Chapter: Bab 27: Cemoohan Mantan SahabatPada siang hari yang terik, seorang pemuda memangku dua buah kotak bekal. Senyum tipis tidak luntur dari wajah Marcus selama menanti kehadiran Sena di sisi lapangan sekolah. Sejak beberapa waktu mengikuti gadis itu, ia sudah hapal beberapa kebiasaan maupun kegiatan yang dilakukan oleh Sena selama di sekolah.Kendati begitu, mendekati Sena secara gamblang bukanlah pilihan yang tepat. Raven terus menatap tajam ke arahnya setiap kali ia mencoba untuk melewati dinding pertahanan yang diciptakan oleh Sena. Ia tidak berani mendekat, layang intimidasi yang Raven berikan laksana pedang yang dapat menghunus kapan saja untuk menebas lehernya.“Wah, lihat siapa ini? Apa aku harus memanggilmu si lumpuh mulai hari ini?”“Victor?” Kedua alisnya menukik tajam saat seseorang yang begitu ia kenal datang dengan kalimat penuh cemooh.“Kupikir kakimu akan sembuh, nyatanya lumpuh total. Ugh! Aku sungguh jijik, mulai hari menjauhlah dariku,” ujar Victor dengan kedua tangan di dalam saku celana.Kotak bekal
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-12
Chapter: Bab 26: Luka Lama Yang TerbukaSena melepaskan rengkuhan pada Raven, netranya menatap nanar tepat pada kedua bola mata kelam di hadapannya. Sekelebat ingatan milik Leah menyisipkan kegamangan—iblis berkhianat menyerang kaum manusia.Apa Raven sepicik itu? Sekelebat pertanyaan melayang-layang dalam benak sang gadis.Ia melihat sendiri Raven memimpin pasukan dalam penyerangan, tetapi satu kalimat yang ia dengar dari sang iblis mengenai keserakahan manusia menjadi titik keraguan untuk mempercayai ingatan milik Leah.“Jika ada yang ingin kau tanyakan, ungkapkan saja.” Pada akhirnya Raven memilih membuka suara lebih dulu. Pemuda itu tidak ingin ada kesalahpahaman akibat kurangnya komunikasi di antara mereka.“Raven, sebenarnya apa yang terjadi? Dalam ingatan Leah, aku melihatmu di sana.” Pertanyaan itu penuh tuntutan. “Aku melihat bagaimana kaum manusia berperang melawan para iblis. Pada saat itu pula ... aku melihatmu tersegel,” lanjutnya dengan bola mata bergerak gelisah.Luka lama itu terkoyak kembali, belum lekang d
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-10
Chapter: Bab 25: Pertarungan Masa LaluSesuai dengan intruksi yang diberikan Raven, gadis itu bersila dan memejamkan kedua mata. Benang putih berpendar kebiruan dikeluarkan dari botol kaca, jemari Raven menempelkan benang itu pada titik tengah kening Sena. Sang gadis mengernyit tipis ketika merasa energi panas menyentuh kulitnya.Tidak lama berselang, tubuhnya terasa terombang-ambing membentur portal waktu hingga kaki tanpa alasnya memijak batuan kasar. Matanya belum membuka tetapi aroma bakaran arang menyeruak pada indra penciuman.Perlahan netranya mengintip dari sela-sela kelopak mata yang terbuka perlahan. Cahaya menyilaukan menyapa kornea hingga ia harus menyesuaikan pandangan sebelum benar-benar dapat menatap hal yang berada di sekitarnya.“Ini ... di mana?” lirihnya saat melihat pemukiman sederhana khas jaman dahulu. Ia pernah melihatnya dalam film, tidak menyangka ia akan menyaksikan secara langsung.“Perhatian semuanya!”Suara teriakan beriringan dengan derap tapak kuda melaju kencang ke arah Sena. Gadis itu membe
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-09
Chapter: Bab 24: Benang Ingatan LeahSetelah malam panjang itu, ibu Sena langsung mengajak sang putri untuk membungkus kembali semua hadiah yang diberikan oleh Marcus dan mengembalikan keesokan paginya ke kediaman pria itu. Tentu saja Sena meminta bantuan Raven dalam hal ini dan dengan senang hati pemuda itu membantu sang nona.Mereka pikir dengan apa yang telah dilakukan, Marcus akan berhenti mengganggu Sena. Nyatanya hal itu hanya angan semu, pemuda itu justru semakin gencar melakukan pendekatan. Dari tumpukan surat dalam loker, menu makan siang bernilai fantastis, hingga berbagai hadiah kecil memenuhi meja.Dulu semua orang menatapnya jijik dengan label kemiskinan yang seakan tertempel pada keningnya. Sekarang, tatapan itu berubah menjadi semakin liar. Dari sudut pandang mereka, Sena tidak ubahnya seperti gadis licik yang menekan rasa bersalah Marcus padanya untuk mendapatkan keuntungan. Lagi-lagi dirinya yang menjadi sumber kesalahan, lalu Marcus? Pemuda itu diliputi tatapan iba.“Jadi, hal apa yang ingin kau tanyaka
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-08
Chapter: Bab 23: Pengakuan Kepada Sang IbuSena duduk diam di atas ranjang dengan kedua lutut tertekuk di depan dada. Matanya memandang jauh ke luar jendela. Kejadian beberapa waktu lalu membuatnya mengurung diri di kamar. Saat itu, setelah sesi makan malam usai, sang ibu menanyai Marcus mengenai Sena sebab tahu bahwa mereka sekelas. Semula, pemuda itu tampak bingung memilah kata yang tepat sedangkan Sena menatapnya sinis.Mereka bahkan tidak akrab, hanya sebatas mangsa dan pemburu. Gelak tawa hampir gadis itu cetuskan saat Marcus berujar bahwa Sena adalah gadis yang rajin dan mudah bergaul dengan siapa saja. Satu kalimat rancu penuh dusta itu semakin membuat sang gadis melayangkan sumpah serapah dalam benaknya.Raven, sang iblis tidak berniat ikut campur. Ia terus mengamati setiap gerak-gerik Marcus. Menelisik gestur sekecil apapun guna mencari titik tersembunyi dari niat yang belum terungkap.“Terima kasih, Bibi. Masakan Anda sangat lezat.” “Kau pandai memuji. Kalau kau suka, besok Bibi akan meminta Sena membawakan bekal un
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-08
Chapter: Bab 22: Tamu Tidak Diundang“Maaf jika kehadiranku mengganggu.” Kalimat itu menyadarkan Sena dari keterkejutan. Marcus berada di ambang pintu bersama dengan dua orang pengawal yang berdiri di belakang tubuhnya. Sena menatap ke arah sang ibu yang justru mempersilakan pemuda itu masuk tanpa merasa curiga. "Masuklah, Nak. Kau teman Sena, ya? Sangat jarang ada teman Sena yang datang selain Raven,” ungkap wanita paruh baya itu dengan bibir melengkung. Marcus tersenyum tipis, manik matanya berpindah ke arah sang gadis yang masih menatapnya dengan kening mengernyit. Sadar dengan kehadiran yang tidak diterima, Marcus berniat untuk berpamitan dan datang lain waktu, tetapi ibu Sena menahan kepergiannya dan justru meminta Marcus mampir untuk makan malam bersama. Sena mendelik ke arah sang ibu, ia tidak suka dengan ide itu. “Ibu, kenapa mengajaknya makan malam di sini? Lagipula dia bukan temanku.” Entah keberanian dari mana hingga ia mampu menolak kehadiran Marcus tanpa rasa gentar. “Kau ini, tidak sopan berkata
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-10-06