Share

Bab 149

last update Last Updated: 2026-02-17 21:39:31

Sinta memutar mata malas, ia benar-benar kesal pada pria di sebelahnya. Entah bagaimana cara mengusir Topan yang lebih sering membuatnya kesal. Ia membuang napas pelan, lalu melihat ke arah kursi yang berada di dekat jendela.

“Bukankah seharusnya menjadi tuan rumah lebih peka. Dia bahkan tidak mengeluarkan segelas air dingin untuk kami,” gerutu Sinta seraya berjalan ke arah kursi. Ia merasa lelah dan ingin sekali merebahkan tubuhnya meski itu hanya sebentar.

Topan terkekeh, ia masuk ke dalam ru
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terperangkap Cinta Tuan Muda Dingin    Bab 154

    “Menyingkirlah!” Kedua wanita itu segera memberi jalan, tanpa mengatakan banyak kata lagi, mereka memilih untuk pergi dan tidak lagi berbalik ke belakang. Setelah merasa aman, barulah mereka menoleh ke belakang, menatap pintu lift yang sudah tertutup.“Huh, hampir saja,” bisik mereka, “sepertinya akan seru, ada istri sah dan wanita yang berharap menjadi istri,” kekeh keduanya seolah sebelumnya tidak merasa terancam dengan tatapan Alea.“Kamu benar. Aku ingin lihat bamana akhir keduanya nanti, akankah bos akan memilih salah satunya.”Temannya berpendapat bahwa yang tetap menang adalah Helena, karena jika Alea yang menang tentu bukan Helena yang akan dinikahi.“Kau benar, jika nona Alea menang, tentu yang menjadi nyonya dia, bukan nona Helena. Tapi, aku akan tetap memihak nona Helena, bukan karena dia putri konglomerat, tetapi kita sudah melihat dia jauh lebih terlihat cocok dalam segala segi untuk pak bos.”“Sudah jangan diteruskan,” katanya dengan suara dipelankan, “nona Alea sudah s

  • Terperangkap Cinta Tuan Muda Dingin    Bab 153

    Setelah setengah jam menunggu, Ibu Dewi akhirnya membuka mata. Sesaat wanita itu terlihat bingung dengan keberadaannya, tetapi ketika merasakan tangan lembut mengusap lengannya ia segera menoleh dengan kening mengkerut.“Kamu di sini??” tanya ibu Dewi, suaranya terdengar lemah dan tidak suka.“Senang sekali karena Ibu sudah membuka mata, aku–”“Sekarang, aku sudah terbangun, pergilah!” usirnya seraya menarik tangannya.“Ibu.” Helena terdiam, ia memperhatikan sikap ibu Dewi yang selalu berubah-ubah ketika bertemu dengannya. Kadang begitu ingin diperhatikan, kadang seolah enggan menatapnya. Di dalam hati, ia bertanya, apa yang membuatnya seperti ini, perceraiannya dengan Topan?“Kamu dan putraku sudah resmi bercerai, maka tidak ada kewajiban untuk menemui sesering ini,” katanya setelah lama terdiam, “ini yang kamu inginkan, menjauh dari keluarga kami, bukan?”Helena menarik napas pelan, ia tidak menjawab semua yang ibu Dewi lontarkan untuknya. Ia lebih memikirkan apa yang sebenarnya mem

  • Terperangkap Cinta Tuan Muda Dingin    Bab 152

    “Mau kemana?” Reygan yang baru keluar dari kamar mandi terheran melihat sikap Helena yang tergesa memasukkan ponsel di dalam tas, “ada sesuatu terjadi di toko?”Helena menoleh, ia tersenyum lalu menghampiri Reygan yang selalu terlihat lebih tampan setelah habis mandi. Ia mengecup pelan pipi suaminya, lalu memberi satu kecupan di bibir sebagai penutup.“Jangan memancingku, Sayang.” Reygan memicingkan mata, merasa frustasi setiap kali mendapatkan ciuman di bibir.Wanita cantik itu terkekeh kecil, “Maafkan aku,” katanya sedikit menjauh, ia tidak ingin kejadian semalam terulang atau seharian tidak akan bisa turun dari ranjang.“Mau kemana?” tanya Reygan lagi, seraya menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Bias cahaya yang masuk melalui jendela menambah aura ketampanan suaminya. Helena sedikit berkecil hati, pria sempurna seperti Reygan harus mendapatkan wanita yang sudah menikah seperti dirinya, sementara wanita lain sudah mengantri bahkan rela saling menyerang untuk mendapatkan suaminya

  • Terperangkap Cinta Tuan Muda Dingin    Bab 151

    Di ruangan yang dominan dengan warna putih itu, Hani terbaring dengan perasaan cemas. Ia gagal mengambil hati dan kepercayaan Topan dan mungkin saja, saat ini dirinya telah dicurigai. Hani kembali bangun, ia menatap jendela yang terkunci rapat.“Bagaimana kalau ibu Dewi mengatakan sesuatu pada Topan dan menyeret namaku,” kata Hani cemas, “tidak, aku tidak akan biarkan wanita tua itu merusak mimpiku.”Langkahnya sampai ke depan pintu kamar, ia ingin mengetahui hasil pemeriksaan dari dokter tentang ibu Dewi. Namun, saat tangannya memutar gagang pintu, tiba-tiba hal tidak terduga terjadi.“Terkunci?”Hani termangu, ini pertama kalinya Topan bersikap di luar dari kebiasaannya. Mereka pernah bertengkar, tetapi tidak sekali pun pria itu membuatnya tersinggung seperti ini.“Topan, apa yang kau lakukan!” teriak Hani dari dalam.Tangannya mengepal, ia menggedor pintu agar ada yang mendengar dan mengeluarkannya dari kamar. “Jangan kekanakan, aku bukan tahanan!” Dari luar, Topan dan dokter mere

  • Terperangkap Cinta Tuan Muda Dingin    Bab 150

    Tidak menunggu waktu, Reygan langsung mengangguk dan tersenyum yakin. Ia tidak akan membuang waktu selama masih ada jalan untuk mereka kembali berbaikan. Terlalu cinta atau terlalu bodoh, Reygan tidak tahu, ia hanya mengetahui bahwa tidak akan bisa tertawa selama Helena menjauh darinya.“Aku akan buktikan, Sayang. Raisa hanya memanggilku, ingin memperlihatkan desain rumah barunya. Caranya memang salah, tapi percayalah dia tidak sampai menyentuhku.”Reygan menjelaskan semuanya dengan detail, bagaimana dia yang ditawarkan mencoba cake buatan Raisa, tidak mengandung sesuatu yang salah selain menghilangkan kekuatan Reygan.“Kau tidak suka nanas?” tanya Helena merasa kasihan dan lucu bersamaan.“Hum, sudah lama. Entah bagaimana menjelaskan rasa dan bentuk kulit, tapi aku benar-benar tidak bisa,” kata Reyan dengan nada lemas, “ya, sidikit memalukan karena itu, setiap bertemu dengan seseorang Fandy akan bertugas mencoba apa pun makanan untukku terlebih dahulu.”“Ya, ini memang sangat memaluk

  • Terperangkap Cinta Tuan Muda Dingin    Bab 149

    Sinta memutar mata malas, ia benar-benar kesal pada pria di sebelahnya. Entah bagaimana cara mengusir Topan yang lebih sering membuatnya kesal. Ia membuang napas pelan, lalu melihat ke arah kursi yang berada di dekat jendela.“Bukankah seharusnya menjadi tuan rumah lebih peka. Dia bahkan tidak mengeluarkan segelas air dingin untuk kami,” gerutu Sinta seraya berjalan ke arah kursi. Ia merasa lelah dan ingin sekali merebahkan tubuhnya meski itu hanya sebentar.Topan terkekeh, ia masuk ke dalam rumah. Melangkah cepat masuk ke dalam rumah. bibirnya tersenyum, matanya berbinar memancarkan sesuatu yang benar-benar berbeda dan itu ditangkap oleh Hani.Wanita itu, keluar dari kamar ibu Dewi dengan tangan saling mengusap. Tatapannya tajam pada senyum Topan yang sudah lama tidak dilihatnya. Lalu, kakinya melangkah membawanya ke arah luar, melihat apa yang terjadi pada Helena dan juga wanita baru yang berhasil mengusik ketenanganmu.Langkahnya cepat menuju halaman depan, melihat apa yang terjadi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status