Beranda / Romansa / Terpikat Pesona Ayah Temanku / 137. Tak perlu Melawannya

Share

137. Tak perlu Melawannya

Penulis: CeliiCaaca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-02 10:25:51

Alessia langsung menolehkan kepalanya dan menatap Leonardo dengan sorot mata serius, berbeda dari biasanya. Wajahnya tampak tegang, seolah menahan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di dalam pikirannya.

“Leonardo,” ucapnya perlahan namun tegas, “aku ingin meluruskan satu hal.”

Leonardo menghentikan langkahnya dan memusatkan seluruh perhatiannya pada Alessia. Ia dapat merasakan perubahan suasana hati wanita itu. Dengan naluri yang tajam, ia tahu pembicaraan ini bukan perkara sepele.

“Waktu itu,” lanjut Alessia lalu menelan saliva dengan pelan, “aku hanya sedang emosi. Aku tidak benar-benar meminta atau menginginkan kau membunuh ayahmu sendiri.”

Leonardo terdiam sejenak. Rahangnya tampak mengeras, namun genggaman tangannya pada jemari Alessia justru semakin erat, seolah ingin memastikan wanita itu tetap berada di sisinya.

“Aku tidak ingin terjerat dalam bayang-bayang kematian ayahmu,” kata Alessia lagi dengan nada suara yang sedikit bergetar meski ia berusaha tetap tenang.

“Jika kau sam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   157. Punya hal yang Lebih Penting

    “Aku berangkat ke kantor dulu. Dan akan menjemputmu kembali setelah selesai,” ujar Leonardo dengan nada suara yang bariton dan penuh kewibawaan.Sebelum melangkah pergi, Leonardo menarik tubuh Alessia mendekat, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut namun lama di kening istrinya.Di sela-sela keheningan yang tercipta di antara mereka, Leonardo berbisik pelan, nyaris tak terdengar oleh orang lain.“Tolong tanyakan pada Gabby, apa saja yang dikatakan oleh Amanda barusan kepadanya. Aku merasa wanita itu belum sempat menyampaikan niat terselubungnya sebelum aku datang.”Alessia mengangguk kecil, memberikan tatapan meyakinkan yang menyatakan bahwa ia akan menangani situasi tersebut.Dia pun melambaikan tangannya dengan anggun saat sosok tegap Leonardo menghilang di balik pintu kaca restoran, meninggalkan aroma parfum maskulin yang samar namun membekas.Gabby, yang sejak tadi memperhatikan interaksi manis antara ayah dan sahabatnya itu dari kejauhan, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalany

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   156. Menunggu Waktu yang Tepat

    Pagi itu, suasana di restoran milik Gabby yang biasanya dipenuhi oleh aroma kopi segar dan roti panggang yang menggugah selera, mendadak berubah menjadi mencekam.Di ambang pintu masuk, berdiri seorang wanita dengan busana haute couture yang memancarkan kemewahan sekaligus keangkuhan. Amanda.Tanpa kabar, tanpa pemberitahuan sebelumnya, ia melangkah masuk dengan dagu terangkat, seolah-olah ia masih memiliki hak istimewa atas tempat tersebut.Gabby yang tengah memeriksa daftar inventaris di balik meja kasir seketika mematung.Jemarinya yang memegang pena mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Ia hanya menatap dingin wajah wanita yang melahirkannya itu.Tidak ada binar kerinduan, tidak ada sapaan hangat; bahkan untuk sekadar mengucapkan kata “Mama” pun, lidah Gabby terasa kelu dan enggan.Amanda melangkah mendekat, langkah sepatunya berdentang angkuh di atas lantai porselen.Dia berhenti tepat di depan meja kasir dan mengulas senyum miring yang sarat akan provokasi.“Bagaimana kab

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   155. Hanya bisa Menunggu

    Malam telah larut menyelimuti kediaman Deveroux, menyisakan kesunyian yang terasa berat di dalam kamar utama.Setelah sesi makan malam yang berlangsung canggung dan penuh keheningan, Alessia memperhatikan suaminya dengan saksama.Leonardo kini terduduk di tepi sofa panjang di sudut kamar, tubuhnya membeku dengan tatapan mata yang kosong tertuju pada lantai kayu di bawahnya.Alessia menaikkan alisnya, merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia berjalan perlahan, mendekati pria yang biasanya selalu tampak tangguh dan tak tergoyahkan itu.Dengan gerakan lembut, Alessia duduk di samping Leonardo, mencoba menangkap sisa-sisa fokus dalam netra suaminya.“Leonardo,” panggil Alessia lembut, memecah keheningan.“Ada apa denganmu? Mengapa kau melamun seperti itu? Bahkan saat makan malam tadi, kau terlihat sangat tidak berselera. Kau hanya mengaduk-aduk makananmu tanpa benar-benar menikmatinya.”Leonardo tersentak kecil, seolah baru saja ditarik kembali dari sebuah lubang pemikiran yang sangat d

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   154. Tidak Sanggup Memberitahunya

    Malam itu, jarum jam baru saja menyentuh angka tujuh. Suasana di dalam kediaman Deveroux terasa tenang, meskipun udara di luar mulai mendingin tertiup angin malam.Leonardo melangkahkan kakinya memasuki ruang tengah dengan langkah yang sengaja dibuat santai, berusaha menyembunyikan beban pikiran yang sempat menghimpitnya sepanjang sore di kantor.Ia melihat Gabby, putrinya, tengah duduk bersandar di sofa ruang tengah. Fokus gadis itu sepenuhnya tersita oleh layar ponsel di genggamannya.Mendengar derap langkah sepatu ayahnya, Gabby mendongakkan kepala sejenak, memberikan senyum tipis yang menunjukkan kedekatan mereka.“Papa sudah pulang? Tumben sekali jam tujuh malam sudah sampai di rumah,” sapa Gabby tanpa mengalihkan pandangan sepenuhnya dari ponselnya.Leonardo tidak langsung menjawab. Ia melepas jasnya, menyampirkannya di lengan sofa, lalu duduk tepat di hadapan putrinya.Sorot matanya yang tajam mengamati raut wajah Gabby yang tampak tidak memiliki beban sama sekali.“Pekerjaanku

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   153. Apakah Mereka Kerjasama?

    “Sebaiknya Anda bicarakan baik-baik dengan Nona Gabby. Walau bagaimanapun, Nona Gabby yang lebih berhak memutuskan semuanya,” ujar Anthony dengan nada suara yang rendah namun penuh pertimbangan.Leonardo menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerja yang empuk, lalu menarik napas panjang yang terdengar sangat berat.Ruangan itu seketika menjadi sunyi, menyisakan deru pendingin udara yang seolah menjadi saksi bisu atas kerumitan yang tengah menyelimuti pikiran pria tersebut.Tatapan Leonardo tertuju pada langit-langit ruangan, mencari sedikit ketenangan di tengah badai informasi yang baru saja ia terima dari mantan istrinya.“Aku tidak akan bisa tinggal diam jika Rafael menunjukkan sisi lemahnya dan memilih untuk meninggalkan Gabby,” gumam Leonardo, suaranya terdengar seperti sebuah janji yang kelam.“Kecuali jika Gabby sendiri yang memutuskan untuk pergi dan melepaskan Rafael. Itu adalah haknya. Namun, jika perpisahan itu dipaksakan oleh pihak ketiga, aku tidak akan membiarkannya t

  • Terpikat Pesona Ayah Temanku   152. Kedatangan Mantan Istri

    Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca besar di kantor pusat Deveroux Group, menyinari ruangan kerja Leonardo yang tertata dengan presisi yang kaku.Leonardo baru saja menyesuaikan posisi duduknya di balik meja kerja, bermaksud memulai tinjauan laporan keuangan, ketika pintu jati ganda ruangannya terbuka dengan kasar tanpa ketukan sama sekali.Seorang wanita dengan pakaian desainer yang mencolok dan aura angkuh melangkah masuk. Amanda.Mantan istrinya itu berdiri di sana dengan senyum miring yang selalu memancarkan racun.Tak lama kemudian, Anthony muncul dengan wajah pucat dan napas yang sedikit tersengal.“Maafkan saya, Tuan Leonardo. Saya sedang menerima panggilan dari departemen hukum dan tidak menyadari bahwa Nyonya Amanda masuk melewati barisan sekretaris tanpa izin,” ujar Anthony dengan nada penuh sesal dan kecemasan.Leonardo mengangkat tangannya dengan tenang, meski matanya memancarkan kilatan ketidaksukaan yang mendalam. “Keluar dan tutup pintunya, Anthony. Biarkan d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status