Share

Bab 7. Gadis Kecil

Penulis: Tina Asyafa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-14 21:00:16

--Happy Reading--

Hampir setengah jam aku membersihkan diri, rasa letih dan lelah seharian ini seolah sirna berganti rasa segar yang menguyur rambut dan tubuhku.

Aku edarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar, mencari keberadaan mas Adam. Ternyata dia sudah tidak ada, aku pun bisa bernapas dengan lega untuk sementara ini.

Aku hendak mengganti pakaianku yang sudah basah tadi, mencoba mencari keberadaan koperku di seluruh pojok ruangan kamar. “Di mana koperku?”

Plak!

Aku memukul pelan keningku dengan telapak tangan.

“Astagfirulloh, aku lupa.”

Aku baru sadar, jika koper kecil milikku masih berada di dalam bagasi mobil juragan Zein. Koper yang hanya berisi beberapa potong pakaian beserta dalamannya yang aku perlukan dan beberapa buku bacaan yang aku gemari.

Tidak banyak hal yang aku pikirkan, setelah menikah siang tadi langsung diajak ke rumah ini. Aku pikir, setelah menikah tadi, kami akan bermalam dan tidur di kamar kak Asma yang sudah dihias ala kamar pengantin. Namun, kenyataan yang aku jalani harus ikut ke rumah ini juga tanpa adanya bermalam di rumah ayah dan ibu. Jadi, aku hanya bisa membawa barang-barang milikku seadanya saja dengan satu koper berukuran kecil yang biasa aku bawa ke tempat kost.

“Kenapa aku begitu ceroboh? Bisa-bisanya melupakan hal penting seperti itu,” rutukku pada diri sendiri.

Aku panik dan bingung, apa yang mesti aku lakukan sekarang? Hanya handuk kimono yang aku kenakan tanpa pakaian dalam dan baju tidur. Tidak mungkin aku berani ke luar kamar ini dengan hanya memakai handuk.

Arrrgh…

Aku berteriak frustasi, sambil mengacak rambutku yang masih sedikit basah, karena aku hanya keringkan dengan handuk kecil saja. Aku tidak mau menggunakan hair dryer milik mas Adam, takut salah dan malah rusak nantinya.

Seumur-umur, aku tidak pernah mengeringkan rambutku pakai alat itu. Aku takut rambutku kering dan pecah-pecah. Lebih baik alami dengan pakai handuk kecil seperti ini pun, lama-lama akan kering.

Aku mengambil salah satu sisir yang berjejer di meja rias, untuk menyisir rambutku yang sedikit basah dan kusut. “Aku pinjam sisirnya sebentar ya, Mas,” ucapku lirih.

Meskipun mas Adam tidak ada di kamar ini, sebagai manusia yang memiliki adab sopan santun, aku harus tetap meminta izinnya. Konyol memang, tapi itulah sifatku yang sudah tertanam dari kecil.

Suara ketukkan pintu menyapa indra pendengaranku, kala tanganku sedang bergerak menyisir rambut. Aku pun segera menghentikan kegiatanku dengan menyembunyikan sisir yang aku gunakan di belakang punggungku. Aku takut, dikira tidak sopan oleh pemilik kamar ini, disaat berani-beraninya menggunakan barang milik orang lain.

Pintu kamar yang tidak terkunci sebelumnya pun terbuka lebar. Nampak, dua pelayan wanita yang berdiri di belakang asisten mas Adam, yang bernama asisten Bisma. Kedua pelayan itu, aku masih ingat betul dengan nama mereka, Bik Wati dan Bik Ipah.

Mereka membawa banyak pakaian. Aish, bukan pakaian. Lebih tepatnya gaun indah yang berjejer menggantung dan beberapa pakaian dalam. Selain itu, ada kotak makeup yang dijinjing oleh salah satu pelayan yang bernama Wati.

Aku hanya bergeming, sampai-sampai melongo dibuatnya. Begitu banyak gaun indah yang berjejer menggantung dengan beraneka warna, sangat bagus dan pasti harganya sangat mahal, menurut pikiranku.

Seumur hidupku, aku tidak pernah membayangkan bisa memakai gaun secantik dan seindah itu. Jangankan memakainya, menyentuhnya pun aku tidak berani.

“Selamat malam, Nona Muda! Silahkan dipilih, gaun mana yang Nona Muda sukai.” Suara asisten Bisma mengejutkanku, membuatku tersadar seketika.

“Eeeh… iya,” gugupku menggaruk kepalaku yang tidak gatal dengan menelan saliva berkali-kali. Rasa tidak percaya, jika aku akan mengenakan gaun secantik itu.

Asisten Bisma tersenyum mengembang, lalu berpamitan. “Saya undur diri, Nona Muda! Setelah mengenakan gaun, secepatnya Nona Muda ditunggu oleh Tuan Besar dan Tuan Muda di ruang makan keluarga. Saya akan menunggu di luar.”

Aku hanya bisa mengangguk kecil dengan tersenyum meringis. Perutku memang sudah keroncongan, sedari siang tadi belum diisi apa-apa. Terakhir aku makan, setelah acara akad nikah selesai, itu pun hanya sesuap nasi tumpeng ayam bakakak, ritual adat desa kami dalam setiap pernikahan yang harus selalu ada.

Aku kehilangan selera makanku dengan pernikahan terpaksa ini. Masih bagus aku kuat berdiri hingga saat ini, tidak pingsan karena menahan lapar diperut. Perutku kelaparan, tapi mulutku enggan untuk dimasuki makanan.

Asisten Bisma meninggalkan kami bertiga, lalu menutup pintu kamar yang dilewatinya. “Jangan lupa!” pesannya, setelah benar-benar pintu kamar tertutup rapat.

Aku tersenyum kecut, seperti gadis kecil saja selalu diingatkan.

Bik Wati dan Bik Ipah, yang memang sudah mengenalku beberapa saat yang lalu, terlihat sangat santun dan ramah terhadapku.

“Ayo, pilih gaun yang Nona Muda sukai! Sepertinya, semua sangat pas dan cocok dengan ukuran tubuh Nona Muda,” ujar Bik Ipah.

“Ya, Nona Muda! Pasti, Tuan Muda akan sangat terpesona dengan kecantikan Nona Muda,” ucap Wati dengan wajah berbinar.

“A-apa? Terpesona? Maksud Bik Wati?” tanyaku ingin memperjelas apa yang baru saja diucapkan oleh salah satu pelayanku tadi.

Bik Ipah melirik ke arah Bik Wati, dia pun menyenggol lengan Bik Wati dengan siku tangannya.

“M-maaf, saya lupa. Saya lupa, kalau Tuan Muda tidak bisa melihat,” jelas Bik Wati takut jika aku salah paham.

“Ooh…” ada nada kecewa dari bibirku tanpa sadar.

Tanganku terulur ragu untuk menyentuh beberapa gaun yang indah itu, namun aku berusaha memberanikan diri.

“Lembutnya,” ucapku dalam hati, ketika jemari ini meremas bahan gaun tersebut. Tanpa sadar, bibirku menerbitkan senyuman, begitu terbuai dengan kelembutan gaun yang cantik dan indah itu.

“Itu sangat bagus, Nona Muda, jika gaun ini Nona Muda pilih. Apakah Nona Muda ingin segera memakainya?” tanya Bik Wati saat menangkap gerak-gerikku.

Aku menggeleng pelan, terlalu malu untuk memakainya. Aku belum terbiasa dengan gaun mahal seperti ini. Namun, aku juga tidak mungkin akan mengenakan handuk kimono ini untuk makan malam bersama juragan Zein dan mas Adam. Tapi, aku memiliki pakaianku sendiri di koper yang ada di bagasi mobil juragan Zein.

“Aku ingin memakai pakaianku sendiri, Bik. Tapi, pakaianku ada di dalam koper. Koper itu ada di bagasi mobil Juragan Zein. Apa bisa Bik Ipah atau Bik Wati mengambilkannya untukku?”

“Koper Nona Muda sudah disimpan oleh Tuan Besar, kami tidak bisa mengambil sembarangan.”

Deg!

Jantungku tersentak kaget, untuk apa koper milikku dibawa oleh juragan Zein?

“Pakailah gaun ini dulu, Nona Muda! Percayalah, suatu hari nanti koper Nona Muda akan dikembalikan,” ucap Bik Ipah dengan suara lembut dan mengusap pelan bahuku.

Dengan terpaksa, aku pun mengangguk patuh dan mengenakan salah satu gaun yang sesuai warna kesukaanku, merah muda.

“Tolong berbalik, aku malu kalau dilihat orang lain saat berganti baju,” pintaku dengan santun.

Tanpa membantah, kedua pelayan itu pun berbalik badan untuk membiarkanku berganti baju.

Gaun itu sangat pas dan cocok di tubuhku. Gaun merah muda, dengan lengan pendek, panjang selutut kaki dan mengikuti lekuk tubuhku yang kata orang sih ideal. Sedangkan menurutku sendiri, tubuhku ini terlalu kurus dan membuatku kurang percaya diri dengan bentuk tubuhku.

“Sudah,” ucapku dengan wajah berseri.

“Woow… sangat cantik,” puji Bik Wati dan Bik Ipah hampir bersamaan, saat mereka berbalik badan melihatku sudah memakai gaun yang aku pilih sendiri.

Aku tersipu malu mendengar pujian kedua pelayan itu, hingga aku pun jadi salah tingkah dibuatnya.

“Kami akan mendandani wajah, Nona Muda,” ucap Bik Ipah sambil membuka kotak makeup yang begitu lengkap dengan aneka bedak, lipstick, pembesih wajah, pinsil alis, mascara dan masih banyak yang aku pun tidak hapal dengan benada-benda asing tersebut.

Aku tipikal gadis yang tidak suka dandan menor, lebih ke natural dan makeup tipis-tipis.

“Jangan tebal-tebal ya, Bik! Aku tidak suka,” pintaku, saat wajahku mulai dipoles.

“Baik, Nona Muda! Jangan khawatir!” sahut Bik Ipah dengan mengacungkan jempolnya.

“Nona Muda pada dasarnya sudah cantik, jadi dipoles tipis pun akan sangat terlihat cantik,” timpal Bik Wati.

Aku semakin tersipu malu dengan pujian mereka, hingga lupa dengan pesan asisten Bisma tadi. “Oh iya, aku sudah ditunggu Juragan Zein dan Mas Adam,” ucapku, membuat kedua pelayan itu pun juga tersadar dan kembali focus mendandani wajahku.

***

Aku berjalan mengikuti langkah kaki asisten Bisma menuju ruang makan keluarga. Dengan wajah tertunduk dan kedua tangan yang saling bertautan, menahan degup jantung yang terus berdebar.

Ada rasa gugup, takut dan panik menjadi satu, ketika akan berhadapan satu meja dengan pemilik rumah ini. Keringat dingin pun mengucur deras, saat langkah kaki ini tepat berdiri di hadapan mereka.

“Cantiknya, cucu mantuku,” puji juragan Zein, memindai penampilanku.

Aku pun meringis, semakin deras peluhku mengalir. Sementara mas Adam, terlihat menikmati makanan yang tersaji dipiringnya.

Asisten Bisma menarik kursi di samping kakek Zein, yang menghadap ke arah mas Adam, kemudian mempersilahkanku untuk duduk. Aku pun patuh dan lekas duduk. “Terima kasih, Tuan,” ucapku.

“Jangan panggil Tuan, Nona Muda! Panggil saja saya, Asisten Bisma,” ujar asisten Bisma.

“A-a…”

“Tidak apa, Bisma. Maklumin saja, namanya juga gadis kecil.” Mas Adam menyela ucapanku, yang membuatku sedikit jengkel.

“Huuh… menyebalkan sekali!” grutuku menahan kesal di hati.

Kalau saja tidak ada juragan Zein di sini, ingin aku sumpal mulutnya pakai piring yang ada di hadapanku ini.

Lumpuh dan buta saja sangat menjengkelkan, apalagi kalau normal? Bisa-bisa habis aku ditindasnya semena-mena.

--To be Continue--

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
sabar Anna sabar
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 116. Memelihara Ular

    Asmara sangat menyayangkan kesempatan untuk membuat adiknya cemburu, ke depannya ia akan lebih berhati-hati lagi. Ia merasa kalau adik iparnya tersebut sudah menaruh curiga terhadapnya, karena gelagat yang selalu terbaca setiap apa yang hendak ia lakukan.Untuk beberapa hari ke depan, Asmara akan berpura-pura bersikap baik dan ramah kepada seluruh penghuni di mansion itu. Tanpa terkecuali, termasuk bersikap ramah terhadap kepala pelayan yang membuatnya jengkel setengah mati.Asmara merasa hanya dengan cara itu lah, keberadaannya akan diterima dan dipandang oleh Adam, pastinya. Ya, hanya itu yang terlintas dalam pikirannya untuk merebut hati seorang Adam Kusuma Wardana. Bahkan, Asmara harus mengorbankan adiknya sendiri untuk menghalalkan segala cara.“Apa yang sedang mereka lakukan di sana? Sebenarnya itu ruangan apa?!” gumam Asmara bertanya-tanya dengan rasa penasaran.Ya, selepas sarapan tadi, Asmara memang mengikuti dari kejauhan langkah kaki mereka yang masuk ke ruangan itu. Sudah

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 115. Kesepakatan Bersama

    Anna terus menatap cukup lama dalam diam antara suami dan kakaknya. Ada yang ia lewatkan, karena tanpa menyadari mereka pulang bersamaan. Meskipun diam, tetap saja dalam isi kepalanya begitu berisik layaknya berada di keramaian.“Ada apa memangnya, Kak Asma?” tanya Anna menyelidik, lalu menatap bergantian ke arah suaminya. “Memangnya Mas Adam sudah melakukan apa, huem?!” tanyanya juga penasaran.Asmara hendak membuka mulutnya, ketika pertanyaan dilontarkan oleh adiknya. Namun, langsung dipotong cepat oleh Adam. “Kak…..”“Tidak ada apa-apa, Sayang,” sela Adam berusaha untuk meyakinkan istrinya. “Hanya incident kecil, yang tidak cukup berarti,” jelas Adam sambil menatap sinis seperkian detik ke arah kakak iparnya tersebut.Beruntung kakak iparnya langsung bungkam, dengan kata-kata Adam. Kalau tidak, istrinya bisa salah paham dan cemburu kepadanya.‘Sialan…., Mas Adam bisa membaca pikiranku,’ dengkus Asmara dalam hatinya dengan tatapan memerah saking kesalnya. Kedua tangannya mengepal k

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 114. Memancing Masalah

    Karena belum juga istrinya ketemu, Adam berinisiatif untuk menghubungi ponsel istrinya dengan meminjam ponsel Asmara. Namun, Asmara mengatakan tidak membawa ponsel saat ini. Adam menghela napas berat, panic mulai menguasai pikirannya. Sementara Asmara mencoba menenangkannya dengan pikiran-pikiran positif, meskipun tidak dalam hatinya. “Tidak bisa, Kakak ipar. Aku tidak bisa tenang, kalau semua hal yang menyangkut istriku.” Adam menggeleng dengan penolakan. “Bodohnya aku, kenapa lupa membawa ponsel tadi,” umpatnya penuh sesal. ‘Aku harap, Anna hilang atau diculik saja,’ gumam Asmara dalam hatinya sambil mengulum senyum, melihat adik iparnya yang nampak frustasi. Namun, ia tetap mencoba perhatian dan merasa perduli dengan adiknya. Hening…. “Apa mungkin Anna sudah pulang duluan, Mas…,” ujar Asmara, memecah keheningan. Adam menoleh sekilas, mencoba memikirkan apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu. ‘Kenapa aku tidak kepikiran sampai situ? Bisa jadi, Anna pulang lebih dulu. Tapi…,

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 113. Berpura-pura Pingsan

    Anna membuka layar ponselnya, mencoba menghubungi sang suami. Sudah cukup lama ia menunggu, namun suaminya belum kembali juga.“Angkat dong, Mas!” gumam Anna sambil menghembuskan napas berat, karena suaminya tak kunjung menjawab.Sudah lebih dari dua kali Anna menghubungi nomor suaminya, kendati tetap tak ada jawaban. “Kamu di mana sih, Mas? Apa jangan-jangan kamu tidak membawa ponsel?” Anna nampak cemas.Akhirnya Anna memutuskan untuk pulang ke mansion saja, sambil menunggu suaminya kembali.Sesampainya di mansion, Anna tidak menemukan suami dan juga kakaknya. Pak Surip pun berkata jika mereka belum kembali pulang, justru Anna yang pertama kembali sejak pergi pagi tadi.“Apa Pak Surip tahu, Kak Asma pergi ke mana?!” tanya Anna sedikit penasaran.Pak Surip menggeleng lirih, karena Asmara tidak mengatakan mau pergi kemana pagi tadi. “Saya tidak tahu, Non,” jawabnya jujur.Anna nampak terdiam sejenak, detik berikutnya mencoba bertanya kembali. “Memangnya Pak Surip tidak bertanya? Atau,

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 112. Lari Pagi

    Pagi hari ini, Adam dan Anna sudah bangun seperti biasanya. Meskipun di hari minggu, mereka tetap membiasakan diri untuk tidak bangun siang.Selepas mandi dan sholat shubuh, kebiasaan Adam selalu mengajak istrinya untuk olah raga santai tidak jauh dari taman di sekitaran mansion. Namun, sejak istrinya positif hamil, Adam memutuskan untuk menghentikan kebiasaan tersebut, karena ia khawatir akan berdampak dengan kondisi bayi dalam kandungannya.“Mas…, ayo kita jalan-jalan pagi!” ajak Anna dengan penuh semangat, setelah melipat peralatan sholatnya.Adam tersenyum tipis, lalu menggeleng lirih menatap istrinya. “Sepertinya, mulai hari ini kita tidak jalan-jalan ke luar dulu, Sayang.”Alis Anna mengernyit heran, padahal ia sudah sangat siap untuk pergi mencari udara pagi yang menyegarkan tubuh. “Kenapa, Mas?” Anna seolah membaca isi pikiran suaminya. “Apa karena Anna…, sedang hamil?!” tebaknya.“Heem…, iya, Sayang.” Adam mengangguk mantap dengan senyuman tipis. “Mulai dari sekarang, Mas, ol

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 111. Film Horror

    Sepanjang makan malam, Anna dan Adam nampak menikmati dengan caranya mereka sendiri. Mereka terlihat asik dan santai, sesekali menyapa Asmara meskipun raut wajahnya nampak jelas tak suka. Adam yang tak sungkan menunjukkan rasa sayang dan cintanya terhadap Anna, membuatnya merasa malu dan tak enak hati. “Mas…, malu ih, ada Kak Asma juga,” tegurnya berbisik lirih sambil melirik ke arah kakaknya dengan senyum malu-malu. Adam terkekeh pelan, lantas berbisik di telinga istrinya, “Untuk apa harus malu, Sayang…., dia ‘kan bagian dari keluarga kita. Kalau dia merasa terganggu, salah sendiri kenapa mau tinggal bersama kita…?” Anna tergelak, bahwa sang suami bisa-bisanya berkata seperti itu. “Ish…, parah nih, Mas Adam….,” rutuknya. Sementara Asmara, harus menahan rasa kesal dan dongkol yang bercokol dalam hati dengan kondisi yang tidak berpihak kepadanya. ‘Kamu masih bisa tertawa dan bahagia malam ini, Anna. Tapi, tidak untuk malam-malam berikutnya. Kita lihat saja, sampai kapan kamu akan be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status