LOGIN"Jen, kamu ke mana saja kemarin tidak masuk?" tanya Cika merasa kesepian.
"Aku, ada kepentingan," jawabnya beralasan. "Beh ... kepentingan apa? Biasanya juga ngabarin. Dicariin Regit tuh, bukannya kalian tetanggaan ya." "Tetangga kompleks jauh juga, tidak pasti ketemu. Sebenarnya aku—" Kepingin banget cerita masalah kemarin termasuk pernikahannya. Tetapi Jena malu, itu bukan pernikahan yang diharapkan. Tetapi akan menjadi masalah lagi kalau kehamilan ini diketahui banyak orang tanpa ada yang tahu kalau sebenarnya Jena sudah menikah. "Aku kenapa?" tanya Cika demi melihat ekspresi wajah Jena berubah. "Aku dalam masalah Ci," jawabnya lagi galau. Tidak kuasa menceritakan yang sebenarnya, atau belum siap saja. Cika memang teman curhatnya selama ini, tetapi untuk masalah yang satu ini, dia ragu karena termasuk aib. Sementara untuk pernikahan, Jena berkeinginan untuk bercerai dan seandainya saja tidak hamil pasti tidak harus menikah. Jena ingin janin ini bisa hilang dari rahimnya. "Kenapa? Perut kamu sakit?" "Hah, enggak, ini cuma agak begah saja," jawab Jena tersenyum gugup. Tadi saat mengingat kehamilannya refleks menyentuh perutnya sendiri, untungnya dia punya sejuta alasan untuk berkilah. "Mau mens kali, biasanya kan kita barengan yak. Aku, terus kamu gitu." "Iya kayaknya, makanya kurang nyaman." "Tapi kok kamu agak berisi?" tanya gadis itu jeli sekali. "Gendut ya?" Jena langsung menyentuh pipinya yang agak cubby. "Nggak gendut sih, tapi otw kayaknya. Haha ... becanda, becanda, kurang fitnes kali. Nge gym yuk! Kapan hari gitu, atau berenang, jogging, olahraga lah pokoknya. Aku juga ngerasa melar, nggak nyaman banget kalau naik berat badannya." "Boleh, kapan?" "Weekend lusa bagaimana? Pas kita nggak sibuk sama nugas lah pokoknya." "Oke," jawab Jena mengiyakan. Body adalah aset penting dalam tubuh, menunjang penampilan nomor satu selain wajah. Jadi, memang sepatutnya dijaga. Masalahnya kalau sedang hamil ya mana bisa kurus, yang ada melar karena ada dedek bayinya. "Kantin yuk! Lapar ini, sedari tadi lambung mungilku sudah menjerit ngode jajanan." "Aku juga lapar," jawab Jena mengingat tadi pagi hanya sarapan sedikit. Itu pun dimuntahkan kembali karena mendadak mual. Keduanya berjalan gontai menuju kantin fakultas. Suasana di sana selalu ramai anak-anak, apalagi jam makan siang begini. Pantas saja Jena sudah merasa lapar luar biasa. Karena memang sudah siang. "Aku mau makan yang bikin kenyang," kata Jena memesan soto. Sepertinya enak siang-siang makan yang berkuah pedas segar begini. "Katanya pingin diet, tapi makan aja sih apa pun yang kita inginkan. Kalau kamu mau, aku ada produk bagus banget buat diminum." "Apa? Boleh juga, ampuh nggak?" "Di aku sih manjur, selain dibarengin olahraga ya biar cantul. Lihat kan body aku sekarang pulen." Cika menyempatkan berlenggok di tempat duduknya. Menunjukkan pinggangnya yang ramping dengan bokong padat berisi. "Hmm, ngebentuk kaya gitu berapa lama?" "Enggak ada target, cuma karena rajin olahraga saja biar sehat. Biarpun pakaian kita tertutup, aset harus dijaga buat suami kita nantinya." Percuma juga Jena mempunyai bentuk tubuh yang indah, singset dan bahenol, pada akhirnya dirusak juga oleh satu makhluk yang tak beradab. Dada Jena kembali bergemuruh kesal mengingat itu semua. Kebencian pada pria yang kini menjadi suaminya kian bertambah. "Brak!" Saking gemasnya melamun membayangkan wajah Kak Arlo, spontan Jena menggebrak meja. Hal itu membuat Cika kaget. "Astaghfirullah, Jen, kamu kesambet apa? Soto kamu muncrat," kata gadis itu mendapati mangkuk di meja sampai bergetar. Untung saja tidak tumpah, masih aman dimakan. "Hah, maaf Ci, kena tangan?" "Nggak apa, aman cuma dikit. Kamu kenapa, kok mendadak horor?" Lapar memang kadang membuat seseorang oleng dan tidak berkonsentrasi. Mungkin saja Jena memang ada masalah yang terpendam. "Aku tadi keinget yang bikin kesel. Pingin aku pukul, terus aku jambak, aku musnahkan lah dari hidup aku." "Hish, lagi kesel sama orang atau kemakan drama?" "Drama dalam novel, tokohnya nyebelin banget, nyampai ke dunia nyata." "Nggak sehat bener, serem ah, apa judulnya, aku juga penasaran. Biar nanti aku baca juga kisah yang kamu maksud." "Owh, aku baca di GoodNovel Indonesia, kamu cari saja judulnya Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku." "Oke, oke, nanti aku otw nyari deh pas senggang. Aku hobby baca novel juga, tapi suka kebawa suasana kaya kamu gitu. Takut ke dunia nyata." "Tadi refleks aja, sotonya enak," kata Jena setelah menambahkan sambal lumayan banyak. "Jen, serius itu sambalnya?" "Iya, biar lancar keluarnya." "Ish, itu mah nyari penyakit." "Kurus jalur instant," jawabnya santai. "Nggak espek," kata Cika dengan lidah berkuah. Melihat cara makan Jena yang begitu menikmati, Cika mendadak penasaran. Sepertinya enak juga, tetapi dia sudah memesan siomay yang bikin kenyang juga. "Hallo Jen!" sapa Regit muncul begitu saja di tengah obrolan manis dua sahabat itu. Uhuks! Jena yang sedang menikmati makanan di mulutnya kaget sampai tersedak, dan terbatuk-batuk. Suasana yang membuatnya sangat tidak nyaman. Padahal tadi rasanya enak sekali. "Minum, minum, maaf-maaf," ucap Regit langsung menyodorkan gelas miliknya yang baru saja dipesan. Tadinya melihat Jena dan Cika ada di tempat yang sama hendak bergabung di meja mereka. Jena tidak bisa menjawab, terpantau masih batuk-batuk kecil dengan dada mendadak panas. Perempuan itu menerima minuman dari tangan Regit hingga sedikit lebih tenang. "Kamu sih Git, ngagetin orang makan aja," omel Cika melihat batuk Jena belum juga berhenti. Beberapa lembar tisu raib dari tangannya. Untung saja Cika selalu membawa di tasnya. "Aduh ... maaf, aku cuma nyapa. Ternyata Jena sekaget itu. Kamu nggak apa, Jen?" "Ya, nggak apa," jawabnya dengan suara serak. Sedikit lebih baik walaupun terasa sangat tidak nyaman. Selera makanya mendadak hilang. Mana tadi pedes banget, lagi menikmati karena kebetulan memang lapar juga. Gegara kaget jadi ambyar semuanya. "Mau punya aku? Masih utuh loh, baru dipesan. Lihat kalian di sini jadi kami pindah meja." "Nggak, udah kenyang, kita duluan ya Git, makasih minumnya tadi." "Eh, lah kok malah pergi. Baru mau gabung ini." "Kita udah selesai, kalian lanjutin deh," sahut Cika mewakili. Keduanya beranjak dari kantin setelah melakukan pembayaran. Suasana hati Jena masih kurang nyaman saat tiba-tiba seruan Cika kembali membuat kehebohan. "Jen, itu kok kaya Abang sepupu kamu. Bener bukan sih, yang tampan itu loh?" seru Cika menyikut lengan sahabatnya. Arah pandang Jena spontan mengikuti mata Cika, benar saja itu seperti Kak Arlo, tetapi ngapain pria itu berkeliaran di kampusnya. "Jen, kok diem? Bener kan itu Kak Arlo, ya ampun ... makin tampan saja itu manusia," puji Cika melihat sosoknya yang dewasa. "Hah, ganteng dari mananya? Mata kamu rabun," jawab Jena kesal. "Ish, masih waras lah, sapa yuk Jen!" ajak Cika bertingkah menyebalkan. "Cika, jangan tarik-tarik, nggak mau, dia tuh nyebelin," tolak Jena cepat. Jangankan nyapa, yang ada Jena malah mau menghindar sebisa mungkin. Untuk apa pria itu ke kampusnya. Apakah Kak Arlo mengawasinya sampai kampus."Jena ... aku mencintaimu," bisik Arlo tak bisa berhenti. Malam ini menjadi malam yang panjang untuk keduanya. Baby Zalfa juga tertidur pulas di tempatnya seolah begitu pengertian. Memberikan ruang untuk kedua orang tuanya saling memberi kehangatan. Mereka memang bukan pengantin baru, tetapi perasaan cinta mereka baru sama-sama tumbuh setelah badai berlalu. Arlo yang merasa pernah gagal dan hampir kehilangan, benar-benar ingin menjaganya. Keduanya melepas lelah dibatas peraduan cinta mereka. Saling mendekat, seolah esok tak ada waktu bersama. "Kamu milikku Jena, hanya milikku," kata pria itu meluapkan kasih sayangnya sepenuhnya. "Hmm, aku bisa merasakannya Kak," balas Jena merasa begitu dicintai. "Apakah kita akan terus seperti ini? Kak Arlo akan tetap menginginkanku walaupun kelak tidak muda lagi?""Tentu saja, aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu. Membesarkan anak-anak kita bersama. Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan kedua.""Aku berharap tidak ada yang akan
Arli pulang cepat, beres kantor langsung berkemas. Tidak tahu kenapa bawaannya selalu pingin cepat-cepat sampai rumah. Rindu sama anak istrinya. Padahal setiap hari juga ketemu, melakukan banyak aktivitas bersama. Namun, ngerasa kangen terus. Jatuh cinta memang manis, berasa berbunga-bunga setiap hari. Selalu ingin menghabiskan waktu berdua. "Bik kok sepi? Jena belum pulang? Zalfa sama mama mana?" tanya Arlo begitu sampai rumah tidak menemukan yang dicari. "Ibuk sama Mbak Jena lagi keluar, Mas, Dek Zalfa di belakang sama susternya.""Keluar? Ke mana, Bik? Kok nggak ngomong?" "Kurang tahu Mas, tidak nitip pesan."Arlo langsung menghubungi istrinya. Ternyata Bu Najwa sengaja mengajak Jena keluar untuk sekedar jalan-jalan sekalian belanja. Sementara Zalfa ikut pengasuhnya. Sengaja ditinggal karena memang ingin me time dengan ibu mertua. Lebih tepatnya diajak beliau untuk perawatan. Jena nurut saja, kebetulan sedang senggang setelah beres kuliah. ***"Sayang, jalan sama mama ke mana?
"Kenapa sayang? Tidur, ini sudah malam. Atau ... mau lagi?" goda Arlo tersenyum jahil. "Kak, aku kepikiran Zalfa, kita pulang aja yuk!"Harap maklum, sebagai ibu muda Jena belum pernah terpisah semalam pun, jadi wajar kalau dia cemas. "Kan tadi udah telfon rumah, aman kok sama mama.""Iya sih, cuma aku nggak tenang. Zalfa kalau malam pasti kebangun. Pulang aja ya," pinta Jena membuat Arlo mengiyakan. Mana tega melihat istrinya tidak tenang begini. Walaupun ini moment spesial, mereka bisa lanjut romantisan di rumah. Yang katanya tidak bisa tidur ngajak pulang, baru sampai di mobil saja sudah menguap beberapa kali. Jena memang aslinya ngantuk, hanya saja pikirannya tidak tenang kebawa cemas dengan putrinya. Sampai rumah sudah cukup larut, jam sebelas lewat dan semua orang di kediaman itu sudah tidur. Zalfa bobo di kamar neneknya mengingat tidak ada di kamar. Jadi, Arlo pun membiarkan saja daripada bangunin ibunya yang mungkin sedang enak-enaknya tidur. "Nanti aja ya, gampang, kala
Wajah dan tubuh Jena menegang seketika. Belum juga mulai, dia sudah nervous duluan. Maklum lah, walaupun sudah punya anak, tetapi ini sentuhan pertama dengan lawan jenis secara normal. Mereka memang pernah menyatu, tetapi tentu saja hanya ingatan buruk yang terperangkap di otaknya. Jena benar-benar nol pengalaman, ditambah insiden yang menimpanya. Jadi, Arlo benar-benar harus sabar menghadapi istrinya yang masih polos. "Rileks sayang, tidak apa-apa, kita pelan-pelan saja ya.""Kak, aku takut," ucap Jena jujur. Arlo baru mau mendekat Jena sudah setegang ini, bagaimana dia memulainya. Pria itu seketika memeluknya, mencoba menenangkan dan memberikan rasa nyaman. "Kak Arlo nggak marah?" tanya Jena harap-harap cemas. "Bagaimana mungkin aku marah, apa alasanku buat marah, hmm?" balas Arlo mengurai pelukannya. "Aku terlalu kaku, bagaimana kalau kita mencobanya sekali lagi.""Kamu yakin?" Jena mengangguk ragu. Tetapi dalam hati sudah bertekad untuk tidak membuatnya kecewa. "Terima kas
Ini kali pertama Jena diajak makan malam romantis suaminya. Ya karena memang baru berkomitmen kembali setelah badai. "Kak, serius makan di sini? Emangnya nggak kemahalan ya.""Iya, apa kamu suka?" Jena ngangguk, masih speechless sih, lebih tepatnya tidak menyangka bakalan diajak dinner romantis seperti ini. Arlo menyiapkan ini semuanya. "Jena, aku mungkin tidak bisa menghapus segala kenangan buruk yang pernah ada. Namun, izinkan aku pelan-pelan menebusnya. Biar yang kamu ingat kalau kita punya kenangan yang manis juga."Jena tahu sejauh ini Arlo sudah berusaha. Dia melihatnya sendiri betapa pria itu bersungguh-sungguh memperlakukannya dengan baik. Hati perempuan mana pun pasti akan melunak jika diratukan. Selalu diprioritaskan dan bahkan mendapatkan tempat khusus di hatinya. "Terima kasih sudah kasih aku kesempatan. Aku mencintaimu," ucap pria itu membuat pengakuan mengejutkan. Belum sempat Jena membuka suara, dia sudah dikejutkan dengan surprise lainnya. "Ini bukan nyogok sih,
"Pagi Ma, nitip Zalfa lagi ya.""Pagi sayang, tenang, aman sama mama.""Tapi kayaknya nanti pulangnya agak telat.""Oke, tenang saja, yang penting stok susu melimpah.""Kuliah sampai sore?" tanya Arlo memastikan. "Enggak sih, cuma ada tugas gitu, di kosan Cikha Kak," katanya mau sekalian ada urusan. "Ya udah nanti aku jemput.""Nggak usah, aku kan bawa mobil. Lagian Kak Arlo pulangnya juga sore, palingan Kak Arlo duluan.""Oke, sampai ketemu nanti sore.""Ya, semangat kerjanya suamiku," ucap Jena membuat Arlo senyum-senyum bahagia. Duh ... senengnya yang baru saja balikan. Serasa jatuh cinta lagi, dan pinginnya mau cepat-cepat pulang. Padahal baru berangkat juga keingat yang lagi sibuk terus. Siangnya mereka tak lupa berkabar, saling mengingatkan untuk ibadah dan makan. Perhatian layaknya abg muda, biarpun hal yang sangat sederhana, tetapi mampu membuatnya berbunga-bunga. "Perhatian banget Buk, roman-romanya udah baikan ini," kata Chika mendapati sahabatnya mode respect. "Haha .







