Share

Bab 6. Gadis Ceroboh

Penulis: Tina Asyafa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-14 20:00:31

--Happy Reading--

Penasaran yang berujung kegelisahan takan pernah membuahkan hasil, sebaliknya penasaran yang berujung perhatian lambat-laun akan menemukan titik temu sebagai buah kesabaran.

***

Aku begitu penasaran dengan penglihatan mas Adam yang sebenarnya. Mengapa hatiku mengatakan jika mata mas Adam itu tidaklah buta. Namun, tidak ada reaksi darinya ketika jemari tanganku menari di depan wajahnya.

Mas Adam semakin greget dengan kelakuanku yang tidak segera memberikan shamponya, hingga suara baritonnya bisa merusak gendang telingaku, saking kencangnya.

“Hey, cepat bawa ke sini shamponya! Apa yang kamu lakukan, huh? Kenapa lama sekali, sih?” Tangan mas Adam menjulur meminta shamponya, dengan rahangnya yang mengeras. Terdengar suara gemelutuk dari gigi mas Adam, saking geramnya kepadaku.

“Eeh… iya, Tuan. Ini, shamponya,” kejutku gelagapan, lalu mengulurkan shampoo ke tangan mas Adam dengan tanganku yang gemetar. Meski suamiku tidak bisa melihatku, namun aku tetap memalingkan wajahku untuk tidak bersitatap dengan wajah mas Adam dalam jarak yang sangat dekat.

Aku mundur beberapa langkah, memberi jarak dan menormalkan detak jantungku yang aku pun tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan sebongkah daging yang bersarang di dadaku itu.

Dengan tidak sabaran, mas Adam membuka tutup botol shamponya kasar dan menuangkan cairan shamponya begitu banyak di telapak tangannya yang besar.

Aku mencuri-curi pandang, meskipun mas Adam memang tidak melihatku. Namun, aku masih begitu risih dengan situasi seperti ini. Terlihat, kedua mata mas Adam terpejam, saat kedua tangannya menari-nari di atas rambutnya yang berselimut busa shampoo yang harumnya menyusup ke dalam penciumanku.

Seketika, aku pun ikut terpejam menikmati aroma wangi shampoo yang mampu membuatku terbuai.

Saking terbuainya aku, ternyata aku tidak menyadari jika mas Adam sudah menuntaskan mandinya. “Ambilkan handukku!” titahnya.

Aku pun melakukan apa yang dia perintahkan, lalu membantunya untuk ke luar dari dalam bathtub. Aku berusaha menahan mati-matian rasa degup jantungku yang tidak karuan, saat tangan kekarnya bertumpu melingkar di pundakku. Aku pun berusaha untuk tidak melihat ke arahnya, apalagi ke anunya mas Adam.

Aku membantu memakaikan handuk yang berbentuk kimono ke tubuh mas Adam, dengan mata terpejam. Benar-benar menguji nyaliku, ketika mau tidak mau tanganku bersentuhan dengan tubuh dan tangan suamiku itu.

“Duduk,” ucapnya.

Aku pun mengedarkan bola mataku, tertuju ke sebuah wastafel yang terdapat sebuah tempat duduk yang berbentuk persegi panjang, dengan berlapis lantai marmer yang cantik.

“Di sini?” tanyaku.

“Heem…” Mas Adam bergumam pelan, seraya mendaratkan bokongnya setelah meraba-raba tempat duduknya.

Aku menjaga jarak, mengamankan jantungku yang tidak henti-hentinya berdegup cepat. Nasibku, mengapa jadi mengenaskan seperti ini? Apa seperti ini rasanya, menjadi istri pengganti dadakan? Entahlah, aku pun tidak mengerti.

Lagi-lagi mas Adam memintaku untuk membantunya. Dengan sabar, aku pun harus mengikuti apa maunya.

Mas Adam ingin aku mengambilkan sikat dan pasta giginya dengan merk yang dia sebutkan, setelah selesai menggosok giginya, dia pun meminta aku mengambilkan sabun pencuci wajah khusus pria sesuai yang dia sebutkan jenisnya. Ada beberapa jenis pencuci wajah di sana. Ada yang berbentuk cair halus, ada pula yang berbentuk busa dan scrub.

Aku membantu mas Adam untuk berdiri di depan wastafel yang aku nyalakan airnya, untuk membersihkan busa yang menutupi wajah mas Adam.

Mas Adam sedikit membungkuk dengan satu tangannya sebelah kanan meraba keran wastafel, lalu menciduk air yang mengalir dari keran tersebut dan mengusap wajahnya yang berlimpah busa sabun.

Setelah beberapa detik, wajahnya terlihat bersih dari busa dan mengeratkan tangan kirinya ke bahuku. Aku sedikit meringis, kala bahuku dicengkramnya dengan kuat.

“Awwh…’ desisku lirih.

Seolah tahu apa yang aku rasakan, mas Adam merenggangkan cengkramannya di bahuku. Namun, sialnya disaat aku lengah, dengan sengaja mas Adam mencipratkan air ke wajahku.

Byuur…

Aku pun tersentak kaget, lantai yang licin membuat kakiku terpeleset, hingga tubuhku pun limbung dan terjatuh ke lantai dengan posisi berada di atas tubuh mas Adam. “Aaaa…”

Hening.

Hanya kedua bola mata kami yang saling membola dengan degup jantung yang tidak beraturan. Napas kami saling memburu, menerpa wajah yang memerah dengan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

Deg!

Aku bisa mendengar degup jantung mas Adam yang begitu cepat, saat kepalaku terbentur dadanya seperkian detik tadi. Beruntung, degup jantungku masih aman, tidak tertangkap oleh pendengaran mas Adam.

Darahku seketika berdesir, dengan tubuh membeku menahan rasa yang sulit untuk diungkapkan. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan reaksi tubuhku, mengapa bisa semendebarkan ini. Wajah tidak berdosa, seolah tergambar oleh mas Adam. Sementara diriku, sudah mati-matian menahan rasa gugup dengan posisi yang sama sekali tidak menguntungkan bagiku.

Andai saja mas Adam bisa melihat, sudah dipastikan wajahku kini seperti kepiting rebus di matanya.

“Berat,” ucapnya membuyarkan lamunanku. "Dasar, Gadis ceroboh!"

“Eeh…”

Aku panik, mencoba menyingkir dan bangkit dari atas tubuh mas Adam. Lalu, meminta maaf dengan wajah tertunduk penuh penyesalan. “M-maafkan kecerobohan saya, Tuan!”

Tanpa menunggu jawaban mas Adam, aku pun segera menarik lengannya untuk bangkit dari lantai. Dengan sabar, aku papah dirinya ke luar dari ruangan lembab itu, lalu mendudukkannya di pinggir ranjang.

“Ambilkan baju tidurku yang berwarna merah!” titahnya kembali terdengar. “Sekalian pakaian dalamku juga,” imbuhnya.

“B-baik,” ucapku cepat, bergegas menuju lemari kaca berpintu delapan.

Aku mencoba membuka pintu yang ke satu, ternyata hanya berisi beraneka warna dasi dan sabuk saja. Aku mendengus pelan, ternyata aku salah buka pintu. Aku coba lagi pintu lemari yang ke dua, lagi-lagi salah buka pintu, di sana hanya berisi koleksi jam tangan mahal milik mas Adam.

Baru saja aku mencoba membuka pintu lemari ke tiga, suara baritone mas Adam menghentikan gerakan tanganku.

“Lama sekali. Mana baju tidurku, huh?” Mas Adam tidak sabar menunggu, hingga dia pun membentakku kembali.

“I-itu, a-aku…” ucapku menggantung.

“Pintu lemari ke enam dan ke tujuh,” ujar mas Adam, seolah tahu jika aku kesulitan menemukan apa yang dia pinta.

Aku mengangguk pelan, segera membuka lemari ke enam dan ke tujuh dengan cepat.

“Berhasil,” gumamku senang, mengambil baju tidur berwarna merah dengan underweaar yang senada.

Begitu banyak warna baju tidur, dengan merk ternama yang sudah dipastikan harganya tidak main-main. Jangankan baju tidurnya, bahkan pakaian dalamnya saja bisa dipastikan mencapai harga jutaan rupiah untuk satu jenis merk ternama yang tertera.

Aku sampai melongo dan menggeleng, dengan merk yang pernah aku baca disebuah iklan majalah pakaian dalam yang dibuat oleh designer terkenal dengan harga selangit.

Aku menaruh pakaian tidur dan underweaar mas Adam di sampingnya, lalu mengarahkan tangan mas Adam untuk mengambilnya sendiri. “Ini bajunya, Tuan!”

Mas Adam mengangguk pelan dengan ekspresi datar. Dia pun segera meraih pakaian yang dia minta tadi. “Mandi, sana! Kamu sangat bau sekali,” ucap mas Adam tidak berperasaan.

Aku yang mendengar kata mas Adam, berdecak kesal dengan kedua tanganku yang mengepal kuat. “Ck, menyebalkan!”

Andai saja mas Adam bukan suamiku dan meracun itu tidak berdosa, ingin rasanya aku sumpal mulutnya dengan sianida, agar tidak seenaknya kalau bicara.

Dengan langkah gontai menahan kesal, aku pun lekas masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan setengah membanting.

Blugg….

Aku mengendus ketiakku refleks, barang kali baunya berasal dari situ. Namun, ketiakku masih harum, karena aku tidak pernah lupa memakai deodorant.

Bajuku yang terasa basah, kucoba mengendusnya dengan perlahan. Masih wangi pengharum pakaian yang menyeruak ke dalam penciumanku. “Mana ada bau, tubuh dan bajuku masih wangi. Dasar, suami menyebalkan!” grutuku di dalam kamar mandi, dengan gigi yang saling gemeletuk.

--To be Continue--

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 120. Saling Mengingatkan

    Marta melambaikan jemari tangannya di depan wajah Anna yang nampak melamun setelah mendengar apa yang baru diucapkannya. “Anna….! Hei…., Anna…”Sebagai sahabat yang perduli dengan Anna, sudah barang tentu Marta tidak ingin bermasud lain atau berpikiran buruk tentang masa depan yang belum tentu akan terjadi. Namun, sebagai antisivasi dari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, tentu saja tidak ada salahnya untuk mengingatkan.“Eh…, iya,” kejut Anna dari lamunan sejenak.Perasaan cemas, takut akan kehilangan dan gemetar dalam jiwa kian menghantui pikirannya. Anna ingin menepis dan menyangkal ucapan sahabatnya, kendati sangat sulit untuk membuangnya.Raut wajah Marta nampak merasa bersalah, ia seharusnya tak menanyakan hal itu tadi. Namun, ia tipical orang yang tidak bisa menyimpan unek-uneknya seorang diri. “Anna, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk mengungkit masa lalu Mas Adam dan Kak Asma. Tapi, aku benar-benar khawatir sekaligus takut jika apa yang aku pikirkan itu sampai terj

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 119. Rasa Takut dan Gelisah

    Sedan hitam mewah itu ke luar dari pelataran luas milik Adam, melesat cepat membelah jalanan ibu kota di pagi pertama minggu ini. Kemacetan di lalu lintas jalanan sudah menjadi makanan sehari-hari pengguna kendaraan.Alunan music lembut mengiringi perjalanan mereka menuju kampus dan kantor. Anna yang semalam tidur terlalu malam, membuat pagi ini matanya masih diterjang rasa kantuk yang berat. Perlahan ia memejamkan kedua matanya, seraya menikmati lembutnya alunan music yang menyapa indra pendengarannya.Adam menarik sudut bibirnya, kala kepala istrinya bersandar manja di bahunya. Sesekali ia membelai rambut lembut istrinya dengan rasa sayang yang begitu hangat. Matanya ikut terpejam, merasakan jika dirinya sandaran ternyaman bagi istrinya. ‘Ya Tuhan, jadikanlah kami pasangan suami istri yang selalu tetap bahagia seperti ini,’ gumamnya dalam hati dengan sepenuh harapan layaknya doa.Asmara yang duduk di posisi depan samping pak supir, sesekali melirik diam-diam ke arah spion dalam untu

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 118. Kemenangan Asmara

    Adam dan kakek Zein sontak terkejut dengan perkataan Asmara. Begitu juga dengan Anna, sampai menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah sang kakak.“Kak Asma, serius?” tanya Anna di tengah keterkejutannya.Adam dan kakek Zein, serempak menganggukan kepala di tengah keterkejutannya menunggu jawaban atas pertanyaan Anna.Asmara terkekeh kala melihat wajah mereka yang seakan tidak percaya dengan kemampuannya bermain catur. Mengambil posisi duduk di bangku yang sebelumnya ditempati oleh Adam, lalu bersiap untuk menjalankan permainan. “Giliran siapa yang jalan sekarang, Kek?” tanyanya sambil mengamati barisan papan catur di hadapannya.Anna dan Adam malah terlihat menonton Asmara dan kakek Zein yang sedang bertanding catur. Tiba-tiba saja rasa kantuk Anna seketika menghilang bak tertiup angin begitu saja.Permainan semakin seru dan menarik, membuat suasana yang tadinya tegang berubah riuh dengan sorak Anna dan Adam ketika Asmara menyetarai kemampuan bermain kakek Zein.“Ayo, Kek, sudah t

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 117. Permainan Catur

    Adam bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Anna yang hendak berjongkok. “Biarkan pelayan yang membersihkannya, Sayang!” serunya sambil memberi perintah kepada Pak Surip. “Tolong segera bereskan, Pak Surip!”“Baik, Tuan.” Pak Surip mengangguk hormat, lalu mengintruksi bawahannya dengan segera.“T-tapi, Mas, tehnya__”“Sudah, jangan ngeyel!” potong Adam tegas.Anna terdiam, tak lagi membantah. Kendati dalam benaknya, masih jelas memikirkan ucapan kakek Zein yang ditujukan untuk sang kakak.“Setelah membersihkan ini, tolong buatkan teh yang baru untuk Kakek, Bik!” titah Adam kepada pelayan yang baru datang.“Baik, Tuan,” sahutnya dengan anggukkan. Ia pun lantas melakukan apa yang menjadi pekerjaannya.Adam lantas menggandeng Anna dengan hati-hati melewati pecahan cangkir yang bertebaran di lantai. Raut wajah Anna nampak panic dan gugup, kala menatap kakek Zein yang juga sedang menatapnya saat ini. Ia tak berani menatap lama, hingga memilih menundukkan kepalanya.“Duduk, Nak!” titah kak

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 116. Memelihara Ular

    Asmara sangat menyayangkan kesempatan untuk membuat adiknya cemburu, ke depannya ia akan lebih berhati-hati lagi. Ia merasa kalau adik iparnya tersebut sudah menaruh curiga terhadapnya, karena gelagat yang selalu terbaca setiap apa yang hendak ia lakukan.Untuk beberapa hari ke depan, Asmara akan berpura-pura bersikap baik dan ramah kepada seluruh penghuni di mansion itu. Tanpa terkecuali, termasuk bersikap ramah terhadap kepala pelayan yang membuatnya jengkel setengah mati.Asmara merasa hanya dengan cara itu lah, keberadaannya akan diterima dan dipandang oleh Adam, pastinya. Ya, hanya itu yang terlintas dalam pikirannya untuk merebut hati seorang Adam Kusuma Wardana. Bahkan, Asmara harus mengorbankan adiknya sendiri untuk menghalalkan segala cara.“Apa yang sedang mereka lakukan di sana? Sebenarnya itu ruangan apa?!” gumam Asmara bertanya-tanya dengan rasa penasaran.Ya, selepas sarapan tadi, Asmara memang mengikuti dari kejauhan langkah kaki mereka yang masuk ke ruangan itu. Sudah

  • Terpaksa Menjadi Istri Pengganti   Bab 115. Kesepakatan Bersama

    Anna terus menatap cukup lama dalam diam antara suami dan kakaknya. Ada yang ia lewatkan, karena tanpa menyadari mereka pulang bersamaan. Meskipun diam, tetap saja dalam isi kepalanya begitu berisik layaknya berada di keramaian. “Ada apa memangnya, Kak Asma?” tanya Anna menyelidik, lalu menatap bergantian ke arah suaminya. “Memangnya Mas Adam sudah melakukan apa, huem?!” tanyanya juga penasaran. Asmara hendak membuka mulutnya, ketika pertanyaan dilontarkan oleh adiknya. Namun, langsung dipotong cepat oleh Adam. “Kak…..” “Tidak ada apa-apa, Sayang,” sela Adam berusaha untuk meyakinkan istrinya. “Hanya incident kecil, yang tidak cukup berarti,” jelas Adam sambil menatap sinis seperkian detik ke arah kakak iparnya tersebut. Beruntung kakak iparnya langsung bungkam, dengan kata-kata Adam. Kalau tidak, istrinya bisa salah paham dan cemburu kepadanya. ‘Sialan…., Mas Adam bisa membaca pikiranku,’ dengkus Asmara dalam hatinya dengan tatapan memerah saking kesalnya. Kedua tangannya me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status