MasukUdara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Padahal saat di dalam kereta malam-malam sebelumnya, Howarth sudah berharap bisa merasakan tidur nyaman di desa tempat tujuan mereka.Tapi di langit gelap seperti saat ini, Howarth berdiri di depan rumah tinggal, cahaya obor memantul di iris ambernya. Di hadapannya, puluhan warga berkumpul. Wajah-wajah tegang. Bisik-bisik yang tidak lagi disembunyikan.Di sampingnya, Sebastian ikut berdiri. Wajahnya masih pucat, tapi setidaknya perban yang membalut bahunya tak terlihat karena tertutup baju.Howarth meliriknya sekilas. “Kau seharusnya tetap di dalam.”Sebastian tidak menoleh. “Dan membiarkanmu keluar setelah tiga gelas alkohol?”Howarth mendengus pelan. “Aku masih sadar.”“Justru itu yang membuatku khawatir,” balas Sebastian datar.Howarth tersenyum miring. “Kau terlalu banyak berpikir.”“Dan kau tak pernah berpikir,” potong Sebastian.Suara dari kerumunan mulai meninggi.“Kami belum lupa!”“Jangan kira kami akan menyambut kalian dengan
Howarth menatap Josselyn yang terpejam di atas kasur. Napasnya sudah terlihat stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja kehilangan kendali.“Dia tertidur?” gumamnya, lalu mendengus. “Sangat egois.”Howarth menarik selimut dan menutupi tubuh gadis itu.“Setelah semua kekacauan itu—dia lebih terlihat pingsan.”Suara ketukan di pintu terdengar lagi.Howarth menyambar kemeja putih satin dari lantai. Memakainya terburu-buru.“Oh, hai, Kael. Ada apa?” tanya Howarth basa-basi setelah membukakan pintu.“Kau di sini? Di mana Josselyn?” tanya Kael.Awalnya menatap Howarth dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya berhenti di bagian dada kemejanya yang terbuka. Lalu ia sedikit memiringkan kepalanya, melirik ke belakang bahu Howarth.Howarth tertawa kecil. Ia mengangkat tangannya, bersandar di daun pintu. Bermaksud untuk menutup pandangan Kael.“Dia kelelahan karena perjalanan. Biarkan dia istirahat lebih dulu.” jawab Howarth dengan nada santai.Kael tak langsung menjawab. Pandanga
“Howarth…” Suara Josselyn pecah, nyaris seperti bisikan yang kehilangan bentuk. “Apa kau akan terus diam…?” napasnya tersengal, “atau kau sengaja membuatku seperti ini?” Howarth tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Terlalu lama. “Kau terlihat sangat menarik, Josselyn,” gumamnya pelan. Josselyn menggertakkan giginya. “Jangan mainkan aku sekarang.” “Mainkan?” alis Howarth sedikit terangkat. “Kau yang menarikku masuk, Josselyn.” “Aku tidak peduli,” potongnya cepat. “Aku butuh—” “Apa?” sela Howarth tenang. Josselyn terdiam. Matanya bergetar, seolah mencari kata yang tidak ingin ia ucapkan. “Howarth…” suaranya turun, melemah, “aku tidak bisa menahannya lagi.” Pria itu melangkah satu langkah mendekat. Hanya satu. Tapi itu cukup membuat napas Josselyn tercekat. “Tidak bisa,” ulangnya pelan. “Atau tidak mau?” Josselyn mencengkeram bajunya sendiri. “Jangan buat ini lebih sulit…” “Aku hanya penasaran,” Tangan Howarth mendekat. Mengambil beberapa helai anak ra
Josselyn menatap pintu yang sudah sejak beberapa saat lalu tertutup. Kael sudah sedari tadi meninggalkannya sendirian di rumah tinggal, di kamar ini. “Sial, dia benar-benar meninggalkanku di sini.” rutuk Josselyn, mencoba mendorong gagang pintu. Ia bersandar di pintu kayu berukir itu setelah menguncinya. Jantungnya memukul-pukul dadanya dengan keras. “Aku bisa… mengatasinya,” gumamnya pelan, di antara napasnya yang satu-satu. Ia mengusap lengannya sendiri, mencoba menenangkan diri. “Ini hanya efek sementara.” Ia berjalan ke arah meja, menuangkan air ke dalam gelas dengan tangan yang sedikit bergetar. “Fokus saja,” bisiknya lagi. “Ini bukan pertama kalinya, bukan?” Ia meneguk air itu cepat. Satu tegukan. Dua tegukan. Hingga ketiga kalinya. Lalu berhenti. Napasnya tersendat. “Tidak…” Tangannya mencengkeram tepi meja. “Ini… rasanya lebih kuat dari biasanya.” Sensasi itu datang lagi. Bukan sekadar panas. Tapi juga sesuatu yang menggelitik. Hidup. Menyebar ke s
“Apa maksud mereka barusan?”Suara Josselyn nyaris tertelan oleh riuh orang-orang itu. Mereka yang tadinya hanya berlalu lalang, melakukan aktivitas masing-masing, sekarang mulai membentuk lingkaran di hadapannya.Kael tidak langsung menjawab. Ia tetap duduk tegak di atas kudanya, matanya menyapu kerumunan yang mendekat.“Mereka tidak suka kejutan,” katanya akhirnya.“Ini bukan sekadar tidak suka,” balas Josselyn pelan. “Bagaimana kalau mereka benar-benar mengusir kami dari desa ini? Kami sudah melakukan perjalanan jauh, dan Sebastian…”“Aku akan segera mengirim bantuan ke sana. Tapi sebelumnya…” Kael melirik ke belakang, sekilas. “kita harus menemui seseorang dulu dan menyelesaikan ini.”“Tapi itu terlalu lama. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Sebastian? Bagaimana kalau bandit itu datang lagi?”“Seseorang akan menjaminmu.” potong Kael. “Dia datang.”Josselyn menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Kael.Seorang pria tua dengan janggut putih panjang menyeruak kerumunan. Di belakangny
“Apa yang sebenarnya terjadi tadi?”Suara Josselyn pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.Sebastian terbaring tenang di bawah pohon, napasnya kini jauh lebih stabil. Sangat kontras dengan kondisinya beberapa saat lalu.“Itu yang ingin kutanyakan,” sahut Howarth dingin. “Karena itu jelas bukan penyembuhan biasa.”Josselyn menatap tangannya sendiri. Masih terasa hangat. Sisa sensasi aneh itu belum sepenuhnya hilang.“Aku tidak melakukan apa-apa,” gumamnya. “Aku hanya mengikuti instruksinya.”“Dan itu yang membuatku semakin tidak menyukai pria itu. Terlalu mencurigakan,” potong Howarth.Pria bertudung merah itu kini berdiri beberapa langkah dari mereka. Diam. Seolah tidak tertarik ikut dalam percakapan.“Tapi dia membantu,” Josselyn menatap Howarth. “Jika bukan karena dia—”“—Sebastian tetap hidup,” sahut Howarth cepat. “Ya. Tapi itu tidak berarti kita bisa mempercayainya.”Josselyn menghela napas.“Saya tidak bilang kita harus mempercayainya. Tapi kita tidak punya pilihan
“Ya.”Jawaban itu datang tanpa jeda.Josselyn menatap Yorick lekat. “Ya?”“Kau yang memaksaku malam itu,” lanjut Yorick tenang. “Kau bilang kau tidak punya waktu menunggu. Kau ingin segera menemukan racikan yang tepat untuk Ratu.”Josselyn mengerutkan kening, ragu dan tak percaya. “Saya… memaksa An
“TURUNKAN TANGAN ANDA.”Suara Darius yang rendah, cukup untuk menghentikan udara di sekeliling mereka.Josselyn, dengan dada naik turun, melihat Edmund yang membeku.Beberapa saat lalu, pria tua itu tersulut amarah dengan perkataan terakhir yang ia lontarkan. Tangan yang tak pernah mengelus kepalan
Josselyn hampir bernapas lega saat Killian keluar dari tepi kolam. Air menetes pelan dari tubuh pria berpostur tegap itu, saat ia meraih jubah panjang yang telah disiapkan. Tanpa tergesa, ia mengenakannya, menutup tubuhnya dengan gerakan tenang seolah tak terjadi apa pun barusan. Darius sudah be
Air beriak pelan saat Josselyn mundur.Tangannya refleks menyilang di depan dada, menutupi tubuhnya yang terendam setengah di dalam kolam. Napasnya tercekat begitu sosok itu semakin jelas di hadapannya.Killian berdiri di tepi kolam, menatapnya tanpa berkedip.“Kenapa Anda ada di sini?” ucap Jossel