Share

bab 5

last update publish date: 2026-06-10 09:34:35

Nabila terbangun dalam dekapan hangat Dewa yang mengunci tubuhnya dengan erat. Namun, rasa nyaman itu seketika sirna saat rasa mual luar biasa mendadak naik dari perutnya.

"Huekkk!" Nabila mendadak mual dan memuntahkan sisa makanan tepat di atas kemeja Dewa.

"Astaga, Nabila?! Kamu nggak apa-apa? Masih mual, hm?" Dewa terlonjak bangun. Alih-alih marah karena bajunya kotor, ia justru panik mencemaskan kondisi Nabila.

Muka Nabila memerah sempurna. Demi menutupi rasa malu dan gengsinya yang setinggi langit, ia langsung menggelengkan kepalanya.

"Lagian Om ngapain sih peluk-peluk?! Bikin perut aku jadi mual! Dasar Om-om mesum, manfaatin kesempatan!"

Dewa menghela napas tenang, lalu menatap Nabila dengan keisengan yang menjengkelkan.

"Coba diingat lagi. Semalam siapa yang menangis dan memohon sambil peluk saya, 'jangan lepasin pelukannya om...dingin'?"

Skakmat. Kedoknya terbongkar total. Wajah Nabila memerah padam karena malu yang luar biasa.

"A-apaan sih! Nggak ya! Sana ganti baju, bau tahu! Keluar!" usir Nabila panik sambil melempar bantal tepat ke wajah Dewa.

Dewa menangkap bantal itu dengan mudah. Melihat Nabila kembali galak bukan histeris merusak diri seperti semalam membuat seulas senyuman tipis lega terukir di bibirnya.

Dewa bangkit berdiri, lalu memberikan gertakan telak sebelum keluar kamar.

"Baik, saya ganti baju dulu, kamu jangan kemana-mana, saya mau bawa baju ganti di mobil. Tapi setelah ini, kamu harus sarapan dan minum obat." ancam Dewa telak, membuat Nabila langsung melotot sempurna dengan mulut ternganga kehabisan kata-kata.

───

Dewa kembali ke ruangan rawat inap Nabila dengan baju yang bersih dan wangi.

"Kenapa belum dimakan itu, sarapannya? Mau saya suapin?"

"Aku mual, Om.. gak sanggup makan. Tolong segera urusin administrasi rumah sakit. Hari ini aku mau kuliah terus lanjut kerja."

Dewa terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, menahan desakan emosi yang ingin ia ledakkan. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meski hatinya bergejolak mendengar permintaan Nabila.

"Tidak ada kuliah, tidak ada kerja, Nabila," jawab Dewa dengan nada mutlak, tanpa sedikit pun keraguan.

Nabila yang sedang berusaha menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, langsung tertegun. Ia menatap Dewa dengan mata yang membelalak lebar.

"Om bilang apa? Om nggak punya hak buat ngatur hidup aku!"

"Saya punya hak," potong Dewa dingin, namun tatapannya tak bisa menyembunyikan rasa khawatir yang masih kentara.

"Dokter bilang kondisi kandunganmu lemah. Kamu mau anak itu hilang? Kamu mau kita kembali ke ruang UGD dan mengalami ini semua dari awal?"

"Aku justru mau itu terjadi!" teriak Nabila, napasnya memburu hingga dadanya naik turun dengan cepat.

"Kalau anak ini nggak ada, hidupku bisa balik normal! Aku nggak perlu jadi menikah sama Om, aku nggak perlu ngerasa jadi perempuan paling kotor di dunia!"

Dewa maju selangkah, menatap tajam ke arah mata Nabila yang sudah basah oleh air mata. Ia tidak membalas dengan kemarahan, justru ia menurunkan posisi tubuhnya hingga sejajar dengan brankar, membuat jarak mereka menjadi sangat dekat.

"Dunia kamu tidak akan pernah kembali normal, Nabila. Tidak sejak malam itu terjadi," ucap Dewa pelan, suaranya seperti bisikan yang menghancurkan pertahanan Nabila.

"Dan saya tidak akan membiarkanmu merusak kesehatanmu hanya karena kamu ingin melarikan diri dari kenyataan. Kamu akan tetap di sini sampai dokter mengizinkan pulang."

Dewa pergi begitu saja meninggalkan Nabila yang terduduk lemas di pinggiran brankar.

───

Dewa melangkah terburu-buru menuju parkiran. Begitu masuk ke mobil, ia menyandarkan dahi di kemudi dengan napas memburu.

Bayangan Nabila yang menangis histeris dan keinginannya untuk menggugurkan kandungan terus menghantui. Rahang Dewa mengeras. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi.

Dewa memang mencintai Nabila jauh sebelum semua ini terjadi. Namun, perasaan itu selalu ia tutup rapat-rapat karena rasa minder akan perbedaan usia dan fakta bahwa Nabila adalah sahabat dekat anaknya sendiri.

Sekarang, tanggung jawab dan rasa cintanya beradu, memaksanya untuk bertindak. Ia pun memacu mobil, bukan menuju kantor, melainkan ke kediaman orang tuanya.

Sesampainya di sana, Mama Saras menyambut dengan senyum hangat yang perlahan memudar saat melihat wajah kusut putranya.

"Dewa? Tumben pagi-pagi ke sini? Kamu nggak ke kantor?" tanya Mama Saras sembari menyentuh bahu Dewa.

Dewa tak langsung menjawab. Ia melangkah masuk dan duduk di ruang keluarga, tempat Papa Wira sedang membaca koran.

Dewa menatap kedua orang tuanya dalam, sorot matanya menyiratkan beban berat yang tak bisa lagi ia tanggung sendiri. Tanpa banyak basa-basi, Dewa duduk di hadapan Mama Saras dan Papa Wira yang sedang membaca koran.

"Ada yang mau aku omongin, serius Ma, Pa," ucap Dewa dengan suara serak.

Papa Wira menurunkan korannya.

"Ada apa? Lagi ada masalah sama Diana?"

Dewa menarik napas dalam.

"Aku mau menikah. Minggu depan."

Mama Saras tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.

"Tiba-tiba banget. Siapa perempuan itu? Apa Mama kenal?"

"Nabila," jawab Dewa singkat.

"Sahabat Diana."

Suasana seketika hening. Sebagai orang yang mengenal Nabila sebagai sosok yatim piatu yang sering dianggap cucu sendiri oleh kedua orangtua Dewa tentu terkejut.

"Nabila?" tanya Papa Wira dengan nada terkendali namun penuh tanda tanya.

"Dia masih sangat muda dan masih kuliah. Apa yang terjadi?"

Dewa menunduk, lalu menatap ayahnya.

"Dia hamil. Anak aku."

Mama Saras terbelalak.

"Ya Tuhan, Dewa... Diana udah tahu?"

"Belum," jawab Dewa getir.

"Aku gak akan membela diri, tapi aku gak mau Nabila menanggung ini sendirian. Dia merasa hancur dan ingin menggugurkan kandungannya. Aku butuh restu Mama dan Papa, aku ingin menjaganya."

Papa Wira menatap Dewa lekat.

"Kamu mencintainya, atau hanya merasa bertanggung jawab?"

"Jauh sebelum kejadian ini, aku udah mencintai Nabila, Pa," tegas Dewa.

Mama Saras menggenggam tangan putranya yang terasa dingin.

"Nabila itu anak yang baik. Kalau kamu serius, Mama dan Papa gak akan melarang. Tapi ingat, jangan pernah buat dia merasa tertekan. Jika kamu menikahinya, kamu harus menjaganya dengan baik."

"Pasti, Ma," jawab Dewa lega sambil mencium tangan ibunya.

"Sekarang," potong Papa Wira tegas.

"Kembali ke rumah sakit. Jangan biarkan dia merasa sendirian."

Dewa mengangguk mantap. Meski beban di pundaknya sedikit berkurang, ia tahu satu tantangan terbesar masih menanti meminta restu dari Diana, putrinya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   147

    Ciuman itu awalnya terasa lembut, hanya kecupan-kecupan ringan yang menggoda. Namun, saat Nabila membalas rentetan kecupan itu, Dewa langsung menahan tengkuk istrinya, memperdalam ciuman mereka dengan penuh tuntutan.Nabila membelalakkan matanya sesaat sebelum akhirnya perlahan terpejam. Tangan mungilnya yang tadi berada di depan dada Dewa, kini merambat naik, mencengkeram erat kerah piyama suaminya.Dewa tidak memberinya celah sama sekali. Ia melumat bibir Nabila dengan gairah yang sudah ia tahan sejak sore tadi. Lidahnya menyapu rongga mulut Nabila. Ciuman Dewa semakin menuntut, memanas, hingga membuat tubuh Nabila terasa meleleh."Mmphh... Mas..." Nabila memukul pelan dada Dewa, dadanya naik turun dengan cepat. Ia benar-benar kehabisan napas karena ciuman suaminya yang seolah tidak memberinya ruang untuk menghirup oksigen.Merasakan pukulan kecil itu, Dewa melepaskan tautan bibir mereka secara perlahan. Dewa menatap lekat wajah Nabila yang kini memerah padam, dengan mata sayu dan b

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   146

    Jam 8 malam, setelah selesai makan malam Diana sempat bermain dengan Nevan dan saat Nevan tidur Diana kembali ke kamarnya. Nabila sudah merapihkan alat make-up dan juga kebayanya untuk acara besok pagi."Udah, gak perlu pusing Mama, besok Ayah bangunin biar kamu langsung mandi, make-up, Nevan biar Ayah yang urus ya anak ayah," ucap Dewa yang sedang menimang Nevan yang baru saja terbangun lagi."Halah, kamu tuh mesti ada mau nya itu." Balas Nabila sambil duduk di pinggiran ranjang."Ya emang kan pengen cobain itu," Dewa tersenyum dagunya menunjuk sofa tantra."Jam segini Nevan aja belom tidur Mas, aku gak mau ya malam ini begadang.""Iya gak sampe malam janji. Sebentar doang kok.""Itu matanya Nevan masih kinclong kaya gitu sih lama tidurnya Mas,""Ya kamu susuin aja deh sayang biar bisa langsung tidur.""Ya mana bisa gitu Mas. Udah ah aku mau tidur bentar aja kalo Nevan nangis mau nyusu bangunin aja ya Mas,"Nabila memiringkan posisinya di atas kasur hotel yang empuk, membelakangi Dew

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   145

    Dewa terus tersenyum senang melihat wajah istrinya yang menggemaskan."Pintu kan udah di tutup rapat, Sayang. Lagian Diana palingan lagi fokus scroll-scroll pake earphone-nya.""Tetep aja nggak usah diomongin vulgar begitu! Lagian aku minta lepas kan gara-gara kamu yang ngomong nggak berasa!" omel Nabila gemas, jemarinya memilin ujung kaos suaminya dengan kesal."Ya kan emang enakan nggak pakai, Sayang. Lebih kerasa hangatnya," bisik Dewa tepat di telinga Nabila, menyenggolkan hidungnya ke pipi sang istri yang makin merona."Nggak ada ya! Pokoknya malam ini wajib hukumnya pakai. Kalo kamu nolak, aku tidur di kamar Diana!" ancam Nabila tegas, mendorong pelan dada Dewa agar berjarak."Kok gitu? Tega biarin suaminya tidur sendiri. Kalo Mas kangen tengah malam gimana?" Dewa merengut sok sedih, memasang wajah paling memelas yang ia punya."Gak ada penawaran lagi kalo mau ya harus pake pengaman. Kalo Mas gak mau yaudah kita gak usah gituan. Lagian aneh banget masa minta jatah hampir tiap ha

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   144

    Perjalanan menuju hotel sore itu terasa menyenangkan. Nevan tertidur pulas di dalam baby car seat di bangku belakang ditemani Diana yang telaten menjaga adik bayi mungil nya. Sementara itu, di kursi depan, Nabila sibuk memeriksa ulang isi tas pakaian serta beberapa keperluan wisudanya untuk besok pagi.Dewa memutar kemudi dengan santai, melirik sesekali ke arah istrinya yang masih saja tampak sedikit cemas."Mas, kemeja sama jas kamu buat besok udah kebawa semua kan? Nggak ada yang ketinggalan di lemari?" tanya Nabila sembari menoleh ke belakang sekilas, memastikan tas jasnya tergantung rapi."Udah aman semua, Sayang. Dari tadi siang kan kamu sendiri yang meriksa tiga kali sebelum dimasukin ke mobil," jawab Dewa diselingi terkekeh pelan."Kamu tenang aja kenapa sih, jangan tegang gitu.""Bukan tegang, Mas. Aku cuma pengen besok semuanya lancar. Soalnya besok kan aku harus bangun pagi-pagi banget buat make up," keluh Nabila seraya menyandarkan punggungnya ke jok mobil."Udah panggil MU

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   143

    Dewa tersenyum tipis."Bagian Ayahnya dong sekarang yang nenen.""Nggak ada ya Mas,""Loh kok gitu kamu takut nafsu ya kalo Mas yang nyusu.""Ishh mulutnya," gerutu Nabila yang berdiri lalu berjalan menuju box bayi untuk menidurkan anaknya.Dewa menyandarkan punggungnya ke sofa, memperhatikan gerak-gerik istrinya yang telaten menata selimut Nevan. Matanya tidak lepas dari lekuk tubuh Nabila dari belakang."Mas cuma bercanda, Sayang. Jangan cemberut gitu ah, nanti cantiknya hilang," panggil Dewa dengan nada merayu.Nabila mengelus kepala Nevan sekali lagi sebelum membalikkan badan. Tangannya bersedekap di dada, matanya menatap Dewa curiga."Bercanda tapi matanya lirik-lirik gitu. Aku tahu ya isi otak kamu!""Yakin cuma bercanda? Kalau Mas buktiin sekarang gimana?" Dewa menepuk tempat kosong di sebelahnya."Sini duduk dulu. Kamu pasti capek sayang""Nggak mau, nanti kamu macem-macem lagi. Aku mau ganti baju aja," tolak Nabila sembari melangkah menuju lemari.Nabila mengambil baju ganti

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   142

    Hari ini Nabila sedang berkaca dengan memakai kebaya untuk acara Wisuda di kampusnya dua hari lagi."Duh, Mas kok badan aku belum balik kurus lagi ya padahal Nevan udah mau 3 bulan loh," gerutu Nabila yang duduk di sofa kamar sebelah Dewa."Kemarin udah konsul sama dokter gizi kamu kan? Mereka bilang masih wajar kok, cuma perlu sabar aja, sayang.""Ishhh... Kamu sih gampang bilang sabar, sabar. Kalo aku kurus dan cantik kan kamu juga yang nikmatin.""Loh sekarang juga Mas Nikmatin kok. Terbuktikan semalam kita sampai gak tidur." Dewa terkekeh pelan sambil mencubit gemas pipi istrinya."Huh... Dasar nyebelin, itu Mulu yang di bahas. Harusnya kemarin itu aku gak kasih kamu jatah,""Loh mana bisa, kamu sendiri baru Mas cium-cium udah gak tahan minta yang lain,""Mas Dewa! Mulutnya ihhh mana ada aku begitu!" pekik Nabila, menyambar bantal sofa lalu menepukkannya tepat ke dada Dewa.Dewa tertawa lepas, menangkap bantal tersebut lalu menarik tubuh Nabila hingga terduduk di pangkuannya."Lho

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 3

    Jam digital menunjukkan pukul 21:00 saat Nabila terpaksa masuk ke mobil sedan mewah milik Dewa demi menghindari sorotan rekan kerjanya di lobi hotel.Suasana kabin terasa mencekam. Dewa membawa mobilnya menepi di area parkir sepi sebuah apotek 24 jam, lalu menyodorkan kantong berisi tiga merek test

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 2

    Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 1

    "Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah. Dewa menatapnya dengan pandangan yang dal

  • Terpaksa menikah dengan ayah sahabatku   bab 6

    Dewa melangkah kembali ke dalam kamar rawat inap dengan langkah yang lebih mantap. Di tangannya, ia membawa sekotak bubur ayam hangat yang sempat ia beli di dekat rumah sakit. Nabila masih setia di posisinya, membelakangi pintu sambil menatap kosong ke luar jendela. "Makan dulu. Saya belikan bubu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status