LOGINLegends of old had been passed throughout the Kingdom of Shaldan. That the great kings of the past, the Alpha of the East had lost his mind and ruined the Kingdom. The Queen, the Luna named Galatea had been murdered by her own mate. Songs about the legend had been made. "Don't go to the forest. Don't go to the east. Don't go near the forest, or you'll face the beast." The villagers knew the song by heart and they knew the reason, though the monsters were only talked about in whispers. In a lullaby. The Eastern Forest was dangerous for it had been neglected, forgotten. The forest was dark. Even the lights from the moon, the stars and thousands of fireflies were not enough to illuminate the sky. Everyone knew that. For how could they forget. A stone had been carved for the purpose of everyone's protection. Sometimes the village young boys and girls dared each other to step to the edge of the meadow, just to see, but none of them actually went beyond the protective bushes at the edge. "Phil, wait for me!" Accashia screamed. Accashia had always felt that her family neglected her. Shunned her. Sometimes her older siblings would even chase her through the meadow for fun. It was easier to catch her, which meant it was easier to beat her up and tie her to the big oak tree. The only difference is when they left her that night and came back during daybreak, Accashia was gone. "Find her! Mom's going to kill us if she finds out!” Little did they know that she was picked up by someone who's silver hair glows under the moonlight. A Survivor from the East. A young man named Calleb. WARNING! CONTAINS BEASTIALITY
View MoreTahun 1810.
Suara pedang yang saling menyentuh dan bertabrakan satu sama lain. Suara daging segar yang terbelah oleh tajamnya pedang. Suara berisik teriakan banyak prajurit yang siap mati, prajurit yang kesakitan dan prajurit yang berharap pada kemenangan terdengar di kedua telinga Hyang(1) Yuda(2). Pemandangan yang sama dan suara yang sama sudah dilihat dan didengar Hyang Yuda selama kurang lebih lima ratus tahun lamanya. Dari puncak gunung di dekat tempat terjadinya perang, Hyang Yuda hanya duduk diam sembari memperhatikan bagaimana jalannya perang yang sedang terjadi.
(1)Hyang dalam bahasa sansekerta memiliki arti Dewa.
(2)Yuda dalam bahasa sansekerta memiliki arti Perang.
Di sampingnya, duduk Hyang Marana(3) dan Hyang Tarangga(4) yang sedang mencatat jumlah kematian yang datang dan takdir manusia yang akan bertahan hidup. Hyang Marana menghitung jumlah manusia yang satu persatu mati sejak dimulainya perang dan kini hitungannya sudah mencapai angka 500 atma(5). Sedangkan Hyang Tarangga sedang membaca buku besar miliknya dan dengan cepat menandai nama – nama manusia yang memiliki takdir mati di dalam perang dan hidup setelah perang berakhir.
(3)Marana dalam bahasa sansekerta memiliki arti mati.
(4)Tarangga dalam bahasa sansekerta memiliki arti Bintang.
(5) Atma dalam bahasa sasnsekerta memiliki arti jiwa.
Hyang Yuda hanya bisa mendesah panjang ke langit melihat dua rekan kerjanya yang sejak tadi sibuk bekerja sementara dirinya hanya duduk, diam dan melihat jalannya perang.
“Hyang Tarangga, Hyang Marana. . .” panggil Hyang Yuda ketika melirik dua rekannya yang sibuk dengan tugas – tugasnya.
“Ehm. . .” jawab Hyang Tarangga.
“Ya?” jawab Hyang Marana.
Dua rekannya itu menjawab tanpa melihat ke arah Hyang Yuda sedikit pun.
“Menurut kalian pihak siapa yang akan menang dalam perang ini?” tanya Hyang Yuda.
Hyang Tarangga menggelengkan kepalanya dan memberikan jawabannya tanpa melihat sedikit pun ke arah Hyang Yuda yang duduk di sampingnya. “Kenapa kamu ingin tahu Hyang Yuda?”
Hyang Marana menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Hyang Tarangga.
“Ya, kenapa kamu ingin tahu Hyang Yuda?” sambung Hyang Marana.
“Hanya penasaran saja. . .”
Hyang Yuda menggaruk kepalanya dan mendesah untuk kedua kalinya. Pertanyaan yang diajukannya gagal membuat dua rekannya yang sibuk dengan pekerjaan mengalihkan pandangannya.
Awalnya. . . bagi Hyang Yuda pekerjaan yang diterimanya menjadi Dewa Perang adalah pekerjaan yang menyenangkan. Meski tidak memiliki ingatan masa lalu, Hyang Yuda yang dulunya adalah manusia yang hidup di Janaloka(6) adalah seorang panglima kerajaan. Jadi melihat perang adalah sesuatu yang membuat Hyang Yuda merasa senang. Begitulah awalnya.
(6)Janaloka dalam bahasa sansekerta memiliki arti dunia. Dunia tempat manusia tinggal.
Namun semakin lama melihat perang, Hyang Yuda semakin merasa perang adalah sesuatu yang membuat bosan. Meski perang berakhir, akan selalu ada perang lain yang dimulai. Korban yang jumlahnya tidak sedikit terus menerus berjatuhan. Bau amis dari darah manusia di tempat terjadinya perang terkadang membuat Hyang Yuda merasa mual dan ingin muntah. Beberapa manusia yang mati terkadang berada dalam kondisi yang tidak bisa dikenali oleh Hyang Yuda karena tubuhnya yang hancur dan kondisi wajahnya yang rusak. Karena itulah setiap kali perang berlangsung Hyang Yuda setidaknya harus ditemani oleh Hyang Tarangga yang memiliki kemampuan mengenali manusia meski hanya tersisa bagian jarinya sekalipun.
“Ingin kuberitahu akhir dari perang ini?” tanya Hyang Tarangga masih sibuk dengan buku besar miliknya.
Hyang Yuda menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, bukankah Hyang Tarangga sendiri yang bilang bahwa perang ini adalah perang yang cukup singkat yang terjadi selama sepuluh tahun ke depan?”
Hyang Tarangga menganggukkan kepalanya. “Ya, ini salah satu dari tiga perang singkat yang terjadi di Janaloka dalam sepuluh tahun ke depan.”
“Meski begitu. . . kamu bilang ini adalah perang yang terjadi cukup singkat di sepuluh tahun ke depan, nyatanya di tempat lain masih terjadi perang yang belum terlihat bagaimana akhirnya. . .” sambung Hyang Marana. “Hasil yang dikirimkan oleh bayanganku di tempat lain terjadinya perang sudah mencatat banyak ratusan atma yang siap di kirim ke Sadyapara(7).
(7)Sadyapara dalam bahasa sansekerta memiliki arti alam baka.
Hyang Yuda menganggukkan kepalanya. “Sepertinya perang Fulani di Nigeria(8) akan terhenti untuk sesaat. Bayanganku di sana melihat perang mulai berakhir meski tidak sepenuhnya berakhir. Tapi seperti yang kamu baca dalam buku besar milikmu, Hyang Tarangga bahwa perang itu akan berakhir di tahun ini.”
(8) Perang Fulani di Nigeria terjadi pada tahun 1804 – 1810.
Hyang Tarangga menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Hyang Yuda. “Kamu benar, perang itu akan berakhir di tahun ini. Satu pekerjaan kita sedikit berkurang, meski di tahun berikutnya akan terjadi perang yang lainnya.”
Hyang Yuda menghembuskan napas panjang ucapan dari Hyang Tarangga mengenai perang yang tidak akan berakhir.
“Saat ini kita dan bayangan kita sedang berjaga di sembilan lokasi perang yang terjadi di Janaloka. Satu perang yang akan berakhir yakni perang Fulani di Nigeria. Dua perang yang berlangsung sejak tahun 1804, satu perang yang dimulai tahun 1809 dan lima perang yang dimulai di tahun ini, tahun 1810(9). Semua perang ini adalah perang besar yang terjadi dan akan memakan banyak korban nantinya. Belum termasuk perang – perang kecil yang mungkin tidak memakan korban atau hanya menewaskan satu, dua atma saja.”
(9) Perang yang dimaksud oleh Hyang Yuda adalah sebagai berikut Perang Rusia – Persia (1804 – 1813), Perang Hitam (1804 – 1835), Perang kemerdekaan Bolivia (1809 – 1825), Perang kemerdekaan Colombia (1810 – 1819), Perang kemerdekaan Argentina (1810 – 1816), Perang Inggris – Belanda di Jawa (1810 – 1811), Perang Punjab (1810 – 1820), Perang kemerdekaan Meksiko (1810 – 1821).
“Ada apa denganmu akhir – akhir ini?” tanya Hyang Marana masih sibuk mencatat jumlah atma yang siap pergi ke Sadyapara.
“Tidakkah kamu menyadari hembusan napas panjangnya, Hyang Marana?” sambung Hyang Tarangga.
“Apa yang terjadi pada Hyang Yuda?”
Kali ini Hyang Marana menolehkan kepalanya ke arah Hyang Yuda dan menghentikan tugasnya untuk sementara.
“Hyang Yuda merasa bosan. . .” jelas Hyang Tarangga.
“Bosan?” tanya Hyang Marana dengan raut wajah tidak percaya. Dengan cepat, Hyang Marana melanjutkan pekerjaannya lagi dan mulai melanjutkan hitungannya yang sempat terhenti. Masih dengan menghitung, Hyang Marana bertanya lagi, “Apa yang membuatmu bosan, Hyang Yuda? Bukankah di antara semua Hyang, kamulah yang selalu bersemangat dalam melihat perang?”
Hyang Yuda yang masih duduk dengan mata menatap ke arah jalannya perang memberikan jawaban untuk pertanyaan Hyang Marana.
“Beberapa perang yang terjadi sudah tidak begitu menarik lagi. Beberapa alasan perang terjadi pun juga sudah seringkali terjadi. Taktik yang ada dalam perang pun selalu kutebak dengan mudah, bahkan hanya dengan melihat beberapa kali aku sudah bisa dengan mudah menebak pihak siapa yang akan jadi pemenang dalam perang nantinya. Yang tersisa hanyalah rasa bosan ketika melihat perang yang tidak pernah berhenti terjadi. Rasa muak melihat korban yang berjatuhan dengan bau darah amis di sepanjang lokasi perang. Rasa lelah dan sakit yang sama seperti yang dirasakan oleh banyak prajurit dalam perang. Dan rasa putus asa dari harapan banyak orang, baik prajurit atau rakyat yang mengharapkan kedamaian yang akan datang dan perang yang akan terhenti.”
Hyang Marana melirik ke arah Hyang Yuda dan mencibir, “Di antara semua dewa yang ada hanya kamulah dewa yang paling muda. Usiamu baru lima ratus tahun dan kamu sudah merasakan bosan. Aku dan Hyang Tarangga bahkan hidup sudah sejak ribuan tahun lamanya dan kami bahkan sama sekali tidak mengeluh apalagi merasa bosan.”
Hyang Tarangga tersenyum mendengar jawaban yang diberikan Hyang Marana kepada Hyang Yuda. Hyang Tarangga sudah terbiasa dengan sikap Hyang Marana yang terkadang dengan mudahnya mengatakan apa yang ada dalam pikirannya tanpa memikirkan kondisi dari subjek yang berbicara dengannya. Dan karena sifatnya itu, Hyang Marana dengan mudahnya memicu pertikaian di antara para Hyang.
Hyang Tarangga menghentikan tugasnya untuk sementara dan menoleh ke arah Hyang Yuda. Dengan menepuk bahu Hyang Yuda, Hyang Tarangga dengan bijak berbicara pada Hyang Yuda.
“Saat ini. . . mungkin Hyang Yuda merasa bosan karena melihat perang yang tiada habisnya terus terjadi. Tapi. . . suatu saat, perang – perang yang terjadi juga pasti memiliki akhir. Manusia pasti akan merasakan lelah dan bosan, sama seperti yang Hyang Yuda rasakan saat ini dan perang akan berhenti terjadi. Saat itu terjadi nanti, Hyang Yuda mungkin tidak lagi melihat perang dan mungkin akan menganggur selamanya. . .”
Setelah menyelesaikan ucapannya, Hyang Tarangga kembali menyibukkan dirinya dengan buku besar miliknya dan mencatat takdir manusia. Sedangkan Hyang Yuda yang sempat merasa bosan, mendengar kata menganggur selamanya dari mulut Hyang Tarangga segera menghilangkan rasa bosannya dan memfokuskan pandangannya ke arah peperangan yang sedang terjadi.
Accashia must have fallen asleep while the two Alpha’s were interrogating the old Shaman. She sits up straight and there's a blanket across her body until her chest. She pulled the covers up, bringing it up to her face. The young woman inhaled, smiling wide right after. It smells like her mate, warm wood and a hint of musk. Calleb’s scent reminded her of sunrise. It smells a little like her too. Accashia was not the type of person who always wakes up on the right side of the bed. Before, she’ll wake up with Luther’s face right in front of hers. Her older brother would always taunt her. Tease her, borderline torment her. Somehow she wishes he could erase it. The memories. "Why the long face?" Calleb appeared out of nowhere, shocking Accashia. Her soul almost left her body, and became a bit grumpy because of it. “Calleb!” She whined, screaming his name as she did. “You know that I startle easily! Don’t sneak up on me like an animal!” The Alpha grinned. “I am an animal though.” He wa
"Ive heard Galathea saying she heard the song of songs, whisper of whisps. But not a cry of a child." The King stared at Accashia’s ghostly pale face. The Luna was still in shock. She was only wearing a thin bathrobe, contrasting the dark thick cotton robe that enveloped Calleb’s body. "A shrill cry. A woman singing an eerie lullaby. I’ve heard of that before. But not from a newborn child —” He looked at his son, then smiled. “None, except from you, son. The day you were born.” "Maybe we should have the Castle blessed?" Calleb had asked. "Before being rebuilt, this place was heavily guarded by Shadows. Dangerous skeleton-like creatures who are brought back to life by Ursula’s power. They carry an ember of soul in their chest. Lost souls." Bathal shuddered in the memory. "I remember. Maybe the Castle needs to be blessed." "It’s not a soul." Accashia opposed. A frown on her face, disliking how the two Alpha’s are dismissing what she heard. "I know a soul when I feel one, see one. When
"I’m not hallucinating, Calleb! I heard a loud cry of a child!" Accashia paced back and forth after pushing Calleb away from her. The cry of the newborn sounded terrible against her ears. “I must find the baby — it could be lost, or worse — it might’ve been abandoned by its parents!” The Alpha sighed as he pinched the area between his brows. It feels like he’s wiggling out of a tightrope and he’s bound from his wrist down to his ankles. “Maybe it’s just your imagination, Accashia. You’re carrying my child after all. It may be the cause of your hallucinations.” Accashia was heading towards the door when Calleb’s spoke. She spun and marched towards her mate. By the looks of it, the young lady was deeply offended. “I know the sound of a crying child when I hear one, Calleb. I’m the one who took care of Jill when she was a newborn. I’m familiar with the cry of a wailing child looking for his mother — Calleb.” “And I’m not dismissing your judgments, Accashia.” Was Calleb’s calm reply. T
What it all boils down to is a simple thing. Human beings, creatures and beasts alike are all sentimental beings. Filled with empathy. Love and affection. And in turn, are always seeking for it. The first time Luntian laid eyes on her sister was after Amihan had just given birth to her. The little one had a head full of black hair, and had this blank stare. Ursula would cry from dusk till dawn. It was thousands of years ago, but her sister’s shrill cry would still resound in her nightmare. The idea of having a sibling was one of the things she wished for in life, though at times she wished her mother would shove the thing back to where it came from. Luntian loved Ursula, but there was something about her that she didn't like. She doesn’t like the crooked smile on her lips. The oddly long nails. The dark, dark cowl on her head. And the odd paint on her face. She was a yellow Shaman, but did not act like one. Not even a little. Had it been the way she talked or the things she said? O
The thorns that separated the Village from the forest clung to her clothes. Piercing her thighs, scratching her bloody, letting out drops of blood. She barely made it back. Halfway through her journey back home, her legs were stiff and dry and her throat became itchy. Her body was begging for water.
The full moon had risen last night. Never did she thought that the son of the Alpha — The King would survive. “That wretched Luntian.” The wicked witch hissed through gritted teeth. “That old hag really doesn't know how to mind her own goddamn business.” Sitting on the rusty throne, Ursula, the Wi
“So your name is Accashia.” Luntian asked as she poured in a generous amount of stew on the bowl that Accashia was holding. “What a pretty name. The meaning of your name fits you as well.” Steam rose from the bowl, and because she’s starving the young lady did not mind the heat and took a sip. She
Morning came and Phil rushed to wake his brothers, their mother and father will be home soon from their journey. He shook them until they moaned and groaned. “What?” Luther groaned, then glared at the brawny teen. “Accashia. Mom and Dad will be home soon.” That sentence alone from Phil was enough






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore