LOGIN“Cedric harus tahu soal ini, Hailey.” Hailey seketika menggeleng kuat-kuat dengan raut wajah memohon. “Dia akan membunuhku!” “Tidak. Kurasa dia tidak akan melakukan itu.” Sherina punya sudut pandang lain. Jika Cedric benar-benar berniat membunuh Hailey, itu sudah terjadi sejak lama saat ia pertama kali melaporkan identitas asli gadis itu sebagai vampir. Namun, tindakan Cedric yang alih-alih menangkap Hailey justru melindunginya, membuktikan bahwa apa pun yang dilakukan Hailey pasti akan ditutupi. Entah atas dasar dorongan asmara atau alasan lain, Sherina tak peduli. Satu hal yang pasti: Cedric harus tahu kondisi Hailey saat ini yang tak lagi bisa dibiarkan tanpa pengawasan. “Dia sendiri yang mengatakannya padaku! Jika aku sampai membuat masalah, dia yang akan menghabisiku dengan tangannya sendiri!” Tengkuk Hailey mendadak meremang. Ia masih terbayang jelas bagaimana pria itu mengeksekusi vampir lain dengan pedangnya—memisahkan kepala dan badan dalam satu tebasan kilat. Hailey m
“Sekarang bagaimana cara membereskan kekacauan ini?” Sherina bertanya pada Hailey yang menoleh dengan separuh parasnya dipenuhi noda darah. Sherina datang ke hutan ini bukan tanpa alasan. Saat berjalan di koridor sebelumnya, ia tak sengaja mendengar percakapan dua pengawal akademi. Salah satu dari mereka tertawa sembari memamerkan koin emas hasil suapan seorang siswi untuk mengerjai siswi lain, lalu berencana pergi ke rumah bordil—tanpa tahu keputusannya akan berujung fatal. Semula Sherina tak acuh. Namun begitu kembali ke kamar dan mendapati dua ranjang yang kosong, ia langsung paham siapa yang dimaksud para pengawal dungu itu. Jika benar maka Ruby sungguh tertimpa kesialan karena nekat memicu masalah dengan sosok vampir yang sedang dilanda kelaparan hebat. “Apa dia mati?” tanya Sherina, menahan langkahnya dalam jarak aman. Ia belum berani mendekat untuk memeriksa Ruby karena Hailey tampak belum berniat melepaskan tangkapannya. Salah melangkah sedikit saja, Sherina tahu diriny
“Kau seharusnya tidak membuatku menjadi lawanmu, Hailey,” desis Ruby seraya mengacungkan belatinya di hadapan gadis yang tersungkur di atas hamparan salju. Hembusan angin badai menggemuruh nyaring, menambah kesan mencekam di antara mereka berdua. Surai merah muda milik Ruby bergoyang liar, sementara tiap langkah kakinya memancarkan ketetapan tekad atas maksud jahatnya. Niat yang semula hanya ingin merusak wajah cantik Hailey, kini menggelap total—ia ingin menyingkirkan gadis itu selamanya. “Jika aku tidak bisa memiliki Cedric, maka kau juga tidak boleh!” lirihnya dingin. Namun, Hailey sama sekali tak menghiraukan ancaman yang keluar dari mulut Ruby. Ia jauh lebih takut pada dirinya sendiri yang telah mencapai ambang batas kewarasan. “Brengsek! Pergi dari sini, Rubelia!” teriak Hailey sekuat tenaga. Jemarinya meremas salju tebal hingga jemarinya memutih, mengatupkan bibirnya rapat-rapat demi menyembunyikan taring tajam yang perlahan mencuat. Setetes air mata hangat lolos
Sejak kembali ke kamar, Ruby tentu saja sama sekali tidak tidur. Ia menikmati tiap detik momen ketika Hailey diseret paksa dari ranjang oleh Nyonya Margaret. Ia bahkan memegangi perutnya yang geli akibat menahan tawa, lalu menunggu waktu yang tepat untuk menyusul keluar. Setelah beberapa saat, Ruby melangkah perlahan menuju jendela kamar. Di bawah sana, terlihat jelas Hailey mengayunkan sekopnya kembali—kali ini gerakannya tampak lemas tak bertenga. “Kasihan sekali…” raut wajah Ruby dibuat seolah prihatin, namun sedetik kemudian ia terkekeh kegirangan. Jika ada yang melihatnya saat ini, tingkah lakunya sungguh menyerupai orang yang telah kehilangan kewarasan. Ruby menarik belati yang ia sembunyikan sejak siang, mengelus permukaan bilah logam itu perlahan, bahkan menyentuhnya ke bibir seolah benda itu adalah makhluk bernyawa. Ia lalu melapisi tubuhnya dengan mantel tebal dan sepatu hangat. Di sepanjang koridor menuju halaman belakang, ia terus bersenandung riang—mambayangkan
Penelope menyapu pandangan ke sekeliling ruangan begitu tiba di kamar lebih awal dibanding yang lain. Segera setelah membersihkan diri, ia mengenakan piyama hangat dan bersiap untuk tidur. Namun, rasa penasaran yang mengusik membuat niatnya tertunda sejenak. Ia menarik laci mejanya dan mendapati belati miliknya telah raib. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. “Ada apa, Pen? Kenapa kau tersenyum sendiri?” Suara Laura mendadak memecah keheningan, membuat Penelope tersentak. Dengan sigap, Penelope mendorong lacinya rapat-rapat, membuat Laura mengerutkan dahi melihat gestur buru-buru itu. “Tidak ada apa-apa… hanya sedang menunggu kabar baik,” sahut Penelope cepat seraya naik ke atas ranjang dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. “Semoga mimpi indah, Laura,” tambahnya, memberikan salam hangat pada satu-satunya rekan kamar yang baru saja kembali. Laura yang kelelahan tak terlalu memusingkan tingkah Penelope yang masih terdengar terkekeh samar dari balik selimut. I
Sudah dua hari Ruby menikmati pemandangan dari balik jendela kaca besar akademi. Di bawah sana, Hailey tampak sibuk membersihkan tumpukan salju di berbagai sudut. Ruby merasa amat terhibur tiap kali mendengar murid-murid lain menatap ke arah objek yang sama lalu tertawa terbahak-bahak, atau saling berbisik melontarkan hinaan. Bagi Ruby, tak ada hari yang lebih indah dibanding melihat gadis pirang itu menderita. Setidaknya, pemandangan itu cukup untuk mengikis rasa jengkelnya. Sebelumnya, saat Penelope menyebut bahwa Hailey mendapat kiriman surat dari Cedric, Ruby bergegas mengacak-acak seluruh isi kamar, tetapi ia gagal menemukan sang burung sihir. Padahal, ia berniat melakukan hal yang sama seperti saat ia menusuk mati Noctius—ikan merah kecil milik Hailey—dengan gunting. Burung itu mungkin disembunyikan di tempat yang tak ia tahu, atau bisa jadi sudah terbang kembali membawa balasan dari Hailey. Saat menyadarinya, Ruby sempat mengumpat kasar. Namun kini, melihat Hailey bekerja ka







