Início / Romansa / Terpaksa Satu Atap / Bab 1. Derita Para Jomblo

Compartilhar

Terpaksa Satu Atap
Terpaksa Satu Atap
Autor: Shira Sirius

Bab 1. Derita Para Jomblo

Autor: Shira Sirius
last update Última atualização: 2025-12-29 23:06:57

"Astagfirullah Yuana..." Bunda Vera langsung shock melihat Yuana yang sedang berpelukan dengan Arthur, terlebih pakaian keduanya yang cukup terbuka sangat mendukung prasangka semua orang. Begitu pula Mami Lidia yang melihatnya pun langsung terkejut.

"Arthur, apa-apaan kalian berdua?!!" Teriak Mami Lidia dengan jantung yang sudah berdetak cepat. Tak menyangka anaknya akan berbuat demikian dengan seorang perempuan.

Ya, saking kagetnya karena kamar yang mereka tempati terbuka tiba-tiba, Arthur dan Yuana refleks berpelukan. Dan ketika mereka sadar dengan perbuatan mereka, semua sudah terlambat. Buru-buru mereka melepaskan pelukan satu sama lain.

"I-ini semua salah paham Mi..." Ujar Arthur tergagap, dia tidak habis pikir jika Maminya akan tiba-tiba datang ke rumahnya.

"Bund... Ini salah paham." Ujar Yuana sambil ketakutan.

"Waow Ar... Aku gak habis pikir, kamu sama Yuana..."

"Balik badan Kai! Gak usah lihat!" Seru Mami Lidia sambil menabok wajah Kaidan dengan tas brandednya untuk menutupi mata Kai yang melihat ke arah Yuana. Dan refleks Kai langsung balik badan.

"Mi, ini gak seperti yang mami pikirkan." Ujar Arthur mencoba memberi keterangan, namun sang Mami sepertinya menolak untuk percaya.

"Sudah diam kamu! Kamu pikir mami bodoh?! Kamu aja cuma pakai boxer, boxernya gak keren pula!" Mendengar itu Arthur langsung menutupi tubuh bawahnya dengan bantal.

"Yuan, Bunda gak nyangka kamu bakalan seberani ini." Ujar Bunda Bera sambil menangis.

"Bund... Yuan gak gitu... Yuan cuma..."

"Dia anak kamu Ver?" Tanya Mami Lidia yang diangguki Bunda Vera dengan air mata yang menetes.

"Ya sudah, kita kawinkan saja mereka." Ujar Mami Lidia.

"Apa??!!" Seru Arthur dan Yuana bersamaan.

"Iya, kalian berdua harus segera dinikahkan!" Tambah Bunda Vera yang membuat keduanya kembali terkejut.

"Gak mau!!" Seru mereka berdua lagi.

Semua kejadian itu bermula dari awal pertemuan Arthur dan Yuana beberapa hari yang lalu. Dan inilah semuanya berawal....

* * *

Flashback satu minggu sebelumnya.......

Pagi itu di sebuah ruangan bergaya klasik modern dengan dekorasi minimalis lengkap beserta satu set sofa, kursi dan meja kera, bahkan rak buku yang tertata epik di sana menambah keelegenan ruangan tersebut. Namun bukan hanya isi ruangan itu saja yang sangat menarik untuk dipandang, melainkan si pemilik ruangan tersebut.

Seorang pria muda yang gagah dan tampan tengah sibuk dengan tumpukan berkas di atas meja kerjanya. Sesekali dia mengerutkan dahinya dengan mata yang tetap fokus membolak balik kertas di hadapannya.

Mata elangnya yang tajam dengan bentuk rahang yang kokoh membuatnya terlihat begitu berkharisma dan terlihat dingin secara bersamaan.

Dialah si pemilik ruangan itu. Lelaki tampan yang begitu terkenal dengan ketegasannya, gila kerja, si tampan yang dingin, Raja Iblis yang tampan dan banyak lagi julukan untuknya. Bahkan ada yang menyebutnya si alergi perempuan.

Sebutan itu tidak begitu saja ia sandang, tapi itu karena hingga saat ini tidak ada satu pun wanita yang berhasil mendekatinya apalagi meluluhkan hatinya. Bahkan hingga diusianya yang sudah cukup matang untuk menikah itu, dirinya tidak sekali pun menunjukkan tanda-tanda menggandeng atau menggaet satu wanita pun di sisinya.

Hingga tersebar rumor dirinya adalah salah satu dari kalangan kaum pelangi. Tapi sayangnya itu tidak dapat mengganggu hindupnya sama sekali, dia hanya terfokus saja pada pekerjaan, kerja dan kerja.

Tidak heran sebutan si gila kerja dan Raja Iblis Tampan di tempat kerjanya ia sandang, karena jika sudah berusan dengan dia di tempat kerja, maka orang tersebut tidak akan selamat sebelum ia puas dengan hasilnya.

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari arah luar ruangannya, namun tak mengurangi konsentrasinya dari berkas-berkas tersebut sedangkan suara baritonnya mengintruksi orang di luar sana untuk masuk.

"Masuk!" Jawabnya.

"Maaf Pak, ini laporan mengenai kantor cabang yang Bapak minta." Ucap lelaki tampan berkaca mata yang merupakan asisten pribadinya sambil menyodorkan sebuah map warna biru di hadapannya.

"Terimakasih." Jawabnya singkat sambil menerima map tersebut dan langsung memeriksanya.

"Kamu masih belum bisa menemukan pengganti Pak Agus yang pensiun untuk Kepala Cabang?" Tanya pimpinan muda tersebut yang merupakan CEO dari sebuah perusahaan periklanan yang cukup besar di Jakarta.

"Sudah Pak, saya menyarankan posisi Kepala Cabang dipegang oleh Pak Jamal karena selain beliau sudah berpengalaman cukup lama di perusahaan ini, kinerja beliau juga sangat bagus. Selama beliau menjabat sebagai Kepala Produksi tidak ada masalah yang tidak pernah beliau selesaikan dengan baik." Jawab asisten pribadinya.

"Selain itu beliau adalah orang yang bersih, dapat dipercaya dan bisa diandalkan. Sudah sewajarnya orang seperti beliau naik ke tempat lebih tinggi." Tambahnya lagi.

"Ya, kamu benar. Saya setuju itu. Lalu, kita masih memerlukan tambahan karyawan untuk Divisi Design karena salah satu karyawan lama ada yang resign setelah menikah sementara satunya lagi masih cuti melahirkan." Ucap pimpinan tampan itu menanggapi.

"Mengenai karyawan baru, saya sudah memasang lowongan lewat media sosial. Mungkin sebentar lagi sudah ada banyak yang akan datang melamar." Jawab asistennya lagi.

"Bagus, nanti saya akan...." Belum sempat sang CEO tampan itu melanjutkan kalimatnya, terdengar suara dering telepon dari ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia pun mengerutkan dahinya sembari meraih benda pipih itu dan melihat nama siapa yang tertera di sana.

Ternya itu telepon dari Maminya. Dengan ogah-ogahan dia mengangkatnya, dia sudah tau pasti apa yang akan Maminya katakan nanti.

"Hallo Mi..."

Arthur sayang... Malam ini kamu bisa kan pulang ke rumah? Sudah hampir seminggu lho kamu gak pulang, Mami kangeeenn banget sama kamu."

Ya, CEO muda nan tampan itu adalah Arthur Pradana. Putra satu-satunya dan penerus dari keluarga Pradana.

"Arthur usahain ya Mi..." Jawab Arthur singkat seperti biasanya.

"Ya harus dong sayang... Kebetulan nanti ada temen Mami sama anaknya yang mau makan malam di rumah. Kamu pasti bisa kan pulang sayang?"

Nah ini nih yang bikin Arthur malas pulang ke rumahnya. Dia di tempat kerja adalah sang penguasa perusahaan yang ditakuti oleh semua bawahannya. Semua yang keluar dari mulutnya adalah perintah yang harus dilaksanakan, tapi jika sudah di rumah maka sang penguasa di sana adalah sang Mami.

Selama kurang lebih seminggu ini dirinya sengaja tidak pulang ke rumah hanya untuk menghindari hal seperti itu.

Maminya terus terusan menerornya untuk segera cari pasangan dengan alasan dia sudah cukup matang di usianya yang 32 tahun, takut dirinya lama kelamaan karatan sedangkangkan Maminya pengen segera menimang cucu.

Maka sudah hampir seminggu ini dia menginap di kantornya, ada kamar tersembunyi di dalam ruang kerjanya. Atau terkadang ia menginap di rumah Kaidan, asisten pribadinya itu yang merupakan sahabatnya sendiri.

Alasan maminya menyuruhnya pulang malam ini pasti gak jauh-jauh dari perjodohan. Sudah sering sekali Arthur menolak bahkan sengaja lari dari kencan buta yang sudah diatur oleh Maminya dengan beberapa wanita pilihan maminya itu.

Bukannya dia gak mau nikah, tapi masih belum ada yang klik aja, sementara dirinya tidak suka bila harus dijodoh-jodohkan seperti itu.

"Gak janji ya Mi... Kerjaan Arthur banyak banget, banyak yang harus segera diberesin." Alasan Arthur.

"Kamu itu alasannya itu itu aja, kerjaan memang penting tapi masa depan keluarga Pradana juga penting. Gimana Mami mau menimang cucu kalau kamu kerjaannya sibuk melulu di kantor dan cuma bergaul sama Kaidan saja. Lama-lama kalian berdua itu sudah seperti pasangan homo karena sama-sama jomblo. Kamu... Gak bener-bener suka sama Kaidan kan Ar?"Tanya Maminya curiga. Arthur yang mendengar tuduhan maminya itu langsung menghela napas lelah.

"Ya sukalah Mi, kalau gak suka mana mungkin Arthur jadikan Kaidan asisten pribadi." Jawab Arthur yang malah sengaja menggoda Maminya. Sementara Kaidan yang masih berdiri di sana hanya bisa melongo mendengar namanya disebut.

"Terserah kamu sajalah Ar, capek Mami bilangin kamu! Pokoknya nanti malam Mami tunggu di rumah!"

Setelah mengucapkan itu, Maminya langsung mematikan panggilan secara sepihak. Arthur hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Maminya itu.

"Kamu ngapain sebut-sebut nama aku ke Mami kamu?" Tanya Kaidan yang kini sudah mode santai sesama teman.

"Kata Mami aku, kita kayak pasangan homo yang kemana mana selalu berdua." Jawab Arthur seperti yang dituduhkan Maminya tadi.

"Astagfirullah..." Sahut Kaidan sambil mengelus dadanya. "Aku masih normal Ar... Aku gak suka sama terong!" Tambahnya.

"Bhahaha... Kamu pikir aku doyan?" Ujar Arthur menimpali sambil terbahak bahak.

"Makanya mending kamu terima saja tawaran Mami kamu itu. Kan cuma ketemu doang gak langsung kawin." Saran Kaidan padanya.

"Kowan kawin...kowan kawin, kamu pikir aku kucing! Ogah! Kamu aja sana!" Ujar Kaidan tidak setuju.

"Ketimbang kita dikira homo..." Sahut Kaidan.

"Kalau pun homo aku juga pilih-pilih kali Kai, gak bakalan aku pilih kamu." Ungkap Arthur setengah mengejek.

"Siapa juga yang mau sama kamu?!." Sahut Kaidan menimpali dengan setengah kesal.

"Lha kenapa? Aku ini ganteng dan mapan." Tanya Arthur dengan pongahnya.

"Tapi kamu rada gesrek!" Jawab Kaidan.

"Sialan!" Umpat Arthur yang bikin Kai terkekeh mendengarnya.

"Sudah jangan bahas itu lagi. Kapan rencananya Pak Jamal di kirim ke kantor cabang?" Tanya Arthur menghentikan obrolan absurd mereka.

"Rencananya besok pagi beliau akan ke Kantor Cabang untuk meninjau tempat sambil mengamati kinerja pegawai di sana sebelum resmi pengangkatan." Jawab Kaidan.

"Tunda dulu, besok pagi kita yang akan pergi. Sementara Pak Jamal suruh mengawasi Perusahaan selama kita tidak ada. Biar nanti dia dibantu sama sekretaris aku, Delo." Perintah dadakan Arthur itu membuat Kaidan terkejut.

"Jangan bilang kamu mau kabur lagi dari Mami kamu Ar?" Tebak Kaidan, sementara Arthur hanya membalasnya dengan tersenyun smirk.

"Ughh sial..!" Rutuk Kaidan kesal.

******

Sementara itu di lain tempat, di dalam sebuah kamar seorang gadis cantik berkulit putih terlihat sangat damai di dalam tidurnya. Senyumnya mengembang dengan mata yang masih tertutup rapat.

Sesekali tanpa sadar ia mengelap sesuatu yang keluar dari ujung bibirnya saat tersenyum. Sepertinya kini dia sedang menikmati mimpi indah di balik selimut biru tuanya. Tapi sayang sekali mimpi indahnya itu harus berakhir saat itu juga, karena...

Byuurr...!!

"Harpp...harppp... Banjir! Banjir!" Teriaknya gelagapan sambil meraup wajahnya yang basah oleh air.

"Banjir kepalamu?!" Sahut seorang wanita paruh baya dengan gayung kosong di tangannya sambil berkacak pinggang.

"Ya ampun Buuun... Kok aku diguyur air sih?! Kan Yuan jadi basah Bun." Protes gadis yang menyebut dirinya sebagai Yuan.

Ya, gadis itu bernama Yuana Paradipta yang biasa dipanggil Yuan atau Yuan-Yuan oleh orang di sekitarnya, anak perempuan satu-satunya Bunda Vera, janda sholeha yang diam-diam punya real estate mewah di kawasan elit.

Kekayaan tersembunyi Bunda Vera itu hanya diketahui oleh kedua anak perempuan dan lelakinya saja, serta orang terdekatnya saja, bahkan keluarga almarhum suamianya saja tidak mengetahuinya. Sementara Bunda Vera dan kedua anaknya memilih tinggal di rumah peninggalan almarhum suaminya di kampung pinggiran kota.

"Kamu emang kudu diguyur air dulu biar bisa bangun! Lagian anak perawan jam segini masih molor aja kayak kebo." Ujar Bunda Vera, ibu Yuan.

"Kok disamain sama kebo sih Bun?! Kan cantikan Yuan-Yuan kali..." Protesnya lagi gak terima.

"Idih... Cantik, cantik hari gini masih jomblo, mendingan kebo. Tuh, kebonya Mang Cecep aja udah kawin dan udah beranak. Lha kamu?" Sindir Bunda Vera pada anak gadisnya yang suka dinyinyirin tetangga karena diusianya yang sudah 28 tahun masih aja anteng menjomblo.

"Duh Bun, bahas itu lagi, itu lagi... Bosen Yuan dengernya." Sahut Yuan sambil mengusap-usap telinganya dengan wajah ditekuk.

"Bunda lebih bosen lagi Yuan... Setiap ketemu tetangga selalu nanyain kapan kamu nikah? Kok gak pernah gandengan sama cowok? Apalagi si Yudha adek laki-laki kamu sudah punya pacar, lha kamu kapan Yuan?" Ujar Bunda Vera sambil menatap sendu anak gadisnya.

"Ngapain Bunda dengerin omongan tetangga? Lagian itu tetangga perhatian banget sama Yuana. Yuan kan anaknya Bunda, bukan anak tetangga. Terus itu si Yudha kan masih pacaran bukannya kawin Bun, kuliah aja belum kelar, belum tentu juga itu pacarnya jodohnya Yudha." Ucap Yuan yang makin pinter aja menjawab pertanyaan Bundanya yang entah sudah berapa kali itu.

"Nih anak makin pinter aja ngejawab omongan orang tua." Ujar Bunda Vera sambil menjewer kuping Yuana yang kini tengah mengaduh kesakitan.

"Aduh duh, sakit Bun..." Teriak Yuana sambil mengusap telinganya yang baru saja terlepas dari tangan maut Bunda Vera.

"Lagian Yuana kan masih ingin berkarier Bun..." Tambah Yuana.

"Ingin berkarier tapi malah resign dari kerjaan, kamu pikir cari kerja gampang?" Sahut Bunda Vera menohok.

"Kan Yuan sudah bilang kalau si bos di sana tuh mata keranjang Bun. Masak Yuana mau dijadiin istri ketiganya. Mana itu orang mukanya gak karu-karuan lagi, ganteng kagak tua iya." Jelas Yuan sambil bergidik ngeri saat mengingat mata jelelatannya si mantan bosnya itu.

"Kamu aja yang kebaperan, mungkin aja bos kamu itu cuma bercanda kagak serius." Terka Bunda Vera.

"Bunda sih kagak lihat langsung tatapan genitnya itu bikin merinding Bun... Udah kayak Cu Pat Kai yang air liurnya kemana mana, hiii..." Tambah geli aja tuh Yuana saat teringat mantan bosnya itu.

"Lagian Yuana kan gak nganggur-nganggur amat Bun, Yuan masih nerima pesenan desain lewat online kok meski gak banyak." Tambahnya lagi membela diri.

"Terserah kamu aja dah, ngejawab melulu kalau dikasih tau orang tua. Pokoknya sekarang kamu bangun! Mandi biar wangi, lalu dandan yang cantik siapa tau ada laki-laki yang tiba-tiba nyamperin kamu kagak bau jigong!" Omel Bunda Vera.

"Yuan masih ngantuk Bun... Tadi malam habis begadang bikin desain undangan. Yuan mau ngelanjutin mimpi indah Yuan ketemu Suga BTS yang tadi dirusuh sama Bunda." Jawab Yuan sambil balik lagi rebahan yang langsung dapat tabokan gayung di bokongnya.

Plak..!!

"Bangun nggak kamu?! Bunda guyur lagi kamu sama air sebaskom!" Ancam Bunda Vera. "Mandi-mandi sana, dandan yang cantik trus keluar jalan kemana kek, siapa tau ketemu jodoh di jalan." Tambah Bunda Vera dengan sejuta omelan panjangnya untuk anak gadisnya.

"Iya, iya Bun... Ini Yuan bangun." Jawab Yuana sambil ogah-ogahan turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar mengikuti sang Bunda.

"Disuruh cepet bangun bukannya ditawarin sarapan malah diusir keluar buat tebar pesona." Gumam Yuana yang ngedumel sambil berjalan di belakang Bunda Vera.

"Bilang apa kamu Yuan?" Tanya Bunda Vera seraya menengok ke arah Yuana.

"Kagak Bun, Yuana kagak bilang apa-apa." Elak Yuana gelagapan, sedangkan Bunda Vera cuma melotot sinis pada anaknya lalu kembali berjalan ke arah dapur.

"Busyeettt... Tajem bener telinga Bunda, padahal Mpok Enha yang umurnya dibawah Bunda aja kupingnya udah bolot." Batin Yuana sambil geleng-geleng kepala. Lalu dia bergegas menuju kamar mandi.

Setelah mandi dan dandan paripurna sesuai perintah Bundanya, Yuana menuju ke dapur buat mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Melihat putrinya yang sudah rapi, akhirnya Bunda Vera baru bisa tersenyum cerah.

"Nah, gini dong cantik, seger kalau dilihat kagak sepet lagi." Ujar Bunda Vera sambil tersenyum, sedangkan Yuana cuma mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Bundanya.

"Kok sepi Bun? Yudha kemana?" Tanya Yuan yang tidak melihat batang hidung adik sematawayangnya itu.

"Jam segini ya udah berangkat ke kampus lah." Jawab Bunda Vera sambil menaruh secentong nasi ke atas piring di hadapan Yuana.

"Yahh... Padahal Yuan mau nebeng ke cafe dekat kampusnya Yudha." Ujar Yuana lesu.

"Mana bisa? Kamu lupa kalau adik kamu itu sudah punya pacar? Dia bilang mau jemput pacarnya dulu. Lagian kamu kan bisa bawa motor sendiri, ngapain mesti nebeng adik kamu segala." Ucap Bunda Vera mengingatkan kalau Yudha adiknya itu sudah tidak jomblo lagi.

"Lagi males aja bawa motor sendiri. Panas. Kalau sama Yudha kan enak bisa ngadem di dalam mobil." Sahut Yuan sambil memasukkan potongan ayam goreng ke dalam mulutnya.

"Ya sudah naik taksi saja." Timpal Bunda Vera yang ditanggapi Yuana dengan anggukan kepala sementara mulutnya tengah sibuk mengunyah.

"Tapi bayarin ya Bun... hehehe..."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 16. Arthur Kesal

    "Hai Ar..." Sapa Kaidan begitu masuk ke ruangan Arthur. "Main nyelonong aja, gak ketuk pintu. Dari mana aja kamu?" Sindir Arthur. "Yaelah, perlu aku ulang lagi sambil ketuk pintu?" Sahut Kaidan santai. "Telat!" Sahut Arthur ketus. "Dari mana aja kamu?" Tanya Arthur kembali karena Kaidan belum menjawab pertanyaannya. "Dari toilet, biasa... Panggilan alam. Kenapa? Kangen ya sama aku?" Jawab Kai dengan senyum tengilnya. "kamu gak berharap aku jawab iya kan?" Ujar Arthur sarkas dan langsung membuat Kai terbahak mendengarnya. "Hahaha... Aku bakal koprol kalau kamu jawab gitu." Ujarnya sambil tertawa. "Mimpi!!" Seru Arthur yang tambah membuat Kai makin tertawa geli dibuatnya. "Oh ya, barusan Yuana ke sini kan?" Tanya Kai setelah tawanya berhenti. "Hemm..." Jawab Arthur tanpa berucap dan hanya sibuk dengan berkasnya. "Dia bilang apa?" Tanya Kai yang terlihat tidak puas dengan jawaban cuek Arthur. Arthur melirik sekilas pada Kaidan dan kembali pada kertas-kertas di depan

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 15. Setan Ganteng

    Melihat senyuman smirk Arthur itu mbuat Yuana tiba-tiba merinding. Yuana perlahan mundur tapi detik kemudian tangannya langsung ditarik oleh Arthur ke dalam ruang kerjanya dan menutup pintunya segera. Kejadian yang sangat cepat dan tiba-tiba itu membuat Yuana tidak bisa berbuat apa-apa, dengan wajah yang tegang dia hanya bisa pasrah. "Segitu sukanya ya kamu sama saya hingga buntutin saya sampai ke sini?" Tuduh Arthur sembari memojokkan Yuana di balik daun pintu ruangannya. "Eh bukan kok...! Saya bekerja di sini. Maaf Pak Bos, saya sungguh tidak tahu jika kamu... Ah maksud saya anda adalah Pak Arthur CEO perusahaan ini. Saya kira nama kalian hanya kebetulan saja sama." Ujar Yuana sambil mencengkeram erat map yang dia bawa dengan jantung yang sudah gak karu-karuan berisiknya. Yuana saat itu tidak bisa menatap Arthur yang berada di depannya, dia hanya menunduk dengan tubuh kaku dan jantung dag dig dug der. Hening... Tidak ada suara setelah itu, Arthur pun hanya diam tidak men

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 14. Jangan Bilang Kamu....

    Tadinya Yuana sempat kebingungan, kenapa tiba-tiba harus ikut ke ruang meeting? Padahal tinggal menyerahkan rancangan desain iklan saja ke klien ewat email. Dia mengira itu begitu saja sudah cukup, jika ada perubahan atau dirasa kurang puas tinggal kirim aduan lewat pesan atau telepon. Tidak tahunya perwakilan dari perusahaan klien malah datang sendiri untuk memastikan apa yang mereka inginkan sudah sesuai. Jadilah Yuana yang merupakan penanggungjawab rancangan iklan itu harus mempresentasikan sendiri hasil desainnya tadi. Walau ini dadakan dan gak siap, untungnya dia bisa mempresentasikannya dengan baik. Padahal ini hari pertamanya bekerja. "Desain sofa ini namanya Sofa Bed, seperti namanya sofa ini bisa diubah menjadi tempat tidur. Sofa jenis ini sekarang ini sedang populer namun masih belum banyak yang menggunakan. Desain sofa ini sangat cocok digunakan untuk rumah atau apartemen kecil yang mungkin punya kamar terbatas karena hemat ruangan." Yuana mulai menerangkan. "Jika a

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 13. Hari Pertama Kerja

    Yuana berjalan beriringan di sebuah lorong gedung bersama dengan seorang lelaki muda yang mungkin tiga atau empat tahun lebih tua darinya. Lalu langkah mereka terhenti pada sebuah ruangan semi kaca yang ada di dalam gedung tersebut. "Nah Yuana, ini adalah ruang tim desain yang akan kamu tempati bersama rekan-rekan lainnya dalam melaksanakan pembuatan desain." Ujar Rama yang merupakan ketua divisi rancangan perusahaan cabang dimana Yuana diterima kerja. Ya, hari ini adalah hari pertama dirinya masuk kerja. "Baik Pak." Jawab Yuana sambil mengangguk. Dia melihat ke sekeliling ruangan yang terdiri dari beberapa kubikel. Di sana sudah ada tiga orang perempuan dan satu orang lelaki gemulai tengah duduk di kubikel mereka masing-masing. Suara Rama yang terdengar saat berbicara dengan Yuana membuat mereka yang tadinya menatap ke arah layar komputer berubah melihat ke arah Rama dan Yuana yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Prok, prok...! "Ok, tolong perhatiannya sebentar... K

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 12. Terima Tamu

    Wajah Yuana sudah ditekuk sambil mengerucutkan bibirnya. Sementara Syifa sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. "Pfftt... Bhaha... Teh Yuana mah ada-ada saja sampai bikin Mang Untung kebingungan begitu, hahaha." Syifa tidak henti-hentinya tertawa karena insiden membagongkan barusan. "Ini semua gara-gara Bulek Prapti tuh Syif! Bikin Mang Untung salah paham aja. Hampir saja itu orang kege'eran gara-gara kata 'untung' yang sama dengan namanya." Ujar Yuana sambil membuat tanda kutip dengan jarinya saat mengucap kata 'untung'. Wajahnya sudah ditekuk sampai merah padam saking kesal dan malunya. "Hihi... Sabar ya Teh, resiko punya Bulek hiper aktif dan hiper julid emang gitu." Kata Syifa yang masih saja cekikikan. "Iya bener, hiper aktif julidnya." Sahut Yuana yang malah membuat keduanya saling tatap lalu tertawa bersamaan. "Udah-udah, jangan bercanda mulu! Ntar kena semprot lagi sama si Ratu Julid itu, cepat ke meja depan ntar keburu tamu kehormatan beliau datang." Ujar Yuana sam

  • Terpaksa Satu Atap   Bab 11. Yuana Vs Juleha

    POV Yuana "Duhh... Ni Uler Kadut ngapain musti keluar dari sarangnya sih? Males binti mules kalau musti ngadepin dia." Rutukku dalam hati. "Hai Jul, pa kabar?" Sapaku basa basi. Juleha ini meski dia adik sepupuku tapi usianya sepelantaran sama aku, jadi kita sepakat hanya panggil nama tanpa ada embel-embel kakak atau adik satu sama lain. Dia itu anak satu-satunya Bulek Prapti dan Paklek Yanto. Sebenarnya dia punya kakak laki-laki tetapi sudah meninggal pas kakaknya masih balita karena DB. Makanya dia dimanja banget sama orang tuanya. "Kamu bisa lihat sendiri, aku lagi bahagia sekarang ini. Bentar lagi aku bakalan punya baby yang lucu dan pasti cakep kayak aku. Terus pinternya kayak papanya." Jawabnya tak lupa dibarengi dengan embel-embel keangkuhan yang belum pasti terjadi. Ini nih yang bikin kuping gue tiba-tiba congekan. Belum apa-apa udah sombong amat! "Iya, semoga aja ya Jul..." Jawabku sekenanya. "Lho... Itu sudah pasti Yuan. Akunya aja cakep dan suami aku selain

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status