Share

74. Hukuman!

Penulis: Lil Seven
last update Tanggal publikasi: 2026-06-01 20:28:49

Arthur tak langsung melepasku setelah Kael pergi. Ia masih menekanku ke dinding koridor, mata merah keemasannya menyala penuh amarah posesif yang membara.

“Lylia,” suaranya rendah dan berbahaya, memanggil namaku dengan penekanan kuat. “Kamu berani bicara berdua dengan pria lain di koridor istanaku?”

Aku menggigil. “Arthur… itu Kael, dia—”

“Tidak peduli siapa dia,” potongnya kasar. Tangan besarnya mencengkeram daguku, memaksa aku menatap matanya. “Kamu milikku. Tubuhmu, bibirmu, bahkan n
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   96.

    Pintu perpustakaan akhirnya terbuka pelan saat fajar mulai menyusup melalui jendela-jendela tinggi. Tubuhku masih lemas, penuh jejak-jejak Arthur yang panas dan memabukkan. Ia meninggalkanku dengan ciuman terakhir yang dalam di kening, bisikan posesif di telingaku, sebelum menghilang ke koridor istana dengan langkah penuh kepuasan. Aku baru saja merapikan gaunku yang kusut ketika pintu perpustakaan terbuka lagi dengan dorongan kasar. Bukan Arthur. Kael berdiri di ambang pintu, mata biru safirnya menyala dengan amarah yang tak tertutupi. Wajah tampannya yang biasanya tenang kini mengeras, rahangnya menegang, dan aura dingin yang biasa ia pancarkan kini terasa seperti badai salju yang siap menghancurkan segalanya. "Lylia," suaranya rendah, tapi penuh getaran yang berbahaya. Ia melangkah masuk, pintu menutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terlalu keras. "Jadi benar apa yang kudengar." Aku mundur selangkah, punggungku menyentuh meja kayu yang masih hangat dari pertemuan kami de

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   95.

    Pintu perpustakaan tetap terkunci rapat, seolah ruangan tua ini telah menjadi dunia kecil yang hanya milik kami berdua. Cahaya lilin semakin redup, tapi api di antara tubuh kami justru semakin membara. Arthur tidak memberiku waktu untuk pulih sepenuhnya. Begitu gelombang pertama reda, ia menarik tubuhku dengan lembut namun tegas, membalikkan posisiku hingga perutku menempel pada rak buku yang dingin. Payudaraku yang masih sensitif tertekan ke permukaan kayu, sementara pinggulku terdorong ke belakang, terbuka sempurna untuknya. "Kamu belum selesai, sayang," bisiknya serak, napas panasnya menyapu tengkukku. Tangan besarnya meremas pinggulku, menariknya ke belakang hingga aku merasakan kejantanannya yang masih keras dan panas kembali menyentuh celahku yang basah dan berdenyut. "Aku ingin mendengar suaramu lagi... lebih keras." Dengan satu dorongan dalam dan kuat, ia menyatukan kami kembali. Aku menjerit pelan, suaraku pecah menembus udara perpustakaan yang sunyi. Sensasi penuh itu kem

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   94.

    Pintu kayu ek raksasa itu sudah tertutup rapat di belakang kami, seolah dunia luar tak lagi ada. Hanya rak-rak buku tua yang menjulang, cahaya lilin yang bergetar, dan napas kami yang semakin memburu. Arthur menciumku lebih dalam, lebih rakus, seolah ia ingin menelan seluruh esensi diriku. Lidahnya menari dengan lidahku dalam irama yang panas dan mendominasi, mengecap setiap sudut mulutku hingga aku kehilangan arah. Tangannya yang besar dan kasar menyusup lebih tinggi di balik gaunku, meremas paha dalamku dengan tekanan yang membuat otot-ototku menegang dan meleleh bersamaan. "Aku bisa merasakan panasmu," bisiknya serak di bibirku, suaranya seperti guntur rendah yang menggetarkan dada. "Kamu sudah basah untukku, peliharaan kecilku... hanya karena aku mengklaimmu seperti ini." Aku menggigit bibir bawahnya sebagai jawaban, tak sanggup lagi berpura-pura menahan. Tubuhku melengkung ke depan, menempel lebih erat pada dada bidangnya yang terasa seperti tungku hidup. Arthur mendengus puas

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   93.

    Pintu kayu ek raksasa perpustakaan terbuka dengan bunyi decit yang berat, menyambutku ke dalam ruangan yang dipenuhi aroma perkamen tua, tinta, dan debu magis. Cahaya lilin yang temaram menciptakan bayangan-bayangan panjang di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Di sinilah aku biasanya menemukan kedamaian. Di sinilah aku bisa melarikan diri dari tatapan lapar dan kebencian para penghuni istana. Tapi hari ini, udara di dalam perpustakaan terasa berbeda. Lebih padat. Lebih panas. Baru saja aku melangkah melewati rak ketiga, berniat mencari sudut gelap untuk menenangkan sisa-sisa adrenalin yang masih memompa darahku, sebuah tangan besar dan kokoh tiba-tiba mencengkeram pinggangku dari belakang. Aku terkesiap, nyaris menjerit, namun sebuah dada yang bidang dan sekeras batu sudah menekan punggungku, mengunci pergerakanku sepenuhnya. Aroma khas yang memabukkan—campuran kayu cendana, asap, dan sesuatu yang gelap serta berbahaya—langsung menyerbu indra penci

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   92.

    Wajah Lilith berubah. Senyum sinisnya sedikit memudar. "Dulu Kael pernah menjadi milikmu," kataku, tahu ini adalah titik paling sensitifnya. "Tapi sekarang dia bahkan tak bisa menahan diri untuk menciumku. Seorang manusia rendahan, sebutanmu itu. Pria yang kau klaim sebagai kekasihmu dulu itu sekarang lebih memilih bibirku daripada bibirmu." Aku mengambil napas, berusaha menenangkan detak jantungku yang semakin kencang. "Kau hanya bisa menggoyangkan pantatmu di depan pria-pria istana ini, Lilith. Kau berpakaian serba terbuka, kau menggoda setiap pria yang lewat, tapi tak ada satu pun yang benar-benar menginginkanmu. Tidak seperti mereka menginginkanku. Kau hanya mainan sementara yang sudah usang." Wajah Lilith berubah drastis. Senyumnya lenyap seluruhnya, digantikan ekspresi marah yang terlihat jelas. Wajah cantiknya berubah merah, urat di lehernya menonjol. "Kau berani—!" "Aku berani," potongku tegas, meski suaraku hampir patah karena takut. "Karena aku tahu posisiku. Aku meman

  • Tertawan Obsesi Gelap 4 Iblis Menawan   91.

    Sore harinya, saat aku berjalan pelan menyusuri koridor timur menuju perpustakaan untuk mencari pengalih perhatian dari semua kekacauan yang melingkupiku, aku bertemu dengan sosok yang paling tidak kuinginkan untuk ditemui saat kondisiku sedang lemah begini. Lilith. Ia berdiri di tengah koridor dengan gaun merah gelap yang mewah, dikelilingi dua pelayan pribadi yang selalu setia membelakanginya. Begitu melihatku, senyum sinis langsung terukir di wajah cantiknya yang kejam, wajah yang pernah membuat seluruh istana gentar di masa kejayaannya sebagai kekasih Kael. "Oh, lihat siapa yang muncul," katanya dengan nada manis beracun yang khas. "Manusia pelacur Raja yang sudah dihukum semalaman. Berjalan saja masih pincang, ya? Rahimmu pasti masih penuh cairan Arthur sampai sekarang." Pelayan-pelayannya tertawa kecil di belakangnya, seperti anjing-anjing kecil yang setia mengikuti majikannya yang kejam. Lilith melangkah mendekat, setiap langkahnya penuh percaya diri seorang wanita yang te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status