--Happy Reading--
Hampir setengah jam aku membersihkan diri, rasa letih dan lelah seharian ini seolah sirna berganti rasa segar yang menguyur rambut dan tubuhku. Aku edarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar, mencari keberadaan mas Adam. Ternyata dia sudah tidak ada, aku pun bisa bernapas dengan lega untuk sementara ini. Aku hendak mengganti pakaianku yang sudah basah tadi, mencoba mencari keberadaan koperku di seluruh pojok ruangan kamar. “Di mana koperku?” Plak! Aku memukul pelan keningku dengan telapak tangan. “Astagfirulloh, aku lupa.” Aku baru sadar, jika koper kecil milikku masih berada di dalam bagasi mobil juragan Zein. Koper yang hanya berisi beberapa potong pakaian beserta dalamannya yang aku perlukan dan beberapa buku bacaan yang aku gemari. Tidak banyak hal yang aku pikirkan, setelah menikah siang tadi langsung diajak ke rumah ini. Aku pikir, setelah menikah tadi, kami akan bermalam dan tidur di kamar kak Asma yang sudah dihias ala kamar pengantin. Namun, kenyataan yang aku jalani harus ikut ke rumah ini juga tanpa adanya bermalam di rumah ayah dan ibu. Jadi, aku hanya bisa membawa barang-barang milikku seadanya saja dengan satu koper berukuran kecil yang biasa aku bawa ke tempat kost. “Kenapa aku begitu ceroboh? Bisa-bisanya melupakan hal penting seperti itu,” rutukku pada diri sendiri. Aku panik dan bingung, apa yang mesti aku lakukan sekarang? Hanya handuk kimono yang aku kenakan tanpa pakaian dalam dan baju tidur. Tidak mungkin aku berani ke luar kamar ini dengan hanya memakai handuk. Arrrgh… Aku berteriak frustasi, sambil mengacak rambutku yang masih sedikit basah, karena aku hanya keringkan dengan handuk kecil saja. Aku tidak mau menggunakan hair dryer milik mas Adam, takut salah dan malah rusak nantinya. Seumur-umur, aku tidak pernah mengeringkan rambutku pakai alat itu. Aku takut rambutku kering dan pecah-pecah. Lebih baik alami dengan pakai handuk kecil seperti ini pun, lama-lama akan kering. Aku mengambil salah satu sisir yang berjejer di meja rias, untuk menyisir rambutku yang sedikit basah dan kusut. “Aku pinjam sisirnya sebentar ya, Mas,” ucapku lirih. Meskipun mas Adam tidak ada di kamar ini, sebagai manusia yang memiliki adab sopan santun, aku harus tetap meminta izinnya. Konyol memang, tapi itulah sifatku yang sudah tertanam dari kecil. Suara ketukkan pintu menyapa indra pendengaranku, kala tanganku sedang bergerak menyisir rambut. Aku pun segera menghentikan kegiatanku dengan menyembunyikan sisir yang aku gunakan di belakang punggungku. Aku takut, dikira tidak sopan oleh pemilik kamar ini, disaat berani-beraninya menggunakan barang milik orang lain. Pintu kamar yang tidak terkunci sebelumnya pun terbuka lebar. Nampak, dua pelayan wanita yang berdiri di belakang asisten mas Adam, yang bernama asisten Bisma. Kedua pelayan itu, aku masih ingat betul dengan nama mereka, Bik Wati dan Bik Ipah. Mereka membawa banyak pakaian. Aish, bukan pakaian. Lebih tepatnya gaun indah yang berjejer menggantung dan beberapa pakaian dalam. Selain itu, ada kotak makeup yang dijinjing oleh salah satu pelayan yang bernama Wati. Aku hanya bergeming, sampai-sampai melongo dibuatnya. Begitu banyak gaun indah yang berjejer menggantung dengan beraneka warna, sangat bagus dan pasti harganya sangat mahal, menurut pikiranku. Seumur hidupku, aku tidak pernah membayangkan bisa memakai gaun secantik dan seindah itu. Jangankan memakainya, menyentuhnya pun aku tidak berani. “Selamat malam, Nona Muda! Silahkan dipilih, gaun mana yang Nona Muda sukai.” Suara asisten Bisma mengejutkanku, membuatku tersadar seketika. “Eeeh… iya,” gugupku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dengan menelan saliva berkali-kali. Rasa tidak percaya, jika aku akan mengenakan gaun secantik itu. Asisten Bisma tersenyum mengembang, lalu berpamitan. “Saya undur diri, Nona Muda! Setelah mengenakan gaun, secepatnya Nona Muda ditunggu oleh Tuan Besar dan Tuan Muda di ruang makan keluarga. Saya akan menunggu di luar.” Aku hanya bisa mengangguk kecil dengan tersenyum meringis. Perutku memang sudah keroncongan, sedari siang tadi belum diisi apa-apa. Terakhir aku makan, setelah acara akad nikah selesai, itu pun hanya sesuap nasi tumpeng ayam bakakak, ritual adat desa kami dalam setiap pernikahan yang harus selalu ada. Aku kehilangan selera makanku dengan pernikahan terpaksa ini. Masih bagus aku kuat berdiri hingga saat ini, tidak pingsan karena menahan lapar diperut. Perutku kelaparan, tapi mulutku enggan untuk dimasuki makanan. Asisten Bisma meninggalkan kami bertiga, lalu menutup pintu kamar yang dilewatinya. “Jangan lupa!” pesannya, setelah benar-benar pintu kamar tertutup rapat. Aku tersenyum kecut, seperti gadis kecil saja selalu diingatkan. Bik Wati dan Bik Ipah, yang memang sudah mengenalku beberapa saat yang lalu, terlihat sangat santun dan ramah terhadapku. “Ayo, pilih gaun yang Nona Muda sukai! Sepertinya, semua sangat pas dan cocok dengan ukuran tubuh Nona Muda,” ujar Bik Ipah. “Ya, Nona Muda! Pasti, Tuan Muda akan sangat terpesona dengan kecantikan Nona Muda,” ucap Wati dengan wajah berbinar. “A-apa? Terpesona? Maksud Bik Wati?” tanyaku ingin memperjelas apa yang baru saja diucapkan oleh salah satu pelayanku tadi. Bik Ipah melirik ke arah Bik Wati, dia pun menyenggol lengan Bik Wati dengan siku tangannya. “M-maaf, saya lupa. Saya lupa, kalau Tuan Muda tidak bisa melihat,” jelas Bik Wati takut jika aku salah paham. “Ooh…” ada nada kecewa dari bibirku tanpa sadar. Tanganku terulur ragu untuk menyentuh beberapa gaun yang indah itu, namun aku berusaha memberanikan diri. “Lembutnya,” ucapku dalam hati, ketika jemari ini meremas bahan gaun tersebut. Tanpa sadar, bibirku menerbitkan senyuman, begitu terbuai dengan kelembutan gaun yang cantik dan indah itu. “Itu sangat bagus, Nona Muda, jika gaun ini Nona Muda pilih. Apakah Nona Muda ingin segera memakainya?” tanya Bik Wati saat menangkap gerak-gerikku. Aku menggeleng pelan, terlalu malu untuk memakainya. Aku belum terbiasa dengan gaun mahal seperti ini. Namun, aku juga tidak mungkin akan mengenakan handuk kimono ini untuk makan malam bersama juragan Zein dan mas Adam. Tapi, aku memiliki pakaianku sendiri di koper yang ada di bagasi mobil juragan Zein. “Aku ingin memakai pakaianku sendiri, Bik. Tapi, pakaianku ada di dalam koper. Koper itu ada di bagasi mobil Juragan Zein. Apa bisa Bik Ipah atau Bik Wati mengambilkannya untukku?” “Koper Nona Muda sudah disimpan oleh Tuan Besar, kami tidak bisa mengambil sembarangan.” Deg! Jantungku tersentak kaget, untuk apa koper milikku dibawa oleh juragan Zein? “Pakailah gaun ini dulu, Nona Muda! Percayalah, suatu hari nanti koper Nona Muda akan dikembalikan,” ucap Bik Ipah dengan suara lembut dan mengusap pelan bahuku. Dengan terpaksa, aku pun mengangguk patuh dan mengenakan salah satu gaun yang sesuai warna kesukaanku, merah muda. “Tolong berbalik, aku malu kalau dilihat orang lain saat berganti baju,” pintaku dengan santun. Tanpa membantah, kedua pelayan itu pun berbalik badan untuk membiarkanku berganti baju. Gaun itu sangat pas dan cocok di tubuhku. Gaun merah muda, dengan lengan pendek, panjang selutut kaki dan mengikuti lekuk tubuhku yang kata orang sih ideal. Sedangkan menurutku sendiri, tubuhku ini terlalu kurus dan membuatku kurang percaya diri dengan bentuk tubuhku. “Sudah,” ucapku dengan wajah berseri. “Woow… sangat cantik,” puji Bik Wati dan Bik Ipah hampir bersamaan, saat mereka berbalik badan melihatku sudah memakai gaun yang aku pilih sendiri. Aku tersipu malu mendengar pujian kedua pelayan itu, hingga aku pun jadi salah tingkah dibuatnya. “Kami akan mendandani wajah, Nona Muda,” ucap Bik Ipah sambil membuka kotak makeup yang begitu lengkap dengan aneka bedak, lipstick, pembesih wajah, pinsil alis, mascara dan masih banyak yang aku pun tidak hapal dengan benada-benda asing tersebut. Aku tipikal gadis yang tidak suka dandan menor, lebih ke natural dan makeup tipis-tipis. “Jangan tebal-tebal ya, Bik! Aku tidak suka,” pintaku, saat wajahku mulai dipoles. “Baik, Nona Muda! Jangan khawatir!” sahut Bik Ipah dengan mengacungkan jempolnya. “Nona Muda pada dasarnya sudah cantik, jadi dipoles tipis pun akan sangat terlihat cantik,” timpal Bik Wati. Aku semakin tersipu malu dengan pujian mereka, hingga lupa dengan pesan asisten Bisma tadi. “Oh iya, aku sudah ditunggu Juragan Zein dan Mas Adam,” ucapku, membuat kedua pelayan itu pun juga tersadar dan kembali focus mendandani wajahku. *** Aku berjalan mengikuti langkah kaki asisten Bisma menuju ruang makan keluarga. Dengan wajah tertunduk dan kedua tangan yang saling bertautan, menahan degup jantung yang terus berdebar. Ada rasa gugup, takut dan panik menjadi satu, ketika akan berhadapan satu meja dengan pemilik rumah ini. Keringat dingin pun mengucur deras, saat langkah kaki ini tepat berdiri di hadapan mereka. “Cantiknya, cucu mantuku,” puji juragan Zein, memindai penampilanku. Aku pun meringis, semakin deras peluhku mengalir. Sementara mas Adam, terlihat menikmati makanan yang tersaji dipiringnya. Asisten Bisma menarik kursi di samping kakek Zein, yang menghadap ke arah mas Adam, kemudian mempersilahkanku untuk duduk. Aku pun patuh dan lekas duduk. “Terima kasih, Tuan,” ucapku. “Jangan panggil Tuan, Nona Muda! Panggil saja saya, Asisten Bisma,” ujar asisten Bisma. “A-a…” “Tidak apa, Bisma. Maklumin saja, namanya juga gadis kecil.” Mas Adam menyela ucapanku, yang membuatku sedikit jengkel. “Huuh… menyebalkan sekali!” grutuku menahan kesal di hati. Kalau saja tidak ada juragan Zein di sini, ingin aku sumpal mulutnya pakai piring yang ada di hadapanku ini. Lumpuh dan buta saja sangat menjengkelkan, apalagi kalau normal? Bisa-bisa habis aku ditindasnya semena-mena. --To be Continue----Happy Reading--POV Autor.Di kediaman Arumi.Arumi dan Satria sedang menikmati pesta kemenangan mereka, bersama beberapa orang yang telah ikut membantunya, hingga terwujud apa yang keduanya inginkan.Ya, walaupun lebih besar keinginan Arumi untuk menguasai harta peninggalan suaminya itu. Namun, Satria pun ikut andil untuk mengabulkan semua rencana licik sang ibu.Rencana ibu dan anak itu pun tidak akan pernah tercapai, tanpa bantuan beberapa orang yang ikut terlibat dalam rencana busuknya. Arumi pun berani membayar mahal mereka semua, dengan memberikan mereka bonus yang sangat besar atas usaha yang mereka lakukan.“Mari bersulang!” seru Arumi dan Satria serta beberapa orang yang sedang duduk di sofa ruang tamu.Masing-masing mereka, memegang satu gelas berisi minuman beralkohol lalu saling membenturkan gelas tersebut secara serempak, satu dengan yang lainnya.“Triing!” bunyi suara gelas yang saling beradu.“Minumlah sampai puas, kalian! Hari in
--Happy Reading--Aku dan kak Asma buru-buru mengusap air mata kami, sesaat melihat siapa yang datang.“Ibu…” gumamku dan kak Asma hampir bersamaan.“Katanya kamu mau tidur, Anna? Kenapa malah menangis?” tanya ibu menatapku. “Lalu, kamu juga, Asma. Kenapa kamu malah mengganggu Adikmu di sini, dan membuat Adikmu malah menangis bersamamu?” tanya ibu menoleh menatap kak Asma.“Ini, aku mau tidur kok, Bu.” Aku lekas meraih selimut tidurku yang biasa aku kenakan saat tidur bersama mas Adam.“I-itu… a-anu, Asma hanya ingin melihat kamar Adik Anna ajah, Bu.” Kak Asma nampak gugup, terdengar dari suaranya yang terbata.“Oh…” ucap ibu singkat, seraya menyapu seluruh ruangan kamarku. “Kamar ini sangat besar dan lengkap juga nyaman. Ibu sangat bahagia, kamu memiliki semua ini, Anna. Ibu pun tidak terlalu menyesal, karena sudah memaksa kamu untuk menikah, malam itu.” Air mata ibu tidak kuasa menetes di pipinya.Aku yang teringat masa itu, langsung bangkit dan memeluk
--Happy Reading--Aku masih terpaku, sesaat mendengar ucapan kak Asma, meski pelan. Kuperhatikan gerak-gerik kak Asma yang terlihat bergumam pelan, bibirnya. Apakah mungkin, kak Asma sedang menyesali semua yang telah ia lakukan, dulu? Ataukah kak Asma ingin meminta balik, apa yang menjadi haknya, dulu? Aku sungguh tidak rela, jika semua itu terjadi.Ya, kuakui memang dulu aku terpaksa menerima pernikahan ini. Namun, setelah mas Adam menaburiku dengan cinta dan kasih sayangnya yang tulus, aku tidak akan sanggup untuk melepaskannya.“Kak Asma….” Panggilku dengan suara lirih. Aku pun menyetuh punggungnya.“Eh, iya, Dik!” kejut kak Asma.Rupanya, Kak Asma begitu terkejut dengan suara seruanku. Padahal, suaraku tidak keras sama sekali. Akan tetapi, kak Asma seperti sangat tersentak begitu namanya aku panggil.“Kak Asma melamun, bukan? Kok, kaget gitu?” tanyaku mengernyit heran.“Nggak, Dik. Kakak hanya…” Bola mata Kak Asma seperti sedang mencari sesuatu.
0--Happy Reading--Sepanjang malam, mataku nyaris tidak lagi bisa terpejam. Aku hanya menatap wajah pulas dan lelah ibu dan kak Asma yang masih bergelut dalam mimpinya.Bukannya aku tidak ingin tidur kembali, setelah bermimpi buruk. Namun, memang pikiranku saja yang terpecah menjadi dua. Tubuh dan ragaku ada di kamar ini, sementara hati dan pikiranku ada bersama mas Adam.Sepertinya, aku sudah terbiasa tidur dalam dekapan hangat selimut hidupku. Yaitu tubuh mas Adam yang keharumannya, selalu menenangkan pikiranku. Aku benar-benar candu, tak bisa tidur tanpa belaian tangannya, ciuman hangatnya dan cumbuan mesranya.Aku lirik mesin waktu yang ada di ponselku, sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aku pun segera membersihkan diri untuk berwudhu. Menunaikan sholat wajib shubuh, dua rakaat. Setelah itu, segera kupanjatkan doa terbaik untuk suamiku dan dapat mengatasi semua masalah yang sedang menimpanya.Mas Adam bukan orang yang mudah menyerah untuk memperjuangkan sesua
--Happy Reading--POV Annaya Ahmad.Pesta resepsi pernikahanku dengan Mas Adam pun terancam dibubarkan. Asisten Bisma pun segera mengerahkan semua anak buahnya untuk mengatasi kericuhan dan kekacauan yang terjadi.Tak hentinya aku menangisi Mas Adam yang sedang dibawa ke kantor polisi, memaksa pula ibu dan kak Asma untuk mengantarku segera menyusul.“Aku tidak perduli, Bu, Kak. Yang aku perdulikan sekarang, bagaimana kondisi dan perasaan Mas Adam? Dari pada kita di sini, lebih baik kita ikut menyusul Ayah dan Kakek Zein,” desakku terus memaksa. Karena ibu dan kakakku terus menahan, agar aku tidak pergi menyusulnya.“Apa kamu tidak dengar apa kata Ayahmu tadi, Nak?” tanya ibuku lirih. Ia pun nampak bersedih dengan apa yang sudah terjadi. “Ya, Dik! Kamu harus turuti perintah Ayah. Lebih baik, kita kembali ke kamarmu. Dari pada ke kantor Polisi sekarang.” Kak Asma ikut menimpali.“Ayo, Sayang! Kita ke kamar saja!” ajak ibuku dengan merangkul tubuhku yang mu
--Happy Reading--Di kediaman Arumi.Arumi nampak kesal dan geram dengan kelakuan putra kesayangannya itu. Dari semalam, ponselnya tidak aktif dan mendapati sosoknya yang pulang menjelang shubuh.“Satria!” teriak Arumi dengan berkacak pinggang dan kedua bola matanya yang melotot.“Apa sih, Mom? Aku nggak budek!” Satria menghentikan langkahnya yang baru saja ingin naik ke lantai dua menuju kamarnya. “Tumben, masih shubuh Mommy udah bangun?” tanyanya sambil cengengesan, sesaat sadar dengan tatapan marah Arumi.“Dari mana saja kamu, Satria? Ponsel nggak aktif, pulang sepagi ini. Apa kamu tidak berpikir, bagaimana khawatirnya Mommymu ini, huh?” tegur Arumi masih dengan bernada emosi.Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu membuka tas punggungnya untuk mengambil ponselnya. Ia pun terkekeh saat melihat layar ponselnya yang mati toatal. “Ponselku baterainya lowbat, Mom,” ucap Satria seraya menunjukkan benda pintar berbentuk pipih itu ke hadapan Arumi.