INICIAR SESIÓNSa mundo kung saan ang mga kalalakihan ay maaaring manganak, isang mangangaso na ang ngalan ay Felix Laureano ang mapupunta sa lugar na kung tawagin ay "The Alpha's town" o mas kilala sa tawag na hilaga. Nang makuha ang misyon na hindi inaasahan ay siyang pagdating ng kasagutan sa mga katanungan na nakaukit sa kaniyang nakaraan. Isang misyon na magsisilbing ilaw, misyon na magsisilbing gabay upang mabuo ang mga kasagutan sa mga katanungan matapos ng digmaan.
Ver más"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!"
Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar. Sementara Maudy, sang CEO yang merupakan bos di tempat Bayu bekerja, hanya bisa diam tertunduk melihat perilaku suaminya. “Ini… apa… maksudnya Pak Rio?” tanya Bayu ingin memperjelas maksud dari suami bosnya tersebut. “Kurang jelas? Uang dalam cek ini akan menjadi milikmu, jika kamu bisa menghamili istriku! Kamu punya tubuh yang bugar dan atletis, aku yakin benihmu juga bagus. Tapi, jangan sekali kali kamu berani buka mulut soal ini!” tegas Rio. Beberapa hari lalu, di sebuah rumah sakit, Rio dan Maudy terpaksa harus melakukan test kesuburan organ reproduksi mereka. Bukan tanpa sebab semua itu dilakukan, karena sudah hampir tiga tahun mereka menikah, tetapi belum juga memiliki keturunan. Awalnya Rio menolak hal tersebut, karena sebagai pria harga dirinya akan runtuh jika diketahui mandul. Apalagi, selama ini Rio juga punya masalah dengan organ reproduksinya yang tidak bisa tahan lama, sehingga Maudy sempat mengira bahwa suaminya yang bermasalah. Pada akhirnya Rio menyetujui pemeriksaan itu, tetapi dia memilih untuk berangkat sendiri tanpa Maudy. Karena Rio hanya ingin mendengar hasil pemeriksaan seorang diri. "Saya sudah meninjau hasilnya berulang kali, Pak Rio," suara dokter itu terdengar rendah, penuh empati yang justru terasa menyakitkan. "Kondisi ini... bersifat permanen. Secara medis, Anda tidak akan bisa memiliki keturunan." Dunia di sekitar Rio seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam dadanya, menyisakan sesak yang luar biasa. Namun, di balik rasa syok yang melumpuhkan, ada ketakutan lain yang jauh lebih dingin merayap di benaknya. "Permanen?" Rio mengulang kata itu dengan suara serak, hampir berbisik. "Maksud Dokter, benar-benar tidak ada peluang? Operasi? Terapi hormon?" Dokter Gunawan menggeleng perlahan. "Maafkan saya. Kerusakannya sudah terlalu sistemik." Rio menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke langit-langit ruangan. “Mampus aku!” batinnya berteriak. Bayangan wajah Ayahnya yang kaku dan penuh tuntutan langsung melintas. Ayahnya menuntut keturunan sebagai penerus bisnisnya. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?" tanya sang dokter melihat perubahan raut wajah pasiennya. Rio tidak menjawab. Tanpa seorang anak, dia tidak mendapat hak apapun atas semua perushaan dan rumah mewah itu. Semua fasilitas mewah, mobil sport, dan posisi owner yang hampir digenggamnya kini terasa menguap begitu saja. Rio tidak bisa tinggal diam, dia harus mencari cara agar dia dan Maudy punya anak. Apapun caranya, Maudy harus hamil. Sehingga muncul rencana jahat di otaknya dengan menyewa laki laki untuk menghamili istrinya, yang nantinya akan dia akui sebagai anak kandungnya. Dan Bayu, adalah laki laki sial yang menerima tawaran itu. Bayu terdiam. Itu bukanlah perintah yang mudah diterima begitu saja. Tapi saat mendengar nominal uang lima ratus juta, mendadak dia teringat pada Ibunya. “Ibu butuh uang ini, tapi…. Tugas ini terlalu konyol!” gumam Bayu di dalam hati. Satu minggu yang lalu Ibunya Bayu terbaring di rumah sakit dengan diagnosa gagal ginjal. Untuk kesembuhannya, perlu dilakukan transplantasi ginjal yang tentunya membutuhkan biaya yang besar. Bayu hampir frustasi mencari biaya operasi senilai 125 juta, bahkan sudah menyerah dan mempersiapkan diri jika harus kehilangan Ibunya. Akan tetapi, mendadak ada yang menawarkan dirinya tugas dengan upah yang besar. Bahkan tugasnya bisa dibilang sebuah kenikmatan dunia. “Menghamili Bu Maudy? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak berani membayangkan lekuk tubuhnya, dan sekarang aku malah nyata nyata dibayar untuk menghamilinya? Apa aku sedang beemimpi?” gumam Bayu di dalam hati sambil menepuk pelan pipinya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Sementara itu, Rio bukan tipe orang yang mau menunggu. Dia juga bukan sedang memberikan Bayu tawaran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak bisa ditolak. “Terima atau angkat kaki dari perusahaan ini. Dan nama kamu telah diblacklist dimana pun. Tidak ada instansi yang bersedia menerima kamu!” gertak Rio, dan seketika membuat Bayu terpaksa menyetujuinya. Selain karena digertak, dia juga memang butuh uang itu. “Ba..baik Pak Rio. Sayaaaa… saya akan menerima tugas ini,” jawab Bayu dengan terbata bata. Setelah memberikan jawaban pada Rio, otak Bayu berkelana. "Main sama Bu Maudy? Kira kira seperti apa ya rasanya? Dari luar aja tubuhnya kelihatan putih dan mulus, gimana kalau dilihat dari dalam? Apalagi bayangin kalau dia sedang bergoyang diatas ku? Huuuuh, pasti seruuuu!" celetuk Bayu di dalam hati. Otak mesumnya sudah membayangkan seperti apa aksi Maudy di ranjang. Rio tersenyum lega mendengar jawaban Bayu. Sungguh berbeda dengan raut wajah Maudy tertunduk lesu. Masih belum bisa dia terima keputusan suaminya yang nekat menyewa laki laki untuk menghamilinya. Apalagi laki laki yang dia pilih adalah seorang OB. Sejenak Maudy mengangkat pandangannya, lalu sekilas memperhatikan penampilan Bayu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan sialnya, saat pandangan Maudy tepat di wajah Bayu, pandangan keduanya tepat bertemu. Maudy segera membuang pandangan, sementara Bayu kembali menundukkan kepala. Tetapi, OB beruntung itu masih menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya. “Kenapa pandangan Bu Maudy padaku berbeda dari sebelumnya? Apa, jangan jangan dia sudah mulai tergoda denganku? Karena kan sebenarnya aku ini lebih ganteng dari pada suaminya, badanku juga lebih berotot dari pada Pak Rio yang kerempeng. Bisa jadi itunya juga kecil…” Bayu terkekeh membayangkan isi otaknya yang liar. Bahkan dia masih melanjutkan pikiran konyolnya itu “Setelah melihat fisik ku, pasti Bu Maudy sudah membayangkan aksi hebatku di ranjang. Sayangnya aja nasibku buruk harus pakai seragam OB ini. Coba kalau aku pakai jas dan sepatu kayak Pak Rio, pasti semua wanita tergila gila padaku.. Hahahahhahahah!” Bayu makin berbangga diri dengan fisiknya. Akan tetapi dengan cepat dia membuyarkan lamunannya itu agar tidak menimbulkan masalah dengan bosnya. Meski dia tergoda dengan tubuh Viona, tetapi dia tetap harus sadar diri dan menghormati bosnya tersebut. Dan sebelum dia meninggalkan ruangan, Bayu menanyakan sesuatu kepada bosnya. “Maaf Pak Rio, apa saya boleh menanyakan sesuatu? “Katakan,” “Di dalam tugas ini, apa ada aturan tertentu yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dilanggar?” “Maksud kamu?” Rio balik bertanya dengan kening mengerut. “Emm, maksud saya. Apakah dalam melaksanakan tugas nanti, saya boleh memakai banyak gaya dengan durasi yang lama?” tanya Bayu dengan pelan dan sedikit ragu. Dan hal itu seketika membuat Rio dan Maudy membulatkan kedua bola mata mereka ke arah Bayu. Di satu sisi Maudy terkejut dengan kata kata Bayu. “Banyak gaya dan durasi lama”. Karena selama ini Viona belum pernah merasakannya bersama dengan Rio. Sementara Rio sendiri, dia merasa tersindir dengan pertanyaan itu karena belum sampai mencoba banyak gaya, dia sudah tumpah duluan. “Jangan macam macam! Tugasmu hanya membuat istri saya hamil, jangan pikirkan hal lain!” bentak Rio sembari menggebrak meja di depannya hingga membuat Bayu gemetar. Tetapi dengan polosnya dia masih lanjut bertanya. “Maaf Pak Rio jika pertanyaan saya tadi lancang. Tapi jujur, saya tadi serius bertanya. Dalam melaksanakan tugas saya nanti, saya boleh pakai gaya apa saja? Takutnya, saya lancang dan tidak sopan.” Rio menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menahan diri. Dia tidak tau apakah Bayu benar benar bertanya atau sedang menyindirnya. “Kurang ajaarr! Anak ini kayaknya sengaja nyindir aku. Tapi nggak mungkin. Mungkin dia memang benar benar bertanya. Lagian soal ini kan hanya aku dan Maudy yang tahu. OB ini nggak mungkin tau kalau aku gak tahan lama dan gak bisa banyak gaya!”To my readers, friends, co-writers-- I thank you with every inch of my heart for staying with me on this new long journey. Thank you so much for all your support!I've been so fortunate to received followers while writing this story. Thank you so much! It's my first English story btw so thank you for your understanding hahaha.To Blake and Felix, thank you for this wonderful journey. But honestly, the both of you helped me to develop this story into what it isThat's it! The story of Blake and Felix is over! It's hard for me to let them go because I always dream about them hahaha.Again, thank you for reading and waiting. and I hope you find Felix of your life! The one who will watch over you no matter what attitude you have. Keep safe, guys!Sugarmaui-
Pagbangon ko ng kama ay agad ko nang narinig ang mga ingay sa baba. Ang mga ingay at boses na halatang may ginagawa."Blake, anak! Halina't kumain ka na muna!"Sa paghakbang ko ay agad kong narinig ang boses na 'yon. Ang boses na kahit kailan ay hindi ko akalain na totoo. Ang boses na matagal kong hiniling at matagal kong hinanap.Hindi man boses ng babae, ramdam ko naman ang pagmamahal nito nilang ina. Ang aking nanay, si Mommy Maui. Hindi katulad ng ibang nanay, si Mommy ay isang lalaki. Isa syang carrier, katulad ko."Sge po! Ihahanda ko lang yung gagamitin ko. Saglit lang 'to, mommy," sagot ko."Magdahan-dahan ka sa pagkilos mo, ok? Baka madulas ka! Na sa baba lang kami at malapit na kaming matapos."Naglakad ako papunta sa cabinet. Sa salamin non ay natanaw ko ang aking sariling repleksyon. Kitang-kita na ang umbok ng aking tyan. Hinimas ko ito at hindi naiwasang mapangiti.Walong buwan na ang nakakalipas. At ngayon
BLAKE'S POINT OF VIEWPangamba at takot ang unang bumungad sa akin nang dumilat ang aking dalawang mata. Isang hindi pamilyar na lugar ang agad na pumukaw ng aking pansin. Isang madilim na paligid na sumisigaw ng hindi magandang pangyayari. Isang mansyon na napakalawak.Mga chandelier na mayroong mga itim na tela na nakasabit sa itaas. Mga vase at painting sa bawat sulok na tila ba napaglipasan na ng panahon dahil sa mga alikabok. At hindi katulad ng ilang typical na mansyon, ang malawak na bahay na ito ay kulay itim.Hindi ko maiwasang mapangiwi nang tangkain kong tumayo. Hapdi ang agad na dumaloy sa aking kamay. Taka ko iyong tinignan at doon ko nakita na nakatali iyon gamit ang nylon."N -na saan ako?" nauutal kong tanong sa sarili.Pilit kong inayos ang sarili sa pag-upo. Ngunit wala akong ibang magawa kung hindi ang manatili sa hindi magandang pwesto.Hindi ko alam ang nangyari. Ang alam ko lang ay magaganap na ang Caliagr
Halos mapalingon kaming lahat sa boses na 'yon. Sumilay sa amin ang isang pigura. Ang kanyang tindig, ang kaniyang presenya."A -argus?"Sinubukan kong basahin ang bawat kilos niya pero wala akong makita bukod sa blanko ang kaniyang mata. Tila naging matured din ang itsura nya dahil sa kaniyang bigote. Ang suot na sombrero ay na sa kanang kamay nya. Pati ang mga kasama ko ay tila napako rin sa kanilang kinatatayuan.Marahil ay nangangapa rin dahil hindi namin alam kung kakampi sya o kaaway. At kung sakali man na kaaway sya ay wala kaming magagawa kung hindi ang tumakbo.Hindi pa nakaka-recover ang mga kasama ko kaya hindi makakabuti kung lalaban kami. Ang tanging paraan lang namin ay ang tumakbo mula sa kaniya.Parang wala syang narinig. Wala itong alinlangan na pumunta sa harapan namin.Pero halos mapahinto kaming lahat nang biglang maglabas ng dugo ang kaniyang bibig. Napahinto sya sa paglalakad at halos mapatili an
Sa apat na taon kong pamumuhay sa sentro at sa kanluran, simula nang nawala ang mama at papa ko, ang tanging gusto ko lang ay maipaghiganti at mapatay ang mga taong lobo na humamak sa kanila.Gusto ko lang na makuha ang ulo ng mga taong lobo na gumambala sa amin ng gabing iyon.
Ramdam ko ang lamig mula sa aking likuran. Masakit ang ulo ko at hindi ko alam kung bakit. Mariin akong napapikit. Ilang beses akong napakurap para makita nang maayos ang na sa paligid ko.Fuck!Rehas at madilim na paligid ang bumungad sa akin. Agad nangunot a
Chapter 44: Naging tahimik kaming muli ni Aikee. Kasalukuyan nya akong sinasamahan na hasain ang espada ko. Ngayon na kasi magaganap ang caliagri open na matagal nang pinaghandaan ng mga tagahilaga. Napailing na nga lang ako dahil ang buong akala ko ay maiuusog ang dat
"Kuya? B -binasa mo na ba yung binigay na sobre na binigay nung officials sayo kanina?"Tuluyan akong napahinto sa sinabi nyang 'yon. Muli kong naalala ang itim na sobreng inabot sa akin ng lalaking nakausap namin kanina sa university.Kinapa ko ang bulsa ko at doon hinan
reseñasMás