LOGINLyra Hales thought her life ended the night she picked a mysterious leaf on the floor. But when she opened her eyes, she was no longer in her world, or her time. Now trapped in the 30th century, Lyra finds herself claimed by Damian Miles ; a ruthless billionaire, Alpha werewolf, and scientist obsessed with creating the perfect breed. Living under his roof are his three dangerously handsome sons and a robot with human emotions. Damian says he only wants her blood. His sons say they want her heart. But Lyra’s body hides a secret, the Miraen mark, a power feared and worshiped in equal measure. As passion collides with obsession, and love battles control, Lyra must decide: Is she the Alpha’s experiment… or one of his sons fated mate?
View MoreEmily melihat jam di ponselnya dengan gelisah. Ini sudah menunjukkan pukul 10 siang. Dan dia sudah berdiri di biro urusan sipil ini selama dua jam lebih untuk mendaftarkan pernikahannya. Tetapi Reza, pria yang sudah membuat janji dengannya belum juga datang.
Beberapa kali dia menghubungi Reza, namun panggilannya tidak diangkat dan justru sekarang… nomor Reza tidak aktif. Apa dia berubah pikiran? Saat memikirkan kemungkinan itu, Emily menjadi khawatir. “Nona Emily, bagaimana?” Seorang pengurus Biro menghampirinya dan kembali bertanya padanya. Emily menarik nafas berat, kemudian dia menjawab dengan suara pelan, “Calon suamiku belum datang juga.” Pengurus Biro terlihat khawatir, “Ini sudah siang dan antrian sangat panjang Minggu ini. Nona Emily, kami punya pendapat.” Pengurus Biro terlihat ragu-ragu untuk menyampaikan pendapatnya, “Jika Nona Emily tidak bisa mendaftarkan pernikahan hari ini, Nona Emily bisa mendaftar kembali Minggu depan. Bagaimana?” Emily mengerutkan keningnya. Minggu depan? Mana bisa seperti itu? Dia harus menikah minggu ini juga. Bahkan hari ini adalah kesempatan terakhirnya. Dia sudah berulang kali melakukan kencan buta hanya untuk mendapatkan calon suami. Reza adalah satu-satunya pria yang bersedia menikah dengannya. Dan hari ini mereka telah membuat janji bertemu di sini untuk mendaftarkan pernikahan. Setelah berpikir sejenak, Emily berkata dengan ragu-ragu, “Aku akan menyusul calon suamiku. Tunggu sebentar, Pak.” Pengurus Biro mengangguk dengan tidak berdaya. “Baiklah. Kami akan menunggu.” Pengurus Biro kemudian kembali ke tempatnya. Emily mengatupkan bibirnya, dia kemudian berbalik. Tapi baru saja dia sampai dia luar, dia melihat sosok Reza berjalan dari arah parkiran. Senyum Emily langsung berkembang. “Reza, akhirnya kamu datang.” Reza berjalan selangkah demi selangkah. Tepat ketika dia sampai di depan Emily, dia menatap Emily dengan tatapan suram. Kemudian dia berkata dengan dingin, “Aku datang untuk membatalkan janji kita.” Kedua mata bening Emily terbuka lebar. Dia terkejut. “Apa maksudmu?” “Aku tidak mau menikahi pelacur murahan sepertimu!” Reza berkata dengan agak keras. Belum sempat Emily bertanya apa yang terjadi, Reza merogoh ponsel dari saku celananya dan menunjukkan sesuatu padanya. “Kalau bukan karena seseorang telah mengirim foto-foto ini padaku, mungkin aku sudah tertipu oleh perempuan sialan seperti kamu!” Wajah Emily seketika memucat. Bibirnya bergetar dan tubuhnya gemetaran. Dari mana Reza mendapatkan semua foto-foto itu? Emily menggigit bibirnya. Lalu dengan suara bergetar dia berkata, “Aku bisa menjelaskannya–” “Tidak perlu!” Reza langsung memotong ucapannya. “Aku tidak butuh penjelasan apapun darimu. Kamu hanya ingin menipuku, kan? Perempuan sialan! Mulai detik ini kita putus. Jangan menghubungiku lagi!” Setelah mengatakan itu, Reza langsung memutar tubuhnya dan pergi dari sana. Emily membeku. Pikirannya tiba-tiba kosong dan tubuhnya terasa lemas dan hampir roboh. Bagaimana ini? Jika dia tidak bisa menikah hari ini, maka ibunya akan marah besar padanya. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi dan ingin semuanya segera berakhir. Satu-satunya jalan adalah dengan menikah. Tapi… kenapa sangat sulit baginya untuk mendapatkan seorang suami? Semua itu, karena foto tidak senonoh itu. Siapa sebenarnya orang yang telah mengirim foto-foto itu kepada setiap pria yang berkencan buta dengannya? Ketika dia sedang berada dalam kecemasan, tiba-tiba dia mendengar suara berat seseorang. “Halo Nona. Apa kamu mau menikah denganku?” Emily terkejut dan langsung mengangkat wajahnya. Dia melihat seorang pria bertubuh tinggi berdiri dihadapannya dan sedang menatapnya dengan serius. Pria itu memakai kemeja polos lengan pendek dan celana jeans. Namun yang unik, Rambut pria itu berwarna Blonde dengan panjang melebihi bahu dan diikat sedikit kebelakang. Tampak seperti urakan tetapi rapi. Sepatu yang dipakainya juga terlihat sederhana hingga pria itu memberi kesan pria biasa yang tanpa memiliki kelebihan apapun kecuali fitur wajahnya yang memang terlihat cukup tampan. Emily tertegun beberapa detik, lalu dia bertanya dengan ragu,”Apa maksudmu?” Pria itu terbatuk kecil, "Begini, aku tadi tidak sengaja mendengar pria itu berbicara denganmu. Dia membatalkan pernikahannya denganmu, kan?” Wajah Emily memerah. Dia merasa sangat malu saat menyadari kalau pembicaraannya dengan Reza tadi didengar oleh pria ini. “Aku…” “Tidak perlu malu.” Pria itu memotong kata-kata Emily. “Kebetulan aku datang kesini juga untuk membatalkan pernikahanku karena calon istriku tidak bisa datang. Sepertinya kita punya permasalahan yang sama. Bagaimana kalau, kita menikah saja?” Emily mengernyitkan kedua alisnya dan kebingungan. Tapi belum sempat dia membuka mulut, pria itu kembali berkata, "Nona pasti sedang memerlukan pernikahan ini, kan? Aku juga sama. Bagaimana kalau kita bekerja sama. Kita akan mendapatkan keuntungan masing-masing." Emily tercengang bukan main. "Bagaimana mungkin kamu tiba-tiba mengajakku menikah? Kita—" "Belum saling kenal? Soal itu, kita bisa pikirkan nanti. Yang terpenting sekarang ini adalah kita bisa mendapatkan sertifikat pernikahan terlebih dulu. Kita bisa sama-sama mendapatkan keuntungan dari pernikahan ini." Emily terdiam untuk beberapa detik. Saat dia ingin membuka mulutnya lagi, terdengar suara pria itu lagi. "Jangan khawatir. Aku tidak akan menyusahkanmu dalam pernikahan kita nanti. Aku hanya perlu kamu tinggal bersamaku, itu saja sudah cukup." Emily menunduk. Dia berpikir berulang kali. Sudah beberapa kali dia gagal mendapatkan calon suami. Padahal, hanya dengan menikah dia akan terlepas dari keluarga Juwanda dan ibunya akan menepati janji. Tapi hari ini dia gagal lagi dan dia benar-benar sudah menyerah. Lebih dari lima menit dia berpikir, kemudian dia mengangkat wajahnya untuk menatap pria yang masih menunggu jawabannya itu. Lalu dengan perlahan dia mengangguk. "Baiklah, aku setuju."******Lyra*******“Is this because of this thing you alerted us that we have a visitor?!” The one with the cold eyes said while he turned his back to leave. “Lucien…. Don't do that,” The one with the dark said quietly , the one that seemed cool. But there was a weight in it that made even the cold one stop. It was then I realised that the hungry wolf was bearing Lucien. He paused, then turned his back, facing us now. “I have a project to submit to Alpha,” He said, and just like that, he turned his back to leave. “Alpha?” I whispered, the word tasting strange in my tongue. “Did he just say Alpha?”But before any one could utter anything, he turned his back and left, his footsteps that were echoing before, disappeared in a few seconds. “Isn’t the Alpha that gave us an assignment that is here with us,” the calm one said, his voice laced with amusement as he faced the other brother. The second one who hasn't said a word all this while, smirked. Then, his eyes met with mine, and I
*****Lyra******“I’m not in my right senses when I sign the paper…” I said, “now, that I’m.back to my senses…. I need to leave,” Instead of saying anything he proceeded to leave the computer room, without wasting time, I followed him abruptly. “I’m not from this time,” I repeated, my voice cracking. still at his back.“You need rest,” he said, not even looking back at me. But, by this time we had already entered a place which I thought was his office. The walls were plastered in dark gray, lined with some blinking blue veins. There was a huge digital map hovering above a circular table , showing tiny movements that I couldn’t understand. “No!!!” I said again, louder this time, “I know what I’m saying. I was on my way home, and then I picked something from the ground, and everything changed!”He paused, turning slightly toward me.“Miss. Lyra, you need to rest,”“What do you mean?”He moved closer to me until he was standing in front of me. His height took over mine. “Well, you lo
******Lyra********I turned my head to look where the voice came from, as my gaze landed, it fell on a 6-foot mesmerizing figure. I couldn't even look straight into his eyes… gosh… he was breathtaking. “I’m Damian Miles,” He repeated, his voice sounded like someone used to being obeyed,after he realised that I was deeply lost in thought. I blinked hard, realizing I’d just been staring. He extended his hand forward for a handshake, something about his hand quickly caught my gaze, his hand wasn't flesh, not skin, it was made of iron. And in my head I was like so it was a Robot that made me dumbfounded. “The new student, right?” He added, and quickly took his hand away when he realized I didn't shake his hand and it was taking a long time. His lips curved faintly, reflecting that he wasn't offended—just amused. “No!” I quickly added. “I’m not a new student, and I need to get out of this place,”I don't even know how I uttered those statements, but deep down I knew it was out of fru
****Lyra*****My mind opened wide. I sat up slowly, but to my astonishment, the bed floated up with me, lifting off the ground, hanging in the air. I felt it was a dream. I hit myself on my cheeks to confirm if I was dreaming or in reality, yet, I still opened my eyes to see that the walls around me weren't mine, the walls were silver paneled like glass. And standing a few steps away…were two mechanical objects exactly like human beings staring right at me. My chest tightened. “What’s happening?” I said, not knowing that the statement had slipped out of my mouth. “Strange human being detected,” “Activation sequence….completed,” One of them said, his/her voice buzzing underneath, and her/ his hand twisting unnaturally. It was then, I knew what I had got myself into, they were…. robots. My chest tightened, and different sci-fi movies that I had watched flashed into my head. I, Robot, Terminator. Even that creepy M3GAN one. And now, I was the girl stuck inside one of them. “Do t
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.