Share

BAB 2

Author: Icaica
last update Last Updated: 2025-11-04 07:08:03

Pagi itu, mentari menyinari Kota Jakarta, namun sinarnya tak mampu menembus kegelapan di dalam hati Angga Diningrat. Ia berdiri di balik jendela kantornya yang megah, di lantai tertinggi gedung perusahaan yang menjulang. Pemandangan kota yang luas, yang biasanya memberinya rasa kuasa, kini terasa seperti hamparan kebohongan yang harus ia tanggung.

Angga tidak melihat keindahan, ia hanya melihat labirin.

Tubuhnya kaku, pandangannya kosong menatap keramaian di bawah. Tadi malam, ia telah menyetujui sebuah hal gila, sebuah sandiwara mengerikan yang dirancang oleh keputusasaan—atau mungkin ambisi dingin—Angel.

"Menikah siri... pura-pura hamil... kebohongan terbesar yang pernah kubangun," desisnya tanpa suara.

Selama hidupnya, ia selalu memegang teguh prinsip, menjaga kehormatan nama Diningrat. Tetapi kini, ia terpaksa menjadi arsitek dari kebohongan yang akan menghancurkan fondasi pernikahannya, bahkan hidupnya. Ancaman Angel dengan pisau itu bukan hanya ancaman fisik; itu adalah penghinaan terhadap martabatnya, sebuah pemaksaan yang membuat setiap tarikan napasnya terasa berat.

Angga mengepalkan tangan, buku-buku jarinya memutih. Ia seorang pria berkuasa, pemilik segalanya, namun kini ia merasa tidak berdaya di hadapan air mata dan manipulasi istrinya. Ia ingin berteriak menolak sandiwara ini, namun bayangan darah segar di leher Angel, dan teror kehilangan istrinya, membungkamnya.

Aku benci ini. Aku benci menjadi bagian dari kepalsuan ini.

Kepalanya tertunduk lesu. Beban moral itu menghimpit jiwanya, lebih berat daripada seluruh tanggung jawab perusahaan.

"Ya Allah, tolong bantu aku," batin Angga, suaranya di dalam kepala terdengar seperti permohonan terakhir. Ia mengangkat pandangannya ke langit, mencari petunjuk yang tak kunjung datang.

"Aku paling tidak suka hal semacam ini. Aku tidak pernah mau menipu mereka... tolong arahkan aku, tunjukkan mana jalan yang baik, mana yang benar untukku."

Ia merasa sendirian di puncak dunia itu, terperangkap di antara cinta yang menuntut pengorbanan busuk, dan prinsip yang kini harus ia khianati. Pagi itu, Angga tahu, ia bukan lagi Angga Diningrat yang menjunjung kejujuran. Ia adalah pion dalam permainan Angel, dan ia baru saja kehilangan kendali atas takdirnya sendiri.

Keputusan itu terasa seperti besi panas yang membakar hatinya, dan ia harus segera memikirkan bagaimana cara menjalankan drama keji ini tanpa menghancurkan dirinya sepenuhnya.

*********************************************

Siang itu, udara di ruang VVIP terasa berat dan menyesakkan, meski pendingin ruangan bekerja optimal. Aku masih duduk di sisi ranjang, izin dari pekerjaanku, fokusku kini hanya pada satu-satunya orang yang kusayangi di dunia ini.

Suara monitor berdetak perlahan, dan kemudian, sebuah gerakan kecil. Mata Nenekku terbuka, sayu dan lelah.

"Putri..." Suara Nenek berbisik, sangat lemah, seperti embusan angin.

Aku segera menggenggam tangannya yang keriput. "Nenek! Syukurlah, Nenek sudah sadar."

Nenek berusaha tersenyum, tetapi wajahnya masih menyimpan bekas kesakitan. Pandangannya berkeliling ruangan mewah itu, lalu kembali kepadaku, dipenuhi kekhawatiran.

“Ayo kita pulang saja, Put” Nenek berucap lirih, nadanya dipenuhi rasa bersalah. “Rumah sakit ini pasti mahal sekali. Nenek tidak mau merepotkanmu, tidak mau membuatmu berutang.”

Ucapan polos itu seperti pukulan telak. Aku harus menahan gejolak air mata yang tiba-tiba mendesak keluar.

“Nek, Nenek tenang saja, ya. Ini semua sudah ada yang bayar, Nek.” Aku berusaha membuat suaraku terdengar yakin dan ceria, tetapi terasa serak. “Ada orang baik yang membantu. Dia yang membayar seluruh biaya rumah sakit Nenek.”

“Masyaallah…” Mata Nenek melebar, air mata haru menggenang di sudut matanya. “Kamu punya teman sebaik itu, Put? Padahal, biaya rumah sakit ini benar-benar mahal sekali, Nak. Temanmu itu pasti sangat kaya, ya?”

Aku hanya bisa memaksakan sebuah senyum palsu sambil mengangguk. Kaya, dan menuntut harga yang jauh lebih mahal dari uang, batinku pedih.

"Iya, Nek," kataku, menarik napas dalam-dalam untuk melanjutkan kebohongan yang sudah kubangun. "Tapi... setelah Nenek sembuh, aku harus mengikutinya bekerja selama satu tahun penuh. Jadi, Nenek akan sendirian di rumah. Tapi Nenek jangan khawatir, semua uang dan kebutuhan Nenek pasti akan kukirimkan setiap bulan."

Wajah Nenek sedikit muram mendengar aku harus pergi, namun segera diganti dengan raut penuh pengertian.

“Tidak apa-apa, Put,” ujar Nenek dengan keikhlasan yang membuatku hancur. “Temanmu itu sudah baik sekali mau membantu bayar rumah sakit Nenek. Masa iya Nenek melarang. Itu namanya tidak tahu terima kasih. Insya Allah, Nenek akan menjaga diri Nenek dengan baik.”

Mendengar ucapan Nenek,

mataku langsung berkaca-kaca hebat. Bukan karena haru semata, tetapi karena kontras menyakitkan antara ketulusan Nenek dan pengkhianatan yang terpaksa kulakukan demi beliau. Setiap kata-kata terima kasih dari Nenek terasa seperti seutas tali yang mengikat leherku. Aku tahu, Nenekku telah memberikan restu atas penjualanku, tanpa menyadari apa yang sebenarnya kuserahkan.

“Iya, Nek,” bisikku, meremas tangan beliau erat. “Pokoknya, Nenek harus tetap sehat, ya. Itu yang paling penting.”

“Iya,” balas Nenek, senyumnya kini benar-benar tulus dan hangat. Senyum itu menghangatkan jiwaku, sekaligus mengingatkanku akan beratnya harga yang harus kubayar untuk menjaga senyum itu tetap ada.

*********************************************

Siang berganti sore, dan beban di pundak Angga kian menghimpit. Rumah besar keluarga Diningrat terasa asing, penuh dengan ekspektasi tak terucapkan. Angga melangkah masuk sendirian, tanpa Angel.

Ia mencium tangan kedua orang tuanya. Kehangatan sentuhan mereka terasa ironis, mengingat kebohongan dingin yang kini ia pikul. Angga duduk di sofa beludru di sebelah ibunya, mencoba menyamarkan kegelisahan di matanya.

“Ada apa, Mah? Nyuruh Angga ke sini?” tanya Angga, suaranya terdengar lebih lelah dari yang ia sadari.

Ibu Sonya Diningrat, wanita elegan yang membawa beban nama keluarga, langsung menunjuk tumpukan foto di meja kopi.

“Nih, Mamah sudah pilihin wanita baik-baik, dari keluarga terpandang. Untuk istri keduamu. Biar kamu bisa punya anak, Angga.” Nada suaranya tegas, tanpa ruang untuk negosiasi.

Rasa frustrasi Angga melonjak. Pikirannya terasa seperti kuali yang mendidih.

"Mah, kenapa sih Mamah selalu memaksa? Istriku sampai stres tahu enggak, Mah! Semua orang punya kekurangan. Mungkin memang belum waktunya saja!" Ucap Angga sedikit meninggikan suara, sedikit kemarahan meletup, bukan hanya karena ibunya, tapi karena keadaannya sendiri.

“Mamah cuma mau yang terbaik buat kamu, Angga! Angel itu… Mamah tahu dia bukan anak baik-baik! Kenapa kamu nggak mau dengar Mamah?” Suara Ibu Sonya merendah, dipenuhi kekecewaan yang mendalam.

Angga terdiam, membeku di tempat.

Ya Tuhan. Keduanya… keduanya sama-sama memaksaku menikah lagi.

Di satu sisi, Angel menuntut pernikahan siri dan kebohongan besar. Di sisi lain, Mamahnya menuntut pernikahan kedua demi status dan keturunan. Keduanya bertujuan sama—Angga harus punya anak—tetapi jalan yang mereka tawarkan sungguh mencekik. Bohong pada keluarga, atau bohong pada diri sendiri?

Pikiran tentang tanggung jawab dua istri dan ketakutan akan ketidakadilan di akhirat memukulnya keras. Rasanya seperti ada bom waktu yang siap meledak di dalam kepalanya.

“Angga! Angga, dengerin Mamah nggak, sih?” Suara Ibu Sonya menyentaknya dari lamunan.

Saat ketegangan memuncak, Bapak Wahyu Diningrat, yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya tenang, membawa otoritas.

“Mah, sudah. Kasihan Angga kamu omeli terus. Biarkan dia mengambil jalannya sendiri.” Ucap Pak Wahyu

“Tapiii, Pahhh… Angga tuh…” Ibu Sonya mencoba membantah.

“SSTT! Mah.” Potongan tegas dari Bapak Wahyu membuat Ibu Sonya terdiam, meski raut wajahnya masih cemberut.

Angga kembali melamun, tetapi kali ini, otaknya bekerja cepat. Inti masalahnya adalah menikah lagi. Jika ia bisa menyelesaikan masalah ini tanpa kebohongan Angel, itu adalah jalan keluar terbaik baginya.

“Lebih baik aku kasih tahu Mamah saja. Intinya sama, aku tetap menikah lagi. Setidaknya, aku tidak perlu berbohong pada orang tuaku sendiri.” Batin Angga

Angga tahu, Mamahnya bisa pengertian jika didekati dengan cara yang benar. Sejak kecil, Ibu Sonya adalah tempat Angga berdiskusi. Ini adalah masalah terbesar dalam hidupnya, dan Angga butuh sekutu.

Ia menarik napas panjang, mengambil keputusan.

“Mah… ikut Angga sebentar, yuk,” ucap Angga lembut, nadanya berubah dari marah menjadi memohon.

“Mau ke mana?” Ibu Sonya masih kesal.

“Ayo Ikut Angga dulu sebentar Angga mau jelaskan sesuatu.” Angga berdiri dan meraih lengan ibunya, menariknya perlahan. Akhirnya, Ibu Sonya mengalah.

Angga membawa ibunya ke kamar Angga dan menutup pintu, menciptakan ruang pribadi di tengah rumah yang penuh mata.

“Mah, Mamah beneran mau Angga nikah lagi?” tanyanya pelan dan hati-hati.

“Iya, Angga…”

Angga memotongnya cepat, membiarkan bom itu jatuh.

“Aku… ada niat menikah lagi.”

Mata Ibu Sonya langsung berbinar, ekspresinya berubah drastis menjadi penuh semangat.

“Serius kamu?!”

“Iya, serius.” Angga mengangguk, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan.

“Tapi, Angga harus jelaskan semuanya dulu. Dan Mamah harus JANJI ke Angga, Mamah nggak boleh kasih tahu Angel kalau Mamah tahu soal ini.” Ucap Angga

“Iya, iya! Mamah janji, Angga!” Ibu Sonya berjanji dengan sungguh-sungguh.

Angga menghela napas lega, rasa lelah luar biasa menyelimutinya.

"Sebenarnya… Angel sendiri yang mau Angga menikah lagi. Tapi nikah siri, dengan orang pilihan dia. Nanti, kalau dari pernikahan kedua Angga dikasih rezeki anak, anak itu akan diakui sebagai anak Angga dan Angel. Angel akan berbohong, pura-pura hamil di depan Mamah dan Papah." Ucap Angga menjelaskan

Angga menatap ibunya dengan tatapan memohon, matanya memancarkan keputusasaan.

"Dia lakukan itu karena dia tidak ingin bercerai denganku. Jadi, Angga mohon sama Mamah, bantu Angga ya. Pura-pura nggak tahu. Tolong jaga rahasia ini." Ucap Angga

Ibu Sonya terdiam. Keterkejutannya begitu besar hingga ia tak bisa berkata-kata. Angel mau berbohong sebesar ini? Ia menatap wajah anaknya yang pucat, memohon, dan terpukul. Naluri keibuan mengalahkan kemarahannya. Angga yang dari kecil diajarkan kejujuran, kini harus memikul kebohongan sebesar ini.

“Mungkin kali ini aku setujui. Setidaknya dia bisa menikah lagi dan punya keturunan. Tapi, siapa yang dia nikahi? Jangan-jangan modelnya sama seperti Angel? Tidak, itu tidak bisa dibiarkan.” Batin Bu Sonya

Ibu Sonya kembali pada mode kontrolnya. “Kamu menikah dengan siapa, Angga?” tanyanya ingin tahu, nadanya berubah menjadi cemas.

“Aku juga belum tahu, Mah. Nanti setelah aku tahu, akan kukenalkan ke Mamah diam-diam, tanpa Angel tahu. Biar Mamah bisa menilai orangnya. Kalau Mamah nggak setuju, Angga akan berusaha bujuk Angel cari yang lain… oke?” Angga mencoba menenangkan.

"Janji, ya?" ucap Ibu Sonya, sorot matanya penuh harapan sekaligus kekhawatiran.

“Iya, Mah.” Angga memeluk ibunya erat. Dalam pelukan itu, ia merasa bebannya terbagi dua. Ia telah mengkhianati pernikahannya, tetapi setidaknya, ia tidak mengkhianati ibunya. Langkah terberat telah diambil, dan kini ia harus menghadapi konsekuensinya.

Bersambung…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 28

    ​Di sore hari yang tenang, Pak Wahyu tiba di rumahnya. Senyum lebar tak lepas dari wajahnya, ia masih geli mengingat tingkah laku putranya dan reaksi polos menantunya, Putri.​Bu Sonya, yang sedang duduk di teras, segera menghampiri suaminya. "Papah! Kok senyum-senyum sendiri begitu? Ada apa? Mimpi indah di jalan, ya?" tanyanya sambil menyeka keringat di dahinya.​Pak Wahyu tertawa kecil sambil melepas jasnya. "Bukan mimpi, Mah. Itu loh, anakmu itu. Angga. Semenjak ada Putri di dekatnya, auranya beda banget. Rasanya kantor jadi lebih hidup."​Mata Bu Sonya langsung berbinar. "Oh ya? Papah habis bertemu mereka di kantor?"​"Iya, tadi Papah ke kantor. Awalnya, asisten Papah bilang Angga membawa sepupunya untuk bekerja di bagian Keuangan. Papah kan bingung, Angga tidak pernah punya sepupu sedekat itu. Tapi saat tahu namanya ternyata Putri, yah Papah langsung samperin dong! Kasih semangat untuk dia."​"Putri! Kerja di kantor kita?" Bu Sonya benar-benar terkejut, suaranya naik satu oktaf.

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 27

    Kami tiba di sebuah restoran mewah yang terletak di dalam mal, tepat di samping gedung perusahaan. Suasananya elegan, dengan alunan musik jazz lembut yang menambah kesan eksklusif. Setelah memesan hidangan terbaik dari rekomendasi pelayan, kami menunggu.​"Put," Pak Wahyu memulai, menatapku dengan tatapan hangat, "bagaimana hari-harimu di kantor? Ada kesan apa sejauh ini?"​Aku tersenyum tulus. "Aku masih banyak sekali belajar, Pah. Tapi semua staf di sana baik-baik dan sangat membantuku. Aku merasa sangat... diterima. Pokoknya aku senang sekali."​Pak Wahyu mengangguk, sorot matanya menunjukkan kelegaan. "Syukurlah kalau kamu senang. Tapi, Papah masih kepikiran. Apa kamu tidak kesusahan langsung masuk ke bagian Keuangan? Itu kan tekanan kerjanya tinggi, Put. Kalau kamu merasa terlalu melelahkan, jangan sungkan bilang. Papah bisa atur posisi kamu. Mau jadi Manajer? Atau Direktur? Mau Papah siapkan kursi CEO saja biar kamu lebih nyaman? Atau..."​"Gak usah, Pah," potongku cepat, sed

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 26

    Angel berada di sebuah restoran all-day dining mewah di hotel tempat ia dan Kevin menginap di Singapura. Cahaya lembut masuk dari jendela besar, menyoroti senyum ceria Angel saat Kevin bercerita. Mereka duduk berhadapan, menikmati makan siang yang ringan.​Dari kejauhan, di sudut lounge yang lebih tenang, Sis Linda, teman arisan Bu Sonya, memicingkan mata sambil menyesap kopi.​“Ini bukannya menantunya Sis Sonya, si Angel itu?” Batin Sis Linda, tatapannya lekat pada pasangan itu. Angel mengenakan dress musim panas yang anggun, dan pria di hadapannya – Kevin – memegang tangannya di atas meja sambil tertawa.​“Ya Tuhan, tapi dia sama siapa? Ko mesra sekali! Mereka saling sentuh seperti sepasang kekasih! Itu sepertinya bukan Angga, deh. Angga kan tinggi besar, yang ini lebih... atletis dan terawat rapi,” Batin Sis Linda, syok campur penasaran.Instingnya sebagai seorang anggota arisan kelas atas langsung beraksi. Informasi ini emas.​Dengan gerakan cepat namun terselubung, Sis Linda men

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 25

    ​Pukul 04.00 subuh, alarm di ponsel Angga berdering nyaring, memecah keheningan kamar.​Angga Menghela napas, mematikan alarm, lalu mencium puncak kepalaku dengan lembut "Sayang... Bangun, yuk. Waktunya mandi sebelum Subuh." Ucap Angga.​Aku hanya bergumam dan menarik selimut hingga menutupi wajah.​ "Emmm, bentar lagi, Mas. Lima menit... please..." ucapku Suara serak, merengek​Angga Tertawa kecil, menarik sedikit selimutku "Tidak ada bentar lagi. Ayo bangun, Sayangku." Ucap Angga Dicubitnya hidungku pelan, membuatku refleks mengaduh.​Aku Membuka mata sebentar, lalu memejamkan lagi"Aduh! Sakit, Mas. Aku masih capek banget, sungguh. Kamu duluan aja, nanti aku menyusul." ucapku.​Angga Terdengar geli "Eh, kan yang harusnya kecapean itu aku! Gimana sih!" Ucap Angga tersenyum kecil​Mendengar godaan itu, mataku langsung terbuka lebar. Wajahnya yang menyebalkan itu berada tepat di depanku."Enak aja kamu, ya, kalau ngomong! Sembarangan!" Ucapku Mendorong mukanya pelan, dengan nada kes

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 24 Malam pertama

    Setelah ritual mandi yang menyegarkan, aku keluar dari kamar mandi. Aroma sedap langsung menyeruak, menggelitik hidung dan membangunkan selera makanku yang baru saja tertidur. Aku mengikuti jejak aroma itu, menemukan Angga sedang sibuk di dapur, dengan sentuhan terakhir pada masakannya. ​"Mas, wangi sekali," ujarku, suaraku sedikit tercekat oleh aroma yang menggoda. Angga menoleh, senyum manis tersungging di bibirnya saat melihatku.​"Sudah rapi rupanya, Tuan Putri," godanya, kemudian mengambil sedikit makanan dengan sendok. "Cobain deh, coba kurang apa?." Ia menyuapiku dengan lembut.​Aku mengecapnya perlahan, membiarkan setiap rasa menari di lidah. "Hmm, Mas... ini enak sekali! Tidak kurang apa-apa, pas banget. Sumpah, ini paling enak yang pernah aku makan. Bagaimana bisa kamu memasak seenak ini?" Aku menatapnya penuh kekaguman.​Angga terkekeh pelan, pipinya sedikit memerah. "Mama yang ngajarin. Kata Mama, walaupun laki-laki, harus bisa masak. Biar nanti bisa bahagiain istri," uc

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 23

    Di Mobil Angga, Perjalanan Pulang Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak menikmati keheningan setelah hiruk pikuk kantor. Namun, pandanganku jatuh ke kakiku sendiri. Ada lecet kecil di bagian tumit, bekas gesekan sepatu kerja seharian. Aku meringis pelan saat menyentuhnya. "Kaki kamu kenapa, Put?" Suara berat Angga terdengar. Rupanya dia menyadari gerak-gerikku dari sudut matanya saat menyetir. Aku menoleh, tersenyum tipis. "Oh, ini, Mas. Kaki aku agak sedikit lecet. Tapi gapapa kok, lecet biasa aja." Ucapku Angga mengerem perlahan di lampu merah. Alih-alih melihat lampu, matanya justru menatap kakiku, lalu kembali ke wajahku dengan tatapan serius. "Bukan 'gapapa.' Lecet itu luka, dan luka itu harus diobati. Ambil P3K di dashboard depanmu, obati sekarang." Nada bicaranya tegas, tidak menerima penolakan. "nanti aja di rumah. Ini cuma lecet kecil, beneran deh. Lagian, aku enggak bisa mengobati sambil mobil jalan begini," kataku, berusaha mengali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status