Share

Bab 82

Author: PUCHA
last update publish date: 2026-10-15 21:25:20

Bab 82

Nara dan Arkan berputar, saling berhadapan dan saling menggenggam tangan satu sama lain. Mata gelap Arkan yang setajam elang kini menatap lurus ke dalam manik mata Nara dengan tatapan yang tampak tenang.

Arkan mengucapkan janji setianya terlebih dahulu dengan suara yang lantang, tegas, dan penuh kepastian. "Aku, Arkananta Dewangga, menjadikan kamu, Nara Anindita, sebagai istri sahku. Untuk saling memiliki dan menjaga, mulai hari ini dan seterusnya, dalam suka maupun duka, dalam kelim
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 98

    Bab 98 Felicia terkekeh pelan, melangkah satu kali lagi hingga jaraknya dengan Arkan terasa begitu tipis. "Tenang saja, aku ke sini justru untuk membersihkan nama baik keluargaku dari kebodohan Kevin. Aku profesional, Arkan. Dan kurasa ... aku bisa menjadi rekan kerja yang jauh lebih sepadan untukmu di Den Haag daripada mempertahankan analis yang sedang tidak produktif." Nara tertegun di balik pintu, pandangannya turun menatap gaun hamil longgarnya, lalu beralih pada sosok Felicia yang tampak begitu sempurna, langsing, dan memiliki kendali penuh atas karier internasionalnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Nara Anindita sang peraih nilai pleno tertinggi Oxford, merasa tidak percaya diri. Rasa mual di perutnya mendadak berganti menjadi rasa sesak yang menghimpit dada. Nara memilih mundur perlahan, namun langkah kakinya yang berat terdengar oleh Arkan. Klak. Pintu kaca langsung ditarik terbuka dari dalam, Arkan berdiri di ambang pintu, mata elangnya seketika menangk

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 97

    Bab 97 "Aku hanya bisa tenang jika kamu dan anak kita berada di bawah perlindunganku, Cantik," sahut Arkan dengan seringai tipisnya yang mematikan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Nara. "Katakan padaku, Nyonya Dewangga ... siapa pemilik hatimu sekarang?" Nara tersenyum dengan manis, lalu menyentuh ujung hidung suaminya. "Kamu, Arkananta. Hanya kamu yang memegang kendali atas hidup dan matiku," ucap Nara. Pagi harinya di dapur rumah milik Nara, sinar matahari menembus jendela kaca, menerangi cangkir teh kamomil yang masih mengepulkan uap panas. Nara sedang berada di kamar mandi untuk mengatasi mual paginya. Di meja makan, ponsel Nara bergetar pendek. Arkan yang sedang mengancingkan kemeja hitamnya, langsung melirik ponsel tersebut. Mata elangnya menyipit tajam, tanpa ragu tangan kokohnya menyambar benda itu. Layar ponsel Nara menampilkan ruang obrolan dari Adrian Vance. Dengan raut wajah kesalnya, ia mengetuk layar dan mengetikkan balasan dengan gerakan yang cepat menggu

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 96

    Bab 96 Tiba-tiba, layar panggilan video Thomas bergoyang. Sosok Thomas tergeser dan digantikan oleh wajah tegas Arkananta Dewangga yang baru saja mendobrak masuk ke ruang rapat kantor London. Mata elangnya menatap lurus ke arah kamera dengan kilat amarah dan kekhawatiran yang sangat pekat. "Nara Anindita! Apa yang sedang kamu lakukan dengan laptop itu?" bentak Arkan, suara baritonnya terdengar bergetar karena rasa khawatir yang luar biasa di seberang telepon. "Aku sudah menyuruhmu tetap di bawah selimut!" Nara tidak gentar sedikit pun, ia justru menatap mata gelap suaminya dengan binar bahagia. "Tenang dulu, Pengawas Arkananta. Dari pada kamu menghabiskan waktu dengan mengobrak abrik kantor untuk mencari mata-mata, lebih baik kamu dengarkan analisis istri itumu ini." Arkan menarik nafas pendek, rahang tegasnya mengeras, namun ia terpaksa menahan emosinya demi mendengarkan Nara. "Katakan, sebelum aku menyuruh supir menjemput laptop itu dari tanganmu." "Pelakunya bersembunyi d

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 95

    Bab 95 Pagi hari sebuah rumah yang terletak di pinggiran London yang biasanya tenang, mendadak diselimuti kecemasan. Di dalam kamar utama yang hangat, Nara terbaring lemas di atas ranjang dengan wajah yang sangat pucat. Usia kehamilannya baru memasuki bulan ketiga, namun morning sickness yang ekstrem membuatnya tidak bisa menjaga asupan makanan sedikit pun sejak subuh. Arkan duduk di tepi ranjang dengan kemeja hitam yang berantakan. Pria yang biasanya selalu tenang di ruang sidang itu, kini tampak sangat panik. Mata elangnya menatap lurus ke arah Nara dengan tatapan penuh ketakutan. "Minum air hangatnya sedikit saja, Nara. Kumohon," bisik Arkan pelan, suara baritonnya bergetar lembut saat ia menyodorkan cangkir ke bibir istrinya. Nara mencoba meminumnya satu teguk, namun sedetik kemudian ia memalingkan wajahnya sambil memegangi perutnya yang mual. "Maaf, Arkan ... perutku menolaknya lagi, rasanya sangat sesak." Arkan meletakkan cangkir itu ke meja dengan sentakan yang sediki

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 94

    Bab 94 "Aku hanya membiarkan kalian menari di atas panggung yang ku ciptakan sendiri, Kevin," desis Arkan dengan seringai tipisnya yang menyeramkan. Ia menoleh ke arah petugas kepolisian. "Petugas, silakan amankan kedua orang ini atas kasus konspirasi dan pemalsuan berkas internasional." "Arkan, lepaskan aku! Ini semua rencana Kevin! Aku tidak tau apa-apa!" teriak Clarissa dengan suaranya yang terdengar panik, sifat sombongnya hancur total saat petugas memasangkan borgol ke tangannya. "Bawa mereka keluar! Suara mereka merusak ketenangan istriku," perintah Arkan tegas. Kevin dan Clarissa akhirnya diseret keluar dari ruang kerja dengan paksa oleh petugas keamanan. Saat mereka sudah pergi, kedamaian kembali terasa diruangan yang sebelumnya mencekam itu. Setelah pintu ditutup kembali, Nara menghembuskan nafas panjang, ia bersandar di tepi meja kerjanya. "Huft ... Clarissa benar-benar nekat, ia bahkan tidak memperhitungkan dampak bagi pamannya, pamannya bisa jatuh ke dalam jurang

  • Terperangkap ambisi kakak tiri   Bab 93

    Bab 93 "Aku sudah memasang sistem proteksi pelacakan IP darurat di seluruh area kantorku, Valerie," ralat Nara dengan senyum percaya dirinya yang menawan. "Saat Kevin mencoba meretas draf internalku tadi malam untuk mencocokkan dokumen palsunya, sistem digitalku langsung melacak jejak lokasinya, yang ternyata kembali menuju kafe tersebut. Dan suamiku ... dia hanya perlu mengirim tim keamanan untuk meletakkan alat sadap kecil di bawah mejamu." Kevin mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras karena amarah dari masa lalunya. Kali ini, ia kembali mengalami hal yang serupa, rencana liciknya dipatahkan secara telak oleh Arkan. "Arkan, kamu bajingan yang sangat licik!" Lord Sterling berdiri dari kursi besarnya, dengan wajah yang memerah karena amarah yang membuncah. Pria paruh baya itu memukul meja dengan keras. Brak! "Cukup! Kevin, Julian, Valerie! Berani-beraninya kalian membawa berkas sampah dan rekaman konspirasi busuk ini ke hadapanku! Tindakan kalian adalah penghinaan be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status