Share

4. Menikah Dadakan

Author: Hidayatun Q
last update Last Updated: 2025-05-13 06:47:35

Mataku membola, ingin meluruskan, namun suara rapuh itu terlalu suci untuk dibantah. Dadaku sesak, detak jantungku berpacu hebat.

Mas Al menatap lekat bapak seakan titah itu begitu dalam. Bukankah mas Al tahu, selama ini hatiku hanya milik mas Arka. Mungkin dia sedang memilih kata untuk menolak secara halus.

Dia pasti bijak ambil sikap karena saat kuliah dulu, aku mengenalnya sangat bijak dalam berbagai hal. Apalagi pria seperti mas Al terlihat begitu bertanggungjawab tidak mungkin juga jika dia mengabaikan kekasihnya disana. Mungkin begitu.

"Baik pak, saya siap." Suara itu terdengar serak dan dalam.

Aku meliriknya dengan tatapan tak percaya. Namun, dia membalas tatapanku dengan anggukan seolah meyakinkanku. Saat aku ingin berbicara berdua dengan mas Al, namun bu Aisyah malah memperkeruh harapanku dengan perkataannya.

"Saya setuju dengan anda. Biarkan mereka tidak ada penghalang lagi jika sering bertemu seperti ini. Saya lihat putra saya sangat cemas sejak kemarin, tadi saat saya tuntun nak Sofia saja sepertinya perhatiannya tidak berpaling sedikitpun. Namun, kami juga berharap anda segera pulih agar melihat kebahagiaan mereka kedepan."

Oh, jadi tadi bu Aisyah juga memperhatikan. Orang berempati seperti mas Al mah wajar secemas itu melihat orang lemah, apalagi kondisiku yang belum pulih ini. Namun, aku tak boleh egois, kasihan mas Al disini, dia korban. Kemarin menolongku, sekarang justru terjebak kesalahpahaman berlarut-larut ini.

"Maaf, bu Aisyah, bapak. Saya..."

Kalimatku menggantung diudara karena mas Al turut serta menyahut.

"Saya tidak keberatan menikah dengan putri bapak, tapi saya harap sembuhlah untuk kami."

Kurasa dia sangat paham apa yang akan kulakukan dan tidak tega saja pada bapak yang terbaring lemah disana. Juga untuk menolak titah ibunya yang seakan-akan membuatnya durhaka didepan orang. Baiklah, setelah pernikahan yang penuh kesedihan ini, nanti akan aku pikirkan lagi keputusannya dengan mas Al.

Dengan situasi penuh haru dan harapan akan kesembuhan bapak, beberapa jam kemudian akad pernikahanpun dipersiapkan secara mendadak malam itu. Aku benar-benar diujung kecemasan. Hanya berharap semoga bapak masih panjang umur. Andai uangku sudah terkumpul banyak sejak dulu, tentu aku tak menunda lagi untuk operasi ginjal senilai tiga ratus juta itu. Tidak juga terjadi pernikahan terpaksa ini.

"Bapak hanya ingin melihatmu menikah, bahkan kalau mampu menikahkan. Bapak takut tidak bisa melihatmu menikah saat kau menundanya lagi." Aku teringat lirihnya beberapa waktu lalu yang sangat tak berdaya. Hanya keajaiban yang kuharap. Air mataku pun mengalir. Titik terapuhku saat ini adalah keluarga. Hanya bapak yang kupunya.

Hatiku begitu retak setelah melihat penghulu dari teman paman, saksi, ibu beberapa saudara dekat mas Al yang datang dan mahar yang disiapkan secara dadakan.  Baru dua hari lalu bu Aisyah berkata, hari ini jadi nyata. Duh, mimpi apa ini?

Apa kabar dengan hati yang terluka disana?

Semoga kekasih hati mas Al juga bisa mengerti. Mungkin setelah ini, aku akan bicara baik-baik untuk mengakhiri  rumah tangga terpaksa ini. Tidak akan kubiarkan ada hati wanita yang tersakiti. Ya, aku merasakan betapa sedih hati tersakiti oleh harapan bertahun-tahun.

Beberapa menit setelahnya, acara ijab kabul mulai menggema diruang sempit yang begitu hening ini.

Qobiltu nikahaha wa tazwijaha Silma Ainus Sofia binti Ahmad Farhan bi mahrin madzkur Halan.

Suara mas Al yang begitu  tenang dan dalam begitu menggetarkan hatiku. Aku menunduk. Air mataku pecah mendengar ijab qobul itu. Sekilas kulihat bapak menangis. Acara sakral ini terpaksa dilakukan disini. Selang dan infus turut menjadi saksi haru.

Tiada terduga akhirnya aku menjadi seorang istri dari mas Alfan Seif Muzakki, S.H., M.H. Pria yang tiba-tiba menyelamatkanku dari kemelut yang tidak terduga ini demi bapak. Tangisanku tak berujung, sampai tak terasa aku yang berada disamping mas Al dipanggil olehnya.

Dia mengecup keningku dan merapal doa pengantin, tangisanku semakin pecah. Setelah ini tanggungjawab bapak sudah beralih kepada mas Al. Meski aku ikhlas jika harus dilepas lagi. Karena bagaimanapun pernikahan ini tanpa rencana dan terpaksa.

Satu hal terpenting, aku tidak siap kehilangan bapak. Satu-satunya keluarga kecil yang kupunya, meskipun masih ada paman dan budhe. Mengerti yang kurasakan, bu Aisyah memelukku. Aku bergetar hebat didekapannya. Aku begitu heran dengan hal-hal diluar dugaan akhir-akhir ini.

Aku sendiri sebenarnya juga masih penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada mas Arka sampai bisa melepaskan aku begini dan setega itu mengirim foto bersama Angel?

Hati kecilku masih menyangkal jika yang dilakukan mas Arka adalah pengkhianatan. Dia pribadi yang selalu jujur dan baik padaku. Jika benar ada sesuatu yang terjadi, lantas bagaimana nanti mas Arka tahu, jika aku menikahi teman dekatnya dulu?

Aku memang harus menyembuhkan luka pengkhianatan ini dan melupakan pria itu. Namun, tidak menyangka saja secepat ini dapat pria pengganti, bahkan menikahiku. Padahal aku berniat mengosongkan hati dulu untuk siapapun.

Saat banyak pertanyaan menyelinap dibenakku, tubuhku bertambah lemas. Akhinya akupun kembali melemah didekap bu Aisyah. Samar-samar terdengar suara.

"Ya Allah tubuhnya kembali panas dan menggigil. Dia masih belum pulih dan butuh penanganan."

Sampai akhirnya aku tak ingat apapun lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   12. Hancur Bersama

    "Kapan kalian menikah?"Mas Al masih mengelap darah diujung bibir atasnya. Keduanya kembali duduk dengan perasaan berdarah-darah. Aku duduk disebelah mas Al."4 Mei kemarin." Jawabku tegas. Mas Arka tampak mengingat-ingat. Mungkin saat itu dia sedang koma.Sungguh hati ini begitu pedih. Saat kuliah dulu, mereka sangat akrab sebagai aktivis di organisasi dan saling bertukar pikiran sebagai pria pemikir. Aku dan mas Arka jurusan Management Bisnis, sedangkan mas Al jurusan Hukum satu tahun diatas kami."Ternyata kau sungguh licik, Al. Memanfaatkan keadaan, kau sudah tahu pasti sejak dulu aku kekasih Sofia, kan?" Todong mas Arka."Jangan menuduh! Aku menikahinya karena keadaan mendesak. Sebelumnya pun, aku sudah mengirim pesan kenomormu dan kau tak mempermasalahkan, kan?""Pesan? Kenomorku? Jangan-jangan kaulah yang berbuat kelicikan ini. Katakan dimana ponselku?!""Aku tak pernah tahu menahu tentang ponselmu, Arka. Bahkan, sejak lulus kuliah, kita jarang berkontak, bukan? Hanya kemarin,

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   11. Kenyataan dan Pernyataan

    Sofia POV"Assalamualaikum." Suara ketukan pintu terdengar. Aku segera mengambil bergo dan membukanya."Waalaikumsalam."Aku terkejut melihat seorang pria yang tak asing masuk rumahku. Beraninya dia datang kesini sendirian. Dia pikir ini kota, bagaimana dengan pandangan warga yang melihat bukan mahram masuk kesini seorang diri, harusnya dia bawa saudara perempuan atau siapapun itu. Mas Al bilang pulang telat lagi. Hm. Semoga tidak lama dan tidak jadi fitnah. Aku jadi panik. "Silahkan duduk, mas." Sebenarnya hatiku masih menyambut perasaannya. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Apakah aku juga harus butuh waktu tujuh tahun juga untuk melupakannya?Aku membuatkan minum dan memberi kabar pada mas Al atas kedatangan mas Arka. Sayang, kucari-cari handphoneku sama sekali tak kutemukan. Aku semakin panik. Duh, bagaimana ini? Bapak lagi solat lagi dimushola, pasti lama banget wiridannya. Aku segera keluar membawa minum."Sendirian saja mas dari Jakarta?" Tanyaku memecah keheningan."Iya

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   10. Penyesalan Arka

    Arka's POVSetelah sadar dari koma selama 10 hari di ICU, mereka berkata tubuhku mulai stabil dan dipindah ke ruang perawatan. "Alhamdulillah, kamu sudah kembali sadar." Suara yang sangat tidak asing terdengar begitu mencemaskanku. Mama.Aku mengerjapkan mata. Teringat hari-hari yang berlalu. Terakhir aku menyetir dalam keadaan mabuk dan berujung entah kemana. Ternyata aku masih hidup.Sesaat beberapa memori melintas dibenakku. Menyelinap halus betapa pedihnya ujian kali ini.Aku teringat betul, aku mabuk karena melampiaskan stres berkepanjangan karena bisnis papa dihantam ujian yang hebat. Padahal sejak dulu aku paling takut minum benda haram itu, benar juga. Minuman haram itu membuatku sampai kecelakaan karena nyetir sambil mabuk. Kepalaku kembali berat, apalagi mengingat hal lain yang lebih berat lagi. Setelah memberikan kepastian untuk datang silaturahim dan melamar kerumahnya. Aku justru terkapar disini.Hal yang lebih menyakitkan lagi, saat papa berkata ingin menjodohkanku deng

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   9. Menantu Idaman Bapak

    Dapur dipenuhi aneka masakan untuk bahan kontenku. Meskipun tubuhku seperti remuk redam dikuasai suami sendiri tadi malam. Namun aku tetap tak boleh malas. Aku masih terngiang. Betapa romantisnya malam-malam teduh kami. Setelah salat subuh, mas Al kembali terlelap. Sebenarnya aku masih takut, kami belum mengadakan pelegalan nikah dan resepsi. Meskipun, tadi malam mas Al sempat bilang hal yang meyakinkanku."Setelah bapak sudah berangsur membaik. Kita akan mengadakan resepsi dan menikah secara sah agama dan negara. Namun, kuharap suatu saat nanti, kamu bisa menerima keluargaku. Meskipun, hubungan keluargaku bisa dikatakan tidak baik-baik saja." Aku jadi penasaran, keluarga mas Al seperti apa?Padahal sejauh ini aku mengenal dia pria yang sangat baik dan bijaksana. Terkadang, memang dibalik bijaknya seseorang tergantung dari sikap yang dibentuk saat menghadapi banyak masalah.Aku jadi teringat dengan biaya operasi bapak yang tidak sedikit. Setiap kali aku tanya, dia selalu mengalihkan t

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   8. Memililikimu Seutuhnya

    "Maaf." Ucap mas Al dengan raut begitu bersalah.Tanpa menjawabnya, aku beranjak pergi kekamar. Benar-benar hatiku tak berhenti berdebar. Mungkin karena posisiku halal baginya. Jantungku yang berpacu kian hebat memilih untuk berwudhu untuk salat Isya.Saat memakai mukena, sekilas handphoneku bergetar. Nomor asing. Beberapa kali panggilan tak terjawab. Ada deret pesan didalamnya.[Assalamualaikum, Vi.][Vi, tolong maafkan aku. Aku akan menjelaskan semuanya. Bisakah kita bertemu besok di cafe Lestari?][Aku masih begitu mencintaimu, Vi.]Aku membalas pesannya. Meski tidak menyebutkan nama, aku tahu, ini dari mas Arka. Entah berapa kali dia bilang mencintaiku sebagai kekasih. Tidak seperti mas Al yang sama sekali tidak pernah bilang begitu.[Cukup berdustanya. Aku sudah tidak percaya bualan-bualanmu, apapun itu. Saat kamu memutuskanku lewat chat dan keluargamu yang tidak menyetujuiku, aku harap kita beteman saja, tidak lebih. Maaf kalau banyak salah selama ini.]Aku sudah tidak mau berur

  • Terpaksa Nikah Diratukan Parah   7. Kecupan Pertama

    "Mas Al seorang advokat?"Dia mengangguk. Oh, kebetulan sekali. Pucuk dicinta ulampun tiba, suami sendiri yang akan membersihkan nama bapak. Apakah ini dibalik ujian yang bertubi-tubi?"Aku akan membantumu mencari pelaku aslinya. Dia berhak menuai perbuatannya dalam keadilan." Ucapnya tenang, namun tajam dan dalam.Kali ini aku terharu. Tanpa sadar, diriku yang labil ini melompat kepelukannya. Mas Al tampak terkejut dengan sikapku."Terimakasih banyak, mas." Saking senangnya mendengar ada partner yang membantu membersihkan nama bapak. Tanpa sadar, aku memeluknya erat."Sama-sama, sayang."Sekarang giliran aku yang terkejut saat mendengar bibirnya mengatakan 'sayang'. Aku mendongak ke wajahnya. Dia tersenyum hangat. Melihatnya sedekat ini, baru kusadari. Ternyata suamiku setampan ini."Aku tahu aku tampan, jangan menatapku begitu! Nanti kau lebih cepat jatuh cinta padaku." Ucapannya membuatku segera melepaskan diri. Bisa-bisanya salah tingkah begini."Dimakan dulu buburnya. Aku suapi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status