แชร์

Bab 27

ผู้เขียน: Icaica
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-01 00:10:59

Kami tiba di sebuah restoran mewah yang terletak di dalam mal, tepat di samping gedung perusahaan. Suasananya elegan, dengan alunan musik jazz lembut yang menambah kesan eksklusif. Setelah memesan hidangan terbaik dari rekomendasi pelayan, kami menunggu.

​"Put," Pak Wahyu memulai, menatapku dengan tatapan hangat,

"bagaimana hari-harimu di kantor? Ada kesan apa sejauh ini?"

​Aku tersenyum tulus.

"Aku masih banyak sekali belajar, Pah. Tapi semua staf di sana baik-baik dan sangat membantuku. Aku
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 30

    Waktu menunjukkan pukul 11.35. Fokusku mulai terpecah antara angka-angka di layar monitor dan perut yang mulai keroncongan."Put, gimana? Sudah ketemu selisihnya?" Citra, rekan kerjaku, melirik ke arah layarku.Aku mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah, sudah balance, Cit. Ternyata aku salah input di bagian debet tadi. Makasih banyak ya, kamu sabar banget ngajarin aku."Citra tertawa kecil. "Santai saja, Put. Namanya juga baru—"Ucapan Citra terputus. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar. Sosok wanita anggun dengan setelan blus sutra masuk dengan wajah berbinar. Di tangannya ada beberapa tas kertas berisi camilan premium."Putriii! Sayang!" seru Bu Sonya riang.Aku terperanjat, hampir menjatuhkan pulpenku. "Ma-Mamah?" ucapku setengah berbisik. Seluruh mata di ruangan keuangan kini tertuju pada kami."Kamu ini yahh. Kenapa nggak bilang Mamah kalau sudah mulai kerja di sini?" Bu Sonya menghampiriku, mengabaikan tatapan heran staf lain. "Mamah baru tahu dari Papah. Tega ya rahasia-rah

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 29

    Fajar baru saja menyingsing. Aroma sisa sajadah yang sejuk masih terasa saat aku menyelesaikan salam terakhir. Mas Angga berbalik, menatapku dengan binar mata yang sulit diartikan. Saat aku meraih tangannya untuk mencium punggung tangannya, ia tidak melepaskannya. Sebaliknya, kedua tangannya yang hangat kini membingkai wajahku. "Put..." suaranya rendah, sedikit serak khas bangun tidur. "Kamu jangan terlalu keras sama diri sendiri di kantor nanti. Ingat, fokusmu itu belajar, bukan banting tulang cari nafkah." Aku tersenyum tipis, merasakan kehangatan jemarinya di pipiku. "Iya, Mas. Aku cuma mau bantu sedikit..." "Aku nggak butuh bantuan materi, Put," potongnya lembut sambil menarikku ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan dagunya di bahuku, napasnya terasa hangat. "Aku cuma butuh kamu di sini. Seperti ini. Kadang aku sedih kalau lihat kamu terlalu sibuk sendiri sampai lupa kalau ada aku di dekatmu." Hatiku mencelos. Rasa bersalah menghantam dada. Aku melepaskan pelukan perlahan, menat

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 28

    ​Di sore hari yang tenang, Pak Wahyu tiba di rumahnya. Senyum lebar tak lepas dari wajahnya, ia masih geli mengingat tingkah laku putranya dan reaksi polos menantunya, Putri.​Bu Sonya, yang sedang duduk di teras, segera menghampiri suaminya. "Papah! Kok senyum-senyum sendiri begitu? Ada apa? Mimpi indah di jalan, ya?" tanyanya sambil menyeka keringat di dahinya.​Pak Wahyu tertawa kecil sambil melepas jasnya. "Bukan mimpi, Mah. Itu loh, anakmu itu. Angga. Semenjak ada Putri di dekatnya, auranya beda banget. Rasanya kantor jadi lebih hidup."​Mata Bu Sonya langsung berbinar. "Oh ya? Papah habis bertemu mereka di kantor?"​"Iya, tadi Papah ke kantor. Awalnya, asisten Papah bilang Angga membawa sepupunya untuk bekerja di bagian Keuangan. Papah kan bingung, Angga tidak pernah punya sepupu sedekat itu. Tapi saat tahu namanya ternyata Putri, yah Papah langsung samperin dong! Kasih semangat untuk dia."​"Putri! Kerja di kantor kita?" Bu Sonya benar-benar terkejut, suaranya naik satu oktaf.

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 27

    Kami tiba di sebuah restoran mewah yang terletak di dalam mal, tepat di samping gedung perusahaan. Suasananya elegan, dengan alunan musik jazz lembut yang menambah kesan eksklusif. Setelah memesan hidangan terbaik dari rekomendasi pelayan, kami menunggu.​"Put," Pak Wahyu memulai, menatapku dengan tatapan hangat, "bagaimana hari-harimu di kantor? Ada kesan apa sejauh ini?"​Aku tersenyum tulus. "Aku masih banyak sekali belajar, Pah. Tapi semua staf di sana baik-baik dan sangat membantuku. Aku merasa sangat... diterima. Pokoknya aku senang sekali."​Pak Wahyu mengangguk, sorot matanya menunjukkan kelegaan. "Syukurlah kalau kamu senang. Tapi, Papah masih kepikiran. Apa kamu tidak kesusahan langsung masuk ke bagian Keuangan? Itu kan tekanan kerjanya tinggi, Put. Kalau kamu merasa terlalu melelahkan, jangan sungkan bilang. Papah bisa atur posisi kamu. Mau jadi Manajer? Atau Direktur? Mau Papah siapkan kursi CEO saja biar kamu lebih nyaman? Atau..."​"Gak usah, Pah," potongku cepat, sed

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 26

    Angel berada di sebuah restoran all-day dining mewah di hotel tempat ia dan Kevin menginap di Singapura. Cahaya lembut masuk dari jendela besar, menyoroti senyum ceria Angel saat Kevin bercerita. Mereka duduk berhadapan, menikmati makan siang yang ringan.​Dari kejauhan, di sudut lounge yang lebih tenang, Sis Linda, teman arisan Bu Sonya, memicingkan mata sambil menyesap kopi.​“Ini bukannya menantunya Sis Sonya, si Angel itu?” Batin Sis Linda, tatapannya lekat pada pasangan itu. Angel mengenakan dress musim panas yang anggun, dan pria di hadapannya – Kevin – memegang tangannya di atas meja sambil tertawa.​“Ya Tuhan, tapi dia sama siapa? Ko mesra sekali! Mereka saling sentuh seperti sepasang kekasih! Itu sepertinya bukan Angga, deh. Angga kan tinggi besar, yang ini lebih... atletis dan terawat rapi,” Batin Sis Linda, syok campur penasaran.Instingnya sebagai seorang anggota arisan kelas atas langsung beraksi. Informasi ini emas.​Dengan gerakan cepat namun terselubung, Sis Linda men

  • Terpaksa Menjadi Istri Kedua, Ternyata Suamiku Mencintaiku   Bab 25

    ​Pukul 04.00 subuh, alarm di ponsel Angga berdering nyaring, memecah keheningan kamar.​Angga Menghela napas, mematikan alarm, lalu mencium puncak kepalaku dengan lembut "Sayang... Bangun, yuk. Waktunya mandi sebelum Subuh." Ucap Angga.​Aku hanya bergumam dan menarik selimut hingga menutupi wajah.​ "Emmm, bentar lagi, Mas. Lima menit... please..." ucapku Suara serak, merengek​Angga Tertawa kecil, menarik sedikit selimutku "Tidak ada bentar lagi. Ayo bangun, Sayangku." Ucap Angga Dicubitnya hidungku pelan, membuatku refleks mengaduh.​Aku Membuka mata sebentar, lalu memejamkan lagi"Aduh! Sakit, Mas. Aku masih capek banget, sungguh. Kamu duluan aja, nanti aku menyusul." ucapku.​Angga Terdengar geli "Eh, kan yang harusnya kecapean itu aku! Gimana sih!" Ucap Angga tersenyum kecil​Mendengar godaan itu, mataku langsung terbuka lebar. Wajahnya yang menyebalkan itu berada tepat di depanku."Enak aja kamu, ya, kalau ngomong! Sembarangan!" Ucapku Mendorong mukanya pelan, dengan nada kes

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status