FAZER LOGINApi harapan itu mendadak membeku."Aku nggak bakal kembali bersamamu cuma karena merasa berutang budi. Itu nggak adil buatmu. Buatku, itu juga merupakan penghinaan." Ziva menggeleng pelan.Warna di wajah Felix memudar dengan kecepatan yang terlihat jelas, bahkan lebih pucat daripada setelah menjalani operasi.Dia membuka mulut dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun."Cintamu." Ziva menatapnya dengan tatapan tenang dan jauh, seolah sedang memandang masa lalu yang tidak lagi ada kaitannya dengan dirinya. "Datang terlalu terlambat dan terlalu berat. Aku nggak sanggup menerimanya, dan aku juga nggak mau menerimanya lagi.""Kali ini, kamu sudah menyelamatkanku. Jadi, kita impas." Ziva menarik napas perlahan, seolah akhirnya melepaskan beban yang selama ini dipikulnya. "Selama enam tahun terakhir, semua kebaikan yang kuberikan kepadamu dan luka yang kamu terima demi menyelamatkanku sudah lunas. Mulai sekarang, kita nggak lagi saling berutang."Ziva ber
Phares, sebuah rumah sakit swasta.Aroma dingin disinfektan memenuhi udara.Koridor begitu sunyi, hanya sesekali terdengar bunyi monoton dari alat-alat medis.Ziva duduk di bangku panjang di luar ruang operasi. Dia masih mengenakan kostum pertunjukan yang telah basah kuyup oleh darah dan kini sudah mengering serta mengeras.Riasan panggungnya yang semula begitu sempurna sudah lama luntur oleh air mata. Bercampur dengan debu dan noda darah, wajahnya kini tampak sangat berantakan.Pikirannya kosong, hanya dipenuhi dengungan. Adegan mendebarkan itu terus terbayang di depan matanya, kilatan dingin, teriakan, sosoknya yang berlari menghampiri, suara tumpul saat belati menembus tubuhnya, wajahnya yang pucat, dan kalimat pelannya, akhirnya, kali ini benar.Setiap kali adegan itu terputar kembali, tubuh Ziva terasa dingin seolah terjatuh ke dalam jurang es.Ziva pernah membencinya, menyalahkannya, bahkan bertekad untuk melupakannya sepenuhnya.Namun, ketika pisau itu benar-benar mengarah kepad
Tur keliling itu terus berlanjut, dari Neo Yark ke Ludon, lalu ke Phares, kota yang romantis.Pertunjukan Ziva selalu dipadati penonton dan mendapat sambutan hangat.Di atas panggung, dia bersinar dan mencurahkan seluruh kemampuannya, memerankan dengan sangat sempurna sosok perempuan yang penuh semangat hidup, telah melalui berbagai cobaan, lalu bangkit dan menemukan kembali kehidupan barunya. Setiap kali pertunjukan berakhir, tepuk tangan penonton selalu bergemuruh tanpa henti.Felix tetap mengikutinya seperti bayangan. Dia seperti bayangan yang telah memudar, tetapi keras kepala, terus membuntuti di tepian dunia Ziva yang gemerlap. Keberadaannya terasa begitu tidak pada tempatnya dan mengganggu, tetapi tidak kunjung bisa disingkirkan.Pertunjukan terakhir di Phares merupakan pentas amal terbuka yang digelar di sebuah alun-alun bersejarah yang terkenal, dengan tujuan menggalang dana untuk sebuah teater anak-anak setempat.Tempat duduk penonton ditata di alun-alun, sementara panggungny
Felix tidak meninggalkan Neo Yark.Dia seperti hantu yang kehilangan jiwanya, tetap tinggal di kota itu dengan keras kepala dan penuh obsesi.Ketika rombongan teater keliling meninggalkan hotel dan menuju tempat latihan berikutnya, dia pun mengikuti mereka ke kota selanjutnya.Felix tahu dirinya tampak seperti lelucon, seperti penguntit, tetapi dia tidak mampu mengendalikan diri.Dia membeli tiket untuk setiap pertunjukan terbuka Ziva, selalu memilih tempat duduk paling depan dan tepat di tengah.Setiap kali pertunjukan usai, dia selalu mengirimkan karangan bunga berukuran sangat besar hingga nyaris memenuhi seluruh panggung.Kartu yang tersemat pada buket bunga itu dipenuhi penyesalan dan permohonan maafnya yang kikuk dan tidak terucap dengan jelas.Namun, tidak satu pun dari bunga-bunga itu pernah sampai ke tangan Ziva. Bunga-bunga itu entah ditolak dengan sopan, tetapi tegas oleh staf rombongan teater, atau dibagikan kepada staf lain dan para penonton.Felix mencoba membuka jalan de
Ziva tidak meronta. Dia hanya menunduk dan melirik tangan Felix yang mencengkeram erat lengan bawahnya. Cengkeraman itu membuatnya sedikit mengernyit.Kemudian, dia mengangkat pandangannya dan menatap mata Felix yang dipenuhi gurat-gurat merah serta dilanda keputusasaan. Tidak ada keterharuan ataupun kepuasan di matanya, hanya seulas emosi yang begitu samar hingga nyaris bisa disebut belas kasihan.Ziva mengangkat tangan satunya, lalu dengan lembut, tetapi sangat tegas, membuka jari-jari Felix yang dingin dan kaku satu per satu."Felix." Suaranya tetap tenang, terdengar jelas dan dingin di tengah angin senja. "Kita sudah lama putus. Mana ada lagi yang namanya rumah?""Nggak! Kita nggak putus! Aku tidak setuju!" Setelah tangannya berhasil dilepaskan oleh Ziva, Felix seolah kehilangan penopang terakhirnya. Emosinya makin meluap. "Aku tahu aku bajingan! Aku buta! Tapi sekarang aku sudah melihat dengan jelas! Di hatiku cuma ada kamu, dari dulu cuma kamu! Aku sudah menjelaskan semuanya kepa
"Nggak mau diganggu oleh siapa pun, terutama oleh Anda."Kalimat itu menghantam Felix seperti palu godam hingga pandangannya menghitam.Ziva sudah menduga dia akan datang. Bahkan, dia telah memberi tahu pihak hotel sebelumnya dan menutup semua jalan baginya.Felix yang selalu bangga dengan dirinya sendiri, untuk pertama kalinya merasakan bahwa kekuasaan dan uang pun ada kalanya tidak berdaya.Dia seperti binatang yang terperangkap, berputar-putar tanpa tujuan di kota yang asing.Felix menyewa detektif swasta dengan bayaran tinggi, tetapi hanya mendapat informasi bahwa rombongan teater itu mungkin sedang berlatih di beberapa teater. Lokasi pastinya tidak dapat dipastikan.Dia hanya bisa menunggu dengan sabar.Felix mondar-mandir di luar teater yang diduga menjadi tempat latihan dan menunggu berjam-jam di lobi beberapa hotel yang kemungkinan menjadi tempat rombongan itu menginap.Dia tidak tidur dan tidak beristirahat. Matanya dipenuhi urat merah, jas mahal yang dikenakannya telah kusut,







