Home / Romansa / Terpikat Hasrat CEO Dingin / Memasuki Dunia Lucian

Share

Memasuki Dunia Lucian

Author: Purplexyiii
last update Last Updated: 2025-02-15 22:19:01

Aku duduk di sudut sofa, menggenggam cangkir teh hangat yang diberikan pelayan apartemen Lucian. Tanganku masih sedikit gemetar, tapi bukan karena suhu minuman ini—melainkan karena aku masih belum bisa memproses sepenuhnya apa yang baru saja terjadi dalam hidupku.

Pernikahanku dengan Damien telah hancur sebelum sempat dimulai, dan sekarang aku terjebak dalam pernikahan lain—dengan seorang pria yang sama sekali tidak kukenal. Lucian Devereaux. CEO dingin dengan tatapan yang mampu membuat siapa pun tunduk dalam hitungan detik.

Lucian duduk di seberangku, membaca sesuatu di tabletnya dengan ekspresi tanpa emosi. Kami belum berbicara lagi sejak percakapan singkat tadi. Suasana di antara kami terasa begitu canggung, seolah-olah ada jurang tak kasat mata yang memisahkan kami.

Aku memutuskan untuk mengakhiri keheningan lebih dulu. "Jadi ... apa yang terjadi sekarang?"

Lucian meletakkan tabletnya di meja dan menatapku. "Sekarang, kita akan mulai menyesuaikan diri dengan peran masing-masing."

Aku mengernyit. "Maksudmu?"

Dia menyandarkan punggungnya ke sofa, menatapku dengan intens. "Aku butuh istri yang bisa meyakinkan dunia bahwa pernikahan kita nyata. Tak hanya tinggal di sini, kau harus mengikuti semua acara sosial bersamaku, dan memainkan peran sebagai istri yang sempurna."

Aku mencengkeram cangkir teh lebih erat. "Dan bagaimana dengan tujuanku?"

Lucian menatapku sejenak sebelum menjawab, "Kau bisa memulai balas dendam."

Aku terdiam. Tentu saja aku menginginkannya. Aku ingin Damien melihatku bahagia tanpa dirinya. Aku ingin dia menyesal telah meninggalkanku demi wanita lain.

Lucian melanjutkan, "Aku bisa memberimu kesempatan itu. Dengan status barumu sebagai Nyonya Devereaux, kau akan mendapatkan perhatian yang selama ini tak pernah kau miliki. Kau akan berada dalam lingkaran sosial yang sama dengan Damien dan Celeste, dan kau bisa menunjukkan pada mereka betapa mereka telah membuat kesalahan besar."

Aku merenungkan kata-katanya. Itu memang terdengar seperti rencana yang sempurna. Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. "Dan setelah semua ini selesai? Setelah kau mendapatkan warisanmu dan aku mendapatkan balas dendamku?"

Lucian mengangkat bahu. "Kita berpisah. Pernikahan ini akan berakhir secepat kita mengawalinya."

Aku tidak tahu kenapa, tapi jawaban itu membuat dadaku terasa sedikit sesak.

Aku mengangguk pelan. "Baiklah. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?"

Lucian tersenyum tipis, senyum yang entah kenapa membuatku merasa sedang menandatangani perjanjian dengan iblis. "Mulai besok, kita akan mengumumkan pernikahan kita ke publik. Bersiaplah, Seraphina. Hidupmu tidak akan pernah sama lagi."

***

Ketika pagi tiba, aku terbangun dengan pikiran yang masih berkecamuk tentang berbagai hal tentang pernikahan ini, tapi aku tahu tidak ada jalan kembali. Aku telah membuat keputusan, dan sekarang aku harus menjalani konsekuensinya.

Aku melangkah keluar dari kamar, dan mataku langsung menangkap sosok Lucian yang berdiri di dekat jendela besar apartemennya. Dia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung, satu tangan memasukkan kopi ke dalam mulutnya, sementara tangan lainnya menggenggam ponsel.

Aku menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Sial. Tidak bisa disangkal bahwa pria ini memiliki aura yang mampu menarik perhatian siapa saja.

Lucian menyadari kehadiranku dan menoleh. "Kau sudah bangun. Bagus. Kita akan pergi dalam satu jam."

Aku mengerutkan kening. "Pergi ke mana?"

Dia menyeruput kopinya dengan tenang sebelum menjawab, "Ke kantor pusat Devereaux Group. Semua orang harus tahu bahwa kau sekarang adalah istriku."

Aku menelan ludah. "Bagaimana jika mereka tidak menerimaku?"

Lucian menatapku dalam-dalam, lalu berjalan mendekat. Aku menahan napas saat dia berhenti hanya beberapa inci dariku.

"Biarkan aku yang mengurus mereka," katanya pelan, tapi penuh ketegasan. "Tugasmu hanyalah bersikap seperti seorang istri. Sisanya, aku yang tangani."

Aku ingin membalas, tapi sesuatu dalam sorot matanya membuatku tidak bisa berkata-kata.

Aku baru menyadari bahwa mulai hari ini, aku tidak hanya harus berurusan dengan Damien dan Celeste.

Tapi juga dunia Lucian Devereaux yang penuh rahasia.

Dan mungkin, aku tidak siap untuk itu.

***

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Gaun berwarna biru tua yang Lucian siapkan untukku terlihat sangat elegan, lebih mahal dari apa pun yang pernah kupakai sebelumnya. Rambutku digulung rapi ke belakang, memberi kesan anggun dan berkelas—seperti istri seorang miliarder seharusnya.

Namun, di balik semua ini, aku merasa seperti boneka yang dipoles agar sesuai dengan standar dunia yang bukan milikku.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum keluar dari kamar. Lucian sudah menungguku di ruang tamu, mengenakan setelan abu-abu yang sempurna membingkai tubuh tegapnya. Dia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu mengangguk kecil.

“Bagus. Kau terlihat seperti istri yang seharusnya kumiliki.”

Aku tidak tahu apakah itu pujian atau sekadar pernyataan, tapi aku tidak membalasnya.

Di dalam mobil, suasana terasa sedikit tegang. Lucian duduk di sampingku, tetapi dia lebih banyak fokus pada ponselnya. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela, menyaksikan kota yang mulai sibuk dengan aktivitas paginya.

“Ada sesuatu yang perlu kau ketahui sebelum kita sampai di kantor.”

Aku menoleh ke arahnya. “Apa?”

Lucian meletakkan ponselnya dan menatapku serius. “Di sana, aku memiliki banyak musuh—dan tidak semuanya akan menyambutmu dengan baik. Beberapa dari mereka akan mempertanyakan keputusan ini, beberapa akan mencoba menjatuhkanmu. Aku ingin kau tetap tenang dan tidak menunjukkan kelemahan.”

Aku menelan ludah. “Bagaimana jika aku melakukan kesalahan?”

“Jangan lakukan.”

Aku mendesah. Pria ini benar-benar tidak memberi ruang untuk kesalahan.

Saat mobil berhenti di depan gedung pencakar langit dengan logo Devereaux Group yang mencolok, aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat. Kaca gedung yang besar memantulkan bayangan kami saat kami turun dari mobil. Beberapa karyawan yang lewat berhenti dan berbisik satu sama lain.

Lucian, seperti biasa, tetap tak tergoyahkan. Dia menggenggam tanganku dengan mantap, seolah ingin memastikan semua orang di sini tahu siapa aku sekarang.

Kami melangkah masuk ke dalam lobi utama yang luas dan mewah. Suara langkah kaki kami menggema di lantai marmer. Aku bisa merasakan tatapan tajam dari beberapa pegawai yang berusaha menebak siapa aku.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi menghampiri kami. “Selamat pagi, Tuan Devereaux.” Tatapannya beralih padaku. “Dan … ini?”

Lucian tidak ragu sedikit pun saat menjawab, “Istriku.”

Hening. Beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

Wanita itu—yang kuduga adalah sekretaris pribadi Lucian—terlihat terkejut, tetapi profesionalisme membuatnya segera menguasai ekspresinya. “Saya mengerti, Tuan. Ruang rapat sudah disiapkan untuk pertemuan dewan direksi.”

Lucian mengangguk. “Baik. Aku akan membawa istriku ke sana.”

Aku tersentak. “Aku harus ikut?”

Lucian menoleh padaku. “Tentu saja. Ini bagian dari peranmu.”

Aku tidak punya waktu untuk protes. Dia menggenggam tanganku lebih erat dan membawaku ke lift. Saat pintu tertutup dan kami mulai naik ke lantai atas, aku menyadari satu hal.

Aku mungkin mengira sudah siap menghadapi pernikahan kontrak ini, tapi aku sama sekali tidak siap menghadapi dunia Lucian Devereaux.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Kehadiran Seseorang Baru

    Tubuhku terasa sedikit berat saat bangun pagi itu. Kepala pening, tenggorokan kering, dan ada hawa panas yang menempel di kulitku. Tapi karena Lucian sedang bersiap pergi ke kantor, aku menahan semuanya dengan senyum tipis. “Aku buatkan kopi, ya?” tawarku sambil menggeliat pelan. Lucian yang sedang mengenakan dasi langsung membalikkan badan. “Kau terlihat pucat. Kau demam?” Aku tertawa ringan, “Hanya sedikit pusing. Tidak usah lebay.” Namun tatapannya langsung menyipit curiga. Dalam dua langkah dia sudah sampai di hadapanku, meletakkan punggung tangannya di dahiku. “Kau terbakar, Seraphina.” “Berlebihan.” Aku menghindar sedikit dan menuju dapur, pura-pura lincah padahal lututku bergetar. “Sudah biasa. Istirahat sebentar pasti baikan.” Lucian memelototiku dari jauh seperti sedang menilai apakah aku akan pingsan atau pura-pura kuat. “Aku akan telepon Felix. Aku tidak pergi ke kantor hari ini.” Aku langsung menoleh dengan cepat, terlalu cepat hingga pusingku makin menjadi. “Janga

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Bukan Tentang Tempat

    Deru mesin bor terdengar lirih dari kejauhan saat aku melangkah masuk ke gedung yang sebentar lagi akan menjadi cabang kedua dari toko bunga kami. Tanganku menyapu debu halus dari meja kasir yang masih dibungkus plastik, dan mataku menyapu seluruh ruangan yang luas dan masih polos. Belum ada kelopak bunga di sudut mana pun, belum ada harum sedap malam atau anyelir yang menggoda dari pintu masuk. Tapi aku bisa membayangkannya. Di sinilah, tempat baru itu akan tumbuh—bukan hanya bisnis, tapi bagian dari impianku yang sempat terkubur. “Aku baru tahu tempat kosong ini bisa disulap seindah ini nanti,” gumamku, lebih kepada diriku sendiri. “Aku juga baru tahu istriku punya mata tajam seperti arsitek.” Suara Lucian terdengar dari belakang, membuatku menoleh. Ia menyender di ambang pintu, menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku, dan senyum kecilnya menyelip di sela-sela kalimatnya. Aku tersenyum geli. “Mata ini memang tidak bisa diam kalau soal menata ruangan.” Ia mendekat, menata

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Kejutan Ulang Tahun

    Tepukan tangan serempak menggema begitu aku membuka pintu ruanganku sendiri di kantor pagi ini. Sontak aku terhenti di ambang pintu, menatap hiasan pita emas yang membentang lebar, bertuliskan: Happy Birthday, Seraphina! "Selamat ulang tahun, Bos!" teriak Scarlett dari tengah kerumunan staf, mengenakan topi ulang tahun mungil dan meniup peluit warna-warni. Aku tertawa kecil, sedikit bingung sekaligus terharu, "Kalian semua… ini kerjaan siapa?" "Siapa lagi kalau bukan aku," jawab Scarlett bangga, menghampiriku sambil menyerahkan buket bunga mawar putih yang harum semerbak. "Tapi tentu saja seluruh tim bagian pemasaran juga terlibat." "Aku bahkan menyelinap ke ruangan ini semalam untuk memastikan semua balon terisi," celetuk Theo dari tim desain, membuat yang lain tertawa. Ruanganku, yang biasanya rapi dan tenang, kini berubah penuh warna. Balon pastel melayang di setiap sudut, meja dihias dengan serpihan glitter, dan di pojok, terlihat kue ulang tahun bertingkat dua dengan tulisan

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Dapur Penuh Cinta

    Lucian baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya basah dan kemeja santainya agak terbuka di bagian atas. Dia menatapku dengan senyum malas, seolah baru saja menemukan definisi baru dari kebahagiaan hanya dengan melihatku menata bunga di meja makan. Angin sore menyelinap masuk lewat jendela besar yang masih terbuka. Rumah itu—rumah baru kami—terlihat seperti potongan mimpi yang dilipat rapi dan disisipkan ke dalam kenyataan. Dinding-dindingnya putih bersih, dihiasi karya seni pilihan kami berdua. Kesan hangat dan intim terasa sejak pertama kali aku menjejakkan kaki di ruang tengahnya. “Aku tidak tahu rumah bisa terasa seperti ini,” gumamnya, melangkah mendekat. “Seperti apa?” tanyaku sambil menyusun vas terakhir, lalu menatapnya. “Seperti tempat kembali… bukan cuma bangunan.” Ia menyentuh jemariku, lembut, lalu menggenggamnya. Aku tertawa kecil. “Mungkin karena ini rumah yang kita pilih bersama.” Lucian menarikku ke dalam pelukannya. “Atau karena kamu ada di dalamnya.” “Hei,

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Menata Ulang Bersama

    Mobil hitam yang kami tumpangi terus melaju di jalanan aspal yang terasa asing di mataku. Aku mengenal hampir setiap sudut kota ini, namun area ini tampak berbeda. Pepohonan tumbuh rapi di sisi kanan-kiri, dedaunannya bergerak ringan ditiup angin musim semi. Aroma tanah basah masih tersisa dari gerimis semalam, memberi kesan segar dan tenang. Lucian duduk di sampingku, menyetir tanpa suara. Pandangannya lurus ke depan, tapi dari cara jemarinya mengetuk setir dan sesekali melirikku dengan senyum setengah jadi, aku tahu ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. “Jadi… kita mau ke mana sebenarnya?” tanyaku, menoleh ke arahnya dengan alis terangkat. “Sabarlah. Tidak semua hal bisa dijelaskan sebelum waktunya,” balasnya, kali ini dengan senyum penuh makna. Aku menyipit. “Kau tahu aku tidak suka kejutan.” “Dan kau juga tahu aku senang membuatmu berubah pikiran.” Ia menjawab cepat, membuatku tak bisa tidak tersenyum meskipun kesal. Kukalungkan lenganku di dada, berpura-pura jengkel, pada

  • Terpikat Hasrat CEO Dingin    Cara Melihat Dunia

    Aku memperhatikan Lucian menyetir dengan satu tangan sementara tangan lainnya menggenggam jemariku erat. Malam sudah larut, tetapi jalanan masih terang oleh lampu kota yang menghiasi trotoar dan membentuk pantulan indah di kaca jendela mobil. "Apa ada yang menganggu?" tanya Lucian, lirih tapi jelas. Aku menunduk sebentar, mengumpulkan keberanian. "Aku ingin bertanya sesuatu sejak lama, tapi ... selalu tertunda." Dia melirikku sebentar, lalu kembali fokus pada jalan. "Kau bisa tanya apapun." Aku menarik napas panjang. "Apa kau ... pernah tinggal di panti asuhan kecil di wilayah timur kota? Sekitar umur lima atau enam tahun?" Lucian mendadak memperlambat laju mobil. Matanya terpejam sesaat, lalu dia berhenti di bahu jalan. Tak menjawab. Hanya diam. Tangannya masih menggenggamku erat. Aku melanjutkan dengan suara pelan, "Aku ... menemukan gelang kecil di laci kerjamu. Terukir inisial L.S. dan S.L.—aku tahu itu bukan kebetulan. Aku mengenali bentuknya. Aku yang membuat gelang itu. U

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status