LOGINLexy is the 24 year old woman who recently graduated doctor school, wanting nothing more than to come back home to her father and work at his hospital in Los Angeles. Yes, she was finally going to be with her father after the long years of medical school. While Lexy thought all she ever wanted was working side by side with her father, she's challenged with a world she knows nothing about. The werewolves. Werewolves was merely myth but her world starts to crumble when she gets mated to a werwolf, An Alpha of one of the prestigious werewolf pack. Little did she know who she was destined to be, having to struggle between the human life she used to know and the werewolf life she never believed. While she fights to refute this destiny of hers, she starts to fall head over hills for her Alpha mate, Luth. Is it a love doomed from the start or it was a destiny meant to be?
View MoreCall Me Ka
“Yuhuuu, besok hari pertamaku jadi mahasiswa. Nggak pake seragam abu-abu lagi gue, bye, bye seragam abu-abu kesayangan yang penuh kenangan. Muachhh.”
Seorang gadis lompat-lompat tertawa bahagia, sambil mencium baju sekolah SMA.
“Seneng banget lo hari ini? Gue dulu aja masuk kuliah pertama nggak segitu senangnya, malah bodoh amat banget.”
Seorang laki-laki duduk sambil terheran-heran, melihat kelakuan gadis tersebut.
“Apaan sih kak, kan besok itu gue hari pertama dipanggil mahasiswa, gue kan sudah memimpikan ini sejak lama kak. Ingin segera lulus dan masuk kuliah dan dipanggil mahasiswa. Waw pasti Amazing rasanya.”
“Lebay lo, lo nggak tahu aja dunia perkuliahan. Ingat ya kalau lo udah ngerasain dunia perkuliahan udah lo pasang hati baja aja.”
“Hih, kakak ganggu saja, sana pergi ke kamar kakak sendiri!”
“Nih ya, gue ingetin lo nanti kalau di kampus ketemu gebetan hati-hati, jangan pacaran ama orang yang tinggi!”
“Orang tinggi, maksudnya apaan sih?”
“Nanti lo tahu sendiri, oke, bye, gue tidur dulu.”
“Kak beritahu gue dulu, hah emang ya suka banget tebak-tebakan. Untung kakak gue, kalau bukan gue hih. Ah bodoh amat, joget lagi ah.”
Gadis cantik dengan tubuh semampai, rambut panjang sebahu, kulit sawo matang dan dengan gigi kelinci yang khas.
Dia melanjutkan joget di depan cermin sambil memegang seragam abu-abu masa SMA yang masih putih bersih.
Seperti cacing kepanasan dia melambaikan tangan menggerakkan tubuhnya dan goyang-goyang tidak jelas. Padahal itu sudah malam, menunjukkan betapa excited dia menunggu hari esok yang tinggal menghitung jam. Gadis ini biasa disebut Aileen.
***
Di lain Lokasi,
“Nak, besok kuliah hari pertama, sudah siap-siap belum?”
“Sudah nek, sudah aku siapin semuanya.”
“Nyiapin apaan dari tadi nontonnya Lee Min Ho terus gitu, mau bohongin nenek?”
“Nek, ini bukan Lee Min Ho, ini Hyun Bin, Beda lagi. Nenek mah Lee Min Ho terus.”
“Bagi nenek, wajah mereka sama saja, sama-sama Lee Min Ho. Siapin sekarang kalau ngak nenek nyuruh Pak Boiman buat matiin Wifinya. Mau?”
“Ahhh, beda nek ini Hyun Bin. Ih nenek mah mainnya ngancam-ngancam matiin Wifi, matiin Wifi. Iya, ini aku siapin buat kuliah besok. Ih nenek kenapa selalu Lee Min Ho sih, padahal kemarin sudah aku ajak nonton ini drakor dan namanya udah aku beritahu namanya Hyun Bin bukan Lee Min Ho. Lupa lagi, lupa lagi.”
Sambil ngedumel sendiri seorang gadis yang sangat acuh dengan hari pertama kuliah besok. Dia sama sekali belum mulai menyiapkan perlengkapan apapun.
Gadis ini suka nonton drakor pas gabut dan hobi berfantasi lewat menulis. Baik Artikel, puisi, hingga cerpen.
Bagi gadis yang berperawakan rambut panjang sepunggung, berkulit sawo matang, dan identik dengan tatapan sinis plus bengis ini memang dikenal sebagai gadis yang paling masa bodoh seantero sekolahnya dulu.
Bahkan tiga tahun lamanya sekolah di SMA, dia selalu lupa siapa nama kepala sekolahnya. Tapi dia tidak pernah lupa dengan nama kucing-kucing ibu kantin. Gadis aneh ini adalah Daisha.
Persahabatan Aileen dan Daisha sudah terjalin selama sepuluh tahun lebih, sebab dari sekolah dasar mereka sudah satu sekolah sampai sekarang milih kampus pun samaan.
***
Kring, kring, kring
Handphone Daisha berdering ada panggilan video masuk dan ternyata dari Aileen.
“Hai, besok lo pake baju apa? Gue pake style ini bagaimana?”
“Ih, lo apaan sih, gue lagi nonton drakor ganggu mulu lo.”
“Lo nggak nulis? Lo udah gabut makanya drakoran mulu, betah hidup Lo. Nih gue tanya bagus nggak?”
“Itu baju yang lo beli kemarin to? Kan gue yang milihin kalau gue yang milihin ya berarti baguslah. Masih lo tanyain juga.”
“Oh iya. Eh kira-kira enaknya besok kita pake make up yang bagaimana ya, yang natural ala-ala Korea gitu atau yang cetar ala-ala India?”
“Hey, lo mau kuliah apa mau fashion show ribet bener. Lo pake lipstik sama bedak udah, yang penting lo pake baju ama celana biar nggak malu-maluin.”
“Dasar Cunges lo, oke selamat malam, malam ini gue mau pake masker wajah dulu biar besok bangun wajah gue berkilau. Sampai jumpa besok Cungesku. Muach.”
“Hih, ini bocah kenapa yak? nggak pernah ditampol panci apa mulutnya?”
Setelah percakapan panjang mereka selesai, Aileen memakai masker wajah yang sudah dia siapkan. Setelah memakai dengan semangat, lama-lama dia tertegun entah apa yang dia pikirkan.
Dia memandang ke arah kaca rias besar yang ada di samping kanannya. Kemudian matanya berkaca-kaca, dia berusaha kuat untuk menahan air mata itu agar tidak tumpah.
Bibirnya berusaha menggerutu kemudian dia tersenyum dengan paksaan. Seakan menguatkan dirinya dari kegoyahan niat. Aileen menatap ke arah style baju yang dia pajang di gantungan lemari tepat di hadapan tempat tidurnya.
Aileen mengambil napas panjang, menahannya sebentar. Lalu menghembuskannya perlahan dan dia mulai meneruskan memakai masker yang belum selesai.
***
Daisha tahu arti senyuman dan excited Aileen menunggu kuliah besok. Baginya semua kegembiraan Aileen itu palsu.
Daisha menjeda drakor yang dia tonton, kemudian melihat tajam ke arah fotonya bersama Aileen yang terpampang di atas meja belajar yang ada di hadapannya.
“Aileen, Aileen, lo hanya menutupi apa yang lo rasakan sekarang dengan senyuman dan bahagia lo yang palsu.”
Tiba-tiba nenek Daisha, yakni Nenek Sumi yang sedari tadi ada di belakangnya menyahut.
“Sudahlah semua ada jalanNya, tunggu saja waktumya.” Nenek mengelus pundak Daisha tiba-tiba.
“Nenek mah, ngagetin mulu. Nek, ini udah malam kenapa nenek belum tidur?”
“Loh, seharusnya nenek yang tanya ngapain jam segini belum tidur masih sibuk ngedrakor aja. Tidur udah malam!”
“Siap Komandan.”
Daisha mengangkat tangan dengan memberi tanda hormat.
“Nek tunggu, ini siapa nek namanya?”
Cucu kurang ajar ini menunjukkan kembali video drakor yang tadi dia jeda.
“Lee Min Ho?”
“Nek, ini Hyun Bin. Nenek mah.”
Si nenek sudah on the way pergi ke kamarnya dan tidak merespon rengekan dari sang cucu.
***
Malam itu Aileen tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia hanya berbaring ke kanan ke kiri menyematkan banyak pikiran yang sedang dia keluhkan.
Meski lampu kamarnya sudah dimatikan dan dalam keadaan gelap, dirinya tetap merasa penuh dan tidak bisa tidur.
Beberapa menit kemudian dia menyalakan kembali lampu kamar dan berdiri mengambil sesuatu dari rak buku paling bawah.
Dia membuka buku catatan yang dia taruh di beberapa kardus dan kresek berwarna hitam. Seolah dia sembunyikan kemudian dia buka kembali, ada aneka gambar yang unik dan warna-warni, bunga, pemandangan alam, dan yang lain. Itu bukan gambar, tapi lukisan di kertas ukuran mini yang bagus.
Aileen mengelus gambar itu kemudian air matanya menetes, dia memeluk gambar itu. Aileen menahan suara tangisannya supaya tidak terdengar oleh orang rumah. Sebab jam sudah menunjukkan pukul satu malam.
***
Daisha mengambil handphonenya dan membuka nomor Aileen kemudian mengetikkan pesan dan mengirimkannya ke Aileen sambil ngedumel.
“Pasti sekarang dia sedang nangis sambil meluk buku itu. Coba kalau dia mau dengerin omongan gue sekali aja, nggak bakal jadi gini ceritanya. Tapi, gue ya nggak bisa nyalahin siapa pun sih. Oke, oke semoga Aileen baik-baik saja. Daisha lo tidur, kalau nggak tidur ya pokoknya harus tidur!”
Daisha membuka selimutnya lebar-lebar dan menenggelamkan badan ke dalam selimut.
Lo pasti sedang nangis sambil peluk-peluk itu buku? Udah tidur sana, besok awal masuk kuliah, lo mau mata lo kayak panda karena kurang tidur?
Aileen tersenyum setelah membaca di dalam hati pesan dari Daisha. Aileen tidak membalas pesan sahabatnya, dia paham setelah mengirim pesan itu pasti Daisha langsung tidur kembali.
Aileen mengangguk-angguk, dia melihat buku yang sedari tadi masih dia peluk. Lalu, dia kembalikan buku itu ke tempat semula. Mengunci kembali laci paling bawah meja belajarnya dan dia kembali masuk ke dalam selimut dan mematikan lampu kamarnya.
Tiba-tiba selimut Aileen kembali dia buka, dan dia menggerutu dengan bertanya kepada dirinya sendiri.
“Apa yang harus gue katakan nanti ke ayah, ibu dan kakak. Kalau sampai mereka bertanya? Benar sih apa yang dikatakan Daisha, andaikan gue dulu ikuti pesannya, pasti nggak akan seperti ini jadinya. Tapi, kalau retak dan bisa diperbaiki kenapa harus dirobohkan? Tapi, nggak mungkin juga segampang itu. Daisha juga pasti nggak setuju. Apalagi ayah, ibu sama kakak pastinya juga tidak akan setuju kalau tahu yang sebenarnya terjadi. Ah, bingung pikiran gue, bunuh diri gue takut sakit lagi. Belum mau gue mati sekarang. Tuhan aja masih ngasih gue waktu, masa iya gue habisin sendiri. Konyol banget.”
Tiba-tiba jam sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi, dan suara ayam berkokok sudah terdengar. Aileen tidak bisa tidur semalaman dan benar apa yang dikatakan Daisha, Aileen kini memiliki mata panda dan wajah lelah dan lesu.
Aileen mencoba memejamkan mata kembali, sebab masuk kuliah untuk perkenalan mahasiswa baru di mulai jam tiga sore. Jadi masih ada waktu untuk istirahat.
Tiba-tiba setelah memejamkan mata beberapa menit, dia tersentak dari tempat tidurnya dan bangun melihat sekeliling sambil napasnya terengah-engah. Seolah baru saja melihat sesuatu yang menakutkan ada dihadapannya. Apa yang sebenarnya dia lihat?
When I heard the door click open, I looked towards the door excitedly waiting for my dad to walk in. When he did, I smiled widely, standing up to step around the couch."Hey Dad""Lexy," he pulls his brown coat from his back "how are you doing?""Fine Dad. How was work today?""Fine," he hung his coat on a nail on the door " but I couldn't stop feeling so guilty. I'm really sorry I wasn't able to come home last night, Lexy""Dad it's really okay," I put on my best smile " you're here now. Did you eat yet? I wanted making you soup for dinner but I wanted to wait till you come in first""Oh that better be some other day then because, I'm treating you out to dinner"My smile widened immediately, "really?!""Yes, let's go eat at your favorite diner. Why don't you go dressed while I take a quick shower?""Yes, dad! I'll get dressed too!"That said, I hurried back into my room and tore myself from my dress. Then I jumped into the bath cubicle and let the water run through my body. Only for
I walked back to my bedroom, not believing all I just saw in my dad's office room. I can't believe he's still hung up on his beliefs that werewolves exist. He might as well believe vampire's or witches exist. He's been hanging up researches in his office room for as far back as I can remember. I couldn't believe he still does that. Retrieving my phone back from my back pocket, I dialed Millie's number, laying back down on my bed to listen to it ring. After a few seconds,she picked up and her voice boomed from the other side."Hey girlfriend!""Hey Millie""How was your flight trip, girl? How's LA?!"I smiled slowly and replied " it's all good. Arrived like thirty minutes ago and stopped at my dad's hospital""Really? How is he? He must be so psyched to see you!""You bet" I smiled at the memory, rising up from the bed to walk to the window. Facing out the window, I could see the houses around, the houses I was used to, the neighbours I was used to walking around their busy day, some
Lexy's POV. .Looking out through the window, the rain drops and dews encoasting the cab's window seemed out of the ordinary but expected. It felt pretty cold the instant I arrived at the airport. I couldn't wait to get off the cab and fly into my father's arms. I was gonna meet him at his hospital, I knew he would be stark busy there as always. I continued to look ahead as the car drive along the streets.His hospital soon came into view. It stooped big and beautiful among the green lawns. It wasn't the biggest hospital around, but it was a nice one.As soon as the cab came to a stop, I told him to wait while I go inside. I walked in to the front desk and met a woman dressed in a nurse outfit of greenish blue dress. Around the wide hall sat some few people and some hospital staffs walked around. The woman who has a name tags bearing "Melissa" on her chest beamed a smile at me the instant she saw me stop in front of her desk."Good morning, how may I help you ma'am?" She asked."Good
Lexy's POV.Today is the day, I couldn't disguise my happiness any more. I knew I couldn't disguise it anymore when I called Jimmy's phone earlier, screaming on top of my voice While telling him about my trip back to L.A. I mean, who does that? Me, of course. Everyone knew Jimmy from Neurosurgery barely has time for anyone but his books but I did it anyway. I called and disturbed the life out of him. He's such a boring geek.It felt great to finally go back to Los Angeles. For good this time. I didn't wanna call my dad yet. I'm gonna surprise him today.Walking over to my dorm room window, I watched over the school's tall buildings. And then I thought, 'this school has taken so much from me'. But no more. I felt a wave of energy surge through me and I giggled excitedly, spinning towards the room to continue packing again. Unplugging my phone from my bedside table, I streamed through my music list and stopped at Alessia Cara's songs. Hitting on her Scars to your beautiful album, I set
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews