เข้าสู่ระบบDr. Kahlia Ford has spent a year putting her life back together after the painful betrayal of her ex-husband. Strong, calm, and independent, she refuses to be a victim again, especially to an Alpha male. But when Alpha Jaron Creed, once a strong and fearless biker now broken by a terrible accident, is placed under her care, everything she has rebuilt starts to change. His quick temper, harsh words, and stubborn pride test her patience every day. But under all that anger and toughness is a man fighting his own pain. As Kahlia helps him stand back up, she also begins to face the wounds she has been hiding, the scars left by her ex-husband, and the heart she swore she would never open again. Jaron starts to see that even the strongest healer has deep wounds of their own. Things become even harder when Kahlia’s ex-husband comes back into her life. Obsessed and unwilling to let her go, he is ready to ruin everything just to have her again. But when old secrets come out and the truth can no longer stay hidden, will love hold them together, or will the revelation of those truths break them even more than the past ever did?
ดูเพิ่มเติม"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGThe silver eye opened.And the world screamed.Not with sound.With existence itself.Every living thing across the kingdom dropped to its knees.The refugees.The soldiers.The beasts hiding within distant forests.Even the Grave Legions staggered as though an invisible mountain had suddenly been placed upon their backs.I hit the ground hard.Pain exploded through my knees.My lungs refused to draw breath.The pressure wasn't physical.It was something deeper.Something ancient.Something that reached into the soul and reminded it how small it truly was.Above us, the silver eye stared silently across the world.Watching.Judging.Remembering.The figure remained seated upon the Throne of Stars.Silver chains wrapped around its arms.Its chest.Its neck.Its entire body.Thousands of chains.No.Millions.Each one glowing with runes that hurt to look at.The prisoner hadn't moved.Hadn't spoken.Hadn't even fully awakened.Yet the smiling creature's influence across the heavens had
BOOM.The heartbeat echoed again.Not through the air.Through reality itself.The sound rolled across the kingdom like an invisible wave.Mountains cracked.Lakes trembled.Ancient forests swayed despite the absence of wind.Every living creature felt it.Every bird.Every beast.Every human.Even the dead.The Grave Legions halted.Thousands of blue eyes turned toward the northern mountains.Toward the hidden Throne.Toward the place buried beneath centuries of forgotten history.The second heartbeat followed.BOOM.This time several survivors collapsed.Blood poured from their noses.One soldier screamed and clutched his ears.Another fell unconscious instantly.Whatever was awakening beneath the First Chain wasn't merely powerful.Its existence alone was affecting the world.And it wasn't even awake yet.I struggled to stay on my feet.The vision still haunted me.The child.The silver key.The throne.My face.My memories insisted such a thing was impossible.Yet the image felt r
The dead moved.Not slowly.Not like shambling corpses from children's stories.They marched.Perfectly.Thousands upon thousands of blue eyes advanced through the darkness in flawless formation.The forest shook beneath their footsteps.Trees snapped.Branches shattered.The earth itself seemed to tremble beneath their approach.Nobody spoke.Nobody breathed.The survivors simply stared.Frozen.Unable to comprehend what they were seeing.I couldn't blame them.Because I couldn't comprehend it either.The infected army had already been enough to destroy kingdoms.Now another army had appeared.An army that should not exist.An army that had apparently been sleeping beneath the earth for ages beyond counting.The blue lights grew brighter.Closer.Hundreds became thousands.Thousands became tens of thousands.Then lightning flashed across the sky.For a brief second, the darkness vanished.And we saw them.Every survivor gasped.Some screamed.Others dropped to their knees.The dead w
Nobody slept that night.Not that sleep would have come even if we had tried.The kingdom was ending.And we were watching it happen.The survivors huddled together atop the rocky ridge while darkness consumed the horizon.Below us, countless fires burned across the valleys.Villages.Farms.Watchtowers.Entire settlements swallowed by chaos.The infected moved everywhere.Thousands.Maybe hundreds of thousands.Their torches looked like rivers of orange light flowing through the night.Every road was occupied.Every escape route was closing.And above it all—The golden eyes watched.Massive.Motionless.Impossible.Hanging high in the darkness beyond the clouds.Nobody dared look at them for long.The few who did quickly turned away, trembling.One soldier vomited after staring for only three seconds.Another began crying uncontrollably.Whatever those eyes truly were, the human mind wasn't meant to understand them.I sat beside a small fire.My sword rested across my knees.The ste
KAHLIA'S POVI stayed with my mother a little longer, until her breathing evened out and her eyes fluttered closed, sleep finally claiming her. I tucked the blanket around her shoulders the way I had done a thousand times before, then stood quietly.As I turned toward the hallway, that was when I f
ALPHA JARON’S POVThe next morning, I woke before the sun had fully risen.For a moment, I lay still, staring at the ceiling of my room, listening to the quiet hum of the estate. My body felt different. Lighter. Stronger. The familiar dull ache that had lived in my legs for weeks was still there, b
The nurse stiffened slightly, and Alpha Ethan, who had been standing a few steps behind me, inhaled sharply.“He’s here,” Ethan said carefully. “He’s… outside.”Outside.The word ignited something violent in my chest. I slowly let go of my mother’s hand, tucking the blanket back around her fingers
ALPHA JARON’S POVDaniel interrupted us while I was talking to Kahlia, but it didn’t bother me since I knew it was about my command from last night.“Alpha,” he said as he stepped inside, his spine straight, his expression unreadable. “The results are ready.”I lifted my gaze from Doctor Ford, who






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
ความคิดเห็น