Share

Bab 7. TMIS

Author: Asri Faris
last update Last Updated: 2026-01-20 05:21:18

"Jen, kamu ke mana saja kemarin tidak masuk?" tanya Cika merasa kesepian.

"Aku, ada kepentingan," jawabnya beralasan.

"Beh ... kepentingan apa? Biasanya juga ngabarin. Dicariin Regit tuh, bukannya kalian tetanggaan ya."

"Tetangga kompleks jauh juga, tidak pasti ketemu. Sebenarnya aku—"

Kepingin banget cerita masalah kemarin termasuk pernikahannya. Tetapi Jena malu, itu bukan pernikahan yang diharapkan. Tetapi akan menjadi masalah lagi kalau kehamilan ini diketahui banyak orang tanpa ada yang tahu kalau sebenarnya Jena sudah menikah.

"Aku kenapa?" tanya Cika demi melihat ekspresi wajah Jena berubah.

"Aku dalam masalah Ci," jawabnya lagi galau. Tidak kuasa menceritakan yang sebenarnya, atau belum siap saja.

Cika memang teman curhatnya selama ini, tetapi untuk masalah yang satu ini, dia ragu karena termasuk aib. Sementara untuk pernikahan, Jena berkeinginan untuk bercerai dan seandainya saja tidak hamil pasti tidak harus menikah. Jena ingin janin ini bisa hilang dari rahimnya.

"Kenapa? Perut kamu sakit?"

"Hah, enggak, ini cuma agak begah saja," jawab Jena tersenyum gugup. Tadi saat mengingat kehamilannya refleks menyentuh perutnya sendiri, untungnya dia punya sejuta alasan untuk berkilah.

"Mau mens kali, biasanya kan kita barengan yak. Aku, terus kamu gitu."

"Iya kayaknya, makanya kurang nyaman."

"Tapi kok kamu agak berisi?" tanya gadis itu jeli sekali.

"Gendut ya?" Jena langsung menyentuh pipinya yang agak cubby.

"Nggak gendut sih, tapi otw kayaknya. Haha ... becanda, becanda, kurang fitnes kali. Nge gym yuk! Kapan hari gitu, atau berenang, jogging, olahraga lah pokoknya. Aku juga ngerasa melar, nggak nyaman banget kalau naik berat badannya."

"Boleh, kapan?"

"Weekend lusa bagaimana? Pas kita nggak sibuk sama nugas lah pokoknya."

"Oke," jawab Jena mengiyakan.

Body adalah aset penting dalam tubuh, menunjang penampilan nomor satu selain wajah. Jadi, memang sepatutnya dijaga. Masalahnya kalau sedang hamil ya mana bisa kurus, yang ada melar karena ada dedek bayinya.

"Kantin yuk! Lapar ini, sedari tadi lambung mungilku sudah menjerit ngode jajanan."

"Aku juga lapar," jawab Jena mengingat tadi pagi hanya sarapan sedikit. Itu pun dimuntahkan kembali karena mendadak mual.

Keduanya berjalan gontai menuju kantin fakultas. Suasana di sana selalu ramai anak-anak, apalagi jam makan siang begini. Pantas saja Jena sudah merasa lapar luar biasa. Karena memang sudah siang.

"Aku mau makan yang bikin kenyang," kata Jena memesan soto. Sepertinya enak siang-siang makan yang berkuah pedas segar begini.

"Katanya pingin diet, tapi makan aja sih apa pun yang kita inginkan. Kalau kamu mau, aku ada produk bagus banget buat diminum."

"Apa? Boleh juga, ampuh nggak?"

"Di aku sih manjur, selain dibarengin olahraga ya biar cantul. Lihat kan body aku sekarang pulen."

Cika menyempatkan berlenggok di tempat duduknya. Menunjukkan pinggangnya yang ramping dengan bokong padat berisi.

"Hmm, ngebentuk kaya gitu berapa lama?"

"Enggak ada target, cuma karena rajin olahraga saja biar sehat. Biarpun pakaian kita tertutup, aset harus dijaga buat suami kita nantinya."

Percuma juga Jena mempunyai bentuk tubuh yang indah, singset dan bahenol, pada akhirnya dirusak juga oleh satu makhluk yang tak beradab. Dada Jena kembali bergemuruh kesal mengingat itu semua. Kebencian pada pria yang kini menjadi suaminya kian bertambah.

"Brak!"

Saking gemasnya melamun membayangkan wajah Kak Arlo, spontan Jena menggebrak meja. Hal itu membuat Cika kaget.

"Astaghfirullah, Jen, kamu kesambet apa? Soto kamu muncrat," kata gadis itu mendapati mangkuk di meja sampai bergetar. Untung saja tidak tumpah, masih aman dimakan.

"Hah, maaf Ci, kena tangan?"

"Nggak apa, aman cuma dikit. Kamu kenapa, kok mendadak horor?"

Lapar memang kadang membuat seseorang oleng dan tidak berkonsentrasi. Mungkin saja Jena memang ada masalah yang terpendam.

"Aku tadi keinget yang bikin kesel. Pingin aku pukul, terus aku jambak, aku musnahkan lah dari hidup aku."

"Hish, lagi kesel sama orang atau kemakan drama?"

"Drama dalam novel, tokohnya nyebelin banget, nyampai ke dunia nyata."

"Nggak sehat bener, serem ah, apa judulnya, aku juga penasaran. Biar nanti aku baca juga kisah yang kamu maksud."

"Owh, aku baca di GoodNovel Indonesia, kamu cari saja judulnya Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku."

"Oke, oke, nanti aku otw nyari deh pas senggang. Aku hobby baca novel juga, tapi suka kebawa suasana kaya kamu gitu. Takut ke dunia nyata."

"Tadi refleks aja, sotonya enak," kata Jena setelah menambahkan sambal lumayan banyak.

"Jen, serius itu sambalnya?"

"Iya, biar lancar keluarnya."

"Ish, itu mah nyari penyakit."

"Kurus jalur instant," jawabnya santai.

"Nggak espek," kata Cika dengan lidah berkuah.

Melihat cara makan Jena yang begitu menikmati, Cika mendadak penasaran. Sepertinya enak juga, tetapi dia sudah memesan siomay yang bikin kenyang juga.

"Hallo Jen!" sapa Regit muncul begitu saja di tengah obrolan manis dua sahabat itu.

Uhuks!

Jena yang sedang menikmati makanan di mulutnya kaget sampai tersedak, dan terbatuk-batuk. Suasana yang membuatnya sangat tidak nyaman. Padahal tadi rasanya enak sekali.

"Minum, minum, maaf-maaf," ucap Regit langsung menyodorkan gelas miliknya yang baru saja dipesan. Tadinya melihat Jena dan Cika ada di tempat yang sama hendak bergabung di meja mereka.

Jena tidak bisa menjawab, terpantau masih batuk-batuk kecil dengan dada mendadak panas. Perempuan itu menerima minuman dari tangan Regit hingga sedikit lebih tenang.

"Kamu sih Git, ngagetin orang makan aja," omel Cika melihat batuk Jena belum juga berhenti. Beberapa lembar tisu raib dari tangannya. Untung saja Cika selalu membawa di tasnya.

"Aduh ... maaf, aku cuma nyapa. Ternyata Jena sekaget itu. Kamu nggak apa, Jen?"

"Ya, nggak apa," jawabnya dengan suara serak.

Sedikit lebih baik walaupun terasa sangat tidak nyaman. Selera makanya mendadak hilang. Mana tadi pedes banget, lagi menikmati karena kebetulan memang lapar juga. Gegara kaget jadi ambyar semuanya.

"Mau punya aku? Masih utuh loh, baru dipesan. Lihat kalian di sini jadi kami pindah meja."

"Nggak, udah kenyang, kita duluan ya Git, makasih minumnya tadi."

"Eh, lah kok malah pergi. Baru mau gabung ini."

"Kita udah selesai, kalian lanjutin deh," sahut Cika mewakili.

Keduanya beranjak dari kantin setelah melakukan pembayaran. Suasana hati Jena masih kurang nyaman saat tiba-tiba seruan Cika kembali membuat kehebohan.

"Jen, itu kok kaya Abang sepupu kamu. Bener bukan sih, yang tampan itu loh?" seru Cika menyikut lengan sahabatnya.

Arah pandang Jena spontan mengikuti mata Cika, benar saja itu seperti Kak Arlo, tetapi ngapain pria itu berkeliaran di kampusnya.

"Jen, kok diem? Bener kan itu Kak Arlo, ya ampun ... makin tampan saja itu manusia," puji Cika melihat sosoknya yang dewasa.

"Hah, ganteng dari mananya? Mata kamu rabun," jawab Jena kesal.

"Ish, masih waras lah, sapa yuk Jen!" ajak Cika bertingkah menyebalkan.

"Cika, jangan tarik-tarik, nggak mau, dia tuh nyebelin," tolak Jena cepat. Jangankan nyapa, yang ada Jena malah mau menghindar sebisa mungkin. Untuk apa pria itu ke kampusnya. Apakah Kak Arlo mengawasinya sampai kampus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (8)
goodnovel comment avatar
Naima Laila
gara² jena kesel ampe nge gebrak meja jdi spil judul novelnya deh ...... ayo para reader udh pda bca blm crta baru dri ka asri ini
goodnovel comment avatar
Masfaah Emah
wah Jena d pantau terus sma Arlo
goodnovel comment avatar
Fatiya Hasna
Sepertinya Regit menaruh hati deh sama Jena... Jena saking kesel, marah dan ke Arlo ngelamun aja sampai ngegebrak meja bikin yang baca ikutan kaget juga.hihi Arlo sampai bela²in jemput Jena, padahal orangnya juga sangat ingin menghindari.. mau gimana lg, Jen, dia sekarang suamimu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 40. TMIS

    "Kita masih bisa berteman kan walaupun kamu sudah menikah." "Tentu saja Git, kita masih berteman. Kamu kemarin kenapa hindarin aku?"Jena merasa Regit jadi bersikap dingin sejak munculnya vidio viral itu. Dia memang tidak bisa mengalahkan pihak mana pun dalam kasus ini, walaupun dirinya korban, tetap saja ada pihak tertentu yang masih menyudutkan. Bahkan terang-terangan mengatasinya lewat komentar pedas. "Jujur aku agak kaget sih denger berita viral itu. Aku kira karena pacar Kak Arlo cemburu aja jadi nyerang kamu. Eh, ternyata malah beneran kalau kalian udah nikah. Emang sejak kapan nikahnya Jen? Aku tetangga kok nggak tahu kalau di rumah kamu ada pernikahan.""Sudah sekitar tiga bulan ini sih, kami memang melangsungkan secara tertutup. Hanya mengundang kerabat saja dan pernikahannya juga dilakukan di lain tempat."Gegara Regit banyak nanya, akhirnya Jena spil juga masalah pernikahan mereka walaupun tidak sedetail kenyataannya. "Pantesan sikap Bang Arlo aneh gitu, aku ke rumah ka

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 39. TMIS

    "Semoga saja pas, tubuh Jena kan kira-kira segitu kan ya," gumam pria itu sembari perjalanan pulang. Sedari tadi handphone Arlo terus berisik sebab Risa yang menghubungi, dia tidak tahan lagi dan akhirnya mengangkatnya juga. *** "Arlo, di mana? Berapa kali aku menghubungimu, kenapa nggak diangkat?" "Sedang perjalanan pulang, aku sibuk maaf." "Sibuk belanja buat si jalang itu?" "Jangan ngomong gitu Ris, jaga ucapan kamu." "Iya, terus aja belain, siapa lagi sebutannya buat orang yang suka merebut laki orang." "Kita belum menikah, tidak ada yang merebut. Kalau telfon cuma mau marah tutup aja." "Berani ya kamu sekarang main tutup saja, aku belum selesai ngomong." Sebenarnya Arlo bisa saja langsung memutus panggilan, hanya saja dia malas memperpanjang urusan. Ditambah Risa pasti akan menerornya melalui pesan. Dia bukan orang yang super tegaan setelah tidak suka lalu buang. Perasaannya cenderung kasihan kalau memang tidak membuat kesalahan. Dengan Arlo bersikap demikian, biarlah

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 38. TMIS

    "Nugas, apa nugas?" tanya Arlo di sebrang telepon. "Beneran nugas lah, kalau tidak percaya bisa tanya sendiri sama Chika." "Oke, pulangnya jangan kesorean. Ngabari juga," kata, Arlo berpesan. "Hmm, semoga tidak lupa." "Semua tergantung niat Jena, tinggal kamunya aja yang mau apa nggak. Ingat, jangan aneh-aneh kamu lagi hamil." "Iya tahu, bawel." "Kamu ngatain suami kamu?" "Dikit, udah dulu Kak, nanggung ini." Jena langsung menutup telponnya, padahal Arlo belum selesai berbicara. Ya sudahlah, biarkan Jena melakukan kegiatannya dulu. Sebenarnya Arlo sengaja jemput mau ngajak Jena keluar untuk belanja. Membeli gaun untuk pertemuan dengan Pak Wilis besok. Tetapi berhubung istrinya sedang sangat sibuk, biarkan Arlo membelikan saja. "Selera Jena yang kaya mana ya," gumam pria itu tidak begitu paham. Namanya juga suami dadakan, mana pernah dia nanya detail kesukaan istrinya. Sebelumnya juga tidak pernah dekat sama sekali. Hanya mengenal sebagai kerabat dekat. "Tanya ma

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 37. TMIS

    "Di mana sih, bukannya tadi aku sudah bawa dari lemari. Nggak mungkin lupa kan?" gumam Jena mencari benda penting miliknya yang entah nyangkut di mana. "Duh ... beneran nggak bawa, ah sial, masa nggak pakai. Mana nyaman, lupa sungguh sangat merepotkan." Akibat bergaduh dulu dengan pak suami, jadi barang yang begitu penting sampai ketinggalan. Harusnya tidak boleh sampai terlewat, mana jadi tidak nyaman harus bolak-balik mengambil lagi. "Kak Arlo masih di kamar nggak ya," batin Jena berharap pria itu sudah minggat dari tadi. Seharusnya berangkat kerja lebih awal. Biar tidak membuat Jena repot karena kelupaan barang penting. Keluar kamar mandi sudah membaca doa, tetapi yang dijumpai pertama tetap wajah Kak Arlo yang belum beranjak dari sana, menyebalkan sekali. "Kak Arlo kok belum berangkat, bukannya ini sudah siang?" tanya Jena sedikit berbasa-basi. Dia perlu mengambil sesuatu, hanya saja malu kalau ketahuan. "Kan sudah bilang mau anter jemput, jadi ya lagi nungguin kamu lah

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 36. TMSI

    "Nggak apa Ma, buat Kak Arlo saja," kata Jena tidak keberatan sama sekali. Dia belum terlalu lapar juga, nanti bisa sarapan di kantin fakultas atau warung sekitaran kampus. "Kan bisa berbagi, mau nggak Jen, enak loh," kata Arlo berinisiatif barengan. Ngerasa enak aja, tidak tahu kenapa Arlo mulai nyaman. Apa gegara semalam tidurnya barengan. "Ngawur kamu, sudah sisamu itu." Bu Najwa menggeplak kepalanya pelan. "Aduh Ma, jangan terlalu kejam. Lagian kenapa emang kalau barengan, namanya juga suami istri yang nggak apa berbagi. Jangankan makanan, lainnya aja berbagi. Iya kan Pa? Papa juga gitu kan sama Mama?" Arlo meminta pembelaan, jelas lah Pak Arlan tidak menjawab, dia juga tidak merasa hubungan putra dan menantunya sudah baikan. Memang mereka sekamar, tapi bukan tidak mungkin saling memberi jarak. Sampai ada tragedi mengeluarkan sofa segala. "Biar kamu mikirnya beneran dikit.""Ini udah paling bener kok Ma, kita berdua sedang belajar." Arlo ini lagaknya kaya sudah berumah tan

  • Terpaksa Menjadi Istri Sepupuku   Bab 35. TMIS

    Perdana bobo satu ranjang, kenapa malah tidak bisa tidur. Padahal mata mulai ngantuk berat, tetapi pikiran melayang entah ke mana. Arlo masih terjaga, sementara Jena mulai terkantuk-kantuk. "Jen, sudah tidur?" tanya Arlo memastikan. Jdna terbaring dengan posisi memunggunginya. "Beneran udah tidur? Syukurlah, akhirnya bisa merem juga. Ibu hamil itu tidak boleh begadang," kata Arlo mengintip lebih dekat. Mau tahu saja kalau istrinya beneran lelap. "Eh, eh," kata pria itu tergeragsp kaget waktu Jena berpindah posisi hampir ambruk ke tubuhnya. Untungnya Arlo secepat kilat bergeser, jadi masih terselamatkan. "Ya ampun ... katanya jangan dekat-dekat, tapi kenapa malah mendekat. Hampir saja aku jantungan," ucap pria itu sedikit kaget. Jena sudah lelap, dia hanya pindah posisi tanpa terusik. Bahkan tidak menyadari kalau saat ini jarak mereka begitu dekat. Hampir tak ada pembatas malah, Jena melampau tempat yang seharusnya menjadi bagiannya. "Jen! Kamu udah nggak takut lagi ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status