LOGINAku masih bersandar lemah di batang pohon, jantungku berdegup kencang seperti akan meledak dari dalam dada. Bibirku terasa panas, bengkak, dan masih basah oleh ciuman Kael yang penuh amarah dan nafsu. Aku menyentuh bibirku dengan jari gemetar, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Pikiran masih terasa kacau, seperti benang kusut yang tak tahu ujung pangkalnya. Kenapa Kael melakukan itu? Bukankah dia membenciku? Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa aku sudah kotor dan menjijikkan? Lalu kenapa dia menciumku dengan begitu ganas, begitu putus asa, seolah aku adalah udara terakhir yang bisa ia hirup sebelum mati lemas? Tiba tiba, sebuah sensasi aneh menjalar di seluruh tubuhku. Rasanya seperti ada ribuan jarum es yang menusuk dari dalam, dimulai dari pusarku lalu merambat ke dada, leher, hingga ke ubun ubun kepalaku. Aku merinding sekujur badan, padahal udara pagi di taman ini tidak sedingin biasanya. Ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang tidak beres. Di sayap utara is
Keesokan paginya, setelah malam yang melelahkan karena hukuman Arthur dan teror Lark, aku memutuskan untuk keluar kamar. Aku butuh udara segar, sekaligus mencoba menyelesaikan misi yang semakin terasa mustahil. Tubuhku masih terasa sakit di sana-sini, bekas hukuman semalam masih terasa perih meski luka luarnya sudah mulai mengering. Tapi rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan kekacauan di dalam kepalaku. Aku berjalan menuju Taman Tengah Istana. Tempat itu biasanya sepi di pagi hari, karena para iblis lebih suka tidur hingga siang setelah berjaga semalaman. Udara dingin dunia iblis menyentuh kulitku yang masih penuh bekas merah. Aku mengenakan gaun sutra hitam sederhana, berusaha terlihat tenang meski hatiku masih kacau. Aku menarik napas dalam-dalam, menikmati sendiri untuk pertama kalinya setelah bermalam-malam terkurung di kamar yang pengap. Tapi begitu aku membelok di salah satu jalur taman, aku membeku. Kael berdiri di sana, tepat di depan air mancur hitam. Tubuh kekarnya y
Di menara penyihir yang tinggi dan dingin, Lark duduk di kursi kayu hitam berukir rune kuno. Cahaya bulan merah menyusup melalui jendela tinggi, menerangi wajahnya yang pucat dan tegang.Ia tak bisa diam.Tangan kurusnya mengepal kuat di atas meja, sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya ungu pucat menatap kosong ke kegelapan, tapi bayangan Lylia yang menangis terus berputar di kepalanya seperti kutukan."Brengsek… brengsek… brengsek," gumamnya berulang dengan suara rendah penuh amarah.Dilema dalam dirinya berkecamuk hebat.Dulu aku mengaguminya. Aku melihatnya sebagai manusia suci yang langka. Jiwa yang belum tercemar. Aku bahkan membayangkan mengajarinya sihir tertinggi, menjaganya agar tetap murni selamanya. Tapi sekarang?Lark mengusap wajahnya kasar.Sekarang dia hanya daging kotor yang penuh noda Arthur. Rahimnya dipenuhi cairan Raja setiap hari. Tubuhnya ditandai seperti milik pelacur. Aku seharusnya membencinya. Aku seharusnya jijik. Aku seharusnya ingin menghancurkannya.T
Lark sudah hampir lenyap ke dalam bayangan ketika suara isakan Lylia memecah keheningan kamar. Bukan jeritan ketakutan, bukan erangan mesum seperti yang biasa ia dengar dari kamar Arthur. Hanya isakan kecil, putus-putus, penuh keputusasaan yang murni. Lark berhenti, tubuhnya membeku di tempat dan tak bisa berkata apapun. Ia menoleh kembali. Di tempat tidur, Lylia meringkuk seperti anak kecil yang ketakutan, tubuh telanjangnya yang penuh bekas Arthur gemetar hebat. Air mata mengalir deras di pipinya, bahunya naik-turun, dan suara tangisnya yang tertahan seolah menusuk langsung ke dada Lark. “Kenapa… kenapa semuanya membenciku…” isak Lylia pelan, suaranya pecah. “Aku… aku hanya ingin dicintai, kenapa sulit sekali…” Lark merasakan sesuatu yang asing dan menjengkelkan muncul di dadanya. Ia tak tahan. “Hentikan,” bisik Lark dengan suara dingin, tapi ada retakan kecil di dalamnya. Lylia tak mendengar, terus menangis tersedu. Tubuhnya yang rapuh terlihat begitu kecil di tem
Malam berikutnya, setelah hukuman panjang dari Arthur, aku akhirnya bisa beristirahat sendirian di kamarku. Tubuhku masih sangat pegal, vaginaku terasa bengkak dan lengket oleh sisa cairan Arthur. Aku berbaring lemah di tempat tidur, mencoba memejamkan mata. Tapi ketenangan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba, semua lilin di kamar padam sekaligus. Suhu ruangan turun drastis, udara terasa berat dan penuh sihir kuno. Aku langsung terbangun, jantungku berdegup kencang. Di sudut kamar yang gelap, sebuah sosok tinggi muncul dari bayangan. Lark. Jubah peraknya berkibar pelan meski tak ada angin. Rambut peraknya tergerai, dan mata ungu pucatnya bersinar dingin, penuh kebencian yang murni. “Lylia,” suaranya halus tapi tajam seperti pisau es. “Manusia kotor.” Aku mundur ke kepala tempat tidur, menarik selimut hingga dada. “Lark… apa yang kau lakukan di sini?” Ia melangkah mendekat. Setiap langkahnya, rune-rune hitam muncul di lantai, merayap seperti ular hidup. Aku merasakan sihirn
Arthur membawaku kembali ke kamarnya dengan langkah tegas, tubuhku tergantung di bahunya seperti boneka. Aku tak berani melawan. Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci dengan bunyi klik yang menyeramkan, ia melemparku ke tempat tidur besar dengan kasar. “Kau berani lari dariku, Lylia?” suaranya rendah dan penuh amarah posesif. “Malam ini kau akan belajar bahwa tidak ada jalan keluar dariku.” Ia merobek mantel hitamku hingga robek total, meninggalkanku telanjang di hadapannya. Dengan gerakan cepat, ia mengikat kedua tanganku ke tiang atas tempat tidur menggunakan ikatan sutra hitam yang kuat. Lalu ia membuka kakiku lebar-lebar dan mengikat masing-masing pergelangan kaki ke tiang samping, membuat tubuhku terbuka sempurna, tak berdaya, dan rentan. “Arthur… aku minta maaf…” bisikku gemetar. “Terlambat.” Ia membuka jubahnya. Kontolnya sudah berdiri tegak sempurna, tebal, panjang, dan berdenyut penuh amarah. Tanpa pemanasan, ia menampar vaginaku keras dua kali dengan telapak t







