LOGIN**
“Aku? Sudah kubilang, aku Giovanni Estes.” Pria rupawan itu tersenyum. Senyumnya sungguh mempesona, sampai membuat Bella rasanya hampir mengiyakan apapun yang pria itu katakan.
“Tap-tapi, jika hanya menikah, apakah itu akan menguntungkanmu? Maksudku, apakah sebanding dengan apa yang kau terima? Jika tidak, bukankah kau akan menderita kerugian?”’ tanya Bella penasaran.
“Jika aku menawarkan demikian, tentunya aku sudah mempertimbangkan untung ruginya, Nona. Jadi sekarang bagaimana, kau menerima tawaran ini atau tidak? Aku membantumu mendapatkan kembali hakmu, dan kau menjadi istriku sampai orang tuaku meninggal.”
“Ap– hei! Tidak boleh berkata begitu! Kau menyumpahi orang tuamu sendiri untuk meninggal?”
“Jangan cerewet, Isabella! Kau bersedia atau tidak?”
“Aku– sebentar, dari mana kau tahu namaku? Seingatku aku belum memperkenalkan diri?”
“Mudah saja untukku mengetahui hal seperti itu. Tidak perlu kau pikirkan.”
Benar juga. Itu bisa Bella tanyakan lagi nanti. Sekarang yang harus ia pikirkan adalah, apakah ia harus menerima tawaran ini?
Jika Bella bisa menikah sebelum hari esok, lebih dulu dari pernikahan Tracy dan Andrew, maka ia menang. Paradise Hotel tidak jadi jatuh ke tangan ibu dan kakak tirinya.
“Giovanni?”
“Bagaimana?”
“Mungkinkah kita bisa melangsungkan pernikahan secara mendadak? Maksudku, jika aku bisa menikah lebih dulu dari Tracy, maka hak waris itu tetap aku yang pegang.”
“Kapan saudari tirimu menikah?”
“Besok pagi, sekitar pukul sepuluh.”
“Ayo kita permalukan mereka besok.”
Suara yang mendominasi dan penuh keyakinan itu membuat Bella tersentak.
Mengapa kedengaran menarik? Sekali lagi, apakah ini hanya lelucon?
Tapi, Giovanni ternyata menepati janji!
Sembari memandangi selembar akta pernikahan di tangannya, Bella kini dibuat kebingungan. Bagaimana ia dan Giovanni bisa mendaftarkan pernikahan di catatan sipil semudah itu?
Entahlah. Bella tidak tahu. Sepertinya, segalanya tampak mudah di tangan Giovanni Estes ….
“Ayo kita pulang.”
Bella terhenyak dari lamunan. Ia mengangkat wajah dan mendapati pria yang kini sudah menjadi suaminya, tersenyum di hadapannya.
“Pu-pulang ke mana?”
“Jangan pikir karena kau menganggapku gigolo semalam, aku benar-benar gigolo yang tidak punya tempat tinggal, Bella.”
“Astaga, maafkan aku tentang itu. Aku sama sekali tidak menganggapmu begitu, Giovanni.”
Pria itu terkekeh pelan. “Bercanda, Sayang. Ayo kita pulang sekarang.”
Ia menggenggam tangan Bella dan membawanya masuk ke dalam mobil. Kemudian melajukannya menyusuri sepanjang jalan utama San Diego yang padat. Pantulan matahari sore yang nyaris tenggelam membias pada permukaan air laut di tepi pantai yang menghampar sepanjang jalan.
“Bukankah ini hari yang sempurna untuk menikah?” Giovanni berkata sementara masih berkonsentrasi mengemudi mobilnya.
“Ap-apa?”
“Dan langitnya cerah. Seharusnya ini juga malam yang sempurna untuk melakukan malam pertama. Tapi sayang sekali, kita sudah mencuri waktunya semalam. ”
Bella tersedak napasnya sendiri, dan karenanya Giovanni melayangkan seringai lebar.
Mobil hitam itu memasuki sebuah rumah megah seperti kastil yang berada di pinggir kota San Diego. Agak menepi ke bukit di tepi pantai, sehingga membuatnya benar-benar terlihat bagaikan istana kerajaan.
Bella menelan saliva. Teringat kembali, semalam ia meninggalkan hanya beberapa ratus dollar untuk lelaki pemilik istana ini? Benar-benar memalukan.
Ketika mobil sudah berhenti di basement, hal tak terduga terjadi. Giovanni mendekat dan mencium bibir Bella dengan tiba-tiba. Gadis itu terkejut, namun tidak bisa menghindar.
“Ap-apa yang kau lakukan?”
“Mencium istriku.”
“Gio–”
Kata-kata Bella terputus karena suara ponsel Giovanni berdering nyaring. Pria itu mendesis kesal. Ia menjauh dari Bella dan meraih benda pipih yang tergeletak di atas dashboard.
Ia kemudian terlibat percakapan yang serius. Bella hanya bisa memandangi suaminya dengan tatapan penuh tanya sampai pria itu selesai berbicara.
“Aku akan mengantarkanmu ke kamar, Bella.”
“Apa yang terjadi?”
“Ada pekerjaan yang harus aku lakukan.”
“Malam ini juga? Haruskah?”
Giovanni diam. Ia memandang Bella dalam-dalam dengan sepasang netra hitamnya yang seperti mata serigala itu. “Kau sudah mengucap janji akan menikah denganku dan menjadi istri yang baik sampai orang tuaku mati.”
“Su-sudah kita lakukan, kan?”
“Kau tidak bisa mundur apapun yang terjadi, Bella.”
“Kenapa aku harus mundur?”
Giovanni mengambil jarak sedikit. Kali ini ia tampak lebih rileks. Ia memandang sang istri dengan seringai yang kembali tersemat di bibirnya.
“Kau akan tahu nanti. Maafkan aku, tapi malam ini kau harus tidur sendiri dulu, okay?”
Bella menelan saliva. Entah mengapa pertanyaan pria itu sarat makna?
***
**"Kenapa denganmu? Kau terlihat seperti orang yang hendak menjalani hukuman mati saja!"Felix terperanjat setelah Giovanni menegurnya. Para anggota Casa Nero baru saja selesai rapat untuk membahas proyek kerja baru mereka sore ini. Semua orang sudah membubarkan diri, tapi Felix seperti biasa, masih tinggal di ruang kerja Giovanni. Yang tidak biasa, pria itu tidak bisa menyembunyikan raut wajah penuh kegelisahannya."Ti-tidak apa-apa, Tuan.""Kau pikir aku bodoh?""Tidak, Tuan. Saya tidak apa-apa.""Katakan tidak apa-apa sekali lagi, dan aku akan melemparmu ke dalam lautan lewat jendela!""Sayang, kenapa kau kasar sekali bicara dengan Felix?"Giovanni seketika terdiam setelah Bella ganti menegurnya. Wanita itu memandang dengan tidak setuju, baru saja masuk dari pintu utama yang tidak tertutup"Kenapa?" tanyanya, kali ini kepada Felix. "Ada sesuatu yang salah? Katakan saja kepada kami, Felix. Jangan sembunyikan apapun."Felix masih bergerak kecil, jelas sekali pria itu tidak bisa meny
*Pelataran pusat perbelanjaan itu berkilau diterpa matahari siang San Diego. Deretan palem berdiri rapi, sementara udara laut yang asin samar-samar terbawa angin. Felix mematikan mesin sedan hitam yang baru saja ia parkirkan, lalu duduk beberapa detik lebih lama dari biasanya, menatap setir dengan napas tertahan.“Berbelanja,” gumamnya pelan, seolah kata itu sendiri adalah tantangan. “Ayolah, ini hanya berbelanja. Tidak akan sesulit itu.”Ia jarang—hampir tak pernah—melakukan urusan semacam ini. Biasanya, segala kebutuhan Casa Nero sudah diatur rapi oleh tangan-tangan lain yang lebih berpengalaman dan sesuai job desk. Namun keadaan berubah sejak keluarga itu kedatangan anggota baru: Tuan Muda Gabriel. Bayi kecil itu membuat rutinitas semua orang beralih poros, termasuk Felix.Pagi tadi, Bella menelepon dengan suara lirih namun tegas. Gabriel demam ringan setelah vaksin, dan ia tidak mungkin keluar rumah. “Tolong belikan diapers yang biasa,” katanya, lalu mengirimkan foto kemasan lewa
**Beberapa bulan kemudian"Apa kau takut, Bella?""Tidak, Gio, aku tidak takut. Aku baik-baik saja. Seharusnya aku yang bertanya begitu kepadamu. kau harus mengaca dan melihat wajahmu yang pucat seperti mayat itu."Bella tertawa pelan, dan Giovanni mendesis muak. "Dokter, bisakah kalian persingkat waktu? Kalian akan apakan istriku ini sebenarnya?"Ruang operasi itu terasa jauh lebih dingin dibandingkan ruangan rawat inap sebelumnya. Pendingin udara berdengung konstan, membuat bulu kuduk Giovanni meremang meski ia mengenakan pakaian steril berwarna biru pucat. Aroma karbol dan obat-obatan menyeruak tajam, menusuk hidungnya hingga menimbulkan rasa tak nyaman. Lampu-lampu operasi yang besar menggantung di atas, memancarkan cahaya putih terang yang terasa kejam bagi mata yang belum terbiasa.Giovanni berdiri di sisi kepala ranjang operasi, tepat di samping Bella. Tangannya menggenggam tangan istrinya erat-erat, seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak runtuh. Bella ber
**Giovanni tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Sudah berapa banyak pagi, siang, sore, atau malam yang berlalu, ia juga tidak ingat. Ia hanya tahu sudah duduk diam di tempat yang sama untuk waktu yang lama.Ruang rawat inap itu sunyi, hanya diisi dengung halus mesin pemantau jantung dan desau pendingin udara rumah sakit yang berdiri menghadap Teluk San Diego. Dari balik jendela besar, cahaya matahari sore menyelinap masuk, memantul di lantai putih yang mengilap. Di kejauhan, laut tampak tenang, seolah bersekongkol menjaga rahasia antara hidup dan mati yang baru saja dilewati seorang perempuan bernama Isabella Estes.Giovanni duduk di kursi di sisi ranjang, dengan tubuh yang condong ke depan. Kedua sikunya bertumpu pada kasur, sementara jemarinya menggenggam tangan Bella yang dingin namun hidup. Sudah berhari-hari ia berada di posisi yang sama, hampir tidak pernah beranjak kecuali untuk ke kamar mandi atau menerima laporan singkat dari Felix. Matanya jarang terpejam, seakan tak
**Giovanni pikir, dirinya benar-benar akan tewas saat itu juga. Ia pejamkan mata rapat-rapat, menunggu rasa sakit atau semacamnya datang setelah letusan pistol terakhir terdengar. Tapi untuk ke sekian kalinya, tidak ada yang terjadi. Pria itu masih bertahan dalam posisi duduk melindungi kepala ketika suasana mendadak hening. Tidak ada pergerakan apapun, sehingga kapal yang bergoyang-goyang di atas lautan bisa terasa dengan jelas di bawah kakinya saat itu.Giovanni menoleh pelan, dan menemukan tubuh Damian sudah jatuh menelungkup di atas puing-puing dek kapal mewahnya yang berserakan. Kalau begitu, siapa yang tadi menembak?"Tuan! Tuan baik-baik saja?Tuan tidak apa-apa?"Suara derap langkah yang awalnya pelan, terdengar semakin jelas, menggema di lorong sempit yacht yang masih dipenuhi aroma mesiu dan logam terbakar. Giovanni yang terduduk bersandar pada dinding retak itu mengangkat kepala dengan susah payah. Pandangannya sedikit kabur, tetapi ia mengenali siluet yang mendekat.“Tuan
**"Tutup mulutmu, kau bajingan! Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku! Kau sudah siap mati, ha!"Giovanni benar-benar murka saat mendengar penuturan adik sepupunya yang tidak tahu malu itu. Ia mengangkat tangan yang memegang pistol, lurus dengan wajah Damian. Dan segera saja para penjaga di belakang Damian bergerak maju hendak menyerang balik. Membuat pria itu segera memberi isyarat untuk menenangkan mereka."Begitukah sikapmu kepada tuan rumah? Yang kau injak saat ini adalah geladak kapal milikku, lho. Harusnya aku yang tanya, apa kau sudah siap mati jika sikapmu seburuk itu?"Jemari Giovanni hampir menarik pelatuk, sebelum Damian dengan ringan mengatakan, "Jika kau nekat melakukan sesuatu yang buruk kepadaku, hal yang sama pasti akan dilakukan anak buahku kepada istrimu di dalam."Seketika membuat sang Don murka. Rahangnya mengeras menahan amarah yang nyaris meledak tak terkendali. "Di mana istriku, bajingan keparat! Katakan atau kurobek mulut besarmu itu!""Whoa ... calm down







