telapak tangan hingga kuku memutih. Dalam benakku: Nikah siri? Menjadi istri simpanan? Setelah anak itu lahir, lalu aku diceraikan? Aku tidak bisa seperti itu… yang aku impikan menjadi istri yang baik, punya rumah kecil, dan merawat anak-anakku dengan baik. Aku ingin hidup bahagia, Ya Tuhan! Tapi jika tidak kulakukan… bagaimana dengan Nenekku? Bagaimana cara aku menyelamatkan Nenekku?! Lamunanku pecah ketika seorang suster muncul, ekspresinya cemas. “Bagaimana, Mbak? Apa sudah diurus administrasinya? Pasien harus segera dioperasi.” Panik dingin menyerbu dadaku. Waktu habis. Tidak ada waktu untuk negosiasi moral. Hanya ada Nenek, pisau bedah, dan 200 juta yang tak kumiliki. “Oke, oke, saya setuju!” ucapku cepat, memandang Angel dengan mata memohon. “Tolong bantu Nenek saya dulu. Saya mohon!” Angel mengangguk puas. “Oke Sus, segera operasi sekarang. Saya akan ke bagian administrasi.” “Baik, Bu,” jawab suster itu dengan hormat yang membuatku mengernyit. Wanita itu siapa? Uang belum dibayar, tetapi mereka langsung melaksanakan operasinya? Rasa lega yang menjijikkan bercampur dengan ketakutan yang baru saja kusetujui. Di bagian Administrasi, aku melihat Angel mengeluarkan sebuah kartu hitam. “Tolong berikan perawatan yang terbaik untuk Ibu Ida. Kamar VVIP. Saya tidak mau dengar ada masalah dengannya,” Angel berkata, matanya menusuk ke arah staf administrasi. “Baik, Bu,” jawab staf itu. Mereka semua tunduk padanya. Aku semakin bingung. Wanita ini… sekuat apa dia? Angel menarik pergelangan tanganku dengan genggaman yang kuat menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil mewah yang sejuk. “Oke, urusan Nenek kamu sudah saya urus. Kamu tidak perlu khawatir,” ucapnya. “Sekarang giliran kamu. Siapa nama kamu, saya tadi lupa nanya?” “Nama saya Putri, Bu,” jawabku, suaraku mendadak kecil. “Owh oke, Putri. Nama saya Angel Wijaya. Berapa umur kamu?” “Sembilan belas tahun, Bu.” Kami berbincang, lebih seperti dia mengeluarkan perintah daripada kesepakatan. Setiap aturannya terasa seperti belenggu. Semua persyaratan akan dia berikan besok untuk kutandatangani. Kami bertukar nomor telepon. “Oke, besok saya kabari tempat ketemuan kita,” kata Angel. “Saya juga akan membujuk suami saya dulu agar mau menikahimu.” “Baik, Bu. Kalau sudah selesai, boleh saya kembali untuk melihat keadaan Nenek saya?” tanyaku, nadaku kembali panik dan memohon. Aku harus memastikan dia ada di sana, dioperasi, bukan sekadar janji. “Iya, silakan,” jawabnya, tersenyum kecil. “Terima kasih,” ucapku, berlari kecil kembali ke gedung rumah sakit, meninggalkan bau parfum mahal dan janji yang mematikan di belakangku. ******************************************** Malam itu menelan rumah megah keluarga Diningrat. Di balik jendela setinggi langit-langit, hanya suara gesekan pena dan ketukan keyboard Angga yang memecah keheningan di ruang kerja besarnya. Angga Diningrat, pria yang memikul nama besar dan harapan keluarga, larut dalam tumpukan berkas. Sebuah sentuhan lembut, yang seharusnya manis namun kini terasa seperti rantai, melingkari lehernya. “Sayanggg,” suara Angel mendayu, namun kali ini ada getaran yang janggal, lebih tebal dari sekadar manja. Ia membenamkan wajahnya di bahu Angga. “Iya, sayang, ada apa?” jawab Angga, pandangannya masih tertanam pada monitor. Jawabannya terdengar datar, sebuah respons otomatis dari pria yang terlalu lelah untuk menyadari badai yang mendekat. Angel melepaskan pelukan, suaranya berubah tajam, “Aku mau ngomong serius!!” Angga menghela napas, gestur kecil yang menyiratkan betapa prioritasnya terbalik. “Sebentar ya, sayang. Ini tanggung banget. Lima menit.” “Tapi jangan lama-lama ya, Sayang,” pinta Angel, nada suaranya kembali melunak, namun matanya memancarkan ketidaksabaran yang dingin. “Iya, iya. Kamu ke kamar dulu. Nanti aku susul,” ucap Angga, meraih wajah istrinya dan mencium keningnya sekilas—sebuah ciuman yang terasa seperti formalitas. “Oke, Sayang.” Angel mencium pipi suaminya, kali ini ciumannya meninggalkan jejak yang terasa dingin. Setelah membereskan pekerjaannya dengan gerutuan samar, Angga melangkah menuju kamar utama. Ia menemukan Angel berbaring, memunggungi pintu. Angga memeluk tubuh istrinya dari belakang. “Kenapa, Sayang?” suara Angga masih mengandung sisa kelelahan. Angel bangkit, menjauh dari sentuhan suaminya, dan duduk tegak di tepi ranjang. Wajahnya kini diterangi lampu remang-remang, terlihat pucat dan tertekan. “Kamu tahu, ‘kan,” Angel memulai, suaranya tercekat seolah menahan tangisan yang sudah lama menumpuk, “semenjak aku keguguran itu… rahimku diangkat. Dokter bilang aku tidak akan bisa hamil lagi.” Angga berdeham. “Emmm.” Respon singkat itu melukai Angel. Angga sudah tahu. “Tapi… keluargamu terus menuntut aku, Yangg!” Air mata Angel benar-benar tumpah, bukan lagi kepura-puraan, tapi luapan rasa sakit karena harga diri yang terus diinjak. “Mereka terus membicarakan anak! Mereka menjadikan aku aib!” Angga menarik napas panjang. “Ya sudah. Nanti aku tegaskan lagi pada mereka, biar mereka berhenti bicara seperti itu.” Jawabannya terdengar tegas, namun tanpa empati yang dibutuhkan. “Aku juga mau kamu punya anak, Sayang!” rengek Angel manja, namun di baliknya ada keputusasaan yang menggerogoti. “Aku ingin melihat mata kecil yang sama sepertimu!” “Iya, aku juga mau, Sayang. Kita harus berdoa lebih giat lagi,” Angga menarik Angel ke dalam pelukan, mencoba menenangkannya dengan klise. Angel tiba-tiba melepaskan diri, matanya berkilat dengan ide yang telah ia susun rapi. “Yangg… gimana kalau kamu nikah siri dengan wanita lain. Biar bisa punya anak, tapi kita mengakunya itu anak kita.” Ia mengucapkan kalimat itu dengan hati-hati, seperti meletakkan bom waktu. Angga langsung tersentak mundur, sorot mata tidak percaya memenuhi wajahnya. “GAK! AKU GAK MAU!” Suaranya menggelegar, marah karena dilecehkan. “Tapi… kalau kamu nggak punya anak, orang tuamu pasti akan menyuruhmu menceraikan aku!” Angel merintih, tangisnya semakin histeris, diselingi rasa takut yang nyata akan kehilangan statusnya. “Itu bukan caranya, Sayang!” “Lalu mau bagaimana lagi, Angga?! Huhu… aku tidak bisa memberimu anak! Aku merasa cacat!” Angel menangis sejadi-jadinya, air mata membasahi bantal sutra. Angga memeluknya erat. “Sayang, aku percaya pada Tuhan. Mungkin belum saatnya. Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh.” Ia berusaha menenangkan, tanpa menyadari bahwa ancaman yang dialami Angel jauh lebih nyata daripada yang ia bayangkan. “Mamahmu mengancamku, Yangg!” Angel berteriak di antara isak tangis. “Kalau sampai tahun ini aku nggak bisa kasih anak, dia akan menyuruhmu menceraikanku! Huhu…” “Aku akan tegur Mamah. Lagi pula, hanya aku yang bisa menceraikanmu, bukan Mamahku!” Angga meninggikan suara, mencoba memberi jaminan. “Kamu nggak bisa mengerti perasaanku, Angga!” Angel melepaskan diri lagi, kini berdiri. Amarahnya meledak. “Aku capek! Capek dihina Mamahmu, capek diomongin saudara-saudara! Aku cuma mau kamu nikah siri, dan aku akan pura-pura hamil! Setelah anaknya lahir, itu akan jadi anak kita. Aku akan merawatnya dengan baik, asalkan dia anakmu!” Ucap Angel. “Itu hal gila, Angel! Aku nggak mau berbohong sebesar itu!” Angga bergeming, berpegangan pada prinsipnya. Saat itulah, Angel melakukan gerakan yang telah ia latih dalam pikirannya. Dari bawah bantal, tangannya menyambar sebilah pisau kecil yang sudah disiapkan. Jantung Angga langsung mencelos. Air mata Angel kini bercampur dengan kobaran amarah dan keputusasaan yang menakutkan. Ia menodongkan pisau itu ke lehernya sendiri, mundur menjauhi Angga. “Oke, kalau kamu nggak mau, AKU MAU BUNUH DIRI SAJA!” teriak Angel, suaranya pecah. “Jangaaannn! Sayang, jangan begitu, ya!” Angga langsung panik, seluruh ketegasannya runtuh. “Kamu sudah tidak sayang lagi padaku! Kamu tidak mau mengerti posisiku!” Ucap Angel. “Ini bisa dibicarakan baik-baik, Sayang, oke. Turunkan pisaunya, ya,” Angga berbicara dengan nada paling lembut, mencoba mendekat. “GAK MAU! Kecuali kamu janji menikah siri dengan orang pilihanku, baru aku mau turunkan pisau ini!” Angel mendesis penuh tuntutan. “Kita bicarakan baik-baik, Sayang,” Angga melangkah lebih dekat, fokus pada tatapan mata Angel. “Kamu mendekat lagi, aku beneran… Awww!” Angel menjerit, sengaja menggoreskan pisau itu sedikit ke lehernya. Garis merah segera muncul dan membesar. Darah. “JANGAN!” Angga berteriak panik, gemetar melihat darah istrinya. “Oke! Oke, aku setuju! Ya, aku setuju!” “Janji?!” tuntut Angel, menahan perih goresan yang ia buat. “Iya, aku janji!” Angga segera melompat, menyambar pisau itu dari tangan Angel, dan memeluknya erat, menciumi puncak kepala istrinya. Angga memejamkan mata, jiwanya terluka. Di balik bahu Angga, wajah Angel yang tadi penuh tangisan kini menampilkan senyum sinis yang nyaris tak terlihat. “Dari tadi kek setuju. Harus banget gue lukain leher gue sendiri dulu baru setuju? Kalau bukan demi harta dan nama Diningrat, males banget gua main drama kayak gini,” batin Angel dingin, menatap kosong ke kegelapan. Drama baru, yang didasari oleh ambisi dan pengorbanan palsu, baru saja dimulai. ********************************************* Ruangan itu sunyi mencekam, hanya diisi oleh suara halus mesin monitor yang berdetak, seperti penghitung mundur bagi jiwa yang terdampar. Di balik tirai VVIP yang mewah, nenekku terbaring, pucat pasi, tak bergerak, masih tertidur lelap dalam pengaruh bius yang dingin. Aku duduk di sisinya, punggungku terasa kaku dan mataku terus terpaku pada monitor yang menampilkan garis-garis kehidupan yang begitu rapuh. Operasi telah selesai. Berhasil, kata dokter. Tapi keberhasilan ini terasa seperti pisau bermata dua yang menusuk hatiku. Seorang Suster masuk, langkahnya gesit dan profesional. Ia memeriksa monitor dengan cermat, lalu mengganti kantong infus yang sudah hampir kosong. Aroma alkohol dan antiseptik menusuk indraku, mengingatkanku betapa dekatnya kami dengan garis batas antara hidup dan mati. Rasa penasaran yang sempat tertahan kini melonjak. Sosok Angel itu... sebuah bayangan glamor yang anehnya berkuasa di lingkungan rumah sakit. "Sus," aku memanggil pelan, "maaf, boleh tanya? Ibu Angel itu sebenarnya siapa, Sus? Kenapa semua orang di sini begitu hormat dan menurut padanya?" Tanyaku dengan penuh penasaran. Suster itu tersenyum tipis, senyum yang mengandung sedikit rasa muak yang tak tersamarkan. "Oh, Ibu Angel? Beliau istri dari pemilik rumah sakit ini, Mbak." “Istri dari Pemilik rumah sakit. Pantas saja” batinku. "Oh, begitu ya, Sus," jawabku, mencoba terdengar santai, padahal di dalam hati aku merasakan sensasi dingin. "Pantas saja semua hormat. Saya agak kaget melihatnya." "Mbak bisa kenal sama Ibu Angel dari mana?" Suster itu balik bertanya, tatapannya menyelidik. Aku menunduk, menghindari tatapannya. Mengucapkan kebenaran itu terasa pahit, seperti menelan racun yang menyelamatkan. "Dia yang menolongku membayarkan biaya rumah sakit nenekku ini” Seketika, Suster itu membeku, matanya membulat. "Oh, ya ampun, benarkah? Pantas saja! Kami semua diinfokan untuk memberikan perhatian ekstra pada Ibu Ida ini." Ia kembali fokus pada infus, namun pandangannya kini lebih lembut ke arah nenekku. Lalu, tanpa sengaja, lidahnya terpeleset. "Ternyata dia ada baiknya juga, ya. Soalnya biasanya jutek, dan nggak ada ramah-ramahnya sama sekali." Suster itu mendadak tersadar, tangannya terhenti di selang infus. "Maaf, maaf! Aduh, mulut saya ini!" Ia menampar pelan bibirnya sendiri, raut wajahnya panik. Aku terdiam, hatiku mencelos. Perkataan itu mengonfirmasi semua kecurigaanku. "Nggak apa-apa, Sus. Saya juga nggak terlalu kenal sama Ibu Angel." “Sesombong itukah dia?” Hatiku menjerit. Namun, aku tahu. Bantuan itu tidak tulus. Bantuan itu adalah harga yang harus kubayar. Wajah dingin Angel, mata tajamnya, semua kini terasa jelas, dia menolongku karena ada maksud yang besar di baliknya. Suster itu segera menyelesaikan pekerjaannya dan berpamitan keluar, meninggalkan aku sendirian bersama keheningan dan beban yang kian berat. Aku kembali menatap nenekku. Wajah tua yang penuh kasih sayang itu kini tampak tidak berdaya, dilingkari selang dan kabel. Aku memegang tangan beliau yang hangat, mencari kekuatan yang tak kutemukan. Mataku mulai memanas. Air mata menggenang, kabur melihat sosok nenekku. Ya Tuhan. Langkah ini benar atau salah? Rasa putus asa menenggelamkanku. Aku telah menjual sesuatu yang sangat berharga untuk menyelamatkan nyawa ini. Aku telah memasuki sebuah permainan gila demi satu-satunya orang yang tersisa di duniaku. "Aku cuma... tidak mau kehilanganmu," bisikku, lirih, suaraku tercekat oleh isakan yang tertahan. Aku mendekap tangan nenekku di pipiku. Air mataku menetes, bukan hanya karena rasa syukur nenekku selamat, tapi karena ketakutan yang membeku akan masa depan yang telah kuserahkan ke tangan Angel. Bersambung…..Di sore hari yang tenang, Pak Wahyu tiba di rumahnya. Senyum lebar tak lepas dari wajahnya, ia masih geli mengingat tingkah laku putranya dan reaksi polos menantunya, Putri.Bu Sonya, yang sedang duduk di teras, segera menghampiri suaminya. "Papah! Kok senyum-senyum sendiri begitu? Ada apa? Mimpi indah di jalan, ya?" tanyanya sambil menyeka keringat di dahinya.Pak Wahyu tertawa kecil sambil melepas jasnya. "Bukan mimpi, Mah. Itu loh, anakmu itu. Angga. Semenjak ada Putri di dekatnya, auranya beda banget. Rasanya kantor jadi lebih hidup."Mata Bu Sonya langsung berbinar. "Oh ya? Papah habis bertemu mereka di kantor?""Iya, tadi Papah ke kantor. Awalnya, asisten Papah bilang Angga membawa sepupunya untuk bekerja di bagian Keuangan. Papah kan bingung, Angga tidak pernah punya sepupu sedekat itu. Tapi saat tahu namanya ternyata Putri, yah Papah langsung samperin dong! Kasih semangat untuk dia.""Putri! Kerja di kantor kita?" Bu Sonya benar-benar terkejut, suaranya naik satu oktaf.
Kami tiba di sebuah restoran mewah yang terletak di dalam mal, tepat di samping gedung perusahaan. Suasananya elegan, dengan alunan musik jazz lembut yang menambah kesan eksklusif. Setelah memesan hidangan terbaik dari rekomendasi pelayan, kami menunggu."Put," Pak Wahyu memulai, menatapku dengan tatapan hangat, "bagaimana hari-harimu di kantor? Ada kesan apa sejauh ini?"Aku tersenyum tulus. "Aku masih banyak sekali belajar, Pah. Tapi semua staf di sana baik-baik dan sangat membantuku. Aku merasa sangat... diterima. Pokoknya aku senang sekali."Pak Wahyu mengangguk, sorot matanya menunjukkan kelegaan. "Syukurlah kalau kamu senang. Tapi, Papah masih kepikiran. Apa kamu tidak kesusahan langsung masuk ke bagian Keuangan? Itu kan tekanan kerjanya tinggi, Put. Kalau kamu merasa terlalu melelahkan, jangan sungkan bilang. Papah bisa atur posisi kamu. Mau jadi Manajer? Atau Direktur? Mau Papah siapkan kursi CEO saja biar kamu lebih nyaman? Atau...""Gak usah, Pah," potongku cepat, sed
Angel berada di sebuah restoran all-day dining mewah di hotel tempat ia dan Kevin menginap di Singapura. Cahaya lembut masuk dari jendela besar, menyoroti senyum ceria Angel saat Kevin bercerita. Mereka duduk berhadapan, menikmati makan siang yang ringan.Dari kejauhan, di sudut lounge yang lebih tenang, Sis Linda, teman arisan Bu Sonya, memicingkan mata sambil menyesap kopi.“Ini bukannya menantunya Sis Sonya, si Angel itu?” Batin Sis Linda, tatapannya lekat pada pasangan itu. Angel mengenakan dress musim panas yang anggun, dan pria di hadapannya – Kevin – memegang tangannya di atas meja sambil tertawa.“Ya Tuhan, tapi dia sama siapa? Ko mesra sekali! Mereka saling sentuh seperti sepasang kekasih! Itu sepertinya bukan Angga, deh. Angga kan tinggi besar, yang ini lebih... atletis dan terawat rapi,” Batin Sis Linda, syok campur penasaran.Instingnya sebagai seorang anggota arisan kelas atas langsung beraksi. Informasi ini emas.Dengan gerakan cepat namun terselubung, Sis Linda men
Pukul 04.00 subuh, alarm di ponsel Angga berdering nyaring, memecah keheningan kamar.Angga Menghela napas, mematikan alarm, lalu mencium puncak kepalaku dengan lembut "Sayang... Bangun, yuk. Waktunya mandi sebelum Subuh." Ucap Angga.Aku hanya bergumam dan menarik selimut hingga menutupi wajah. "Emmm, bentar lagi, Mas. Lima menit... please..." ucapku Suara serak, merengekAngga Tertawa kecil, menarik sedikit selimutku "Tidak ada bentar lagi. Ayo bangun, Sayangku." Ucap Angga Dicubitnya hidungku pelan, membuatku refleks mengaduh.Aku Membuka mata sebentar, lalu memejamkan lagi"Aduh! Sakit, Mas. Aku masih capek banget, sungguh. Kamu duluan aja, nanti aku menyusul." ucapku.Angga Terdengar geli "Eh, kan yang harusnya kecapean itu aku! Gimana sih!" Ucap Angga tersenyum kecilMendengar godaan itu, mataku langsung terbuka lebar. Wajahnya yang menyebalkan itu berada tepat di depanku."Enak aja kamu, ya, kalau ngomong! Sembarangan!" Ucapku Mendorong mukanya pelan, dengan nada kes
Setelah ritual mandi yang menyegarkan, aku keluar dari kamar mandi. Aroma sedap langsung menyeruak, menggelitik hidung dan membangunkan selera makanku yang baru saja tertidur. Aku mengikuti jejak aroma itu, menemukan Angga sedang sibuk di dapur, dengan sentuhan terakhir pada masakannya. "Mas, wangi sekali," ujarku, suaraku sedikit tercekat oleh aroma yang menggoda. Angga menoleh, senyum manis tersungging di bibirnya saat melihatku."Sudah rapi rupanya, Tuan Putri," godanya, kemudian mengambil sedikit makanan dengan sendok. "Cobain deh, coba kurang apa?." Ia menyuapiku dengan lembut.Aku mengecapnya perlahan, membiarkan setiap rasa menari di lidah. "Hmm, Mas... ini enak sekali! Tidak kurang apa-apa, pas banget. Sumpah, ini paling enak yang pernah aku makan. Bagaimana bisa kamu memasak seenak ini?" Aku menatapnya penuh kekaguman.Angga terkekeh pelan, pipinya sedikit memerah. "Mama yang ngajarin. Kata Mama, walaupun laki-laki, harus bisa masak. Biar nanti bisa bahagiain istri," uc
Di Mobil Angga, Perjalanan Pulang Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak menikmati keheningan setelah hiruk pikuk kantor. Namun, pandanganku jatuh ke kakiku sendiri. Ada lecet kecil di bagian tumit, bekas gesekan sepatu kerja seharian. Aku meringis pelan saat menyentuhnya. "Kaki kamu kenapa, Put?" Suara berat Angga terdengar. Rupanya dia menyadari gerak-gerikku dari sudut matanya saat menyetir. Aku menoleh, tersenyum tipis. "Oh, ini, Mas. Kaki aku agak sedikit lecet. Tapi gapapa kok, lecet biasa aja." Ucapku Angga mengerem perlahan di lampu merah. Alih-alih melihat lampu, matanya justru menatap kakiku, lalu kembali ke wajahku dengan tatapan serius. "Bukan 'gapapa.' Lecet itu luka, dan luka itu harus diobati. Ambil P3K di dashboard depanmu, obati sekarang." Nada bicaranya tegas, tidak menerima penolakan. "nanti aja di rumah. Ini cuma lecet kecil, beneran deh. Lagian, aku enggak bisa mengobati sambil mobil jalan begini," kataku, berusaha mengali







