Share

Bab 51. Pingsan

Penulis: skusumahendang
last update Tanggal publikasi: 2025-09-24 20:00:35

Kadang tubuh lebih jujur daripada hati, ia roboh ketika beban sudah terlalu berat untuk ditahan.

Alisya membuka pintu rumah perlahan. Aroma masakan tercium samar dari dapur, bercampur dengan suara tawa renyah yang menusuk telinga. Dadanya berdegup kencang, tangannya dingin.

Di ruang tamu, pemandangan yang langsung membuat perutnya mual terpampang nyata.

Susi duduk di sofa, mengenakan celana pendek sepaha yang memperlihatkan kulit mulusnya, dipadukan dengan baju c

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tertipu Rayuan Maut Pak Polisi   Bab 64. Film Romantis dan Hati yang Bimbang

    POV AlisyaAku berdiri di depan bioskop lantai paling atas sebuah mal yang tidak jauh dari hotel.Tanganku memegang tali tas kecil, sementara mataku beberapa kali melihat layar jadwal film di atas loket. Hari Minggu siang, mal cukup ramai. Banyak pasangan muda berjalan sambil bergandengan tangan. Ada keluarga membawa anak-anak. Ada juga beberapa orang yang datang sendiri seperti aku, meski sebenarnya hari ini aku tidak benar-benar sendiri.Reza berdiri di sampingku.Setelah kejadian di gym tadi pagi, aku sempat berpikir akan langsung kembali ke kamar hotel dan mengunci diri sampai malam. Aku masih kepikiran pesan Mas Dhimas. Aku juga masih kepikiran pertanyaan Reza sebelum meninggalkan gym.“Sya, kamu aman?”Pertanyaan sederhana itu terus berputar di kepalaku.Aman.Sudah lama aku tidak merasa ditanya seperti itu.Bukan ditanya dengan curiga. Bukan ditanya untuk menghakimi. Tapi benar-benar ditanya karena seseorang ingin memastikan aku baik-baik saja.Dan entah bagaimana, setelah aku

  • Tertipu Rayuan Maut Pak Polisi   Bab 63. Pertemuan di Gym Hotel

    POV AlisyaHari Minggu pagi, aku memutuskan turun ke gym hotel.Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang rajin olahraga di tempat seperti ini. Biasanya, kalau sedang di rumah, olahraga paling hanya jalan kaki sebentar atau mengikuti video senam dari ponsel. Tapi sejak tinggal sementara di hotel ini untuk pekerjaan kampus, aku merasa punya terlalu banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang membuat dadaku sesak.Mas Dhimas.Susi.Video call semalam.Kain biru muda yang sempat kulihat di layar.Dan pesan terakhir Mas Dhimas yang membuatku hampir tidak bisa tidur.Kalau kamu terus begini, lebih baik kamu nggak usah pulang dulu.Kalimat itu masih menempel di kepalaku sampai pagi.Aku bangun dengan mata sembab, lalu menatap diriku di cermin kamar mandi cukup lama. Wajahku tampak lelah. Rambutku berantakan. Bibirku pucat. Entah sejak kapan aku terlihat seperti perempuan yang terus-menerus menunggu sesuatu yang tidak pernah

  • Tertipu Rayuan Maut Pak Polisi   Bab 62. Panggilan dari Jakarta

    POV AlisyaAku duduk di tepi ranjang di kamar hotel yang disediakan pihak kampus.Kamar yang nyaman. Dari luar, suara kendaraan Jakarta masih terdengar meski malam sudah cukup larut.Aku melepas sepatu pelan-pelan, lalu memijat betisku sendiri. Hari ini benar-benar melelahkan. Sejak pagi aku ikut rapat dengan tim administrasi universitas, menyusun data, membantu verifikasi berkas, lalu menyesuaikan laporan yang harus dikirim ke pimpinan. Awalnya aku pikir tugasku di Jakarta hanya beberapa minggu, tapi ternyata pekerjaan diperpanjang karena kampus masih membutuhkan bantuan tambahan.Aku sebenarnya senang dipercaya. Tapi di sisi lain, hatiku tidak tenang.Aku jauh dari rumah.Jauh dari Mas Dhimas.Dan entah kenapa, semakin jauh jarak kami, semakin sering aku merasa seperti ada sesuatu yang berubah.Aku mengambil ponsel dari atas meja. Ada beberapa pesan kerja yang belum kubalas. Tapi yang pertama kubuka tetap chat Mas Dhima

  • Tertipu Rayuan Maut Pak Polisi   Bab 61. Kamar yang Sudah Berubah

    POV DhimasSusi tersenyum saat mendengar ucapanku.Bukan senyum malu-malu seperti perempuan yang baru pertama kali diajak melewati batas. Bukan juga senyum takut karena sadar sedang masuk terlalu jauh ke rumah tangga orang lain.Itu senyum puas.Senyum perempuan yang tahu dia berhasil.Aku menatapnya dari dekat. Rambutnya masih berantakan, pipinya merah, dan matanya tampak lebih hidup daripada sebelumnya. Entah kenapa, aku suka melihatnya seperti itu. Susi terlihat berbeda dari Alisya. Lebih berani. Lebih liar. Lebih tahu cara membuat laki-laki merasa dibutuhkan.Alisya tidak seperti itu.Alisya terlalu sering menahan diri. Terlalu banyak canggung. Terlalu banyak lelah. Terlalu banyak alasan. Kalau pulang kerja, wajahnya kusut, tubuhnya capek, lalu yang keluar dari mulutnya hanya cerita tentang kampus, berkas, rapat, mahasiswa, dan semua hal yang membuatku bosan mendengarnya.Aku butuh istri, bukan pegawai administrasi yang membawa lelahnya ke rumah setiap hari.Dan sekarang, di hadap

  • Tertipu Rayuan Maut Pak Polisi   Bab 60. Ronde Dua

    Susi tidak lagi malu-malu seperti sebelumnya. Cara dia membalas ciumanku justru membuatku semakin yakin bahwa dari awal perempuan ini memang sedang menunggu waktu yang tepat. Dia bukan sekadar tergoda. Dia memang ingin masuk lebih jauh ke dalam hidupku.Dan aku membiarkannya.Bukan karena terpaksa. Bukan karena khilaf. Tapi karena aku memang menginginkannya.Alisya sudah lama terasa jauh bagiku. Bahkan sebelum dia berangkat ke Jakarta untuk urusan kampus itu, hatiku sudah lebih dulu menjauh. Di rumah, dia terlalu sering terlihat lelah, terlalu sering mengeluh, terlalu sering membuatku merasa seperti pria yang harus selalu memahami. Aku capek. Aku bosan. Aku butuh perempuan yang bisa membuatku merasa diinginkan tanpa banyak alasan.Dan Susi memberikan itu.Ia menarik diri sebentar, menatapku dengan napas yang masih berat. Matanya menyala, penuh kemenangan dan keinginan yang tak lagi ia sembunyikan.“Mas…” bisiknya, tangannya masih mencengkeram bahuku. “Jangan lihat aku seperti itu.”“K

  • Tertipu Rayuan Maut Pak Polisi   Bab 59. Panggilan yang Mengganggu

    POV DhimasPonselku bergetar di atas meja ruang tamu.Suara itu kecil, tapi cukup untuk memotong suasana yang sejak tadi sudah terlalu jauh. Aku menoleh malas, lalu melihat nama yang muncul di layar.Alisya.Aku menghela napas pelan. Dari semua waktu yang ada, kenapa dia harus menelepon sekarang?Susi yang berdiri tidak jauh dariku ikut melihat ke arah ponsel itu. Wajahnya masih merah, napasnya belum benar-benar teratur. Kaus biru muda yang melekat di tubuhnya membuat mataku beberapa kali gagal berpaling. Sejak dia tinggal di rumah ini, aku sudah berkali-kali mencoba menahan diri. Tapi semakin hari, semakin sulit.Susi bukan perempuan polos. Aku tahu itu.Dia tahu cara berjalan di depanku. Tahu kapan harus bicara manja. Tahu kapan harus pura-pura tidak sengaja menyentuh tanganku. Dan yang paling berbahaya, dia tahu aku menikah dengan Alisya, tapi dia tetap tidak benar-benar menjaga jarak.Mungkin karena dia tahu aku juga tidak mau menjaga jarak.“Mas…” suara Susi pelan, matanya turun k

  • Tertipu Rayuan Maut Pak Polisi   Bab 58. Berduaan

    POV DhimasSiang itu, setelah memastikan ibunya naik kereta dengan selamat, Dhimas tidak langsung menuju kantor. Ia menarik napas panjang, menyalakan motor, lalu tersenyum kecil. Hari ini akan jadi milikku dan Susi.Bukan rahasia lagi, sejak awal ia sudah tertarik pada anak dari sahabat mamanya itu

  • Tertipu Rayuan Maut Pak Polisi   Bab 57 – Senyum di Balik Sarapan

    Pov : DhimasPagi itu, aroma sayur asem dan gorengan hangat memenuhi ruang makan. Dhimas duduk dengan santai di kursi ujung meja, seragam polisinya sudah rapi, siap berangkat tugas setelah sarapan. Sementara ibunya duduk di samping kanan, wajahnya terlihat se

  • Tertipu Rayuan Maut Pak Polisi   Bab 56 – Pertemuan yang Tak Terduga

    Pagi itu, Alisya mengenakan blazer khaki dan kemeja putih rapi. Di ruang pertemuan kampus Jakarta, ia duduk bersama para staf yang menyambutnya dengan hangat. Berkas-berkas kerja sama ditumpuk rapi di meja. Meskipun dadanya sempat ciut, Alisya berusaha menampilkan wajah profesional.“Terima kasih s

  • Tertipu Rayuan Maut Pak Polisi   Bab 55 – Malam Pertama di Jakarta

    Koper beroda kecil berderit mengikuti langkah Alisya begitu ia melangkah keluar dari gerbang stasiun Gambir. Lampu-lampu kota Jakarta menyilaukan matanya, lalu lintas padat membuatnya sejenak terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantung yang masih belum reda sejak mening

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status