INICIAR SESIÓNSatu jam kemudian Yuana sudah duduk manis di dalam cafe dekat kampus Yudha, adiknya.
Tadi dia benar-benar memesan taksi online untuk pergi ke cafe tersebut. Teriknya Matahari hari ini membuatnya mager kalau musti nyetir sendiri motornya, takut gosong katanya. Terlebih matanya masih sedikit mengantuk dan dia takut menabrak jika harus dipaksakan menyetir sendiri. Yuana kini duduk sendiri di salah satu sudut meja cafe dengan laptop dan secangkir latte di depannya. Diseruputnya perlahan latte yang masih panas itu sambil sesekali mensecroll laptop di hadapannya. Beberapa saat yang lalu dia menghubungi Angela, teman sekaligus sahabatnya, mereka berdua selalu sama-sama mulai dari SMA sampai kuliah di jurusan yang sama. Hanya saja Angela lebih beruntung karena diterima kerja di salah satu anak cabang perusahaan periklanan ternama di ibu kota. Hari ini Angela janji akan menemui Yuana pas istirahat makan siang. Kebetulan tempat kerjanya dekat dengan cafe yang saat ini dikunjungi oleh Yuana. Tapi karena waktu makan siang masih kurang dua jam lagi, Yuana memilih untuk menyelesaikan desain pesanan dari costumernya yang belum jadi sambil menunggu Angela datang. Lumayan di sana ada wifi gratis daripada di rumah, meski di rumahnya juga ada wifi tapi gerutuan Bundanya bikin pusing kepala. Apalagi kalau ada Bulek Prapti yang main ke rumahnya. Adik perempuan almarhum Ayahnya sekaligus adik ipar Bunda Vera itu selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Juleha, sepupunya yang kini tengah hamil tua setelah setahun yang lalu dinikahi pacarnya yang katanya seorang manager di perusahaan ternama. Biihh... Bikin telinga Yuana makin panas saja. Dan tak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga sebuah tepukan mendarat di bahu kanan Yuana, membuat gadis itu terlonjak kaget. "Astaga Ela... Kamu bikin kaget aja. Minimal bikin suara kek." Protes Yuana sambil mengelus dadanya yang hampir jantungan oleh Angela yang baru saja datang. "Aku sudah panggil-panggil nama kamu dari tadi tapi kamu gak ngerespon karena terlalu asik sama laptop kamu itu." Terang Angela sambil duduk di hadapan Yuana. "Masak sih? Kok aku jadi bolot ya?" Ujar Yuana sambil menggaruk garuk kepalanya yang benar-benar gatal. Mungkin tadi pas dia mandi lupa untuk keramas padahal ketombenya sudah mulai beranak pinak, gak kayak pemiliknya yang hingga saat ini masih belum jelas hilal jodohnya. "Lagian kamu sih serius amat? Ngerjain apa sih?" Tanya Angela seraya memutar laptop Yuana menghadap ke arahnya. "Kamu bikin desain iklan? Cakep banget hasilnya... Ini pesanan orang?" Tanya Angela yang takjub melihat hasil desain gambarnya Yuana. Terlihat elegan dan berkelas. "Bukan, aku cuma iseng aja sambil nungguin kamu datang. Kalau pesanan orang udah kelar dari tadi." Jawab Yuana. "Yuan, ini bener-bener cakep banget! Kebetulan perusahaan tempat aku kerja lagi kerjasama dengan perusahaan manufacture. Dan desain iklan kamu ini kayaknya sesuai dengan tema yang diminta sama klien kami itu." Puji Angela yang masih menatap sangat detail disetiap sudut hasil gambar desain milik Yuana. "Trus maksud kamu apa? Kamu minta aku jual desain iklan aku ke perusahaan tempat kamu kerja gitu? Wani piro?!" Tanya Yuana yang cuma menebak-nebak. "Bukan gitu masksud aku. Kamu kemarin bilang lagi butuh kerjaan kan?" Tanya Angela yang hanya dapat anggukan dari Yuana. "Kebetulan perusahaan tempat aku kerja lagi buka lowongan buat lulusan Desain Grafis, karena kami lagi butuh banget desainer baru buat gantiin desainer lama yang baru aja resign. Gimana, kamu minat gak?" "Serius??!" Tanya Yuana hampir tak percaya. "Dua rius!! Siapa tahu ntar kamu keterima dan kita bisa jadi satu tim. Desain kamu itu bagus Yuan, aku yakin kamu pasti keterima." Ucap Angela memberi semangat. "Terus aku musti apa dulu nih buat ngelamar kerja di tempat kamu?" Tanya Yuana antusias. Selama ada kesempatan kenapa gak dicoba? "Kamu buat CV seperti biasanya lah, cuma kamu harus cantumin desain original kamu buat pertimbangan mereka agar kamu bisa diterima. Cus buat sekarang! Ntar biar aku bawa sekalian ke HRD." Jelas Angela yang justru terlihat antusias. "Oke, oke... Makasih ya besti infonya, ntar aku traktir deh kalau aku keterima. Btw, yang ini kamu dulu ya yang traktir... Kan aku masih fakir sekarang, hehehe...." Ujar Yuana sambil nyengir. "Modus kamu!!" Seru Angela. "Hehe... Sekali dua kali kan gak papa say, kan kamu yang udah kerja and dapat gaji." Ucap Yuana sambil nyengir lagi dan Angela hanya bisa memutar bola matanya menghadapi sahabat absurd-nya itu. ****** Keesokan harinya Arthur dan Kaidan sudah berangkat ke kantor cabang perusahaannya sesuai rencana Arthur kemarin guna menghindari rencana Maminya yang selalu menjodoh jodohkannya dengan anak teman sosialitanya. Tadi malam dia berhasil mangkir dari permintaan maminya buat makan malam bersama keluarga temannya, tapi tidak untuk lain kali karena Maminya itu pasti tidak pantang mundur sampai Arthur bisa membawa calon mantu untuknya. Dan disinilah mereka berdua, di ruangan kepala cabang yang sementara ini ditempati Arthur sampai Pak Jamal resmi diangkat sebagai Kepala Cabang Pradana Grup yang baru. "Gimana Kai menurutmu tentang kantor cabang ini?" Tanya Arthur pada Kaidani disaat mereka berada di dalam ruang kepala cabang. "Sejauh ini cukup bagus dan terorganisir dengan rapi. Sayang Pak Agus harus pensiun sekarang, padahal kinerjanya selama menjabat sebagai Kacab sangat oke." Jawab Kaidan. "Mau bagaimana lagi? Beliau sudah tua dan anak-anaknya tak ingin ayahnya tetap bekerja." Sahut Arthur. "Iya juga sih..." Kaidan membenarkan. "Lalu bagaimana soal pelamar bagian desain?" Tanya Arthur kembali. "Sudah ada beberapa orang yang datang untuk melamar tapi sampai saat ini belum ada kandidat pelamar yang benar-benar cocok dengan kualifikasi perusahaan kita. Contoh desain iklan yang mereka perlihatkan kesannya terlalu monoton dan membosankan, tidak menarik sama sekali. Tapi ada beberapa yang belum aku cek sih, semoga nanti ada yang cocok." Jawab Kaidan. "Jangan terlalu lama dan segera temukan orang yang tepat! Apa perlu aku sendiri yang turun tangan?!" Perintah Arthur yang tak ingin menunda pekerjaan terlalu lama karena ada posisi yang kosong di perusahaannya. "Tidak perlu, aku sendiri yang akan menyeleksi karyawan baru dan aku pastikan hasilnya akan memuaskan." Jawab Kaidan yang kini dalam mode serius jika Arthur sudah beralih ke mode Big Bos. "Bagus. Aku tunggu hasilnya." Balas Arthur sambil manggut-manggut. "Dan pastikan orang itu mempunyai ide-ide segar untuk desain projek kita selanjutnya, karena aku lihat desain iklan saat ini agak monoton dan masih terbawa gaya iklan tahun lalu." Tambah Arthur. "Siap bos!" Jawab Kaidan cepat dengan sikap tegak hormat. Dan seperti bisa, Arthur cuma diam mengabaikannya. "Ehm... Ar, bentar lagi jam makan siang. Kamu mau delivery aja atau kita keluar cari makan dekat-dekat sini aja?" Tanya Kaidan yang kembali ke mode best friend. "Terserah kamu aja gimana enaknya." Jawab Arthur sambil mengecek documen di mejanya. "Delivery aja lah, udah laper banget nih aku, sejak pagi belum makan." Sambat Kaidan sambil mengelus perutnya yang sudah keroncongan. "Deket-deket sini ada cafe kan?" Tanya Arthur. "Ada, tinggal nyeberang jalan raya aja." Jawab Kaidan tanpa curiga. "Ya udah ke cafe aja, aku butuh cafein, mata aku sepet kurang tidur." Ujar Arthur degan santainya tanpa berdosa. "Busyeett! Trus ngapain kamu tadi tanya pendapat aku kampret... Lama-lama kamu kayak cewek, dijawab A mintanya jawaban B. Lagian yang tidur sampai ngorok-ngorok tadi malam tuh siapa? Dedemit?! Yang ada aku yang matanya sepet, pagi-pagi udah harus nyetirin Tuan Muda ke pinggiran kota demi lari dari Ibu Suri." Cerocos Kaidan yang terlihat kesal pada Arthur. Dengan cueknya Arthur mengedikkan bahunya seraya berkata... "Ya sudah, pas kan? kamu ngopi dulu biar gak oleng." "Terserah kamu aja dah Tuan Muda Arthur, aku mah cuma bawahan yang terserah apa kata bos-nya." Ujar Kaidan mendramatisir. "Nah itu kamu tahu..." Sahut Arthur yang bikin bibir Kaidan tambah manyun. "Ya sudah yuk!" Ajak Arthur ambigu. "Kemana?" Tanya Kaidan bingung. "Katanya kamu sudah lapar, ya sudah sekarang aja kita nyari makan aja dulu." Terang Arthur yang membuat Kaisan tersenyum girang tak jadi cemberut. "Serius?? Ternyata kamu perhatian banget sama aku Ar, jadi tambah demen aku sama kamu." Ujar Kaidan dengan mata berbinar dibalik kaca mata bulatnya. "Idih najis! aku cuma gak mau kamu tiba-tiba jatuh pingsan karena kelaparan, ntar gak ada yang nyetirin dan aku suruh-suruh selama di sini." Ungkap Arthur tanpa dosa. "Errgh... Terserah kamu dah mau ngomong apa, yang penting perut aku terisi dulu. Yuk!" Sahut Kaidan pasrah apa kata Arthur, dan mereka pun keluar menuju cafe yang dituju. **** Ternyata Cafe yang dituju oleh Arthur dan Kaidan adalah cafe yang sama yang didatangi Yuana kemarin. Dan saat ini Yuana kembali datang ke cafe tersebut untuk membuat desain undangan permintaan dari klien online-nya, menurutnya di sana lebih tenang dan inspirasinya bisa mengalir begitu saja ketimbang dirinya kerja di dalam rumah. Sekalian dia juga ingin ketemu dengan Angela buat sekedar haha hihi dengan bestinya itu. Namun sayang, hari ini Angela tidak bisa bertemu dengan dirinya karena ada kerjaan yang belum kelar di kantornya. Naasnya dia tidak segaja ketemu dengan mantan bosnya saat dirinya baru keluar dari toilet wanita. "Mampus aku! Ada titisan Chu Pat Kai lagi cari mangsa! Jangan lihat, jangan lihat, jangan lihat...!" Rutuknya tertahan sambil komat kamit kayak baca mantra. Dan naasnya lagi si mantan bosnya itu juga melihatnya. Langsung sumringah dong wajah lelaki gendut nan botak itu. "Yuana..." Sapa mantan bosnya itu dengan senyum yang mengembang. "Sial! Pakek nyapa segala lagi." Umpat Yuana dalam hatinya. "Eh bapak... Kok bapak ada di sini?" Tanya Yuana basa basi yang kelewat basi. "Biasa... Tadinya mau ketemu orang tapi orangnya kayaknya gak datang deh, eh malah ketemu kamu. Emang kalau jodoh gak kemana." Jawabnya sambil mengerlingkan matanya ke si Yuana. "Huekk..! Najis!!" Umpat Yuana yang hanya bisa diucapakan dalam hati. "Kamu sendiri kesini sama siapa? Kalau hanya sendiri mending sama saya aja, ntar saya yang traktir kamu. Lama lho kita gak ketemu. Gak ada kamu di kantor terasa sepi, seharusnya kamu gak perlu resign. Saya bisa naikin gaji kamu, asal...." "Maaf pak, saya kesini tadi bareng pacar saya." Potong Yuana sebelum mantan bosnya itu bicara melebar kemana mana yang setiap kata-katanya bikin congek di telinga Yuana makin menumpuk. "Kamu sudah punya pacar Yuan?" Tanya Pak Broto si mantan bos itu. "Sudah dong pak... Masak ngejomblo terus. Sandal jeit saja pasangan, masa saya eggak?" Jawab Yuana yang terpaksa bebohong. "Masa sih? Mana pacar kamu? Lebih kaya gak dari saya?" Tanya Pak Broto gak percaya. "Yang jelas lebih ganteng dari bapak." Jawab Yuana kesal. "Halahh... Percuma kalau ganteng saja tapi gak punya duit, mendingan saya kemana-mana." Ujar Pak Broto gak mau kalah. "Idih najis! PD banget nih buntelan kentut." Ini sudah ketiga kalinya Yuana memaki Pak Broto dalam hatinya. "Mana sih pacar kamu? Saya pengen lihat sendiri orangnya seperti apa, jangan-jangan kamu bohong kalau sudah punya pacar." Tebak Pak Broto tepat sasaran. Kepalanya celingukan mencari keberadaan pacarnya Yuana. "Aduh, mampus aku!" Gumam Yuana lirih. "Di dia... Dia lagi ke toilet! Ya, toilet." Jawab Yuana asal. Dan tanpa diduga pintu toilet pria tiba-tiba terbuka, di sana nampak Arthur yang baru saja keluar sambil merapikan kemeja kerjanya. Tanpa pikir panjang Yuana langsung menarik lengan Arthur yang membuat lelaki itu tersentak kaget. "Eh, eh apa-apaan in..." Belum sempat Arthur bertanya, Yuana langsung memotong ucapannya. "Ini pacar saya pak!" Ehh...???"Hai Ar..." Sapa Kaidan begitu masuk ke ruangan Arthur. "Main nyelonong aja, gak ketuk pintu. Dari mana aja kamu?" Sindir Arthur. "Yaelah, perlu aku ulang lagi sambil ketuk pintu?" Sahut Kaidan santai. "Telat!" Sahut Arthur ketus. "Dari mana aja kamu?" Tanya Arthur kembali karena Kaidan belum menjawab pertanyaannya. "Dari toilet, biasa... Panggilan alam. Kenapa? Kangen ya sama aku?" Jawab Kai dengan senyum tengilnya. "kamu gak berharap aku jawab iya kan?" Ujar Arthur sarkas dan langsung membuat Kai terbahak mendengarnya. "Hahaha... Aku bakal koprol kalau kamu jawab gitu." Ujarnya sambil tertawa. "Mimpi!!" Seru Arthur yang tambah membuat Kai makin tertawa geli dibuatnya. "Oh ya, barusan Yuana ke sini kan?" Tanya Kai setelah tawanya berhenti. "Hemm..." Jawab Arthur tanpa berucap dan hanya sibuk dengan berkasnya. "Dia bilang apa?" Tanya Kai yang terlihat tidak puas dengan jawaban cuek Arthur. Arthur melirik sekilas pada Kaidan dan kembali pada kertas-kertas di depan
Melihat senyuman smirk Arthur itu mbuat Yuana tiba-tiba merinding. Yuana perlahan mundur tapi detik kemudian tangannya langsung ditarik oleh Arthur ke dalam ruang kerjanya dan menutup pintunya segera. Kejadian yang sangat cepat dan tiba-tiba itu membuat Yuana tidak bisa berbuat apa-apa, dengan wajah yang tegang dia hanya bisa pasrah. "Segitu sukanya ya kamu sama saya hingga buntutin saya sampai ke sini?" Tuduh Arthur sembari memojokkan Yuana di balik daun pintu ruangannya. "Eh bukan kok...! Saya bekerja di sini. Maaf Pak Bos, saya sungguh tidak tahu jika kamu... Ah maksud saya anda adalah Pak Arthur CEO perusahaan ini. Saya kira nama kalian hanya kebetulan saja sama." Ujar Yuana sambil mencengkeram erat map yang dia bawa dengan jantung yang sudah gak karu-karuan berisiknya. Yuana saat itu tidak bisa menatap Arthur yang berada di depannya, dia hanya menunduk dengan tubuh kaku dan jantung dag dig dug der. Hening... Tidak ada suara setelah itu, Arthur pun hanya diam tidak men
Tadinya Yuana sempat kebingungan, kenapa tiba-tiba harus ikut ke ruang meeting? Padahal tinggal menyerahkan rancangan desain iklan saja ke klien ewat email. Dia mengira itu begitu saja sudah cukup, jika ada perubahan atau dirasa kurang puas tinggal kirim aduan lewat pesan atau telepon. Tidak tahunya perwakilan dari perusahaan klien malah datang sendiri untuk memastikan apa yang mereka inginkan sudah sesuai. Jadilah Yuana yang merupakan penanggungjawab rancangan iklan itu harus mempresentasikan sendiri hasil desainnya tadi. Walau ini dadakan dan gak siap, untungnya dia bisa mempresentasikannya dengan baik. Padahal ini hari pertamanya bekerja. "Desain sofa ini namanya Sofa Bed, seperti namanya sofa ini bisa diubah menjadi tempat tidur. Sofa jenis ini sekarang ini sedang populer namun masih belum banyak yang menggunakan. Desain sofa ini sangat cocok digunakan untuk rumah atau apartemen kecil yang mungkin punya kamar terbatas karena hemat ruangan." Yuana mulai menerangkan. "Jika a
Yuana berjalan beriringan di sebuah lorong gedung bersama dengan seorang lelaki muda yang mungkin tiga atau empat tahun lebih tua darinya. Lalu langkah mereka terhenti pada sebuah ruangan semi kaca yang ada di dalam gedung tersebut. "Nah Yuana, ini adalah ruang tim desain yang akan kamu tempati bersama rekan-rekan lainnya dalam melaksanakan pembuatan desain." Ujar Rama yang merupakan ketua divisi rancangan perusahaan cabang dimana Yuana diterima kerja. Ya, hari ini adalah hari pertama dirinya masuk kerja. "Baik Pak." Jawab Yuana sambil mengangguk. Dia melihat ke sekeliling ruangan yang terdiri dari beberapa kubikel. Di sana sudah ada tiga orang perempuan dan satu orang lelaki gemulai tengah duduk di kubikel mereka masing-masing. Suara Rama yang terdengar saat berbicara dengan Yuana membuat mereka yang tadinya menatap ke arah layar komputer berubah melihat ke arah Rama dan Yuana yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Prok, prok...! "Ok, tolong perhatiannya sebentar... K
Wajah Yuana sudah ditekuk sambil mengerucutkan bibirnya. Sementara Syifa sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. "Pfftt... Bhaha... Teh Yuana mah ada-ada saja sampai bikin Mang Untung kebingungan begitu, hahaha." Syifa tidak henti-hentinya tertawa karena insiden membagongkan barusan. "Ini semua gara-gara Bulek Prapti tuh Syif! Bikin Mang Untung salah paham aja. Hampir saja itu orang kege'eran gara-gara kata 'untung' yang sama dengan namanya." Ujar Yuana sambil membuat tanda kutip dengan jarinya saat mengucap kata 'untung'. Wajahnya sudah ditekuk sampai merah padam saking kesal dan malunya. "Hihi... Sabar ya Teh, resiko punya Bulek hiper aktif dan hiper julid emang gitu." Kata Syifa yang masih saja cekikikan. "Iya bener, hiper aktif julidnya." Sahut Yuana yang malah membuat keduanya saling tatap lalu tertawa bersamaan. "Udah-udah, jangan bercanda mulu! Ntar kena semprot lagi sama si Ratu Julid itu, cepat ke meja depan ntar keburu tamu kehormatan beliau datang." Ujar Yuana sam
POV Yuana "Duhh... Ni Uler Kadut ngapain musti keluar dari sarangnya sih? Males binti mules kalau musti ngadepin dia." Rutukku dalam hati. "Hai Jul, pa kabar?" Sapaku basa basi. Juleha ini meski dia adik sepupuku tapi usianya sepelantaran sama aku, jadi kita sepakat hanya panggil nama tanpa ada embel-embel kakak atau adik satu sama lain. Dia itu anak satu-satunya Bulek Prapti dan Paklek Yanto. Sebenarnya dia punya kakak laki-laki tetapi sudah meninggal pas kakaknya masih balita karena DB. Makanya dia dimanja banget sama orang tuanya. "Kamu bisa lihat sendiri, aku lagi bahagia sekarang ini. Bentar lagi aku bakalan punya baby yang lucu dan pasti cakep kayak aku. Terus pinternya kayak papanya." Jawabnya tak lupa dibarengi dengan embel-embel keangkuhan yang belum pasti terjadi. Ini nih yang bikin kuping gue tiba-tiba congekan. Belum apa-apa udah sombong amat! "Iya, semoga aja ya Jul..." Jawabku sekenanya. "Lho... Itu sudah pasti Yuan. Akunya aja cakep dan suami aku selain







