로그인‘Kenapa dia tertawa seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?’Josselyn mengernyitkan kening, memandang Howarth yang berada di depannya.Howarth melirik ke arahnya, tapi tidak langsung menjawab. Ia justru mundur ke belakang. Memposisikan diri sangat dekat dengan Josselyn.“Kau tak pernah berhenti membuatku terkejut, Josselyn.” bisiknya, cukup pelan hingga hanya mereka berdua yang bisa mendengar.Josselyn mengalihkan pandangannya. Menatap lurus ke depan. Seolah tak peduli.“Apa maksud Anda?”Howarth tersenyum tipis. Tatapannya turun sejenak, lalu kembali naik ke mata Josselyn.“Beberapa jam lalu kau meninggalkanku begitu saja,” lanjutnya santai, seolah membicarakan hal sepele. “Dan sekarang… kau bangun, bukan meminta maaf, tapi malah membuat keributan di depan satu desa.”Ia mendekatkan wajahnya sedikit.“Aku mulai paham kenapa Killian begitu tertarik padamu.”Josselyn terdiam. Dahinya sedikit berkerut. Memikirkan ucapan pria itu.“Meninggalkan?” ulangnya pelan.Ia mencoba mengi
Udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Padahal saat di dalam kereta malam-malam sebelumnya, Howarth sudah berharap bisa merasakan tidur nyaman di desa tempat tujuan mereka.Tapi di langit gelap seperti saat ini, Howarth berdiri di depan rumah tinggal, cahaya obor memantul di iris ambernya. Di hadapannya, puluhan warga berkumpul. Wajah-wajah tegang. Bisik-bisik yang tidak lagi disembunyikan.Di sampingnya, Sebastian ikut berdiri. Wajahnya masih pucat, tapi setidaknya perban yang membalut bahunya tak terlihat karena tertutup baju.Howarth meliriknya sekilas. “Kau seharusnya tetap di dalam.”Sebastian tidak menoleh. “Dan membiarkanmu keluar setelah tiga gelas alkohol?”Howarth mendengus pelan. “Aku masih sadar.”“Justru itu yang membuatku khawatir,” balas Sebastian datar.Howarth tersenyum miring. “Kau terlalu banyak berpikir.”“Dan kau tak pernah berpikir,” potong Sebastian.Suara dari kerumunan mulai meninggi.“Kami belum lupa!”“Jangan kira kami akan menyambut kalian dengan
Howarth menatap Josselyn yang terpejam di atas kasur. Napasnya sudah terlihat stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja kehilangan kendali.“Dia tertidur?” gumamnya, lalu mendengus. “Sangat egois.”Howarth menarik selimut dan menutupi tubuh gadis itu.“Setelah semua kekacauan itu—dia lebih terlihat pingsan.”Suara ketukan di pintu terdengar lagi.Howarth menyambar kemeja putih satin dari lantai. Memakainya terburu-buru.“Oh, hai, Kael. Ada apa?” tanya Howarth basa-basi setelah membukakan pintu.“Kau di sini? Di mana Josselyn?” tanya Kael.Awalnya menatap Howarth dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya berhenti di bagian dada kemejanya yang terbuka. Lalu ia sedikit memiringkan kepalanya, melirik ke belakang bahu Howarth.Howarth tertawa kecil. Ia mengangkat tangannya, bersandar di daun pintu. Bermaksud untuk menutup pandangan Kael.“Dia kelelahan karena perjalanan. Biarkan dia istirahat lebih dulu.” jawab Howarth dengan nada santai.Kael tak langsung menjawab. Pandanga
“Howarth…” Suara Josselyn pecah, nyaris seperti bisikan yang kehilangan bentuk. “Apa kau akan terus diam…?” napasnya tersengal, “atau kau sengaja membuatku seperti ini?” Howarth tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Terlalu lama. “Kau terlihat sangat menarik, Josselyn,” gumamnya pelan. Josselyn menggertakkan giginya. “Jangan mainkan aku sekarang.” “Mainkan?” alis Howarth sedikit terangkat. “Kau yang menarikku masuk, Josselyn.” “Aku tidak peduli,” potongnya cepat. “Aku butuh—” “Apa?” sela Howarth tenang. Josselyn terdiam. Matanya bergetar, seolah mencari kata yang tidak ingin ia ucapkan. “Howarth…” suaranya turun, melemah, “aku tidak bisa menahannya lagi.” Pria itu melangkah satu langkah mendekat. Hanya satu. Tapi itu cukup membuat napas Josselyn tercekat. “Tidak bisa,” ulangnya pelan. “Atau tidak mau?” Josselyn mencengkeram bajunya sendiri. “Jangan buat ini lebih sulit…” “Aku hanya penasaran,” Tangan Howarth mendekat. Mengambil beberapa helai anak ra
Josselyn menatap pintu yang sudah sejak beberapa saat lalu tertutup. Kael sudah sedari tadi meninggalkannya sendirian di rumah tinggal, di kamar ini. “Sial, dia benar-benar meninggalkanku di sini.” rutuk Josselyn, mencoba mendorong gagang pintu. Ia bersandar di pintu kayu berukir itu setelah menguncinya. Jantungnya memukul-pukul dadanya dengan keras. “Aku bisa… mengatasinya,” gumamnya pelan, di antara napasnya yang satu-satu. Ia mengusap lengannya sendiri, mencoba menenangkan diri. “Ini hanya efek sementara.” Ia berjalan ke arah meja, menuangkan air ke dalam gelas dengan tangan yang sedikit bergetar. “Fokus saja,” bisiknya lagi. “Ini bukan pertama kalinya, bukan?” Ia meneguk air itu cepat. Satu tegukan. Dua tegukan. Hingga ketiga kalinya. Lalu berhenti. Napasnya tersendat. “Tidak…” Tangannya mencengkeram tepi meja. “Ini… rasanya lebih kuat dari biasanya.” Sensasi itu datang lagi. Bukan sekadar panas. Tapi juga sesuatu yang menggelitik. Hidup. Menyebar ke s
“Apa maksud mereka barusan?”Suara Josselyn nyaris tertelan oleh riuh orang-orang itu. Mereka yang tadinya hanya berlalu lalang, melakukan aktivitas masing-masing, sekarang mulai membentuk lingkaran di hadapannya.Kael tidak langsung menjawab. Ia tetap duduk tegak di atas kudanya, matanya menyapu kerumunan yang mendekat.“Mereka tidak suka kejutan,” katanya akhirnya.“Ini bukan sekadar tidak suka,” balas Josselyn pelan. “Bagaimana kalau mereka benar-benar mengusir kami dari desa ini? Kami sudah melakukan perjalanan jauh, dan Sebastian…”“Aku akan segera mengirim bantuan ke sana. Tapi sebelumnya…” Kael melirik ke belakang, sekilas. “kita harus menemui seseorang dulu dan menyelesaikan ini.”“Tapi itu terlalu lama. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Sebastian? Bagaimana kalau bandit itu datang lagi?”“Seseorang akan menjaminmu.” potong Kael. “Dia datang.”Josselyn menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Kael.Seorang pria tua dengan janggut putih panjang menyeruak kerumunan. Di belakangny
“Seharusnya aku tak bisa menerima tamu.”Suara Killian terdengar datar. Ia melirik ke arah Darius, menatapnya tajam.“Maafkan hamba, Paduka. Lord Edevan memaksa untuk bertemu, katanya ada hal penting tentang kerajaan—”Pria berambut perak itu menepuk bahu Darius, tersenyum santai sambil melangkah k
“Di mana aku…?”Suara Josselyn serak saat ia membuka mata. Langit-langit kamar yang dilihatnya bukan miliknya.Terlalu tinggi. Dan mewah.Ia berkedip beberapa kali, mencoba menyingkirkan kabut di kepalanya. Kepalanya terasa berat, seperti dipenuhi kapas.Lalu kesadaran datang perlahan. Ranjang ini
“Jawab aku.”Suara Killian rendah, dingin, dan menekan.Tangannya masih mencengkeram dagu Josselyn, memaksanya menatap lurus ke dalam mata biru keabuannya. Jarak mereka begitu dekat sampai Josselyn bisa merasakan napas hangat pria itu menyentuh bibirnya.Josselyn menepis tangannya.“Saya sudah menj
“Yorick, apa yang dia lakukan di sini selarut ini?”Suara Darius berat dan datar, tapi ada sesuatu yang tajam di baliknya.Josselyn berdiri di samping rak herbal dengan wajah masih memerah. Ia baru saja keluar dari tempat persembunyiannya dan berusaha terlihat normal.Yorick menyilangkan tangan di







