MasukSekilas kulihat pria itu mendekatiku. Tubuhku semakin lemas tatkala gemuruh petir mengguncang tubuhku. Aku menggeggam lengan kemejanya karena begitu ketakutan. Hal yang paling aku takutkan adalah gemuruh petir menyambar.
"Sofia?" Tanya pria itu.
Aku tak kuasa meresponnya. Pandanganku kabur, tubuhku sudah menggigil lemas. Sampai aku tak ingat apapun lagi.
****
Tubuhku menjelma bayang-bayang melayang memasuki lapisan-lapisan ruang. Penuh cahaya dan serba putih. Tubuh lemasku hendak jatuh, namun satu tangan terulur. Aku terkejut. Kutatap lekat dia. Seseorang yang begitu kurindukan, ibu. Aku memeluknya erat.
"Ibu, jangan pergi lagi!" Pintaku dengan iba.
Ibu hanya mengulas senyum sembari mengelus rambutku dalam pangkuannya.
"Ibu kenapa diam saja! Aku lelah. Semua orang yang ku sayang pergi, ibu tetap disini ya."
Kutatap ibu lekat, ia kembali tersenyum tanpa kata dan hanya mendekapku. "Ibu, jangan diam, jawab bu. Andai Sheila juga masih ada ya bu, aku akan berbagi cerita juga dengannya. Aku tak punya siapa-siapa untuk bercerita."
Ditengah aku nyaman dalam dekapannya, ibu melepaskan pelukan itu. Ada tangan lain yang menggenggam erat tanganku. Namun, aku terus menangis meratapi kepergian ibu.
***
"Kau sudah sadar, nak Sofia?" Tanya ibu separuh baya.
Oh, kehadiran ibuku dan mendekapku tadi ternyata hanya mimpi.
Aku kembali meraba sekitar. Ditempat asing ini, sosok ibu yang sangat meneduhkan hadir dihadapanku.
"Bu Aisyah?"
Beliau menyambut kesadaranku dengan senyum yang meneduhkan. Mataku tampak berkaca-kaca. Beliau merentangkan tangan dan aku menerima pelukannya. Aku teringat, wanita ini pernah menolongku saat aku masih kerja diperusahaan cabang papanya mas Arya. Saat itu, beberapa uang gajianku tercopet.
Padahal, itu untuk biaya pengobatan bapak. Bahkan aku sampai mengabaikan makan dua hari karena lembur. Kata atasanku kinerjaku bagus, makanya suka sekali mengerjaiku dengan pekerjaan macam lemburan. Karena syok, aku pingsan dan ditolong bu Aisyah. Dirawat dirumahnya hingga pulih.
"Bu Aisyah yang menolongku lagi?"
Beliau hanya tersenyum. Aku jadi teringat ibu.
"Istirahatlah nak Sofia. Tubuhmu masih begitu lemas." Tuturnya lembut.
Namun, bukankah saat kecelakaan kemarin aku ditolong seorang pria yang hampir menabrak motorku?
Bagaimana ceritanya, dalam ketidaksadaranku malah justru sekarang bertemu wanita baik ini lagi?
"Nduk, kamu mengalami hipotermia. Menggigil tubuhmu sejak kemarin katanya. Makanya ibu cepat-cepat kesini."
Aku terbengong dengan penuturannya. Aku sungguh tidak mengerti keberadaanku sekarang.
Pintu terbuka, seorang perempuan berpakaian dokter masuk "Selamat siang mbak Sofia, alhamdulillah sudah sadar. Saya terkejut saat melihat anda begitu pucat kemarin, ternyata suhu tubuh anda turun drastis. Pasti anda terpapar hujan dalam waktu lama. Untung segera dibawa keklinik, kalau tidak bisa mengancam nyawa."
Kukira aku akan menyusul ibu mati saja tersambar petir. Aku baru sadar ternyata dirawat diklinik.
"Assalamualaikum, lho mama disini?" Suara bariton itu terdengar dari arah pintu dan menuju kearah kami.
Kami terkejut melihatnya.
"Wa'alaikumsalam, iya. Mbak sepupumu ini yang mengabarkan ibu kalau kamu mengantar gadis kekliniknya. Karena penasaran ibu kesini. Ternyata nak Sofia, gadis yang dia maksud?"
"Mama kenal Sofia?" Tanya pria itu terheran.
"Oh, tentu. Kamu tak pernah mengenalkan calonmu pada mama. Tahu-tahu seperhatian itu padanya sampai lupa jalan pulang, Alfan." Protes bu Aisyah. Aku sungguh tidak mengerti. Kenapa mendadak seperti ini?
"Ma, ini tidak seperti yang mama kira. Aku tidak pulang dari kemarin karena sibuk ma. Terus saat aku kemarin sore hendak pulang. Aku tak sengaja hampir menabraknya." Pria itu mencoba membela diri.
"Ah, sudahlah, jangan banyak alasan. Ibu sudah merestui kalian. Ibu tahu, sofia anak baik-baik. Segera lamar dia!"
Aku tercengang dengan penuturan beliau. Kami bahkan tidak pernah punya hubungan apapun selama ini. Dia orang yang begitu dekat dengan mas Arka saat itu. Ya, aku memang mengenalnya dan pernah satu organisasi dikampus. Namanya Alfan, aku memanggilnya dulu mas Al. Diapun pasti tahu kan kedekatanku dengan mas Arka?
Bertahun-tahun kami tak pernah bertemu pasca lulus kuliah. Namun, anaknya tiba-tiba diminta untuk melamarku. Pernyataan konyol apalagi ini?
Sudah jelas aku sama sekali tidak mencintainya. Hatiku sudah habis untuk mencintai mas Arka. Jika aku saja tidak mencintai mas Al, pasti dia lebih tidak mencintaiku kan?
***
Setelah satu hari lebih berada diklinik milik kakak sepupunya mas Al, aku harus pulang. Kabar mendadak yang begitu menusuk dari paman Musa membuatku ingin segera meluncur ke IGD. Bapak dirawat di RS Sawunggalih, Purworejo.
Pekatnya malam seakan mengerti perasaanku yang begitu pekat, langit kota Purworejo menangis, gerimis turun perlahan. Jarum jam menunjukkan angka 20.00 WIB. Tubuhku masih lemah, bahkan untuk memegang pintu mobil saja masih gemetar, mas Al yang terlihat cemas melirikku yang benar-benar belum pulih.
Bu Aisyah membantuku turun dari mobil. Sementara mas Al, tetap menjaga jarak, meneguhkan titah ibunya agar tidak menyentuh wanita yang bukan mahram. Namun, matanya tertuju padaku saat berjalan disebelahku seolah aku yang belum sembuh akan kembali terjatuh.
Didalam rumah sakit, aroma disinfektan tajam bersaing dengan detak panikku. Sekilas pakdhe Musa dan bude Fatma terkejut melihatku yang tampak pucat dan bersama seorang pria dan wanita separuh baya. Sebelum mereka bertanya, suara mas Al terdengar.
"Perkenalkan, saya Al dan ini ibu saya, bu Aisyah. Mohon maaf kemarin jika membuat panik keluarga sampai bapak jatuh sakit. Kemarin, Sofia saya bawa ke..." Belum selesai menjelaskan, suara pintu IGD terbuka mengejutkan kami.
Seorang dokter pria matang menghampiri kami.
"Bagaimana kondisi bapak saya dok?" Tanyaku panik digandeng bude Fatma dan bu Aisyah.
Setelah penjelasan dari dokter. Aku masuk. Bapak terbaring lemah, wajahnya lebih pucat dariku, seolah tak diizinkan menunggu hari esok. Saat mataku berkaca-kaca, suara bapak terdengar. Bu Aisyah masih menuntunku. Disampingnya mas Al berdiri menatap bapak yang terbaring lemah. Satu hal yang aku tahu, mas Al sejak dulu memang punya jiwa empati yang tinggi.
"Akhirnya kamu datang, nak. Sejak kemarin bapak khawatir."
Pandangannya beralih pada mas Al, entah bagaimana senyumnya mengembang. Mas Al membalas senyum hangat seolah begitu iba dengan keadaan bapak.
"Kamu yang selama ini jagain Sofia ya, katanya kemarin niat silaturahim dan melamarnya? Sekarang bapak tenang." Suaranya pelan begitu terbata, namun begitu dalam. "Kalau kamu serius, tolong nikahi dia. Bapak khawatir tidak punya waktu lama lagi."
Baik aku dan mas Al terkejut dan tak sengaja saling pandang tak menyangka.
"Apa?" seruku, nyaris tak percaya.
"Aku akan menikahimu. Kembalilah padaku."“Harus dengan cara apa mengingatkanmu, bahwa kita sudah selesai. Kamu pasti akan menemukan wanita yang kau cintai, mas.”“Tidak, Vi. Aku hanya menginginkanmu. Aku akan mengumpulkan bukti untuk memberi balasan setimpal pada orang yang telah menggagalkan hubungan kita kejenjang serius saat itu.”“Aku menghargai usahamu selama ini padaku mas. Terimakasih, tapi maaf aku tidak bisa kembali padamu.”Dia segera menyahut “Keras kepalamu masih utuh ya, namun kali ini aku tak menyukai keras kepalamu yang memilih Al.”“Karena aku sadar mas, jodoh itu rahasia ilahi. Dan mas Al Adalah jodohku.”“Jika aku saja tidak bisa memilikimu, maka pria manapun tak boleh memilikimu, termasuk Al.”“Jangan egois Arya!”“Aku hanya memperjuangkan apa yang harus aku perjuangkan, Vi. Aku akan memberi pelajaran pada Al karena telah mempengaruhimu.”Aku sungguh geram “Kemana Arya yang dulu kukenal baik dan tak pernah menyakiti orang?”“Aku seperti ini karena kalian.”Aku memo
“Aku ingin kita sama-sama move on. Kau sudah punya Angel.""Aku tak pernah mencintainya. Dia yang terus mengejarku."Ya, sekarang aku mengerti. Dia tidak pernah mencintai Angel. Mungkin dulu, dia memang benar-benar dijebak. Namun, aku tak boleh menuduh tanpa bukti. "Kamu punya banyak kesempatan bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik dariku, mas. Semua yang berlalu menjadi cerita yang usai.”“Aku tidak bisa, Vi. Aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur gila karenamu.” Teriaknya.Ucapannya membuatku dikepung ketakutan, apalagi tempat ini sangat sepi. Sungguh, aku ingin mati saja. Tiba-tiba ia melajukan mobil dengan begitu cepat tanpa kendali. Aku sampai mual-mual diperjalanan.“Kau harus menerima hukuman dariku karena telah membuatku gila sepanjang malam memikirkanmu.”Dengan teganya, dia kembali menutup mataku dengan kain. Dalam setiap nafasku, aku hanya berdoa semoga dijauhkan dari hal-hal buruk. Apalagi Arya dalam kondisi kesetanan seperti ini.Kali ini aku benar-benar pasrah, tidak
“Ada mama dan kakak.”“Wah, boleh dong aku dikenalin ke kakakmu.”Tiba-tiba handphone mas Al berdering, aku sedikit mengintip dilayar handponenya. Barangkali ada wanita cantik yang menggoda suamiku.“Kenapa?” Tanya mas Al dengan menahan senyum.Dia pasti ingin sekali menertawaiku. Duh, bisa-bisanya aku mendadak seposesif ini. Mungkin, karena dulu pernah sebegitu dalam mencintai laki-laki dan direbut kali ya. Lebih baik aku cari alasan buat jalan-jalan aja. “Tidak apa-apa. Angkat saja mas. Oh ya, boleh aku jalan-jalan ke taman depan itu?”Mas Al mengangguk sembari tersenyum. Tangannya menerima panggilan itu. Dengan tas kecil yang setia menemaniku kemanapun aku pergi, langkah kakiku dengan anggunnya menuju arah taman restoran. Sesekali aku menengok suamiku, ternyata dia masih dalam mode serius menelpon. Sesampainya ditaman, aku terkesima dengan hamparan hijaunya rumput yang tertata sempurna, dipangkas rapi dan berdampingan dengan bunga-bunga. Aku duduk didekat kolam kristal yang meme
“Angel, belum puas juga kau?”“Aku hanya ingin kita bersama, Arya.” Pintanya dengan nada penuh iba. “Dasar wanita pengemis cinta!” Batinku. Pesanan menu makananku datang. Aku hanya mengangguk sebagai isyarat terimakasih, wajahku menunduk masih berpura-pura scroll handphone. Jangan sampai mereka berdua tahu keberadaanku.“Jangan seperti anak kecil, Angel. Kau tak perlu selalu membuntuti aku.” Bentak Arya. Angel menyahut kesal “Hey, jangan lupa. Kalau bukan karena aku, perusahaan keluargamu sudah mati, Arya.” “Kalau kau butuh kalimat itu untuk merasa menang, silakan.”Napas Arya tertahan. Lalu melanjutkan kalimatnya.“Tapi dengar baik-baik, jangan pernah berpikir aku hidup dalam permainanmu, Angel. Suatu saat kau akan menyesal.”“Kau bicara apa, Arya?”Suara langkah kakinya menjauh, disusul suara langkah kaki high heels wanita itu. Syukurlah aku bisa bernapas lega. Manusia-manusia berkuasa itu sudah pergi dari tempat dekat aku duduk. Aku berharap takkan pernah lagi bertemu mereka.Se
“Masih diselidiki Fatih. Dugaan kuatnya pelaku asli menyewa saksi palsu.” Jawabnya tenang sambil menyetir. "Jahat sekali. Lalu kemana Saksi asli selama ini? Kenapa dia tidak muncul dan berkata sebenarnya?" Dengusku. "Saksi asli terancam dan terintimidasi. Tapi lebih jelasnya masih ditelusuri. Sabar, sayang." "Tuh kan. Semakin sak-sak e dewe. Bagaimana bisa itu terjadi?" “Ada rekayasa barang bukti dan hakim memutuskan berdasarkan alat bukti sah.” “Harusnya hakim memutuskan berdasarkan kebenaran absolut dong mas?” “Dalam proses pengadilan, kunci utama alat bukti, sayang.Ketika semua saksi dan alat bukti kuat mengarah ke bapak, maka bapak diputuskan bersalah meski bukan pelaku.” Ucapannya tanpa rasa bersalah padaku. “Enteng sekali kau bicara seperti itu. Bapak tidak bersalah lho mas.” Tiba-tiba aku kecewa padanya. Mood ini memang naik turun kalau bicara sama dia, entahlah. Akupun tak tahu. "Iya, aku tahu. Aku hanya bicara kenyataan yang terkadang terjadi dilapangan. Tidak ada ma
“Bisa kita selesaikan setelah kita pindah, sayang.”“Hmmm.”"Kalau kamu keberatan, kita didesa aja. Sejujurnya, aku lebih tenang hidup sederhana bersamamu seperti ini. Aku tidak capek kok kalau harus bolak-balik Purworejo-Jogja."Perkataannya menyambar ulu hatiku. Seakan egoku begitu tinggi. Apa sulitnya mengiyakan permintaan suami, sedangkan selama ini dia telah melakukan banyak hal untukku dengan begitu tulus. Bahkan bapak bisa sembuh karena mas Al. "Aku nggak keberatan kok, kamu kan harus kerja setiap hari di Jogja. Kesehatanmu juga penting. Disisi lain, aku memang harus ikut kamu, mas. Aku juga penasaran dengan keluargamu di sana."Dia menoleh kearahku, senyumnya mengembang. “Nanti kita menghadapi apapun bareng-bareng ya.”Aku hanya mengangguk, teringat saat awal pernikahan itu dia sempat berkata kalau keluarganya bisa dibilang tidak baik-baik saja. Semoga aku salah mendengarnya. “Btw, kita mau kemana mas?”“Ke tempat makan paling enak. Aku traktir, kamu pilih apapun yang kamu







